Aku Hanya Figuran

Aku Hanya Figuran
Ch 43 - Memulai Hidup Baru, Berdua Denganmu


__ADS_3

Pak Arif tampak tidak percaya dengan ucapanku. Namun Aku bersilat lidah untuk membuatnya percaya. Setelah perdebatan panjang yang membuat mulut lumayan pegal, akhirnya Pak Arif mempercayaiku dan menandatangani surat pengunduran diriku.


Berita mengenai pengunduran diriku tersebar dengan cepat. Semua anak buahku tampak menangis, tidak rela bila Aku keluar dari perusahaan, terlebih-lebih Sizil. Dia memelukku dengan erat, tidak mau melepaskanku.


"Huuu... Ibu pasti bercanda kan? Kenapa keluar sih Bu? Siapa yang bantuin Aku kalau Ibu keluar?? Huuu... Please jangan keluar dong Bu... Aku akan jadi anak baik. Aku akan cari nasabah sendiri Bu, please jangan keluar Bu..." Aku menepuk-nepuk punggung Sizil dengan sayang.


Sebenarnya Aku tidak rela juga bila harus meninggalkan keluarga besar yang selama enam tahun ini selalu bersamaku. Namun Aku harus melindungi bayiku. Aku tidak ingin gara-gara Aku, anak ini mendapat caci maki dari orang-orang sekitarku.


"Jangan lebay deh Zil. Aku keluar dari sini bukan berarti Kita tidak akan bertemu lagi..."


"Tapi Ibu pulang ke kotanya Ibu. Bagaimana bisa ketemu? Kita tidak bisa ketemu tiap hari! Aku tidak bisa menginap di rumah Ibu lagi. Aku harus kemana bila Aku kesepian Bu? Please jangan resign Bu... Please..." Sizil masih tetap menangis.


Aku hanya bisa menepuk-nepuk bahunya.


"Ibu pasti bohong kan bilang ingin menikah? Ini pasti akal-akalan Ibu saja kan? Ceritakan padaku alasan yang sebenarnya Bu... Kenapa Ibu keluar sih? Huuu..."


"Aku memang akan menikah Zil..."


"Bohong! Ibu tidak punya pacar. Sekelas Pak Andre aja Ibu nggak suka, mana mungkin tiba-tiba Ibu menikah dengan laki-laki lain? Pasti ada alasan lain kan Bu? Cerita sama Aku Bu, please..."


"Nggak ada sayang, nggak ada alasan lain. Orangtuaku menjodohkanku. Beliau hanya lelah melihat anaknya tak kunjung menikah. Aku hanya mengikuti permintaan beliau."


Sizil tetap tidak percaya dengan ucapanku. Anak itu terlalu dekat denganku untuk bisa membaca kebohonganku walau sekecil apapun. Tapi Aku tetap bersikukuh untuk menutup mulut rapat-rapat.


Biarkan hanya Aku yang mengetahui rahasia ini. Biarkan hanya Aku dan bayiku.


***


"Sha... Ada waktu sebentar?" Aku menoleh dan melihat Andre berdiri di pintu ruanganku. Wajahnya tampak kusut. Sepertinya dia juga sudah mendengar mengenai pengunduran diriku.


Waktu sudah menunjukan pukul 18.26 WIB. Anak buahku sudah banyak yang pulang. Hanya Aku saja di ruangan itu.


"Iya Mas. Aku ada waktu."


"Mau cari udara segar?"


"Eh?"


"Maksudku, Kita ngobrol di luar."


"Iya Mas, tidak apa-apa."


Aku mengikuti Andre. Dia membawaku ke cafe di seberang jalan, tepat di depan kantorku. Suasana cafe tampak syahdu. Musik lembut mengalun dengan indah. Menciptakan suasana romantis bagi pengunjung yang datang.


Andre memesan minuman dan makanan ringan. Selesai melakukannya, dia menatapku dalam-dalam.

__ADS_1


"Sha... Apa benar kabar yang Aku dengar itu?"


"Kabar yang mana Mas?"


"Tentang pengunduran dirimu."


"Iya, itu benar Mas."


Andre terdiam. Rahangnya menegang. Tangannya mengepal dengan erat.


"Kalau boleh tahu, apa alasanmu melakukannya Sha?"


"Aku akan menikah Mas." Lagi-lagi Aku lihat wajah Andre memerah. Menahan segala emosi yang ada.


"Kamu jadi menikah dengan 'dia'?"


"I-iya Mas..." Aku menjawab tanpa melihat wajah Andre. Aku takut Andre bisa membaca kebohonganku.


"Kamu bahagia Sha?"


"Iya Mas."


"Sungguh?"


"Iya Mas, Aku bahagia." Aku mencoba tersenyum lebar. Untuk meyakinkan Andre bahwa Aku benar-benar bahagia.


"Sepertinya Kita benar-benar tidak berjodoh ya Sha."


"Ma-maaf Mas..."


"Yah... Tidak apa-apa. Asalkan Kamu bahagia Sha... Kapan kalian akan menikah?"


"Se-secepatnya Mas..."


"Jangan lupa untuk mengundang Kami semua ya Sha."


"Eh iya Mas..."


"Berbahagialah Khansa..." Andre membelai rambutku. Ucapannya tampak sangat tulus. Aku membiarkan Andre melakukannya. Aku seperti mendapat perhatian dari seorang kakak.


"Iya Mas, Kami berdua akan bahagia." Aku merujuk pada bayiku, namun Andre mengartikan berbeda. Senyum sakit hati tampak di wajah kusutnya.


"Iya, berbahagialah kalian berdua." Ucapnya dengan dipaksakan.


***

__ADS_1


Proses pengajuan pengunduran diriku tidak serta merta langsung di proses. Berhubung jabatanku yang lumayan, Aku harus menunggu selama dua minggu untuk mencari penggantiku.


Aku menyelesaikan semua pekerjaanku. Membimbing pengganti untuk bekerja sesuai dengan jobdesk.


Setelah dua minggu memberikan training kilat dan menyelesaikan semua pekerjaan yang tertunda, akhirnya tibalah hari perpisahanku.


Hampir 70 orang karyawan berkumpul di banking hall malam itu. Mereka membuat pesta perpisahan kecil-kecilan. Kami makan-makan dan hampir semua orang memberikan kado kenang-kenangan untukku.


Menjelang puncak acara, Kami semua bertangis-tangisan. Ada perasaan menyesal karena harus meninggalkan apa yang kubangun selama enam tahun ini. Tapi perasaan itu hilang begitu mengingat janin di dalam perutku. Bayiku menjadi prioritasku sekarang. Tidak apa-apa Aku kehilangan pekerjaan, asalkan bayiku tetap baik-baik saja bersamaku.


Pada pukul 21.20 WIB, acara itupun berakhir. Satu persatu karyawan mulai meninggalkan kantor. Hanya tersisa Andre dan Aku malam itu. Andre menahanku untuk pulang.


"Sha, ini dariku." katanya sembari menyerahkan kotak beludru berwarna merah seukuran genggaman tangan.


"Eh, apa ini Mas?"


"Hadiah dariku. Pakai ini ketika Kamu merasa tidak bahagia. Aku akan datang untukmu Sha."


Selesai berkata seperti itu, Andre langsung membalikan tubuhnya dan pergi tanpa menoleh lagi. Meninggalkanku yang masih termangu-mangu karena perkataannya.


Karena penasaran, akhirnya Aku membuka hadiah dari Andre. Ternyata isinya adalah cincin yang dia gunakan untuk melamarku!!


Hatiku gemetar. Perasaan bersalah semakin menerpaku. Andre begitu tulus padaku, namun Aku sudah menyia-nyiakannya. Nasi sudah menjadi bubur, Aku sudah tidak bisa kembali lagi. Yang bisa kulakukan adalah menjalani hari-hari bersama bayi ini.


"Mas Andre, berbahagialah..."


***


Aku memutuskan untuk menjual mobil. Memegang uang tunai lebih kubutuhkan saat ini.


Aku mengganti nomor ponselku. Aku hanya menyimpan nomor orangtuaku dan Sizil saja. Meskipun Sizil tidak tahu masalahku yang sebenarnya, tapi setidaknya Aku tidak ingin membuat anak itu sedih bila Aku tiba-tiba tidak ada kabarnya.


Pagi itu Aku selesai mempacking barang-barangku. Aku memutuskan hanya membawa satu koper baju saja. Sedangkan barang-barang yang lain kutinggalkan di rumah kontrakan itu karena rumah itu akan dihuni oleh penggantiku. Aku benar-benar mantap untuk meninggalkan kota Surabaya.


Setelah mengunci semua pintu, Aku menatap rumah itu lama-lama. Berterima kasih karena sudah diberi kesempatan untuk tinggal di dalamnya.


Kemudian Aku menunggu travel yang akan menjemputku. Tidak berselang lama, kendaraan berupa minibus itu datang dan melaju memecah padatnya lalu lintas, menuju kota Malang.


Selamat tinggal kota Surabaya. Kota tempatku mengais rejeki selama enam tahun ini. Terima kasih untuk semuanya.


Selamat datang kota Malang. Tempat baru untuk mengais rejeki. Tempat baru untuk hidup yang baru. Semoga kota ini akan baik pada Kami.


"Baiklah Dek, mulai sekarang Kita hanya berdua. Mari Kita hidup dengan bahagia, oke." Aku mengelus perutku dengan sayang. Besar harapanku agar bisa bahagia bersama anakku. Dan kota Malang menjadi harapan kebahagiaan itu.


***

__ADS_1


Happy Reading 🥺


__ADS_2