
Malam itu Aku menangis. Tangisan seorang wanita tak tahu diri. Aku hanya menumpang suami orang, tapi memikirkan suamiku berada di rumah istri sahnya membuatku sakit hati.
Entah karena pengaruh bayi, tapi Aku ingin Alex berada di sisiku. Memikirkan Alex tidur bersama Diana membuat dadaku sakit.
"Dasar tidak tahu diri! Ngaca dong Khansa, ngaca! Kamu itu hanya menumpang suami orang! Kamu tidak berhak sedih seperti ini! Bukan Kamu yang harusnya sedih, tapi Diana! Istri sahnya Alex!"
Aku memaki-maki diriku. Rasanya Aku merasa lebih bahagia ketika dulu tidak bertemu Alex. Aku tidak perlu berpikir seperti ini, karena Aku merasa tidak berhak memiliki Alex. Sekarang, ketika Aku sudah berstatus sebagai istri siri, Aku merasa punya hak? Betapa piciknya Aku berpikir seperti itu!
Entah berapa lama Aku menangis. Aku tertidur dengan airmata yang masih berurai.
***
Aku tertidur dengan sangat nyaman. Perasaan hangat menyelimuti seluruh tubuhku. Aku menyurukan kepalaku pada kehangatan itu.
Aku mengenali aroma ini. Aroma yang sangat familiar. Aku membuka mataku perlahan, dan... Aku mendapat kejutan.
Aku melihat Alex sedang tidur sembari memeluk tubuhku. Dia masih berpakaian lengkap. Hanya sepatunya saja yang terlepas. Wajahnya terlihat kecapekan dan Aku melihat, ada tetesan basah di pipinya.
Alex menangis?!!
Kenapa menangis? Apa dia mengingau lagi? Kenapa Alex hobi sekali mengingau dan menangis? Lucu sekali.
Aku memperhatikan Alex dalam-dalam. Tadi malam Aku menangisi pria ini. Berpikir macam-macam. Namun ternyata pria ini pulang padaku. Dengan melupakan rasa tidak tahu diri, perasaanku menjadi hangat.
Aku menelusuri alis Alex yang tebal, mengingatkanku pada ulat bulu hitam. Aku terkikik memikirkan hal itu. Kemudian tanganku menelusuri hidungnya yang mancung dan garis bibirnya yang tegas. Aku berlama-lama menyentuh bibir itu. Bibir yang pernah menciumku dan membuatku panas dingin...
"Sudah puas melihatnya?"
"Aaakhhhpp!!" Aku segera menjauhkan tubuhku, namun tangan Alex begitu cepat. Dia segera merengkuh tubuhku dan membuatku kembali terbaring dengan nyaman. Dalam sekejab mata, dia sudah berada di atasku. Menatapku dengan mata elangnya. Aku mengalihkan pandanganku, berusaha melihat hal lain.
"Se-sejak kapan Ka-kamu bangun?"
"Sejak seseorang menyentuh alis, hidung dan bibirku."
"H-huh... Ke-kenapa tidak langsung bangun?" Aku benar-benar malu. Aku ketahuan.
"Sebenarnya memang sudah ada yang bangun dari tadi."
"Hah?"
__ADS_1
Aku merasa ada sentuhan benda hangat di pahaku. Aku penasaran dan melongokkan kepalaku. Dan Aku menyesal telah melakukannya!!
"Hiiiihhh!!" Aku menutup mataku rapat-rapat. Ya ampun ini benar-benar memalukan! Aku melihat t*njolan di celana Alex dan pria itu menekan itu di pahaku.
Aku ingin segera kabur dan lari, namun karena posisi tubuh Alex yang mengunciku, membuatku tidak bisa kemana-mana.
"Lepasin Aku! Menyingkir dariku!" Aku mencakar-cakar wajah Alex. Tapi pria itu memegang kedua tanganku dengan satu tangan dan meletakannya di atas kepalaku. Membuatku benar-benar tidak berdaya.
"Buka matamu."
"Tidak mau!! I-itu jangan digesek-gesekin, hiiih!!"
"Buka matamu."
"Tidak mau!!"
"Aku gigit nih." Tiba-tiba Aku merasakan geli, sakit sekaligus nikmat di leherku. Membuat tubuhku meremang. Aku mencoba mengintip. Ternyata wajah Alex sudah tenggelam dileherku. Dia mengigit-gigit leherku.
"Hiiihhh, apa-apaan!! Le-lepasin!! Dasar mesum!! I-itunya jangan digesek-gesekin terus!!"
"Buka matamu. Aku tidak akan berhenti sampai Kamu membuka mata." Alex berbicara sembari menj*lati leherku. J*latan itu menjalar ke telingaku dan dia melahap...
"I-iya Aku buka mata. Aku buka mata sekarang!! Hentikan semuanya!" Aku membuka mataku lebar-lebar dan memelototinya.
Alex menghentikan aktivitasnya. Baik dari mencium dan menj*lati leherku ataupun mengg*sek-g*sekkan tubuhnya yang m*ngeras. Aku benar-benar lega. Aku menatap Alex dengan marah. Pria itu tampak geli melihat ekspresiku.
"Lepasin Aku!!"
"Cium Aku." ucapnya dengan santai.
"Hah?"
"Cium Aku. Atau kalau tidak, Aku lakukan yang tadi..."
"Aaaa.... Ja-jangan..."
"Cium Aku. Beri Aku ciuman selamat pagi."
Ciuman ya? Bukankah ciuman hanya perlu menempelkan bibir satu sama lain? Baiklah, meskipun Aku tidak ikhlas Aku akan melakukannya. Yang terpenting Aku bisa terbebas dari si mesum ini.
__ADS_1
"I-iya... Sini mendekat..." Alex mendekatkan wajahnya dan menutup mata. Aku memperhatikan lambat-lambat. Dia sangat tampan kalau sedang tidak berulah. Perlahan Aku mengangkat kepalaku dan menempelkan bibir Kami, cup... Satu kecupan dan Aku akan menarik kepalaku. Namun tiba-tiba desakan bibir hangat menyeruak ke dalam mulutku. M*lum*tnya habis-habisan.
"Uukhhmmm..." Aku berusaha memberontak, namun bibir itu semakin mendesak. Sentuhan bibir hangat itu m*l*mat bibirku secara bergantian. M*ng*lumnya secara perlahan-lahan. Memainkannya dengan kelincahan. Tiba-tiba l*dah hangat nan kenyal sudah menari-nari di dalam mulutku. Menggoda l*dahku dan menautnya. m*ng*sap, m*l*mat, meny*dot, m*milin, mengigit secara bergantian. Lama kelamaan kabut kesadaranku mulai menurun.
Aku mulai pasrah dan menikmatinya. Aku membiarkan Alex berbuat sesukanya. Dia benar-benar mengekplore kehangatan mulutku. Aku seperti berada di awang-awang.
"Mmmmm..." Tanpa sadar mulutku kembali mendesah. Aku benar-benar terbuai dan menikmatinya. Napas Kami mulai saling memburu. "Mmmmmm..."
Tiba-tiba saja Alex melepaskan ciumannya. Aku menghirup napas dalam-dalam dan membuka mata. Mataku bertemu dengan tatapannya yang berkabut. Pancaran gairah sangat terlihat dalam tatapannya.
Alex mencium keningku dengan lembut.
"Selamat pagi istriku." Ucapnya dengan lembut. Membuat hatiku berdebar dengan kencang.
"Se-selamat pagi..."
"Kenapa Kamu cantik sekali?" Alex mengelus-ngelus pipiku. Membuatku tersipu-sipu malu. "Jadi tidak sabar ingin memakanmu."
"Mesum!!" Aku mendorong tubuh Alex kuat-kuat, sementara pria itu hanya terkikik geli. Aku bangun dari ranjang, namun tanganku di genggamnya.
"Mau kemana?"
"Mandi."
"Sini dulu." Alex duduk dipinggir ranjang, sementara posisiku berdiri. Tubuh Kami saling berhadapan. Kepalanya tepat berada di depan perutku.
"Mau apa?"
"Mau menyapanya." Tiba-tiba Alex memeluk pinggangku dan menyurukan kepalanya di perutku. Dia mencium perutku dengan lembut.
Seketika tubuhku menjadi gemetar. Terjangan emosi melandaku. Baru kali ini Aku merasakannya. Aku selalu membayangkan adegan ini ratusan kali di kepalaku. Membayangkan Alex menyayangi anak Kami. Memperlakukannya dengan penuh kasih sayang. Sekarang bayangan itu telah menjadi nyata. Aku dan anakku merasa sangat di sayang. Alex mengakui keberadaan anak ini. Alex menyayanginya.
"Maafkan Papa ya..." bisik Alex. Airmata mengalir di pipiku. Airmata kebahagiaan. Aku mendekap kepala Alex, semakin mendekatkannya dengan bayi Kami.
"Iya Papa, Adek memaafkanmu. Terima kasih karena Papa sudah mau mengakui Adek. Mama dan Adek menyayangimu Pa..." bisikku dalam hati.
***
Happy Reading 🥰
__ADS_1