
Aku hanya menangis. Aku ingin menjadi kuat dan tidak cengeng untuk urusan seperti ini, tapi entah mengapa air mataku masih saja terus mengalir.
Aku menangis sembari menunggu kabar dari Alex. Meskipun Aku sakit hati karena dia meninggalkanku untuk Diana, tapi Aku masih khawatir dengan keadaannya. Aku ingin memastikan bahwa dia sampai di negara itu dengan selamat.
Alex mengambil penerbangan sekitar pukul setengah tujuh malam, seharusnya pukul sembilan malam dia sudah tiba di negara itu.
Aku menunggu dengan sabar, berharap mendapat kabar darinya. Satu jam, dua jam, lima jam sudah berlalu, namun Aku belum mendapat kabar apa-apa. Aku memberanikan diri untuk mengiriminya pesan.
Mas, sudah sampai belum?
Pesanku hanya centang satu. Itu artinya Alex belum menerima pesanku. Haruskah Aku meneleponnya? Ah, tidak... tidak... Bagaimana kalau dia sedang bersama Diana?
Sebaiknya Aku bersabar sampai Alex menghubungiku lebih dulu. Ya, untuk sementara seperti itu dulu.
***
Pada kenyataannya, semalaman Aku tidak tidur menunggu kabar dari Alex. Menjelang pagi tiba, Aku mencoba untuk menelepon Alex namun nomor pria itu selalu diluar jangkauan. Pada akhirnya Aku mencoba menghubungi Winda, berharap wanita itu mengetahui kabar tentang suamiku.
"Selamat pagi Bu, ada yang bisa Saya bantu?"
"Winda, maaf sudah mengganggu waktumu. Aku mau tanya, apakah Kamu tahu Alex dimana?"
"Pak Yohan ke Sing*pura Bu."
"Apa Kamu tahu tujuan dia kesana untuk apa? Mengapa Kamu tidak ikut juga? Kamu kan sekretarisnya?"
"Itu urusan pribadi beliau Bu. Bila menyangkut urusan pribadi, Pak Yohan melarang Saya untuk mendampinginya. Saya hanya mendampingi bila sudah menyangkut pekerjaan."
"Apa Kamu tahu dia ke Sing*pura untuk apa? Aku dengar dia mengunjungi Diana..."
"Mohon maaf Bu, itu urusan pribadi beliau. Saya tidak berhak untuk memberitahu Ibu mengenai hal itu. Bila Ibu kurang puas dengan jawaban Saya, Ibu bisa langsung tanyakan hal ini pada beliau."
Ah, Aku lupa. Winda adalah orang yang dipekerjakan Alex, tentu saja Winda akan lebih cenderung untuk patuh pada Alex dibandingkan denganku. Ini sama halnya dengan bertanya kelemahan musuh pada orang kepercayaannya. Benar-benar salah jalan.
"Oh ya sudah Winda, terima kasih ya..."
__ADS_1
"Pak Yohan menyuruh Saya untuk mendampingi Ibu selama beliau di LN. Sekarang Saya sudah di jalan. Sepuluh menit lagi Saya tiba di tujuan."
"Tidak perlu Winda. Aku bisa menjaga diriku sendiri..."
"Mohon maaf Bu, ini perintah dari beliau. Saya tidak bisa mengabaikannya. Suka atau tidak suka dengan kehadiran Saya, Ibu harus menerimanya."
Nada yang tidak bisa dibantah. Melihat Winda berbicara seperti itu, seolah-olah Aku melihat Alex berbicara langsung padaku. Aku hanya bisa menerimanya.
***
Seperti perkataannya, Winda memang mendampingiku sepanjang waktu. Bahkan wanita itu menggunakan kamar ART untuk menginap. Aku tidak melarang atau mengiyakannya. Aku hanya membiarkannya bersikap seperti itu karena Aku yakin dia melakukan hal itu karena perintah dari Alex.
Sudah hari kedua, namun belum ada kabar apapun dari Alex. Otakku berputar dan berpikir. Ada apa dengan Diana? Bukankah kemarin Diana pergi ke LN dengan Mama mertua? Mengapa Alex sampai menyusulnya? Sebenarnya apa tujuan mereka ke LN? Untuk jalan-jalankah? Bulan madu? Atau apa?
Mereka tidak mungkin kesana untuk berobat, karena setahuku Diana tampak baik-baik saja. Tapi entah dengan kondisi Mama mertua. Mungkinkah Mama sedang sakit dan meminta Diana untuk mendampinginya berobat?
Aku tidak tahu apa-apa tentang mertuaku. Aku ingin mengenal mereka. Semoga suatu saat nanti akan ada kesempatan bagiku untuk mengenal mereka.
Selama dua hari ini Aku bagaikan mayat hidup. Aku tetap makan banyak, minum vitamin maupun minum susu hanya untuk menjaga agar bayiku baik-baik saja dan sehat, namun pikiranku tetap berkelana kemana-mana.
Kemanapun Aku melangkah, Aku selalu membawa ponsel karena Aku takut sewaktu-waktu Alex menghubungiku. Namun tetap tidak ada kabar dari dia. Aku semakin bingung dan khawatir.
Ibu membuatku kuat. Meyakinkanku bahwa apa yang terjadi padaku tidak membuatnya kecewa. Ibu membuatku percaya, bahwa kepergian mereka ke kampung halaman bukan karena malu punya anak sepertiku, namun karena nenek tiriku butuh dikunjungi. Aku tahu Ibu hanya berusaha membesarkan hatiku, tapi entah mengapa Aku senang mendengar hal itu.
Hampir tiap hari Sizil menghubungiku. Keceriaan anak itu menular padaku. Setidaknya Aku bisa melupakan kesedihanku karena menunggu kabar dari Alex.
Sizil selalu bercerita tentang Andre. Bagaimana dia berusaha untuk mendekati Andre. Memaksa Andre untuk mengantarnya pulang, atau sekedar untuk meminta ditraktir makan. Kali ini Kami kembali saling berkirim pesan.
Sizil : Bu, tebak Kami lagi dimana?
Aku : Lagi dimana memangnya Zil?
Sizil : [mengirim gambar]
Aku memperhatikan gambar yang dikirim Sizil. Tampak di foto Sizil sedang berselfie ria, sementara di belakangnya tampak Andre sedang bernyanyi. Kalau dilihat suasananya, mereka sedang berada di tempat karaoke.
__ADS_1
Aku : Kalian sedang di karaoke kah?
Sizil : Yup, betul Bu. Ini lagi nemenin bujang lagi patah hati.
Sizil : [mengirim video]
Aku segera membuka video itu. Di video terlihat Andre sedang bernyanyi dengan suara mendayu-dayu. Terkadang suaranya pecah karena isak tangis. Sepertinya pengaruh minuman keras membuat akal pikirannya hilang, hingga dia tidak segan-segan bertingkah laku seperti itu. Andre mengekspresikan semua perasaannya pada lagu itu. Isakan demi isakan mengiringi lagu itu hingga selesai. Melihatnya seperti itu membuat perasaanku semakin bersalah.
Sizil : Bagaimana Bu? Keren kan konsernya? Hehe
Aku : Zil, apa dia tidak apa-apa? Tampaknya dia sedang mabuk?
Sizil : Tenang saja Bu. Masih aman kok. Biarkan dia menumpahkan kesedihannya. Aku akan menjadi orang yang menghapus rasa sedih itu dan menggantinya dengan kebahagiaan, aseekk... Hahaha...
Aku : Zil, Kamu segitu sukanya sama Andre? Sejak kapan Kamu menyukainya?
Sizil : Sejak Ibu dan dia putus. Aku tidak pernah menginginkan milik orang lain Bu. Jadi Ibu jangan merasa bersalah padaku. Aku belum menyukainya ketika Ibu masih menjadi pacarnya. Aman Bu, hehe...
Aku : Oh, syukurlah. Zil, jangan malam-malam pulangnya. Cepat cari orang untuk antarkan Andre pulang. Kamu segera pulang ke kosan.
Sizil : Tenang Bu, santai... Aku bukan anak kecil lagi. Aku lanjut dulu ya Bu. Met istirahat kakakku sayang, muach...
Aku : Hati-hati Zil. Pokoknya harus pulang ke kosan. Aku tunggu kabarmu.
Kami menyudahi saling berkirim pesan itu. Aku khawatir pada Sizil. Kondisi Andre sedang mabuk. Aku takut Sizil mengalami hal yang sama seperti yang kualami.
Karena terlalu terbawa pengaruh oleh perasaan, Aku takut Sizil juga memberikan miliknya yang paling berharga pada Andre. Kemudian berakhir sepertiku. Hamil dan dinikahi secara siri oleh pria yang tidak mencintaiku. Terombang-ambing oleh perasaan.
Berada di posisi mencintai sangat tidak enak. Selalu mengalah dan bersabar. Berusaha untuk mengerti dan memahami pasangan. Bahkan tidak ada keberanian untuk mengungkapkan apa yang ada di hati dan pikiran. Selalu menahan rasa sakit hati. Memendam semuanya seorang diri. Aku tidak ingin Sizil mengalami apa yang kualami.
Aku berharap Andre segera bisa melupakanku dan menambatkan hatinya pada Sizil. Aku juga berharap Alex seperti itu, namun bila menyangkut Alex, hal itu rasanya sangat tidak mungkin. Alex akan selalu menomor satukan Diana, Aku hanya yang kedua. Karena Aku hanyalah seorang figuran.
***
Happy Reading 😑
__ADS_1
[Kira-kira begini jadinya kalau Andre & Sizil berjodoh] 😁