Aku Hanya Figuran

Aku Hanya Figuran
Ch 62 - Pelajaran Part 3


__ADS_3

Aku menata napasku yang memburu. Sedikit demi sedikit napasku mulai kembali normal. G*taran di tubuhku sedikit demi sedikit mulai menghilang. Yang tertinggal hanya perasaan letih. Seolah-olah telah bekerja keras sepanjang hari.


"Ppppfffttttt..." Aku mendengar tawa geli. Aku membuka mataku dan bertatapan dengan mata yang tengah menatapku dengan geli.


"Kenapa? Enak banget ya?" tanya Alex dengan usil. Senyum geli masih menghiasi bibirnya.


"Akhhhpp!!" Aku langsung menutup wajahku. Perasaan malu, murka, ingin bunuh diri dan membunuh Alex menguasaiku. Ya ampun, ini benar-benar memalukan!!


"Hahaha!! Hahaha!" Alex tertawa terpingkal-pingkal. Ingin rasanya Aku mencekik pria itu sampai mati. Setelah itu Aku akan mencekik diriku sendiri. Aku ingin bersembunyi di dasar bumi yang paling gelap hingga tidak ada seorang pun yang berhasil menemuiku.


"Ya ampun, lucu sekali sih Kamu yank..." Alex mendekap tubuhku. Aku mendorongnya jauh-jauh. Namun pria itu tetap mendekapku dengan erat. Airmataku tiba-tiba mengalir karena hantaman rasa malu yang kurasakan.


Aku menyembunyikan wajahku sembari menangis. Aku benar-benar memalukan. Aku sudah tidak punya muka...


"Hei... Shhh... Shhh.. Kenapa menangis? Sayang? Sayangku? Khansa sayang? Kenapa menangis? Maaf ya... Maafin Aku..." Alex mendekapku dan menciumi keningku.


Aku masih saja menangis. Aku hanya menangisi rasa maluku. Bukan yang lain. Aku tidak menyangka tubuhku akan bereaksi seperti itu.


"Sayang... Aku bercanda. Maaf ya kalau bercandaanku keterlaluan. Jangan menangis lagi ya... Cup... Cup... Cup..." Alex mendaratkan ciuman bertubi-tubi. Menghiburku.


Sepuluh menit kemudian, tangisku mulai reda. Alex tak henti-hentinya minta maaf dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi.


"Tidur ya." Alex menarik selimut dan menutupi tubuhku yang setengah t*lanjang sementara pria itu masih berpakaian lengkap.


Aku menatapnya dengan bertanya-tanya. Bukankah laki-laki juga butuh pelepasan? Kenapa Alex menyuruhku tidur? Apa dia tidak butuh?


"Ehm..."


"Apa?"


"I-itu Mas..."


"Itu apa?"


"Bu-bukannya laki-laki juga butuh?"


"Butuh apa?" Entah Alex sedang mengusiliku lagi atau apa, tapi Aku benar-benar kesal dengan sikap kepura-puraannya.


"Butuh dikeluarkan..." Aku memalingkan wajahku yang merah padam.


"Memangnya diijinkan?" Awalnya Aku terdiam mendapat pertanyaan seperti itu. Namun kemudian Aku mengangguk pelan.

__ADS_1


"Serius?"


"Hem..."


"Tidak akan menangis lagi? Tidak akan menyesal?"


"A-aku menangis bukan karena menyesal..."


"Karena apa?"


"Aku malu. Kamu menertawakanku..."


"Ya ampun sayang... Aku tidak menertawakanmu... Hem, baiklah Aku memang melakukannya tadi. Tapi Aku tidak bisa menahan diri. Kamu lucu sekali. Bila dekat denganmu, Aku selalu ingin menggodamu, hehe..."


"Tuh kan tertawa lagi."


"Tidak akan tertawa lagi deh. Janji." Alex memasang tampang serius. "Jadi... Bisa dilanjutin nih?"


"Hem."


[Ya ampun, Aku caveeek ngetik adegan ini 🥴 Please, Alex & Khansa kalian berdua berhenti deh bikin adegan ini. Sudah mau 3 part nih 🤦‍♀️]


"Yes!!" Alex berteriak dan kembali memelukku.


Meskipun kesal, Aku tetap harus melayaninya bukan? Karena menurut orang-orang, bila pria tidak menyalurkan l*bidonya, mereka akan pusing. Entah benar atau tidak?


Alex kembali menciumiku dengan lembut. Memberi rangs*ngan pada tubuhku. Lama-lama Aku mulai kembali terbuai. Aku memejamkan mata dan menautkan tanganku di lehernya. Aku membalas ciumannya. Sekarang Aku sudah cukup pintar berciuman. Aku bisa membalas setiap ciuman yang diberikan Alex. Hal itu membuat Alex semakin bersemangat. Itu terbukti dengan deru napasnya yang semakin berat dan ritme ciumannya yang semakin dalam.


Alex melepaskan ciumannya sebentar untuk membuka pakaiannya. Untung saja hanya ada pencahayaan samar-samar. Alex tidak bisa melihat ekspresiku dengan jelas. Meskipun malu, mataku tetap saja mencuri-curi pandang.


Pampangan tubuh yang pernah kulihat sebelumnya kini berada di depan mataku. Dada bidang dan otot liat memenuhi tubuhnya. Aku tidak berani melihat yang lain. Jantungku masih tidak kuat melakukannya.


"Pa-pakai selimut..."


"Apa itu perlu?"


"Hem..."


"Istriku pemalu sekali. Gemes, Cup... Cup... Cup..." Alex menarik selimut hingga menutupi tubuh Kami. Kemudian dia mulai menciumku lagi.


Tubuh hangat Kami saling bersentuhan. Seolah-olah tidak ada bagian lain yang tak tersentuh. Menimbulkan getaran tersendiri. Kami berciuman, sementara tangan Alex kembali bergerilya. Semua bagian tubuhnya bekerja dengan sempurna. Membelenggu tubuhku dan menguasainya.

__ADS_1


Entah sudah berapa kali Aku mengalami pelepasan karena permainan tangan dan l*dahnya. Aku sudah tidak bisa menghitungnya. Jiwaku seolah-olah terlepas dari ragaku. Aku tidak menjadi diriku lagi.


"Sayang..." Aku berusaha membuka mataku. Alex menatapku. Seolah-olah meminta ijin untuk penyatuan Kami. Aku menganggukan kepalaku dengan samar.


Bibir Alex kembali menutup bibirku, sementara dibagian bawah sana kurasakan ada sesuatu yang mendesakku. Dengan lembut dan perlahan, Alex berhasil menyatukan tubuh Kami.


"Aaakhhhppp!!"


Pekikanku ditutup oleh bibir Alex. Tubuhku kembali bergetar tak berkesudahan. Seperti sengatan listrik yang membakar tubuhku. Aku mendekap tubuh Alex seraya mencengkram punggungnya. Kuku-kuku jemariku menancap di punggungnya. Meninggalkan guratan pedih pastinya.


Apakah Aku kembali pelepasan??


Alex membiarkan tubuhku berhenti bergetar, kemudian setelah itu dia mulai bergerak dengan berirama. Membuatku kembali menggila.


Aku menggigiti leher Alex dan mencakari punggungnya. Tubuhku tidak bisa menerima sensasi ini. Aku tidak bisa mengontrol suara-suara yang keluar dari mulutku. Aku seolah-olah menjadi wanita gila yang mend*sah, mel*nguh dan meng*rang tak berkesudahan.


Entah sudah berapa lama berlalu? Entah sudah berapa kali pelepasan? Aku sudah tidak tahu. Yang Aku tahu, tubuhku sudah tidak memiliki energi lagi. Tubuhku bagaikan layang-layang yang mengikuti kemanapun Alex membawaku.


Aku berusaha membuka mataku yang mulai berat. Tatapan mataku bertemu dengan mata Alex. Pria itu masih terlihat tenang. Tubuhnya masih bergerak dengan irama. Terkadang cepat, terkadang lambat. Membuatku benar-benar menggila.


"Maaaaaasss... Su-sudaaaah..." Sudah cukup. Aku sudah tidak kuat. Tolong hentikan.


Aku ingin berkata seperti itu, tapi tubuhku kembali mengejang dan menggelepar. Aku seperti kehilangan separuh nyawa.


"Aku akan menyelesaikannya sayang..." Sayup-sayup Aku mendengar suara Alex berkata seperti itu. Sedetik kemudian kurasakan gerakannya semakin cepat dan cepat. Membuat tubuhku kembali terombang-ambing tak tentu arah.


Alex m*mag*t bibirku dengan penuh nafsu. Deru napasnya semakin berat. Gerakan tubuhnya menjadi semakin cepat. Aku sudah tidak di dunia lagi... Mungkin ini yang dinamakan surga dunia?


Gerakan itu semakin cepat dan cepat, hingga akhirnya Aku merasakan tubuh Alex bergetar hebat.


"Khansaaaaahh!!" Alex menggeram dan memuntahkan kehangatannya dirahimku yang sudah terisi anaknya.


Alex memeluk tubuhku dengan erat. Tubuh Kami sama-sama bergetar hebat. Alex berguling hingga akhirnya tubuhku berada di atasnya tanpa melepas penyatuan tubuh Kami.


Aku sudah tidak ingat apa-apa lagi. Entah Aku jatuh tertidur karena kelelahan atau karena tak sadarkan diri? Aku tidak bisa membedakannya lagi. Yang jelas, Aku sudah pergi ke alam mimpi.


***


Happy Reading 🥴


NB : Akhirnya selesai juga adegan ini. Lelaaah syekaalee menulisnya 🥴😵.

__ADS_1


Untuk besok, belum tahu ya bisa UP apa tidak. Bila ada tabungan episode, langsung saya terbangkan. Bila tidak, berarti menunggu hari Senin 😁. Happy Weekend semuanya 😚😙🤗


__ADS_2