Aku Hanya Figuran

Aku Hanya Figuran
Ch 73 - Bertemu dengan Mantan


__ADS_3

Kami melanjutkan perjalanan ke Surabaya. Semakin mendekati kota itu, ekspresi Alex semakin serius. Entah apa yang dipikirkannya? Apakah performa cabang Surabaya benar-benar parah? Hingga Alex bersikap seperti itu?


Perjalanan dari kota Prob*lingg* ke kota Surabaya ditempuh dalam kurun waktu satu setengah jam.


Semakin mendekati kantorku, perasaanku semakin berdebar tak karuan. Perasaan rindu dengan suasana kerja melandaku. Ingin rasanya Aku kembali bekerja. Tapi Alex pasti tidak akan mengijinkannya.


Mobil berhenti tepat di depan gedung yang sudah sangat familiar. Gedung tempatku mencari rezeki. Gedung penuh kenangan.


"Ayo masuk." Alex menepuk lenganku. Menyadarkanku dari lamunan.


"Ehm, nggak Mas... Aku di sini saja..."


"Kenapa? Bukankah Kamu merindukan teman-temanmu?"


"Na-nanti biar Aku suruh Sizil saja yang kemari..."


"Yakin tidak mau masuk? Mungkin saja Kamu bisa bertemu dengan mantanmu."


"Hah?" Aku menatap Alex dengan bingung. Pandangan pria itu tampak tak terbaca.


"Ya sebaiknya Kamu tidak perlu masuk. Aku akan menyelesaikan urusanku secepat mungkin, setelah itu Kita pulang. Aku akan menyuruh Sizil kemari, Kamu tunggu di sini, cup..." Alex mencium bibirku sekilas.


"Kalau butuh apa-apa panggil Pak Sukri. Jangan berkeliaran kesana kemari, mengerti?"


"Iya." Alex kembali mengecup keningku sebelum berlalu dari pandanganku.


Sebenarnya Aku ingin ikut masuk dan bertemu dengan teman-temanku, tapi Aku terlalu malu untuk melakukannya. Aku takut mereka bertanya-tanya tentang kehamilanku dan statusku. Alex tidak pernah mempublikasikanku sebagai istrinya, jadi Aku tidak ingin melangkahi keputusannya.


"Non, Saya ijin beli rokok dulu ya. Belinya tidak jauh kok Non, itu di toko depan." Pak Sukri berbicara padaku dengan nada sungkan.


"Oh iya Pak, silakan. Saya tidak akan kemana-mana Pak, jadi nikmati waktu Bapak."


"Iya Non, terima kasih." Lalu Pak Sukri keluar dari mobil dan berjalan ke arah minimarket di seberang jalan.


Sepeninggalnya Pak Sukri, Aku kembali memperhatikan kantor lamaku. Banyak wajah-wajah yang kukenal yang berjalan keluar masuk kantor. Ingin rasanya Aku menyapa mereka, namun Aku masih menahan diri.


Tiba-tiba mataku melihat penjual telur gulung yang berada tidak jauh dari tempatku berada. Mungkin hanya berjarak sekitar lima belas meter.

__ADS_1


Kruuukk... Kruuukk... Kruukkkk...


Perutku langsung bernyanyi riang. Entah karena faktor kehamilan atau karena faktor dari diriku sendiri, tapi yang jelas semenjak hamil, Aku sangat menyukai telur gulung. Dimana pun bertemu dengan camilan itu, Aku pasti akan membelinya.


Aku memperhatikan sekitar. Pak Sukri tidak kunjung datang. Dan tidak ada orang yang kukenal yang berkeliaran di depan kantor. Tidak apa-apa kan kalau Aku keluar sebentar saja untuk membeli camilan itu?


Tidak mau menunda lagi, akhirnya Aku keluar dari mobil dan mendekati pedagang itu.


"Bang, telur gulungnya 20 tusuk ya."


"Siap Mbak." Aku menunggu dengan sabar. Aroma dari telur gulung semakin membuatku kelaparan. Aku tidak sabar untuk menyantap...


GREP


Aku merasa lenganku dipegang seseorang. Aku berbalik dan... menatap wajah yang sangat kukenal.


"Benar-benar Kamu Sha... Aku pikir salah orang, tapi ternyata benar Kamu Sha..."


Andre berdiri di depanku. Raut wajahnya tampak sangat senang dan terharu. Namun ekspresi itu tidak bertahan lama. Awan gelap langsung menggelayuti wajahnya begitu matanya melihat perutku yang membuncit.


Pancaran sakit hati, kekecewaan dan kesedihan sangat terlihat di wajahnya. Tubuh Andre tampak gemetar menahan kekecewaan...


Aku tersentak mendengar suara itu. Aku langsung berbalik dan melihat Alex, Sizil dan beberapa teman kantorku datang mendekat pada Kami.


Aku menatap Alex dengan ketakutan. Wajah Alex tampak menyeringai menakutkan. Pancaran aura gelap tampak mengelilinginya. Mata Alex tampak fokus menatap tanganku yang dipegang Andre. Serta merta Aku menipis tangan Andre dan berjalan ke arah Alex. Berusaha mencegah pria itu untuk mendekati Andre.


"M-mas... A-aku bertemu dengan te-temanku..."


Aku tiba di samping Alex dan meraih lengannya. Namun Alex menepis tanganku dan mengacuhkannya. Dia terus berjalan mendekati Andre. Aku begitu gugup melihatnya seperti itu. Aku takut Alex tidak bisa menahan emosinya.


Alex tiba tepat di depan Andre. Kedua pria itu berhadap-hadapan. Alex memasukan kedua tangannya di saku celana. Menatap Andre dari atas ke bawah dengan sikap pongah. Pancaran rasa tidak suka sangat terlihat dari raut wajahnya.


Andre awalnya juga menatap Alex dengan tatapan tidak suka. Tapi begitu mengenali sosok pria yang sedang ditatapnya itu, sikap Andre menjadi sopan. Seperti sikap seorang bawahan terhadap atasan.


"Andre kan?"


"Saya Pak." Andre tampak sopan, karena dia tahu orang yang sedang dihadapinya sekarang adalah atasannya. Tangan kanannya direksi.

__ADS_1


"Tidak perlu terlalu formal. Kita di luar area kantor sekarang. Aku bukan atasanmu." Alex menatap Andre masih dengan tatapan kemarahan, tapi dia berusaha menyembunyikan perasaan itu dengan berkata setenang mungkin.


"Ya?" Andre tampak bingung.


"Ini milikmu kan? Kukembalikan." Alex mengambil sesuatu dari saku celananya. Sebuah kotak beludru berwarna merah mencuat di tangannya. Dia mendorong kotak itu di dada Andre dengan penuh penekanan hingga tubuh Andre terdorong ke belakang.


"Berikan benda itu pada wanita lain, karena ISTRIKU tidak membutuhkan barang semacam itu." Alex menekankan kata-kata "istri" hingga membuat orang-orang yang berada di sana terkejut, tak terkecuali Andre.


"Ke depannya, Aku harap tidak perlu melihat interaksi seperti ini lagi. Jangan pernah ganggu istriku. Ini peringatan terakhir dariku." Alex mendekat dan berbisik pada Andre. Kata-katanya terdengar dalam dan penuh ancaman.


Selesai berkata seperti itu, Alex langsung menarik tanganku. Meninggalkan Andre yang masih berdiri mematung. Mencoba memahami apa yang baru saja terjadi.


"Ayo." Alex menggiringku masuk ke dalam mobil. Setelah memastikan Aku aman, dia keluar dari mobil dan berbicara dengan Pak Arif, mantan BM-ku.


Ada cukup banyak karyawan di parkiran itu, sehingga adegan itu menjadi tontonan gratis bagi mereka. Banyak wajah-wajah yang masih tidak percaya dengan apa yang baru saja mereka lihat.


Aku memperhatikan Andre yang masih berdiri mematung. Pria itu berdiri sembari memegang kotak beludru berwarna merah. Sebuah kotak yang berisi cincin pemberiannya. Sosoknya tampak kalah dan begitu menyedihkan. Aku sedih melihat Andre yang seperti itu.


Pertanyaannya, kenapa kotak itu ada pada Alex? Kenapa Alex tahu bahwa kotak itu pemberian dari Andre? Sejak kapan Alex mengetahui semuanya?


"Sizil, Kamu ikut Aku. Duduk di depan." Aku mendengar Alex memberi perintah. Beberapa saat kemudian pintu mobil di buka. Alex masuk dan duduk disebelahku, disusul Sizil yang duduk di sebelah supir.


"Sizil..." Suaraku tercekat mengetahui mantan anak buahku itu duduk tak jauh dariku. Aku begitu merindukannya.


"Ibu..." Sizil menoleh dengan takut-takut. Tampak rasa bahagia di wajahnya karena bertemu denganku, sekaligus ketakutan karena keberadaan Alex.


"Sizil, ambilkan hand sanitizer di laci di depanmu." Perintah Alex.


"Ba-baik Pak..." Sizil dengan tangan gemetar mencari-cari hand sanitizer dan menyerahkannya pada Alex.


"I-ini Pak..."


"Terima kasih." ucap Alex. "Kemarikan tanganmu." Kali ini Alex memberi perintah padaku. Aku dengan patuh menyodorkan tanganku. Aku takut dengan Alex, benar-benar takut.


"Bagian mana tadi yang disentuh si br*ngsek itu?! Benar-benar k*parat. Berani-beraninya menyentuh istriku!!" Suara Alex tampak penuh dendam, sementara tangannya tampak sibuk mengguyur tanganku dengan cairan hand sanitizer, seolah-olah sentuhan itu membawa berbagai virus mematikan.


"Khansa, Aku memaafkanmu karena tidak menyimpan nomornya. Tapi sekali lagi Aku tahu Kamu berhubungan dengannya, Aku akan membuangnya ke P*p*a. Mengerti Kamu?!"

__ADS_1


***


Happy Reading 🙄


__ADS_2