
Pagi kembali datang. Hari itu Aku memutuskan untuk membuat rencana hidup baru.
"Mama sudah jual mobil. Kita butuh transport baru Dek. Hari ini Kita akan beli motor. Second nggak apa-apa sih, yang penting bisa langsung dipake. Setelah itu temanin Mama cari kerjaan ya Dek. Sehat dan kuat ya. Jangan rewel-rewel, oke sayang..."
Seperti ucapanku, Aku mencari motor bekas namun kualitasnya masih sangat baik. Aku butuh motor untuk bisa mobilisasi. Kalau Aku memutuskan untuk menjadi seorang agen produk asuransi atau perbankan, setidaknya Aku butuh motor agar bisa bergerak kesana-kemari.
Aku mendatangi dealer motor bekas dan mencari motor yang menurutku kondisinya sangat bagus. Setelah perdebatan yang sengit, siang itu Aku berhasil membawa motor dengan merk dan kondisi bagus dengan harga sesuai dengan penawaranku. Aku sangat puas.
"Yeay, Kita sudah ada motor Dek. Sekarang Kita kemana dulu?"
Krucuk... Krucuk... Krucuk...(Perutku berbunyi)
"Ya ampun Dek, Kamu sudah lapar lagi? Baiklah, mari Kita cari makan. Kamu bisa makan sepuasnya. Mama tidak peduli kalau jadi gemuk, yang penting Kamu sehat-sehat terus ya..."
Aku berkeliling di alun-alun Malang dan mencicipi banyak makanan yang ada di sana. Entah sudah berapa banyak makanan yang kumakan, namun perutku sepertinya bisa menampung semuanya.
"Ya ampun Dek, makanmu kuat banget. Kamu pasti cowok ya Dek. Padahal papamu makannya nggak banyak lho, kok bisa Kamu makannya banyak banget?" Aku geleng-geleng kepala. Melihat perutku yang membuncit karena kekenyangan namun mulut masih merasa ingin makan sesuatu.
Papamu...
Ahh, tanpa sadar Aku menyebut kata-kata itu. Tiba-tiba hatiku menjadi melankolis. Aku duduk di kursi taman dan menatap orang yang berlalu lalang.
"Dek... Papamu lagi apa ya sekarang? Pasti lagi kerja ya? Papa kerja dimana ya? Dek, Kamu mau lihat foto Papa? Sebentar ya, Mama tunjukin..."
Aku mengambil ponsel dan membuka galery. Terdapat banyak foto Alex di sana. Sebenarnya itu foto-foto reuni dan tentu saja Alex tidak sendiri. Namun Aku meng-crop foto itu sehingga hanya ada wajah Alex di sana.
"Ini dia Papa... Lihat Dek, Papamu ganteng ya. Mama harap Kamu cowok Dek, biar bisa seganteng Papa. Kalau cewek, Mama takut nanti gen Mama lebih banyak. Wajahmu tidak akan rupawan lagi Dek... Ahh tapi apapun jenis kelaminmu, Mama akan tetap sayang Dek..."
"Dek... Jangan benci Papa ya. Papa memang tidak bersama Kita sekarang. Tapi bukan berarti dia tidak sayang. Papa tidak tahu keberadaanmu Dek. Biarkan Papa hidup tenang ya Dek. Kita nggak boleh mengganggu hidup Papa. Kasihan kan kalau nanti Papa jadi sedih."
"Pokoknya, Adek nggak boleh sedih. Meskipun hanya ada Mama, tapi Mama akan mencintaimu berkali-kali lipat Dek. Mama akan melakukan apapun untuk membuatmu bahagia. Jadi tumbuhlah dengan sehat dan kuat, oke?"
__ADS_1
"Minggu depan Kita akan cari dokter baru lagi. Mama nggak sabar lihat pertumbuhanmu Dek. Kira-kira sebesar apa ya Kamu sekarang? Mengingat banyaknya makanan yang Kamu makan, Kamu pasti sudah sebesar kepalan tangan Mama, hehe..."
Aku berbicara sendiri. Aku tidak peduli bila orang menganggapku gila. Yang penting Aku dan anak ini bahagia.
***
Seperti rencanaku sebelumnya, Aku memutuskan untuk bekerja sebagai agen dari produk-produk asuransi dan perbankan. Aku menghubungi beberapa perbankan dan asuransi di kota Malang. Menceritakan tentang pengalamanku dan ketertarikanku untuk menjadi agen produk mereka.
Tidak ada gaji tetap. Tidak ada jenjang karier. Tidak ada keterikatan. Tidak ada aturan. Hanya satu yang pasti, komisi/insentif akan cair ketika Aku berhasil menjual produk-produk itu.
Aku tidak merasa sedih bekerja seperti ini. Aku mengambil sisi positifnya. Setidaknya dengan bekerja seperti ini Aku bebas menggunakan waktuku semauku. Aku bebas pergi periksa kandungan atau ke tempat makan semauku. Tidak ada aturan mengikat. Masalah pendapatan, itu akan datang sesuai dengan usaha yang kukeluarkan. Tidak apa-apa, Aku pasti bisa melakukan semuanya.
***
Ketika siang perasaanku akan dipenuhi dengan sikap optimis. Namun menjelang malam hari, perasaan melankolis kembali menghampiri.
Aku masih sering menatap foto Alex sembari menangis. Aku sudah benar-benar ikhlas untuk melepas dan melupakannya, tapi hati kecilku tidak bisa dibohongi. Perasaan ini masih ada. Entah mengapa Aku begitu bodoh dan bebal bila menyangkut Alex. Entah sampai kapan perasaan ini akan terus ada?
Aku menangis sembari menutup mulutku rapat-rapat. Aku takut bayiku akan tahu kalau Aku sedang sedih. Aku tidak ingin dia ikut sedih. Aku hanya ingin dia tumbuh menjadi anak yang sehat dan bahagia.
***
Aku sudah daftar H-1 dan itu pun Aku masih mendapat nomor urut puluhan. Entah berapa jam Aku akan menunggu di sana.
Aku melihat puluhan pasangan sudah tampak mengantri di sana. Dan hampir setiap wanita ditemani oleh pasangannya masing-masing.
Selintas perasaan iri berkelebat di dalam kepalaku. Aku membayangkan Alex juga menemaniku. Menunggu antrian bersama sembari berdebar-debar mengetahui perkembangan bayi Kita...
"Dek... Nggak boleh iri. Setiap orang sudah punya porsi kebahagiaannya masing-masing. Adek juga akan bahagia kok, karena Mama akan memberikan cinta berlipat-lipat untukmu Dek, oke?" Aku berbicara dalam hati seraya mengelus perutku.
"Boleh Kami duduk di sini?" Tiba-tiba seorang pria muda bersama pasangannya mendekat ke sampingku dan menunjuk kursi kosong di sebelahku. Mungkin mereka pasangan muda yang baru menikah. Tangan pria itu memeluk tubuh si wanita yang tampak sangat berantakan.
__ADS_1
"Oh ya, silakan." Jawabku sopan sembari menggeser posisi agar mereka berdua bisa duduk.
"Terima kasih." Pria itu mendudukan istrinya, kemudian dia sendiri juga duduk sehingga kepala istrinya bisa bersandar di bahunya. Si wanita tampak sangat lemas. Wajahnya terlihat sangat pucat.
"Sendiri saja Mbak?" tanya pria itu lagi.
"Iya."
"Suaminya mana?"
"Ke-kerja." Aku menjawab dengan tidak nyaman.
"Sudah hamil berapa bulan Mbak?"
"Mau jalan 3 bulan."
"Oh, sama dengan istri Saya. Istri Saya juga hamil 3 bulan Mbak. Tapi kok Saya lihat Mbak ini segar banget ya? Apa tidak ada keluhan?"
"Keluhan? Maksudnya?"
"Istri Saya ini tidak bisa makan nasi selama hamil Mbak. Setiap kali makan nasi atau makanan berat lainnya, selalu keluar lagi. Hanya susu dan jus saja yang bisa masuk. Itu mengapa tubuhnya sangat lemas. Beberapa kali juga sempat bedrest. Mbak hebat ya. Untuk ukuran hamil muda, Mbak terlihat sehat sekali. Apa ada rahasianya Mbak? Mungkin makanan atau vitamin yang minum?"
"Tidak. Tidak ada rahasia apa-apa Pak. Saya malah makannya sangat banyak. Empat sampai lima kali porsi normal. Saya pikir semua wanita hamil seperti Saya?"
"Tidak Mbak. Berarti kehamilan Mbak nggak rewel. Enak yang jadi suamimu Mbak. Nggak perlu repot-repot nurutin permintaan aneh-aneh. Si bayi benar-benar kuat dan tidak rewel. Aku harap istriku juga akan segera membaik. Ini kehamilan pertamanya..."
Dan pria yang cukup cerewet itu masih saja terus bicara.
Aku mengelus perutku dengan lembut. Perasaan syukur dan terharu memenuhi tubuhku.
"Dek... Kamu baik banget sih. Kamu tahu kalau Papa tidak sedang bersama Kita, itu sebabnya Kamu tidak pernah rewel. Kamu tidak pernah membuat Mama sakit. Malah Kamu membuat nafsu makan Mama semakin bertambah. Terima kasih ya sayang karena sudah sangat pengertian. Terima kasih karena sudah menjadi bayi yang kuat dan tidak rewel. Sehat-sehat terus ya kesayangku, Mama mencintaimu..."
__ADS_1
***
Happy Reading 😊