
Acara itu selesai dengan cepat. Tidak ada prosesi tanda tangan surat nikah, karena memang hanya nikah siri.
Ibu menyuruhku untuk mencium tangan Alex. Dengan terpaksa Aku melakukannya. Alex menarik tanganku dan mengecup keningku dalam-dalam.
Cup...
Keningku kembali terasa panas. Aku menarik tubuhku, tapi tangan Alex menahannya. Dia berlama-lama menempelkan bibirnya di keningku.
"Ehem." Suara deheman Ayah membuat dia melepaskanku.
Acara itu berakhir dengan singkat. Kami kembali ke hotel. Ibu membantu membersihkan tubuhku dari riasan. Aku mengganti bajuku dengan pakaian yang nyaman.
Ibu mendudukanku di ranjang. Beliau menggenggam tanganku dan menatapku dengan sedih.
"Kasihan sekali nasibmu Nduk... Ibu tidak menyangka, anak Ibu yang membanggakan akan memiliki pernikahan seperti ini. Ke depannya Kamu harus bersabar. Kamu sudah menjadi seorang istri. Tanggung jawab Kami sebagai orangtua sudah selesai. Sekarang Kamu menjadi tanggung jawab suamimu sepenuhnya. Apapun yang dikatakan oleh suami, Kamu harus manut (patuh). Tidak boleh menentang atau pun menyanggahnya. Semoga kalian diberi pernikahan yang bahagia..." Ibu memelukku dan mengecup keningku.
Aku kembali terisak. Aku tidak tahu bagaimana masa depan Kami ke depannya? Bagaimana rasanya menjadi istri kedua? Apa Alex akan menyembunyikan Aku dan anakku dari Diana? Entahlah, Aku tidak tahu dengan permainan takdir. Aku hanya bisa pasrah menerima semuanya.
***
Sore itu keluargaku memutuskan untuk langsung pulang. Aku dan Alex mengantarkan mereka ke bandara.
"Maaf ya Nduk, Kita harus pulang dulu. Nanti setelah urusan di rumah selesai, Ibu akan mengunjungimu. Jaga dirimu baik-baik ya." Ibu memeluk dan mencium keningku dengan hangat.
"Cucu Uti, sehat-sehat ya Nak. Jangan rewel. Jangan nyusahin Mama ya. Nanti Uti datang berkunjung." Ibu mengelus-ngelus perutku.
Perasaanku sangat bahagia. Selama enam bulan ini, tidak ada yang mengelus perutku dan menganggap bayi ini ada. Mendapat perhatian kecil seperti itu membuatku senang tak terkira.
"Iya Uti, Adek sehat kok Ti. Nggak rewel." Ibu mengecup perutku dengan lembut. Membuat mataku berkaca-kaca.
Kemudian Aku mendekati Ayah. Beliau masih marah padaku. Aku mengambil tangan beliau, bermaksud untuk mencium tangannya. Namun Ayah menepis tanganku. Hatiku berdenyut sakit. Aku menahan diri untuk tidak menangis.
"Maafin Khansa ya Ayah. Sehat-sehat ya Yah. Nanti Khansa pulang buat jenguk Ayah."
"Tidak usah. Ayah tidak butuh seorang anak yang sudah menebar aib. Ayo Bu, pulang. Jangan lama-lama di sini!"
Ayah menarik tangan Ibu yang sepertinya masih tidak rela berpisah denganku. Fian hanya menatapku sekilas dan memalingkan muka. Biasanya bila bertemu denganku, Fian akan mencium tanganku dan memeluk. Kemudian tentu saja meminta uang.
Namun pertemuan kali ini tidak ada sepatah katapun yang keluar dari mulutnya. Aku benar-benar mengecewakannya.
Aku melihat Alex mengejar orangtuaku. Dia mencium tangan kedua orangtuaku. Entah mengapa Ayah tidak menolak niat baiknya. Kemudian Aku lihat Ayah seperti menasehati Alex ini-itu. Aku tidak bisa mendengar perkataan itu karena jarak yang cukup jauh.
Alex hanya mengangguk-angguk dengan sopan. Kemudian Ayah menepuk-nepuk punggung Alex sebelum membalikkan badan menuju ke pintu keberangkatan.
__ADS_1
Ibu membalikan tubuh dan melambai-lambaikan tangannya. Sementara Ayah dan Fian tidak berbalik lagi. Mereka sudah benar-benar tidak peduli.
Aku menatap kepergian mereka sampai tak terlihat lagi. Alex berjalan ke arahku.
Aku tidak suka dengan tatapannya. Senyum kecilnya tersungging. Dia seolah-olah puas dengan semua hal yang terjadi. Apa karena semua berjalan sesuai dengan keinginannya? Sekarang, apa yang akan terjadi pada Kami?
"Ayo pulang." Alex menggandeng tanganku dengan santai. Aku berusaha melepaskan, namun dia menggenggam tanganku dengan lebih erat.
"Lepas!"
"Aku berhak atas dirimu. Aku suamimu. Jangan menolakku Khansa." Alex menggunakan nada tegas. Aku ingin membantah, tapi melihat tatapan Alex membuatku mengurungkan niat. Pada akhirnya Aku membiarkan tanganku digenggamnya.
Tangan kiri Alex memegang tanganku, sementara tangan kanannya memegang ponsel. Dia menghubungi seseorang.
"Winda, Kamu pulang dulu. Ya, Kami masih akan di sini. Mungkin 2-3 hari lagi baru ke Jakarta. Siapkan apa yang kuperintahkan kemarin. Aku pulang, semua sudah siap. Mengerti?"
Alex menutup panggilan. Dia kembali menatapku. Tiba-tiba saja dia mengecupi punggung tanganku. Matanya berbinar gembira.
"Apaan sih!" Aku menarik tanganku, tapi Alex tetap tidak membiarkannya.
"Tidak boleh ketus sama suami."
"Puas Kamu?! Puas bikin Aku dibenci Ayah?! Jahat Kamu! Aku benci!!" Aku kembali menarik tanganku, namun Alex malah menarik tubuhku dalam pelukannya.
Argghhh!! Benci!! Aku benci banget dengan pria ini!!
Buk... Buk... Buk...
Aku memukuli dada Alex. Kesal sekali rasanya. Aku tidak pernah punya emosi seperti ini. Aku jarang sekali marah. Tapi melihat Alex bisa mempengaruhi Ayahku dan membuat hubunganku dan beliau memburuk membuatku sangat kesal. Belum lagi dia berhasil menjadikanku istri keduanya. Kemarahanku semakin memuncak.
Alex menangkap kedua tanganku dengan santai. Kemudian dia mengecupi buku-buku jariku.
"Jangan marah-marah. Kasihan bayinya kan."
"Bukan urusanmu!"
"Ckckckck... Khansaku tidak pernah sekasar ini."
"Aku bukan Khansamu!"
"Kamu Khansaku. Kamu istriku. Dan Kamu milikku." ucapnya dengan nada tegas. " Yuk pulang. Jangan marah-marah terus."
"Aku tidak mau!"
__ADS_1
"Yakin tidak mau? Mau Aku gendong lagi?" Alex menatap sekitar. Senyum kecil licik merekah di bibirnya.
Aku tahu dia tidak main-main dengan kata-katanya. Bukan tidak mungkin dia akan benar-benar menggendongku di tengah hiruk-pikuk bandara seperti ini.
Aku menghentakkan kakiku dengan kesal. Mau tidak mau Aku membiarkan tanganku di genggam dan mengikuti langkahnya.
"Begitu dong. Sama suami harus nurut. Nggak boleh bantah."
Aku capek meladeninya. Lebih baik Aku mendiamkannya saja.
Di sepanjang perjalanan Alex tetap memegang tanganku. Sesekali dia mengusap dengan ibu jarinya, sesekali dia mengecupnya.
Perasaanku bukan tidak berdebar diperlakukan seperti itu. Hati ini masih berdebar untuknya. Namun Aku belum bisa memaafkan sikapnya. Semuanya!!
"Ada tempat yang ingin dikunjungi?" Aku tidak menjawab. "Hem... Tidak ada ya. Kalau begitu Kita kembali ke hotel saja. T*lanjang bulat dibawah selimut yang hangat..."
"Uhuukk!! Uhuuuk!!" Aku tersedak air liurku sendiri. Aku menatap Alex lekat-lekat. Alex balas menatapku.
"Kenapa? Kita sudah pernah melakukannya. Apa Kamu pikir Kita tidak akan melakukannya lagi?" Alex tertawa geli. Mungkin dia merasa lucu melihat ekspresiku?
"A-aku mau ke Batu!"
"Hemm... Ide bagus. Di sana cuacanya dingin. Kita bisa memesan villa dan melakukan hal yang menghangatkan badan..."
Ya ampun, kenapa dia menjadi pria mesum sekarang? Apa waktu sungguh mengubah seseorang?
Hah, waktu tidak mengubahnya. Sedari SMA dia memang seperti ini. Ingatan ciuman panasnya dengan Briana menghantuiku. Waktu remaja saja dia sudah melakukan hal seperti itu, tidak heran bila dewasanya dia tumbuh menjadi pria mesum.
"T-tidak jadi! An-antarkan Aku ke museum angkut!"
"Pffftttt..." Alex tertawa geli. Kesal sekali Aku melihatnya.
Aku tidak bisa menebak-nebak karakter Alex.
Terkadang pria ini suka memerintah dan Aku akan tunduk dengan perintahnya. Tapi terkadang dia juga licik, tengil dan juga mesum. Sebenarnya sosok Alex yang asli yang mana sih?
"Aku lebih suka menyewa villa. Kita akan melakukan hal-hal enak..."
"Stop!! Antarkan Aku ke museum angkut!" Percakapan ini sungguh membuatku gerah.
***
Happy Reading 😎
__ADS_1
NB : Jangan tanya POV Alex ya zheyenk, karena bila POV Alex muncul itu artinya novel ini akan tamat. Terima kaseeeh 😙🤗