
Aku makan sembari menatap Alex. Pikiranku berputar-putar mengingat kata-kata pria itu. "Pelajaran cara memuaskan suami di ranjang", akankah seperti bayanganku? Akankah Kami benar-benar akan mengulangi malam itu?
"Jangan menatapku terus. Aku bisa memakanmu sekarang."
"Uhuk!!"
"Dari tadi batuk terus. Minum yang banyak." Alex membantuku minum sembari menepuk-nepuk punggungku.
"Kenapa? Tidak sabar dengan pelajaran yang akan kuberikan?"
"Eng-nggak..."
"Makan yang benar dong sayang. Aku akan mengajarimu dengan lembut dan pelan-pelan kok." Alex mengerlingkan mata genitnya. Membuat bulu kudukku merinding.
Aku berlama-lama menghabiskan makananku. Pikiranku yang kemana-mana membuatku tidak begitu memiliki nafsu makan.
Setengah jam kemudian, Alex menyuruh ART untuk membereskan meja makan dan membawaku ke ruang keluarga. Perasaanku menjadi lega. Itu artinya Alex tidak akan berbuat apa-apa.
"Duduk sini." Alex kembali menepuk pahanya. Aku menggeleng-gelengkan kepala. Rasanya sangat aneh kalau Aku duduk di pangkuannya sementara ada ART di sekitar Kita.
"Sini deh." Alex lagi-lagi menarik tanganku hingga membuatku terduduk di pangkuannya.
"Al!! Ad-ada yang lihat..."
"Aku tidak peduli. Jangan panggil Aku Al-El deh, Aku tidak suka."
"Maunya dipanggil apa? Biasanya kan panggilannya emang itu?"
"Suami? Papa muda? Papa ganteng?"
"Issshhh..." Aku mengerucutkan bibirku. Dan itu kesalahanku. Alex langsung melahap habis bibirku. Membuatku tidak memiliki kesempatan untuk menolak.
Alex menahan kepalaku agar tidak bisa menghindar dari serangannya. Lid*hnya menelusup jauh, masuk ke dalam rongga mulutku dan bermain-main di sana. Mengeksplore kehangatannya.
"Huft... Huft... Huft..." Aku mendorong dada Alex. Napasku megap-megap seperti ikan Lou Han yang kehabisan oksigen.
"Nah ini salah satu pelajaran. Sayang, Kamu tidak perlu menahan napas ketika sedang berciuman, lucu sekali sih Kamu, hehe..." Alex tergelak sembari memencet hidungku.
"Mana... Mana bisa bernapas kalau sedang ciuman kan?"
"Bisa dong. Sini Aku praktekin." Wajah Alex kembali mendekat. Aku masih menatapnya dengan tanda tanya.
__ADS_1
"Mau ciuman mata tertutup apa terbuka?"
"Ehm... Biasanya?"
"Tutup matamu sayang. Rilekskan tubuhmu." Suara Alex bagaikan perintah komandan pada anak buahnya, dengan patuh Aku mengikuti perintahnya. Aku menutup mataku.
Satu detik... Dua detik... Aku mulai merasakan hembusan hangat napasnya di wajahku. Tubuhku mulai meremang. Dan... usapan bibir hangat menyentuh bibirku. Kali ini sensasinya berbeda dibanding biasanya. Tidak ada ciuman mendesak, hanya sentuhan hangat. Napasku menjadi tertahan...
"Bernapas sayang... Bernapas... Jangan tegang..."
"Huft... Huft..."
"Di buat rileks..." Suara Alex menenangkan. Aku berusaha bernapas dengan tenang.
Bibir Alex masih berlama-lama berlabuh di bibirku, tanpa melakukan pergerakan apa-apa. Setelah menyadari tubuhku mulai rileks, bibir itu mulai meng*lum bibir bawahku. Membawa percikan kecil di tubuhku yang kemudian berpusat di bagian inti sariku.
Bibir Alex meng*lum dengan lembut. Tidak ada desakan atau paksakan. Secara naluri Aku membuka bibirku, seolah-olah memberinya ijin untuk masuk. Namun Alex masih berlama-lama mel*mati bibir bawahku, puas dengan bibir bawah, dia berpindah ke bibir atas. Seolah-olah mengajariku untuk melakukan hal yang sama.
Aroma bibirnya yang manis membuatku terbuai. Aku memejamkan mataku dan mengikuti naluriku. Aku mencoba membalas perlakuannya. Aku meng*cupi bibir itu, mulai mel*mat dan meng*lumnya, sama seperti yang diajarkan Alex padaku.
Bibir Kami saling m****** dan meng*lum dengan lembut. Aku tahu berciuman dengannya akan menjadi pengalaman yang sangat indah, tapi baru kali ini Aku benar-benar menikmatinya. Kami melakukannya dengan santai, tanpa adanya desakan hasrat.
Puas saling m****** bibir, lid*h Alex sedikit demi sedikit mulai masuk ke dalam rongga mulutku. Awalnya Aku masih tidak terbiasa. Namun ini tidak seperti ciuman Kita sebelum-sebelumnya. Tidak ada tuntutan, hanya kelembutan.
"Uhhhmm..." Suara desahan lolos dari bibirku. Permainan lid*hnya memacu adrenalinku. Membuatku seperti tidak mengenali tubuhku sendiri.
Aku menautkan tanganku dan mendekap kepala Alex. Seolah-olah menuntut pria itu untuk tidak melepaskan ciumannya.
Lama-kelamaan napas Kami menjadi berat. Pertautan lid*h semakin memanas. Ciuman ini begitu nikm*t. Aku menjadi candu. Aku sangat menyukainya. Pikiranku mulai tidak menjejak di tanah. Aku seperti berada di awang-awang...
Dan Aku tiba-tiba merasa kehilangan ketika Alex menarik tubuhnya. Kabut putih yang menutupi pikiranku sedikit demi sedikit mulai sirna. Aku membuka mataku perlahan dan mataku bertemu dengan tatapan tajam yang sarat akan gairah.
"Tidak buruk untuk pemula." Alex berusaha mengatur napas. Sepertinya dia cukup terpengaruh dengan ciuman Kami? Apa Aku sudah pintar ciuman sekarang?
"Sekarang pelajaran selanjutnya."
"Pelajaran apa?" Aku menatap bibir Alex. Entah mengapa Aku ingin mencium bibir pria itu lagi. Aku menjadi candu.
"Khansa... Kenapa menatap bibirku? Mau lagi?"
"Eng-nggak..." Aku memalingkan wajah dengan malu.
__ADS_1
"Polos banget sih Kamu, lucu..." Alex memeluk tubuhku sembari menyurukan kepala di leherku. Dia mengecupi leherku dengan gemas.
"Ihhh geli!! Geli tahu!"
"Geli tapi nikm*t kan... cup... cup..." Alex kembali mengecupi belakang telingaku, yang kutahu menjadi salah satu titik paling sensitif di tubuhku. Seketika tubuhku menjadi meremang. Aku menekuk tubuhku yang tanpa kusadari semakin membuatku merapat pada Alex.
Alex menelusuri leherku dengan lidahnya. Membuat pola-pola kecil di sana. Merayapinya hingga akhirnya lid*h itu menggelitik telingaku..
"Al... Ukhhh!" Alex mel*mat telingaku dan menghisap cuping lembutnya. Membuat tubuhku gemetar. "Al!!"
"Jangan panggil namaku." Alex menggeram. Lid*hnya tidak berhenti menghukumku. Aku ingin menjauh, tapi pria itu menahan tubuhku. Membuatku tak bisa lari darinya.
"A-al... Le-lepasin..."
"Jangan panggil namaku. Bandel ya." Alex menghis*p leherku. Menyes*pnya kuat-kuat. Meninggalkan rasa sakit sekaligus nikm*t. Aku memutar otakku untuk menghentikkan siksaannya. Dia tidak ingin dipanggil dengan namanya, panggilan apa yang bisa menyenangkan hatinya?
"M-maaas... Hen-hentikan..." Dan upayaku berhasil. Seketika tubuh pria itu terdiam. Alex menarik bibirnya dari ceruk leherku dan menatapku dalam-dalam. Pancaran matanya tampak senang.
"Tadi panggil Aku apa?"
"M-mas?"
"Lagi."
"Mas..."
"Lagi."
"Mas..."
"Kamu lucu sekali sih. Gemes Aku." Dan haaaappp... Dia kembali mel*mat bibirku habis-habisan. Membuatku gelagapan. Entah berapa lama Kami berp*gutan, Alex melepaskan bibirku ketika napas Kami sudah saling memburu.
"Kita lanjutkan pelajarannya di kamar."
"Hah??"
***
Happy Reading 😎
NB : Cavek juga ngetik adegan civ*kan sebanyak 1k 😂 . Maafkan episode unfaedah ini ya. Pelajaran terus berlanjuuuutt.
__ADS_1
Saya sekarang lagi ngetik lagi, begitu dapet 1 episode langsung Saya terbangkan. Semoga bisa setor episode lumayan hari ini. Happy weekend semua 😚🤗