Aku Hanya Figuran

Aku Hanya Figuran
Ch 33 - Pertemuan Pertama Kita


__ADS_3

Hari Sabtu pun datang. Tidak ada gangguan dari Andre maupun Sizil. Aku benar-benar sendiri.


Aku begitu heboh mempersiapkan diri. Aku banyak membaca tutorial perawatan tubuh di browser. Melakukan step by step yang ditulis di sana.


Aku melakukan hair mask untuk perawatan rambut. Untuk wajah Aku melakukan facial dan masker serta mengompresnya. Sedangkan untuk tubuh Aku melakukan lulur dan pijat di spa kecantikan. Tak lupa Aku mencabuti bulu-bulu halus di lengan dan kakiku. Selain itu Aku juga melakukan perawatan kuku.


Aku benar-benar melakukan perawatan tubuh secara menyeluruh. Ini benar-benar kali pertamaku melakukannya. Untung saja Sizil tidak melihat kelakuanku. Andai dia tahu, dia pasti akan menggila dan mempertanyakan tingkah lakuku. Syukurlah anak itu pulang kampung, jadi Aku terbebas dari kecerewetannya.


Hari Sabtu benar-benar kuhabiskan untuk melakukan perawatan. Aku bahkan tidak memakan nasi. Aku makan salad buah dan sayur hanya untuk membuat perutku tidak membuncit.


Aku ingin Alex melihatku dengan penampilan benar-benar sempurna. Ini pertemuan pertama Kami setelah hampir 10 tahun lamanya. Terakhir kali Aku melihatnya ketika di bandara waktu itu. Dan Alex tidak menyadari keberadaanku. Kali ini Aku ingin menjadi sempurna di matanya. Semoga kali ini Alex bisa melihat seorang Khansa.


***


Hari yang kutunggu-tunggu akhirnya datang juga. Aku begitu bingung memilih baju yang akan kupakai. Aku menggeledah isi lemariku, namun tidak ada baju yang layak untuk dipakai selain baju formal untuk kerja.


Terlalu fokus pada perawatan tubuh membuatku lupa untuk membeli baju baru. Aku melihat jam di ponsel. Waktu sudah menunjukan pukul 18.15 WIB. Terlalu mepet waktunya untuk mencari baju baru lagi. Pada akhirnya Aku memilih gaun sederhana berwarna peach.


Gaun itu berlengan pendek, dan menjuntai panjang menutupi betisku. Ada semacam sabuk berwarna senada di bagian perutnya.


Aku melihat tampilanku di cermin. Baju itu sangat mencerminkan diriku. Sederhana dan apa adanya. Tidak ada kesan kemewahan. Yang ada hanya kesan kesederhanaan dan kepolosan.


Aku tidak puas dengan penampilanku. Aku ingin Alex melihatku dengan tampilan cantik. Tapi ternyata tidak sesuai dengan harapanku.


Aku mengurai rambut hitamku dan sedikit memberinya jepit. Kemudian Aku memakai soflens. Aku ingat, dulu Alex pernah berkata bahwa Aku manis bila kacamataku dibuka dan rambutku diurai. Sekarang Aku sudah melakukannya.


Pukul 18.30 WIB, Aku sudah siap berangkat. Berhubung kunci mobilku dipegang Andre, Aku memutuskan untuk memesan taksi online.


Jarak antara hotel dan kontrakan bisa ditempuh dalam waktu dua puluh menit bila kondisi jalanan normal. Aku berharap tidak mengalami kemacetan hari ini.


Taksi onlineku pun datang. Sepanjang perjalanan hatiku berdebar-debar. Aku membayangkan bagaimana pertemuan Kami nantinya? Apakah Alex akan mengingatku?


Tubuhku bertambah tinggi. Aku memakai soflens dan mengurai rambut juga. Akankah dia tetap mengingatku?


Semakin dekat dengan hotel, perasaan gugup semakin melandaku. Tanganku mulai basah. Keringat dingin membasahi dahiku.


"Tarik napas dalam-dalam, hembuskan... Huft... Huft... Kamu pasti bisa Khansa... Kamu pasti bisa..." Aku menenangkan diriku sendiri.


Taksi berhenti tepat di depan hotel. Dengan langkah ragu dan gugup Aku mulai memasuki area hotel. Aku mencari aula tempat reuni Kami. Lima menit berjalan, Aku menemukannya.

__ADS_1


Aku melihat dua orang berjaga di depan pintu aula. Aku mendekati mereka.


"Ehem. Apa benar reuni SMAN 1 angkatan 2008 diadakan di aula ini?" tanyaku.


"Iya benar. Atas nama siapa?" tanya salah satu orang, melihat dari seragam, sepertinya mereka petugas hotel.


"Khansa Aulia."


"Sebentar." Mereka mencari namaku di list tamu undangan. Setelah menemukannya, mereka menyerahkan pena padaku.


"Silakan tanda tangan disini Ibu Khansa."


"Baik." Aku pun tanda tangan dan dipersilakan untuk masuk.


Dengan langkah ragu dan hati berdebar kencang Aku memasuki aula itu. Aku melihat sekeliling. Ada beberapa puluh orang yang sudah hadir. Aku mengedarkan pandanganku untuk melihat pujaan hatiku, namun Aku tidak menemukannya.


"Mungkin dia belum datang." pikirku optimis.


Aku memperhatikan sekeliling. Ada beberapa teman sekelas yang kukenal. Aku menghampiri mereka, bermaksud untuk menyapa.


"Hai semua... Lama tidak berjumpa. Bagaimana kabar kalian semua?" Aku menyapa segerombolan wanita yang tampak asyik bercengkrama.


"Siapa?" tanya salah satu dari mereka yang kukenali bernama Itha.


"Aku Khansa. Kita pernah satu kelas ketika kelas 1." Aku tersenyum ramah. Mereka masih menatapku dengan bingung, raut wajah mereka tampak berusaha mengingat-ingat.


"Oh Aku ingat. Kamu anak yang selalu duduk dibelakang itu kan?" timpal Nela, salah satu teman sekelasku juga.


"Iya. Bagaimana kabar kalian semua? Kalian tinggal di sini?" Aku tersenyum ramah.


"Oh anak yang itu." Itha berbalik pada temannya yang lain. "Eh tau nggak sih, Aku kesini karena pengen ketemu Alex." Itha mengabaikanku.


"Iya, Aku juga. Lama banget anak itu nggak ada kabarnya. Seperti apa ya dia sekarang?" Mimi yang sedari tadi diam ikut berucap.


"Penasaran sama kabar si superstar Kita. Kira-kira dia masih sama Diana nggak sih?"


"Entahlah. Nggak ada yang tahu perkembangan mereka. Diana sih nggak pernah majang foto Alex, mungkin mereka sudah putus ya?"


Mereka bergosip dan mengacuhkanku. Ternyata waktu tidak mengubah mereka. Padahal sudah 10 tahun berlalu, tapi mereka tetap menganggapku tidak ada. Apa Aku benar-benar tidak layak untuk sekedar mengobrol dengan mereka? Apa waktu benar-benar tidak bisa mengubah sifat dan cara berpikir seseorang? Padahal Aku pikir karena Kita semua sudah dewasa, mereka tidak akan bersikap kekanak-kanakan lagi. Ternyata dugaanku salah.

__ADS_1


Aku pergi ke kelompok lain, namun lagi-lagi Aku tetap mendapat perlakuan yang sama. Pada akhirnya Aku duduk di pojok ruangan, memperhatikan kumpulan itu. Kalau bukan karena Alex, Aku tidak mungkin mau datang ke reuni ini.


Aku memperhatikan pintu masuk. Berharap dapat melihat Alex. Hampir setengah jam Aku menunggu, namun yang kutunggu-tunggu tak kunjung datang.


Ketika waktu sudah menunjukan pukul 19.40 WIB, Aku melihatnya!!


Pemilik hatiku berdiri di sana. Aku ingin memperhatikannya secara detail, tapi kehadirannya begitu ditunggu-tunggu semua orang sehingga tubuhnya tertutupi oleh teman-teman yang lain.


"Hei semua, Alex datang tuh."


"Bintang kelas Kita sudah datang tuh. Ayo kesana." Dan banyak percakapan sejenis lainnya.


Mereka berbondong-bondong mendekati Alex. Semua tampak sangat antusias. Aku berusaha berjinjit untuk melihatnya. Sekilas Aku bisa melihatnya.


Alex menggunakan baju yang warnanya hampir senada dengan bajuku dipadu dengan celana berwarna beige.


Hatiki berdebar-debar. Mataku sudah mulai berkaca-kaca. Tubuhku gemetar. Ingin rasanya Aku terbang dan memeluk tubuh itu. Aku begitu merindukannya!!


Perasaan ini begitu meluap-luap. Aku hampir tidak bisa menahannya.


Menurutku, Alex tidak berubah. Dia hanya bertambah dewasa. Tinggi badannya mungkin bertambah hanya beberapa senti. Dulu waktu SMA, tinggi badannya sekitar 173 cm. Mungkin sekarang sudah 180 cm.


Mau berubah seperti apapun Alex, namun tetap tidak mengubah perasaanku. Debaran jantung ini sebagai buktinya.


Sudah lama jantung ini tidak berdebar secepat ini. Hanya Alex yang mampu membuatnya seperti ini. Tidak dipungkiri, memang hatiku sudah menjadi milik Alex untuk waktu yang lama.


Aku masih terus menatap dan menatap. Alex masih tampak sibuk melayani pertanyaan teman-teman yang lain. Aku tetap tidak berhenti menatapnya, dan...


Tiba-tiba saja mata Kita sudah bertemu.


Kami saling terdiam, begitu terpaku. Seolah-olah udara di sekitarku telah habis. Atmosfer ruangan menjadi panas. Aku begitu terbuai dengan tatapan yang mengunciku.


Aku tak bisa berpaling. Seluruh panca inderaku hanya berfokus pada Alex. Suara bising di sekitarku seakan-akan lenyap. Hanya ada Kita berdua. Ya, Kita berdua.


Hanya ada Alex dan Khansa.


***


Happy Reading 😁

__ADS_1


__ADS_2