
Suara dari information service menunjukan bahwa pesawat Kami sudah siap untuk boarding. Berhubung Kami memesan tiket first class, Kami mendapat keistimewaan yaitu memasuki pesawat lebih dulu dibanding penumpang yang lain.
Ruang first class sangat berbeda dengan ruang ekonomi. Hanya ada 4 kursi di setiap barisnya. Masing-masing satu kursi di dekat jendela, dan dua kursi di tengah. Alex menempatkan Kami berdua, di dua kursi di tengah. Sementara dia duduk di kursi di dekat jendela.
Alex memastikan Kami berdua duduk dengan nyaman.
"Butuh bantal atau selimut?"
"Aku mau bantal deh." Diana nyeletuk. Alex menatapku, Aku menggeleng-gelengkan kepala.
"Ada yang lain?"
"Nggak ada."
Alex memanggil awak kabin dan memesan ini itu. Kemudian dia mengambil bantal dan selimut dari tangan awak kabin. Dia menurunkan kursi Kami dan meletakkan bantal di kursi Diana. Membuat posisi Diana senyaman mungkin. Dia menaikkan penyekat sehingga Kami memiliki ruang privasi sendiri. Setelah itu dia beralih ke kursiku, melakukan hal yang sama dan menyelimutiku.
"Mau nonton TV?"
"Nggak."
"Mau camilan? Atau minuman?"
"Nggak."
"Nggak lapar? Biasanya dia makannya banyak." Alex mengelus perutku. Aku menggelengkan kepalaku.
"Mau apa-apa bilang ya."
"Iya."
"Ya sudah, istirahat ya. Cup..." Alex mengecup kening dan membelai perutku. Aku otomatis melirik sebelahku. Untung saja penyekat sudah dinaikkan, jadi Diana tidak melihat hal itu.
Alex kembali ke kursinya sembari tetap menatapku. Aku cepat-cepat memejamkan mata. Aku takut Diana melihat Kami. Ini sangat berbahaya. Alex benar-benar nekat.
Perjalanan dari Jakarta ke Surabaya di tempuh dalam waktu kurang dari dua jam. Sesampainya di Surabaya, Kita masih naik pesawat menuju kotaku.
__ADS_1
Menjelang sore hari, Kami sudah mendarat di kota Kami. Salah satu kota kecil di Jawa Timur. Di sana Kami sudah ditunggu oleh supir pribadi keluarga Alex.
Alex memutuskan untuk mengantarku terlebih dulu. Sesampainya di rumah Ayah, Alex membantu menurunkan koperku.
"Aku antar Diana dulu ya. Setelah selesai, Aku akan kembali kesini. Salam buat Ayah dan Ibu." Alex berbicara sembari mengelus kepalaku dan memberiku kecupan singkat di kening. Aku secara spontan menjauh, karena takut Diana melihat Kami.
"Jaga diri baik-baik. Jangan nakal." Alex memberi tangannya. Aku mencium tangannya. Dia kembali mengelus-ngelus rambutku sebentar, kemudian kembali masuk ke dalam mobil. Aku melihat mobil itu sampai menghilang dari pandangan.
"Ahh enaknya jadi Diana. Bisa bertemu dengan keluarga Alex? Aku kapan bisa seperti itu?" Tanpa sadar Aku bergumam dan langsung memukul mulutku sendiri.
"Tidak boleh iri Khansa. Diana pantas mendapatkannya. Dia istri sah Alex. Kamu hanya istri siri, sebaiknya Kamu terima nasibmu dengan baik." Aku menghela napas dalam-dalam.
Aku membuang rasa sedihku dan memasang wajah ceria. Orangtuaku tidak boleh tahu bahwa Aku bersedih. Aku harus selalu ceria di depan mereka.
Aku melihat rumahku tampak tertutup rapat. Tidak ada motor atau mobil pick up Ayah di garasi. Apa tidak ada orang di rumah?
"Assalamu'alaikum... Ayah, Ibu... Ini Khansa... Assalamu'alaikum..." Aku mencoba berteriak dari depan pagar, namun tidak kunjung mendapat jawaban. Setelah beberapa kali mencoba namun tidak kunjung ada jawaban, akhirnya Aku memutuskan untuk menelepon.
Aku menelepon Ayah dan Ibu, namun nomor selalu di luar jangkauan. Aku mencoba menelepon Fian, namun tidak di angkat-angkat. Sepertinya Fian masih marah padaku?
Hampir setengah jam Aku menunggu di depan rumah tanpa kepastian. Tetangga mulai melihatku dengan pandangan ingin tahu. Mereka memperhatikanku dari atas ke bawah. Pandangan mereka selalu berakhir di perutku. Ingin rasanya Aku menutupi perutku yang buncit itu.
Sesampainya di hotel, Aku memesan kamar biasa dan merebahkan diri. Aku melihat jam di dinding. Waktu masih menunjukan pukul tiga sore, sementara acara pernikahan Dino jam tujuh malam. Masih ada waktu empat jam buatku untuk beristirahat.
Aku benar-benar lelah. Aku benar-benar lupa untuk memberitahu Alex mengenai keberadaanku saat ini. Aku berbaring di ranjang dan tertidur dengan lelapnya.
***
Aku terbangun ketika mendengar suara Adzan sayup-sayup menelusup ke kamarku. Aku membuka mata dan menatap jam di dinding. Rupanya sudah jam tujuh malam.
"Ya ampun. Sudah jam tujuh. Aku harus siap-siap!" Aku mandi dengan cepat dan berdandan kilat.
Resepsi pernikahan Dino diadakan di hotel yang letaknya tak jauh dari hotelku menginap. Pihak hotel menawarkan layanan antar jemput. Tanpa berpikir panjang, Aku menerima tawaran itu dan menuju lokasi resepsi. Karena terburu-buru, Aku benar-benar melupakan ponselku. Aku hanya membawa dompetku.
Lima belas menit kemudian, Aku tiba di lokasi acara. Resepsi itu di adakan di aula hotel yang terletak di lantai dua.
__ADS_1
"Terima kasih Pak." Aku memberi tips.
"Nanti tolong kabari kalau sudah selesai ya Bu. Nanti Saya jemput kembali."
"Iya Pak, terima kasih." Aku keluar dari mobil dan tengah bersiap memasuki hotel ketika Aku merasa seseorang menarik tanganku dengan kasar.
"Khansa!! Darimana saja Kamu?!!" Aku berhadapan dengan Alex yang tampak murka. Rambutnya acak-acakan, matanya merah dan tercium bau rokok dari mulutnya.
"Jawab Aku!! Kamu darimana saja?!!" Alex membentakku dan merengkuh kedua bahuku, mengguncang-guncang tubuhku. Aku masih terlalu terkejut untuk bisa menanggapi kata-katanya.
"Aku hampir gila mencarimu!! Aku mencarimu di rumah Ayah, tapi Kamu tidak ada!! Aku meneleponmu, tapi nomorku tidak aktif!! Kamu benar-benar mau meninggalkanku?!! Kamu mau membuatku mati?!! Jawab Khansa!!" Alex tampak frustasi. Aku masih terdiam. Aku mencerna kata-kata Alex dengan baik. Kemudian Aku mulai memahami apa maksud pria itu.
Aku benar-benar lupa untuk memberinya kabar, bahwa Aku tidak di rumah Ayah namun di hotel. Dan, ponselku ketinggalan. Pantas saja Alex tidak bisa menghubungiku. Tapi menurutku reaksi Alex terlalu berlebihan. Mana mungkin Aku dituduh mau meninggalkannya?
Tiba-tiba saja Alex memeluk tubuhku dengan erat.
"Jangan tinggalkan Aku..." bisiknya dengan suara parau. Tubuhnya tampak bergetar. Mungkin menahan amarah? Aku menepuk-nepuk punggungnya, berusaha untuk membuat amarahnya mereda.
Setelah beberapa saat memelukku, Alex merenggangkan pelukannya dan menatapku. Tangannya masih memegang tanganku, seolah-olah takut Aku kabur darinya.
"Kamu dari mana? Dimana Kamu selama beberapa jam ini? Kenapa ponselmu tidak aktif?" Alex bertanya sembari menguasai emosi, sepertinya dia menjaga emosinya untuk membuatku tidak takut.
"Aku menginap di hotel R*yal. Tadi rumah tutupan. Aku menghubungi Ayah Ibu, tapi nomornya di luar jangkauan. Aku menghubungi Fian, tapi tidak di angkat..."
"Kenapa tidak langsung menghubungiku? Aku bisa langsung menjemput..."
"Tapi Kamu kan masih nganterin Diana Mas..."
"Kenapa sampai di hotel tidak mengabariku? Kenapa ponselmu tidak aktif? Apa Kamu tahu betapa gilanya Aku?! Aku pikir Kamu meninggalkanku Khansa!!" Alex menarik napas dalam-dalam. Wajahnya kembali tidak tenang.
"Aku ke rumahmu, tapi rumahmu tertutup. Aku menghubungimu dan keluargamu, tapi semua nomor tidak bisa dihubungi. Kamu membawa baju-bajumu. Bisa Kamu bayangkan perasaanku?! Aku takut keluargamu membawamu pergi dariku..." Alex menghela napas dalam-dalam. Dia kembali merengkuhku dalam pelukan.
"Jangan coba-coba untuk lari dariku Khansa. Kamu tahu, sampai ke ujung dunia pun Aku akan mencarimu. Jangan pernah berpikir untuk meninggalkanku, mengerti?"
"Kalian sedang apa?" Suara yang cukup familiar mengusik Kami. Aku mengintip dari balik punggung Alex. Dan... Aku melihat Diana sedang berjalan ke arah Kami!
__ADS_1
***
Happy Reading 😁