
Aku yang ketakutan tidak mengindahkan perkataan itu. Aku tetap memacu motorku.
"Khansa, berhenti!! Jangan buat Aku memaksamu!!" Aku tetap tidak memedulikan teriakan itu.
Kemudian mobil itu melaju dengan cepat dan memotong arah jalanku. Aku yang terkejut mau tidak mau harus mengerem motorku. Sebelum Aku sempat menyadari, Alex sudah turun dari mobil dan bergerak ke sisiku.
"Ikut Aku." Alex memegang lenganku. Aku benar-benar sudah tertangkap.
"Le-lepaskan! Aku nggak mau ikut!"
"Khansa, jangan membuatku memaksamu. Turuti perkataanku."
"Aku nggak mau ikut!!"
Alex mengambil kunci motorku dan membuangnya ke tengah jalan. Belum hilang rasa terkejutku, tiba-tiba Alex sudah mendekap dan menggendongku. Membawaku masuk ke dalam mobilnya. Membiarkan motorku tergeletak begitu saja.
"Lepaskan Aku!! Lepaskan!! Tolong!! Tolong!!"
Mungkin orang lain yang melihat Kami akan merasa sangat lucu. Drama ini terjadi di pinggir jalan raya. Tapi Aku sudah tidak peduli lagi. Aku tidak ingin bersama Alex. Aku harus melakukan berbagai cara untuk lepas darinya. Meskipun cara yang kugunakan akan membuatku menjadi tontonan.
Seperti harapanku, beberapa orang yang berada di situ mulai berkumpul.
Alex mendudukanku di kursi mobil dan memasang sabuk pengaman. Aku masih berusaha memberontak. Meminta pertolongan dari warga sekitar.
"Mas, ada apa ini? Kenapa melakukan pemaksaan seperti ini?" Salah satu orang bertanya.
Alex menutup pintu mobil dan berbalik, menghadapi orang-orang itu.
"Jangan ikut campur. Ini masalah rumah tangga Kami." Alex menjawab dingin dengan tatapan tajam. Membuat orang-orang yang berada di sana menjadi segan.
Alex berjalan mengitari mobil. Aku menggunakan kesempatan itu membuka pintu mobil. Tapi sebelum Aku berhasil membukanya, Alex sudah terlebih dulu masuk dan mengunci mobil secara otomatis.
"Jangan bikin masalah. Duduk dengan tenang." Ucapnya dingin sembari menyalakan mobil.
Aku terdiam. Terlalu takut untuk membantahnya. Aku tidak mengenali Alex yang sekarang. Sikap ramahnya sudah tidak ada lagi. Di gantikan oleh sikap dingin, pemarah dan tukang perintah.
Alex memacu mobil. Memecah padatnya lalu lintas kota Malang. Aku tidak tahu dia akan membawaku kemana. Pikiranku benar-benar buntu.
Apa yang akan dilakukan Alex padaku? Apa dia akan memaksaku untuk membuang anak ini?!
Terlintas pikiran seperti itu serta merta membuatku memeluk perut dengan posesif. Aku ingin melindungi anak ini apapun yang terjadi!
"I-ini bu-bukan milikmu...A-aku sudah menikah.." Aku benci dengan nada tergagap di suaraku.
"Biarkan hasil test yang menjawabnya." Alex berbicara dengan tenang. Aku menatapnya dengan heran.
Rasa heranku langsung terjawab begitu mobil memasuki area parkiran rumah sakit.
__ADS_1
"Un-untuk apa kesini?!"
"Untuk memastikan bahwa dia adalah milikku. Tapi tanpa test juga Aku tahu dia milikku." Alex berbicara tanpa melihatku. Dia memarkir mobil dengan tenang dan membuka sabuk pengaman. Kemudian dia menatapku lekat-lekat. Membuat bulu kudukku berdiri. Aku takut dengan tatapannya.
"Jadi, Khansa Aulia... Kapan Kita akan menikah?"
"Hah?!"
Aku menatap Alex dengan mulut ternganga. Apa pria ini sedang tidak salah makan? Atau memang pendengaranku yang berkurang? Mungkin Aku salah menangkap maksud perkataan Alex?
"Aku tanya, kapan Kita akan menikah? Mengingat perutmu yang besar, Kita harus menikah secepat mungkin..." Alex mendekat padaku. Tanpa Aku duga dia menyentuh perutku dengan lembut. Sentuhan yang membuatku tersengat. Aku otomatis langsung menampik tangannya.
"Jangan sentuh Aku!" Aku melihat kilatan sakit hati di matanya. Alex bersandar di kursinya.
"Baiklah. Aku tahu Kamu tidak akan membuat ini mudah. Aku bisa memahamimu." Dia berhenti sejenak dan kembali menatap perutku. "Tapi Khansa... Dia adalah milikku. Seberapa keras pun Kamu membantah, Aku akan membuatnya menjadi milik..."
"Siapa bilang dia milikmu?! Dia anakku. Aku sudah menikah! Jangan Kamu pikir hanya dengan satu kali melakukan..."
Alex tiba-tiba turun dari mobil. Dia mengitari mobil dan membuka pintu di sisiku.
"Turun."
"Ka-kamu mau apa?"
"Kamu membantah kalau dia milikku. Aku akan membuktikannya. Turun. Sebelum Aku memaksamu."
Alex dengan cepat menarik tubuhku dan menggendongku. Dia menutup pintu mobil dengan pinggulnya.
"Alex!! Apa-apaan? Le-lepaskan Aku! Lepaskan!"
"Kamu yang memaksaku Khansa."
"Alek!! Turunkan Aku! Turunkan!" Ya ampun, ini sangat memalukan. Alex menggendongku melewati parkiran rumah sakit dan mulai berjalan di sepanjang koridor. Banyak mata-mata yang menatap dengan ingin tahu. Ini benar-benar sangat memalukan! Aku menutup wajahku. Aku benar-benar malu.
"Tu-turunkan Aku. Ini sangat memalukan..."
"Aku akan menurunkanmu setelah Kamu menjawab pertanyaanku. Bayi ini memang milikku bukan?"
Aku benar-benar sangat dilema. Aku ingin mengelak, tapi Alex pasti akan melakukan test padaku yang pada akhirnya akan membuat dia tahu bahwa bayi ini memang anaknya. Tapi setelah tahu, apa yang akan dilakukannya? Dia bukan pria single lagi. Dia sudah punya Diana. Mereka juga akan segera memiliki bayi. Apa ada pengaruhnya jika dia tahu bahwa bayi ini juga miliknya?
"Khansa, sepertinya Kamu benar-benar ingin Aku melakukan test. Oke, tidak masalah bagiku..."
"Turunkan Aku dulu."
"Kamu akan menjawabku?"
"Iy-ya."
__ADS_1
"Jangan kabur. Kamu tahu Aku akan menangkapmu."
"Iya."
Alex menurunkanku pelan-pelan. Kemudian dia menggenggam tanganku dan menariknya.
"Kita bicara di mobil." Aku hanya menurutinya. Kita kembali berjalan ke arah parkiran. Alex membukakan pintu mobil untukku, membuatku masuk ke dalamnya. Setelah melihat Aku aman, dia mengitari mobil dan masuk dari arah pintu pengemudi.
"Aku menunggu." Ucapnya dengan tenang. "Dia milikku. Benar begitu?"
"Hem." Aku tidak berani melihat Alex.
Hembusan napas lega terdengar di sampingku. Aku melirik Alex. Pria itu tampak tersenyum samar. Matanya tampak berbinar. Ahh, mungkin Aku salah lihat? Alex tidak mungkin senang mendengar kabar ini bukan?
"Lalu, kapan Kita akan menikah?"
"Hah?"
"Apa pendengaranmu bermasalah? Aku tanya kapan Kita akan menikah?" Alex berbalik menatapku. Binar kecil di mata dan seringai tipis di bibirnya membuatku yakin pria itu memang sedang bahagia. Dia benar-benar gila.
Bagaimana mungkin dia menanyakan pernikahan sementara ada Diana dan calon bayi mereka? Apa dia sinting?!
"Eumm... A-aku tidak mau..."
"Tidak mau apa?"
"Aku tidak mau menikah denganmu..."
"Kenapa?"
Dasar pria tidak peka!! Mengapa dia masih bertanya?! Bukankah alasannya sudah jelas?! Aku tidak mau menikah dengannya karena dia sudah memiliki istri dan calon bayi! Aku tidak ingin menjadi perusak pernikahan mereka! Aku tidak ingin menjadi istri kedua! Apa pria yang dulunya cerdas ini tidak memikirkan ke arah itu! Apa kecerdasannya sudah menurun?!
Aku menghela napas dalam-dalam. Mencegahku untuk tidak emosi menghadapi Alex yang menyebalkan seperti ini. Aku menatap Alex dalam-dalam. Aku menyesal melakukannya. Tatapan pria itu membuatku tunduk. Membuat lututku melemah. Ternyata hatiku masih lemah. Pria ini masih membawa pengaruh besar terhadap hatiku. Aku masih mencintai pria kerdus (eh maaf salah ketik), Aku masih mencintai pria menyebalkan ini.
Aku memalingkan wajahku. Tidak ingin Alex melihat kebohongan di mataku. Aku menarik napas dalam-dalam dan menjawab...
"Aku tidak bisa menikah denganmu... Karena Aku tidak mencintaimu."
***
Happy Reading 😜
NB : Aaarrghh, sebenarnya Aku tidak ingin update hari ini. Tapi Aku kasihan sama emak2 yang pada galon di mari. Ya sudahlah, Aku kasih saja 2 episod ini. Semoga bisa mengobati kegalonan emak2 dan membuat mood weekend ini menjadi baik 🥺
Lope yuh emak2 semua, terima kasih untuk antusiasmenya menunggu AlKhans update. Muaaachhh 😚😙🤗
~ErKa~
__ADS_1