
Hari sudah menjelang malam ketika Aku berpisah dengan Sizil. Alex langsung membawaku ke hotel.
"Puas main sama Sizil?"
"Lumayan sih Mas..."
"Bagaimana? Sizil mau dipindah ke kantor pusat?"
"Ehm, mau sih... Tapi..."
"Tapi apa?"
"Nggak jadi Mas..."
"Nggak jadi? Kenapa? Sini deh." Alex menarik tanganku hingga Aku jatuh terduduk di pangkuannya. Kemudian dia mulai mengecupi leherku.
"Mas, ngapain?"
"Kangen. Seharian nggak nyiumin Kamu."
"Bukannya tadi seharian di mobil Aku duduknya dipangku ya?"
"Ya, tapi belum puas." Alex duduk di ranjang, sementara Aku duduk membelakangi dipangkuannya. "Kenapa dengan Sizil? Dia tidak mau dipindah?"
"Mau Mas... Tapi dia minta Andre juga dipindah... Auuuuw... Sakit..." Alex mengetatkan pelukannya, membuat lenganku terhimpit kesakitan.
"Aku tidak mau nama itu keluar dari mulutmu Khansa."
"Sizil suka sama dia Mas. Sizil mau dipindah kalau dia juga ikut..."
"Kamu tahu itu tidak mungkin. Aku membencinya!! Kamu juga berhutang penjelasan padaku. Kenapa Kamu masih menyimpan pemberiannya? Apa Kamu masih memiliki perasaan terhadapnya?!"
"Mas, sakit..." Aku meringis.
"Ah, maafkan Aku." Alex melonggarkan pelukannya. Dia memutar tubuhku agar menghadap dirinya.
Aku menatap wajah Alex. Tampak ekspresi putus asa di wajahnya. Kepercayaan diri yang biasanya terpancar hilang tak berbekas. Yang tertinggal hanya sosok pria rapuh.
"Khansa..."
"Ya Mas?"
"Cium Aku..." Aku memegang wajah Alex dengan kedua tanganku. Entah mengapa dia terlihat manis bila sedang rapuh seperti ini.
"Cup... Cup... Cup... " Aku mengecupi kening, pipi dan bibirnya. Alex juga membalas kecupanku dengan lembut.
"Khansa..."
"Ya?"
"Kamu milikku kan?"
__ADS_1
"Iya..."
"Semua hal yang ada pada dirimu adalah milikku. Hati, tubuh dan pikiranmu milikku. Jangan menyimpan pemberian dari laki-laki lain seperti itu lagi. Aku benar-benar marah Khansa."
"Aku mau mengembalikannya Mas, tapi Aku tidak memiliki kesempatan..."
"Andaikan kinerjanya buruk, Aku benar-benar akan membuangnya ke Pap*a, jauh darimu. Agar dia tidak bisa menjangkaumu. Tapi perusahaan masih membutuhkan orang-orang seperti dia." Alex menghela napas kesal.
"Jangan diulangi lagi. Jangan sampai Aku tahu Kamu berhubungan dengannya lagi. Aku akan meletakkan jabatanku dan benar-benar membunuhnya. Ingat itu Khansa."
"Aku tidak memiliki hubungan apa-apa dengannya Mas. Kami memang pernah pacaran..."
"Stop. Aku tidak mau mendengarnya. Sebaiknya Kita mandi." Alex menggendongku dan membawaku ke kamar mandi. Moodnya sedang jelek. Aku tidak ingin membantahnya.
Alex membuka bajuku dan menempatkanku di bath up. Mengisinya dengan air hangat. Kemudian dia ikut bergabung denganku.
Alex duduk dibelakangku. Tubuhku membelakanginya, hingga punggungku saja yang menempel dengan ketat di dadanya.
Alex menyabuni tubuhku dengan lembut. Kecupan-kecupan lembut dia berikan di sepanjang leher, rahang dan bahuku. Kecupan tanpa nafsu. Aku menafsirkannya sebagai kecupan sayang? Apa mungkin Alex menyayangiku? Jika benar seperti itu, betapa senangnya hatiku. Setidaknya Alex menyayangiku, meskipun tidak mencintaiku.
"Khansa..."
"Ya?"
"Jangan tinggalkan Aku."
"Kan nggak bisa, ada bayi ini..."
"Kalau nantinya Kamu lelah denganku, tetap disisiku. Jangan menghilang lagi. Mengerti?"
"Khansa..."
"Ya?" Alex meraih daguku. Membuat wajahku berhadapan dengannya. Mata Kami saling bertatapan. Tatapan mata Alex membuatku terpaku. Tatapan itu tampak dipenuhi oleh perasaan cinta? Ah, Aku pasti salah mengartikannya.
Aku memutar tubuhku, hingga kini tubuhku berhadap-hadapan dengannya. Alex mengecup bibirku dengan lembut. Bibir hangat Alex menyusuri bibirku, centi demi centi. Seolah-olah sedang mengukur bentuk bibirku. Menggodaku untuk membalas kec*pannya.
Aku tergoda. Aku membuka bibirku. Membiarkan Alex untuk mengeksplorasinya. Bibir Kami saling meng*lum. Saling menggoda satu sama lain. Seolah-olah sedang bermain-main. Menyesap kehangatan masing-masing.
Pertautan l*dah dan bibir pun terjadi. Aku memejamkan mataku. Menikmati aroma manis dan hangat ini. Ciuman ini terasa berbeda. Entah mengapa Aku merasakan cinta?
Aku menggenggam rambut Alex. Semakin memperdalam ciumanku. Aku ingin Alex juga merasakan perasaanku, mengetahui isi hatiku.
Aku meninggalkan bibir Alex hanya untuk menciumi rahangnya. Menyusuri garis lehernya, hingga berakhir di garis telinganya.
"Khansaaaa..." Alex meng*rang. Aku suka sekali dengan erang*nnya. Seolah-olah Aku menguasai tubuhnya. Ya, Alex dalam kuasaku sekarang. Dan Aku senang melihatnya seperti itu.
L*dahku senti demi senti menyusuri kulitnya. Memberikan tanda di sana. Semua hal yang kupelajari darinya, kukembalikan padanya.
Aku mengec*pi leher, bahu, dada dan perutnya. Tanganku membuat jejak alur di sepanjang tubuhnya. Menggodanya dengan sentuhanku.
Suara er*ngan dan ger*man Alex semakin sering kudengar. Aku semakin bersemangat untuk menggodanya. Aku menyukai perasaan menaklukannya. Alex seolah-olah berada di dalam kendaliku.
__ADS_1
Aku menyentuh bagian s*ns*tifnya. Memainkannya dengan tanganku. Kemudian menggantinya dengan mulut dan l*dahku. Alex tampak terkesiap. Suara er*ngan, g*raman, deng*sannya semakin sering kudengar. Mengisi keheningan di ruangan itu. Suara-suara itu membuatku semakin bersemangat. Aku semakin senang menggodanya.
Tiba-tiba saja Alex membuka matanya. Kedua tangannya mencengkram b*k*ngku. Dia sedikit mengangkat tubuhku dan memposisikan tubuh Kami. Dengan sekali h*ntakan, tubuh Kami pun bersatu.
Suara d*sahan lega lolos dari bibir Kami. Seolah-olah penyatuan ini adalah puncak sakral dari ritual Kami.
Aku menggerakkan tubuhku. Belajar dan menari di atas tubuhnya. Alex memeluk tubuhku dengan erat. Menciumi leher dan d*daku. Membuat banyak tanda disana.
Aku mencengkram kepalanya. Menekannya untuk semakin dalam menciumku.
Kami berciuman dengan sangat panas, sementara tubuh bagian bawah Kami tetap bergerak dengan berirama. Menimbulkan suara-suara er*tis, menambah panasnya suasana.
Beberapa kali tubuhku bergetar mencapai pelepasan, namun Aku tetap memaksakan tubuhku untuk bergerak. Ketika tubuhku sudah tidak mampu lagi, Alex mengambil alih situasi. Dia menahan tubuhku, dan menggerakan tubuhnya. Membuatku tubuhku terhempas-hempas mengikuti iramanya.
Aku menyandarkan tubuhku pada Alex. Memasrahkan diriku padanya. Tubuhku bagai layang-layang, yang mengikuti kemana pun Alex membawaku.
Entah berapa lama waktu berlalu, entah berapa lama Kami berpacu. Ketika puncak itu datang, Kami menyambutnya bersama. Tubuhku maupun tubuhnya bergetar dengan hebat. Aku mengigit leher Alex dan mencengkram punggungnya.
Alex, suamiku... Aku mencintaimu... Bisikku hanya dalam hati. Aku tidak ada keberanian untuk mengatakannya secara langsung.
Kami berpelukan dengan erat. Air di dalam bath up mulai dingin. Alex mengecupi bahuku dengan lembut.
Tubuhku kelelahan. Aku bersandar di dadanya. Perlahan, Alex mengangkat tubuhku dengan lembut. Membungkus tubuhku dengan handuk tebal sebelum mengangkat dan membaringkannya di ranjang.
Mataku sangat berat. Aku memejamkan mata. Mulai bersiap pergi ke alam mimpi. Aku merasa kecupan hangat mendarat di keningku. Tanpa sadar bibirku tersenyum.
"Khansaku, Aku mencintaimu..." Sayup-sayup Aku mendengar suara Alex mengucapkan kata-kata itu. Ah, ini mimpi yang sangat sempurna. Aku terlelap dengan perasaan yang sangat bahagia.
***
Happy Reading 😁
NB : Mau jawab sedikit pertanyaan :
Q : Mbak ErKa asli mana?
A : Rahasia
Q : Dimana kampung halaman AlKhans?
A : Itu juga rahasia 😌
Q : Apa hubungan Alex dan Diana? Bagaimana perasaan Alex ke Khansa? Kenapa Alex sangat misterius?
A : Ohh, kalau hal itu... Biarkan Alex yang menjawabnya 😌
Q : Mbak ErKa, crazy up dong. Kalau cuman 1 episode, berasa kurang.
A : Ohh, ingin rasanya diriku crazy up. Tapi apalah daya, jempol ini tidak sanggup. Btw, hari ini hanya bisa Update 1 episode ya. Aku sedang di posisi tidak bisa pegang HP untuk beberapa hari ke depan. Maafkan 🙏
Cukup sekian Q&A, terima gajiiihhh 😚🤗
__ADS_1
Tetap tunggu kelanjutan cerita mereka ya 😙🤗
~ErKa~