Aku Hanya Figuran

Aku Hanya Figuran
Ch 46 - Berita Mengejutkan


__ADS_3

Hari-hari kujalani dengan biasa. Aku mulai terbiasa hidup di Malang. Setiap hari aktivitasku hampir sama.


Setelah selesai sarapan, Aku akan berkeliling ke lembaga, instansi-instansi, perusahaan untuk menawarkan produkku. Karena tidak memiliki database nasabah, Aku memulainya dari nol.


Aku mengunjungi setiap perumahan elit di kota Malang secara door to door. Tentu saja banyak tolakan yang kudapatkan. Wajar saja, profesi sepertiku tidak akan bisa langsung mendapat kepercayaan dari nasabah. Yang harus kulakukan hanya tetap konsisten dan tidak pantang menyerah.


Di tolak sekali dua kali tidak membuatku berhenti untuk berkunjung, dihari-hari berikutnya Aku tetap berkunjung hingga akhirnya mereka bersedia membukakan pintu untukku dan memberi kesempatan padaku untuk menjelaskan produkku.


Sebulan menjadi agen produk asuransi dan perbankan cukup melelahkan. Karena Aku murni bekerja di lapangan. Namun usaha tidak akan mengkhianati hasil. Aku mulai mendapat nasabah, baik itu karena produk asuransiku yang terjual maupun produk perbankan. Sedikit demi sedikit banyak masyarakat yang mulai menaruh kepercayaannya padaku.


Hari ini Aku kembali melakukan cek kandungan. Kehamilanku sudah memasuki bulan ke empat. Sedikit demi sedikit perut bagian bawahku mulai mengeras dan membuncit.


Bayiku benar-benar tidak rewel. Padahal setiap hari dia kubawa panas-panasan, motoran, terkadang jalan kaki untuk bekerja namun Aku tidak pernah mendapat keluhan yang berarti. Hanya perlu makan dan makan, maka dia akan baik-baik saja.


Aku tengah menunggu antrian yang mengular. Sembari menunggu, Aku melihat ponselku untuk mempelajari setiap produk yang akan Aku jual.


Tiba-tiba suara dari televisi yang tengah diputar menarik perhatianku. Chanel TV itu sedang menayangkan acara gosip, dan nama Princess D disebut-sebut di sana. Aku memperhatikan dengan seksama.


"Kabar mengejutkan datang dari dewi kecantikan yang dikenal dengan nama Princess D. Lama tidak terlihat dilayar kaca, dia membawa kabar baru yang membuat terkejut penggemarnya. Menurut kesaksian managernya, Princess D telah menikah. Mari Kita simak penuturan managernya."


Dan layar memutar seorang wanita berusia 30 tahunan, berambut pendek yang di gadang-gadang sebagai manager Princess D.


"Kak Lusi, apa benar berita mengenai pernikahan Princess D? Berita itu santer beredar di sosial media. Bagaimana tanggapan Kak Lusi?" tanya wartawan.


"Iya, benar. Princess D memang telah menikah. Mereka melangsungkan pernikahan di luar negeri."


"Kapan pernikahan itu terjadi? Dengan siapa beliau menikah? Apakah berasal dari kalangan artis juga?"


"Mereka menikah dua bulan yang lalu. Bukan, bukan berasal dari kalangan artis. Dia hanya pria biasa, pacarnya semasa SMA."


"Wah ini kabar luar biasa. Jadi Princess D menikahi pacar SMA nya? Benar-benar kisah yang luar biasa. Jarang sekali hal seperti ini terjadi. Lalu mengapa mereka menikah di luar negeri? Apa ada alasan khusus? Atau perbedaan agama menjadi faktornya?"

__ADS_1


"Memang ada alasan khusus. Tapi bukan karena agama. Mereka seiman, jadi tidak ada masalah dalam hal itu."


"Kak Lusi, bisa berikan Kami sedikit bocoran mengenai pria itu? Kami penasaran dengan profil pria yang berhasil menikahi dewi kecantikan Kita."


"Mohon maaf, untuk hal itu tidak bisa. Pihak dari keluarga pria tidak ingin profil dari pria itu dan keluarganya terekspos. Cukup sampai di sini saja."


"Kak Lusi, satu pertanyaan lagi. Sekarang Princess D ada dimana? Masih di luar negeri apa sudah di Indonesia?"


"Mereka masih di luar negeri. Terima kasih." Dan manager Lusi mengakhiri wawancaranya, meninggalkan para wartawan yang masih mengejar-ngejarnya dengan sejuta pertanyaan.


Aku tercengang. Tidak bisa menyerap informasi itu dengan jelas. Mataku menjadi berkunang-kunang, penglihatanku mulai kabur.


Aku berpegangan pada sandaran kursi. Berusaha untuk menguatkan tubuhku yang mulai limbung. Aku memaksa otakku untuk tetap sadar dan tidak jatuh.


Aku menghirup udara dalam-dalam dan menghembuskan dengan pelan.


"Tenang Khansa, tenang. Tenangkan pikiranku. Berita semacam ini tidak akan membuatmu jatuh. Tenang... Tarik napas dalam-dalam, kemudian hembuskan..." Aku mensugesti diriku sendiri.


Tubuhku masih gemetar. Airmata sudah mengalir di pipi. Aku lupa dengan tujuanku untuk datang ke tempat itu. Aku lupa untuk cek kandungan.


Selama dua jam Aku duduk di ruang tunggu itu dengan pikiran kosong. Otakku seolah-olah tak bisa di ajak berpikir. Tubuhku terlalu terkejut mendengar berita itu.


Aku melangkah dengan gontai dan pergi ke parkiran. Aku memutuskan untuk pulang ke kosan. Tidak ada semangat untuk cek kandungan ataupun mengais rejeki lagi. Aku hanya butuh istirahat.


Aku mengendarai motor dengan melamun. Tapi untungnya Aku tidak salah arah dan berhasil tiba di kosan dengan selamat.


Aku merebahkan diriku dan memutuskan untuk tidur. Aku ingin tidur yang lama dan tidak terbangun lagi. Aku merasa ingin mati.


***


Entah sudah berapa lama Aku tertidur, Aku sudah tidak peduli lagi. Aku ingin kabur dari dunia nyata dan memasuki dunia mimpi. Di mimpiku, Kami bertiga sangat bahagia.

__ADS_1


Ya, Aku, Alex dan anak Kami yang berjenis kelamin laki-laki hidup dengan bahagia. Anak laki-laki itu sangat tampan, sangat mirip dengan Alex. Aku tidak ingin bangun dari mimpi. Dunia mimpi membuat hidupku sangat bahagia.


Kami tampak seperti keluarga yang sesungguhnya. Alex sangat menyayangi Kami. Memperlakukan Kami dengan baik. Mencintai Kami. Aku benar-benar bahagia.


Anakku sudah memiliki ayah sekarang. Aku tidak perlu takut dengan masa depannya. Sekarang, tidak akan ada orang yang berani membully-nya. Kami telah menjadi keluarga yang seutuhnya.


Kami bertiga bermain-main di taman. Kemudian anak kecil berusia sekitar 5 tahun itu mendekat padaku sembari memegang perutnya.


"Ma... Adek lapar. Bangun dong Ma... Perut Adek sakit Ma... Bangun Ma... Bangun... Kalau Mama nggak bangun, Adek pergi nih..." Anak kecil itu tampak sedih. Dia memegang perutnya menahan lapar. Aku membelai kepalanya dan memeluknya.


"Iya, Mama bangun. Adek mau makan apa?"


Dan tiba-tiba saja mataku sudah terbuka. Bayangan anak kecil berwajah tampan itu menghilang dari pandanganku. Berganti dengan ruang gelap kamarku.


Aku mengelap wajah dengan kedua tangan. Berusaha benar-benar membuatku terjaga. Aku menghidupkan lampu kamar dan mencari ponselku.


Waktu sudah menunjukan pukul 02.13 WIB. Aku sudah tertidur hampir 16 jam!!


Aku merasakan sakit di perutku.


"Uukhhh!" Sakit tajam menyerang di bawah perutku. Aku mengelus perutku dengan lembut. Sepertinya Aku mengalami kram.


"Ssshhh... Sayang... Tenang, tenang... Kita akan cari makan ya... Tenang..." Aku mengkusuk-kusuk perutku, berusaha membuatnya tenang. Sakit itu sedikit demi sedikit mulai berkurang.


"Anak Mama yang baik... Tenang ya sayang..."


Setelah perutku tidak sakit lagi, Aku memberanikan diri untuk pergi ke kamar mandi. Aku takut mengalami flek dan kehilangan bayi ini. Aku bernapas lega ketika Aku tidak melihat apa-apa di celana dalamku.


"Anak pintar... Tetap bertahan sama Mama ya Nak... Jangan tinggalin Mama ya sayang. Hanya Kamu yang Mama punya sayang... Maaf ya, maaf... Mama sudah bersikap bodoh. Mama sudah melupakan dan mengabaikanmu. Maaf ya sayang... Huuuuu... Hikss..." Aku menangis. Menyadari kebodohanku sendiri. Perutku mulai berbunyi, pertanda si bayi ingin minta makan.


"Iya sayang, iya... Ayo Kita cari makan sekarang."

__ADS_1


***


Happy Reading 😩


__ADS_2