
Andre tampak tidak percaya dengan perkataanku. Tapi Aku berusaha meyakinkannya. Membuatnya percaya bahwa semua yang kukatakan itu benar, padahal hanya kebohongan belaka.
Andre menatapku dengan sedih. Dia menatapku dalam-dalam. Matanya kembali berkaca-kaca. Bibirnya tampak gemetar berusaha menahan tangis yang akan kembali keluar.
Kemudian Andre menjulurkan tangannya. Dia memegang kepalaku dengan lembut dan membelainya.
"Sayang sekali Kita tidak berjodoh... Aku benar-benar ingin membuatmu menjadi istriku, ibu dari anak-anakku. Sulit bagiku untuk menerima kenyataan ini Sha... Aku sudah membayangkan kebahagiaan Kita nantinya, bersama anak-anak Kita. Kini semua sirna..."
Andre mengambil tanganku dan menggenggamnya. Airmata kembali mengalir di pipinya. Aku ikut-ikutan menangis, menyadari ketulusan pria itu.
"Khansa... Berjanjilah padaku... Kamu harus bahagia. Kamu harus benar-benar bahagia Sha. Aku melepasmu untuk membuatmu mendapatkan kebahagiaanmu. Sekali Aku lihat Kamu tidak bahagia, Aku akan kembali mengambilmu darinya. Berjanjilah Sha..."
Aku kembali menangis mendengar kata-kata Andre. Aku menyesal, benar-benar menyesal telah menyakiti perasaan laki-laki baik ini.
"Iya Mas, Aku akan bahagia. Kamu juga, berbahagialah. Carilah wanita yang mencintaimu dengan tulus Mas. Aku yakin pria baik sepertimu akan mendapatkan jodoh yang baik pula." Tidak seperti diriku yang sudah kotor ini.
"Aku akan bahagia bila Kamu bahagia Sha. Kamu harus bahagia ya Sha. Ingat Sha, Aku mengalah agar Kamu bahagia. Bila Kamu tidak bahagia, Aku akan memperjuangkanmu lagi..."
"Iya Mas. Aku pasti bahagia. Dia pasti akan memperlakukanku dengan baik. Kamu tidak perlu khawatir Mas." Aku berbohong dengan lancar.
Setelah berjam-jam lamanya berusaha meyakinkan Andre, akhirnya pria itu mau menerima keputusanku dengan lapang dada.
Kami berpisah secara baik-baik dan memutuskan untuk menjadi teman kerja yang baik. Namun Andre tetap menekankan kata-katanya, bahwa dia akan kembali mendekatiku bila Aku tidak bahagia. Aku jadi takut dengan ancamannya. Aku takut membayangkan bila hal itu benar-benar terjadi.
***
Andre kembali ke Surabaya ketika matahari mulai terbenam. Orangtuaku memperlakukannya dengan sangat baik. Ayah dan ibuku sangat menyukai Andre. Sepertinya mereka berharap Aku berjodoh dengannya. Namun Aku sudah menegaskan pada mereka, bahwa hubungan Kami sudah berakhir. Mereka menghela napas penuh dengan kekecewaan.
Sepulangnya Andre, Aku kembali bergelung di kamar. Aku menatap ponselku berkali-kali. Berharap ada nomor baru yang menghubungiku. Namun harapanku tak pernah menjadi nyata. Hanya orang-orang kantor yang menghubungiku, tiada yang lain.
Kesedihan melandaku. Alex benar-benar tidak menganggapku. Aku benar-benar tidak pernah ada di hatinya. Setiap kali mengingat hal itu selalu membuatku sakit hati dan Aku akan kembali menangis terisak-isak.
Sudah seminggu Aku berada di kotaku. Orangtuaku tahu Aku bersedih. Mereka pikir Aku sedih karena putus dengan Andre. Mereka berusaha menghiburku dengan mengalihkan pikiranku.
Ibu mengajakku ke pasar dan memasak bersama. Sementara Ayah memboncengku menggunakan sepeda kayuh, melewati persawahan hijau yang membuat hati tenang. Kemudian Kami berhenti di tepi pematang sawah. Duduk di sana sembari menikmati angin semilir.
"Nduk..."
__ADS_1
"Iya Yah?"
"Ingat dulu, Kamu sering ngontel ke sekolah?"
"Iya, inget banget Yah. Soalnya kan tiap hari ngontelnya Yah..."
"Ayah sangat-sangat bersyukur. Dulu anak Ayah ke sekolah, kuliah ngontel. Sekarang anak Ayah punya pekerjaan yang bagus, dan pergi ke kantor pakai mobil. Kalau ingat jaman dulu, rasa syukur ini tak pernah ada habisnya. Ayah sangat bersyukur dan bangga punya anak seperti Kamu dan adikmu Nduk. Kamu berhasil mengangkat derajat Kami Nduk. Membuat Kami hidup enak di masa tua Kami. Terima kasih ya Nduk..." Ayah membelai kepalaku dengan sayang.
Mendengar kata-kata Ayah membuatku berkaca-kaca. Ayah begitu membanggakanku, namun Aku sudah melakukan dosa besar yang akan menjadi aib seumur hidup. Aku begitu merasa bersalah.
"Ayah... Hiks... Ayah maafin Khansa... Jangan benci Khansa ya Yah... Maaf..." Aku memeluk ayahku. Airmata tak dapat kubendung. Terlintas dibenakku raut wajah kecewa ayahku bila tahu kelakuanku. Karena dibutakan cinta Aku tidak memikirkan perasaan orangtuaku. Aku benar-benar merasa bersalah.
Ayah membalas pelukanku. Menepuk-nepuk punggungku dengan sayang. Sembari mengatakan kata-kata menenangkan.
"Mana mungkin Ayah benci anak Ayah? Anak Ayah sangat membanggakan. Tidak pernah merepotkan dan mengecawakan orangtua. Selalu melakukan hal yang membanggakan. Bagaimana mungkin Ayah bisa benci anak semengagumkan dirimu Nduk?"
Aku kembali menangis. Aku tidak bisa membayangkan, bagaimana jadinya bila Ayah tahu Aku melakukan kesalahan itu? Ayah pasti akan sangat kecewa padaku. Aku tidak ingin melihat wajah kecewanya. Sepertinya Aku harus menyembunyikan kesalahanku ini untuk selama-lamanya.
***
Sudah dua minggu berlalu. Waktu cutiku sudah berakhir. Sudah saatnya Aku kembali pada kenyataan. Kembali ke rutinitasku biasanya. Aku kembali ke Surabaya, kota tempatku mengais rejeki.
Otakku menyuruh untuk berhenti berharap. Namun hati bodohku menyuruh untuk menunggu. Setiap malam yang kulakukan hanya menatap fotonya. Foto yang kudapat dari grup.
Perasaan getir, sakit hati namun rasa sayang ini masih ada. Ingin rasanya Aku merobek hatiku dan mengeluarkan bayangan dia dari sana.
Butiran airmata bodoh menjadi saksi, bahwa bayangnya tak bisa kuhapus dari hatiku. Aku masih mencintainya. Seberapa besar dia membuat hatiku sakit, tapi Aku masih mencintainya. Aku benar-benar wanita yang bodoh.
***
Aku kembali pada aktivitas lamaku. Aku bekerja seperti biasa. Hanya saja target pekerjaan menjadi lebih berat, karena GH menilai cabang Kami kurang perform.
Hubunganku dengan Andre? Aku berusaha bersikap biasa-biasa saja, Andre pun demikian. Namun kecanggungan masih terasa.
Hampir semua orang tahu Kami putus dan itu menjadi gosip hangat di kalangan Kami. Banyak yang menyalahkan Andre. Menuduh Andre berselingkuh dan lain sebagainya. Tidak ada yang menuduhku bersalah, karena mereka menilai Aku tidak akan pernah berbuat salah. Aku wanita baik-baik, perfeksionis dan tidak pernah melakukan kesalahan.
Padahal kalau mereka tahu kenyataan sebenarnya, mungkin mereka akan mendorongku ke dasar jurang. Menjadikanku gosip harian.
__ADS_1
Andre melindungiku. Dia membenarkan setiap pertanyaan yang terlontar di benak mereka. Menyalahkan dirinya sendiri atas perpisahan Kita. Perasaan bersalah semakin menggerogotiku. Namun Aku tak bisa berbuat apa-apa, kecuali diam. Aku terlalu pengecut untuk mengakui pada seluruh dunia, bahwa Akulah yang bersalah.
***
Pagi itu Aku bangun dalam kondisi badan yang tidak enak. Badanku terasa meriang, tubuhku panas, kepalaku pusing.
"Zil, kayaknya hari ini Aku nggak kerja dulu."
"Ibu kenapa?"
"Kurang enak badan. Laporanmu tetap dikirim seperti biasa ya."
"Nggak enak badan gimana Bu? Mau Aku jemput? Aku antar ke RS ya..." Di ujung panggilan sana, Sizil tampak khawatir.
Biasanya kalau Aku mengalami sedikit saja hal yang menyusahkan, Sizil akan melemparnya ke Andre. Berusaha membuat Andre dekat denganku. Namun karena Aku sekarang sudah putus dengan Andre, dia menjadikan dirinya sendiri sebagai pelindungku.
"Nggak usah. Mau Aku buat istirahat aja Zil. Sepertinya gejala mau menstruasi. Perutku agak kram sedikit."
"Yakin Bu? Aku bisa ijin ke Pak Arif nih, buat nganterin Ibu."
"Iya, yakin sayang. Aku istirahat dulu ya. Laporannya jangan lupa."
"Huh Ibu nih. Masih sakit inget aja sama laporan. Iya Bu, iya... Entar laporannya Aku kirim. Ya sudah met istirahat Bu. Entar kalau udah senggang Aku mampir ke kontrakan."
"Tidak perlu..."
"Ibu istirahat aja. Ada makanan yang Ibu mau?"
Aku memutar otakku. Memikirkan makanan membuat perutku bergejolak. Makan jeruk sepertinya akan enak?
"Titip jeruk deh Zil. Makasih ya. Aku istirahat dulu."
"Iya Bu, met istirahat Ibu sayang..." Dan panggilan pun ditutup.
Aku menyelimuti tubuhku. Berusaha meredam tubuhku yang meriang.
Aku jarang sekali sakit. Mungkin ini gara-gara Aku stress beberapa hari ini. Di tambah beban pekerjaan yang bertambah dan siklus menstruasi yang akan datang. Ya, pasti sakitku karena hal itu.
__ADS_1
***
Happy Reading 😩