
Aku menatap Alex yang tidur dengan nyenyaknya. Dia masih berpakaian lengkap.
"Baiklah. Aku akan membantu membuka sepatu. Setelah itu Aku akan pulang." bisikku.
Aku mendekati Alex dan mulai membuka sepatunya dengan perlahan-lahan.
Aku melihat Alex tampak bergerak gelisah. Dia memegang bagian depan bajunya. Mungkin dia kepanasan? Ah ya, pasti tidak nyaman tidur dengan berpakaian lengkap.
Dengan tangan gemetar, Aku membuka dua kancing teratasnya.
"Ini... Ini sangat memalukan." Aku menutup sebelah mataku. Merasa sangat malu. Aku lega ketika berhasil melakukannya.
"Baiklah. Tugasku sudah selesai. Aku akan pulang sekarang."
Aku duduk di sisi ranjang sembari berlama-lama menatap wajah Alex. Entah kapan Kita akan bertemu lagi. Aku harus memuaskan rasa rindu di hati.
Sayang sekali, ketika mereka ada waktu untuk berbicara dari hati ke hati, Alex malah mabuk dan tertidur dengan pulas.
Aku tidak punya nomor Alex. Mungkin setelah dia bangun, dia berkenan untuk menghubungiku. Aku berinisiatif untuk menulis nomorku di secarik kertas yang berada di samping meja. Kemudian Aku kembali bersimpuh di samping tempat tidur Alex.
"Aku pulang dulu. Semoga Kamu bersedia menghubungiku. Maafkan Aku. Dan Aku benar-benar berterima kasih." Aku memberanikan diri untuk menyentuh kepala Alex dan membelainya.
Entah mungkin karena terdorong suasana, tubuhku bergerak sendiri. Tanpa berpikir panjang Aku mengecup kening Alex dengan lembut.
"Aku mencintaimu... Sampai bertemu lagi, pemilik hatiku." bisikku. Mataku mulai berkaca-kaca lagi.
Aku berdiri dan mulai berbalik. Semakin lama berada di dekat Alex, sangat tidak bagus untuk jantungku. Aku ingin selalu berada di dekatnya, tidak mau jauh darinya. Ini benar-benar tidak baik.
GREB
Aku merasa lenganku dipegang seseorang.
"Khansa..."
DEG
Jantungku seperti melompat keluar. Aku tidak berbalik. Tubuhku seolah menjadi kaku.
Tanganku ditarik hingga Aku jatuh di atas dada hangatnya. Rupanya Alex sudah bangun dan duduk di atas ranjang.
Alex mendekapku dengan erat. Tubuhku menjadi kaku. Aku tidak bisa menolaknya.
__ADS_1
"Khansa... Khansa... Khansa..." bisiknya lirih. Suaranya serak. Seperti mengandung kesedihan dan kerinduan yang mendalam?
Ahh.. Ini pasti hanya imajinasiku saja. Alex bersikap seperti ini pasti karena terbawa pengaruh suasana.
"Khansa..." Alex mengecup keningku dengan lembut. Aku menjadi terbuai. Aku merasa seperti di sayang. Aku membiarkan Alex melakukannya.
Pelan-pelan Alex menjauhkan tubuhku. Dia menatapku dalam-dalam. Aku seperti tersedot dalam arus tatapannya. Pikiranku tidak lagi jernih. Otakku terasa kosong. Udara di sekitarku menjadi panas. Dadaku terasa lebih sesak.
Alex menyentuh wajahku dengan lembut. Tatapannya masih tidak lepas. Dia seperti melahapku bulat-bulat. Aku tersihir. Tak mampu menolak apapun yang akan dilakukannya.
Pelan namun pasti Alex mendekatkan wajahnya. Memberi waktu bagiku untuk menghindar dan menolak. Namun bagai kerbau di cocok hidungnya, Aku tidak kuasa menolak. Tubuhku seolah-olah juga menginginkannya.
Sepuluh senti... Lima senti... Dua senti... Satu senti... Dan... Cup...
Bibir Kami bersentuhan. Aku merasa seperti tersengat aliran listrik. Seluruh tubuhku meremang. Tubuhku terasa ringan. Tanpa sadar Aku memejamkan mata.
Sentuhan bibir lembut, hangat dan kenyal. Sentuhan yang baru pertama kali kurasakan. Tubuhku terasa kesemutan. Dan semua itu berpusat pada bibir Kami yang saling bertautan.
Pelan-pelan bibir Alex mengecup bibirku dengan lembut. Awalnya bibir itu menyusuri bibir bawahku. Meng*lumnya dengan lembut, membawa getaran ke seluruh tubuhku.
Puas memagut bibir bawahku, bibir itu beralih ke bibir atasku. Mel*mat, meng*lum dan menghisapnya.
Bibir Alex masih asyik menelusuri bibirku. Pelan namun pasti lidahnya mulai menyeruak, mengeksplorasi kehangatan rongga mulutku. Aku yang terkejut mulai menjauhkan tubuh, namun Alex menahan tubuhku dengan erat. Tidak membiarkanku untuk menjauh.
Satu tangannya menahan kepalaku, sementara tangannya yang lain memeluk pinggangku.
Napas Kami mulai berat. Lidah Alex menari-nari. Menggodaku untuk membalasnya. Dia menyesap, menggigit, menghisap, mel*mat, meng*lum dan memagutnya.
Aku pasrah, benar-benar pasrah. Aku benar-benar tidak tahu harus melakukan apa, karena ini merupakan ciuman pertamaku. Aku hanya bisa memejamkan mata, membiarkan Alex melakukan segalanya.
"Khansaaa..." suara Alex tampak parau. Napasnya mulai berat. Napas itu menggelitik pipiku.
Entah bagaimana caranya, tiba-tiba saja posisi tubuh Kami sudah berbaring di ranjang. Alex masih tidak melepaskan pagutannya di bibirku. Lidahnya masuk semakin dalam. Membuatku kesulitan bernapas.
Suasana menjadi semakin panas. Alex melepaskan bibirku sejenak hanya untuk beralih ke sisi lain tubuhku. Dia mengecup kening, kelopak mata, pipi dan daguku. Lidah nakalnya sejenak menghampiri bibirku sebelum beralih ke ceruk leherku.
Aku semakin memegang erat sprei di bawahku. Menahan diriku untuk tidak mengeluarkan desahan. Aku tidak menjadi diriku sendiri malam ini. Aku bukan Khansa yang biasanya. Aku hanyalah seorang Khansa yang tunduk pada Alex. Menjadi budaknya. Budak seorang Alex.
Alex mengecupi leherku. Lidahnya menelusuri tulang selangka dan belikatku. Memberikan gigitan-gigitan kecil di sana. Meng*lum cuping telingaku, membuatku tanpa sadar berteriak dan Alex langsung menutup mulutku dengan bibirnya.
Ciumannya tidak lagi lembut, namun menuntut. Dia mel*mat bibirku dengan beringas dan mengeksplore hangatnya rongga bibirku. Tangannya bergerilya, menyentuhku dimana-mana.
__ADS_1
Aku tidak bisa menolak. Tubuhku seolah-olah sudah bukan menjadi milikku lagi. Hanya Alex, Alex dan Alex... Sang penguasa tubuh dan pikiranku.
Bibir dan tangan Alex berada dimana-mana. Menjalari seluruh tubuhku. Bahu, punggung, pinggang, paha, betisku tak luput dari sentuhannya.
Alek kembali mel*matku, sementara tangannya meremas dadaku. Aku tersentak, ingin menjauh. Namun lagi-lagi bibir Alex menguasai bibirku. Membuat otakku menjadi kelu.
Aku kembali tidak bisa berpikir. Aku membiarkan Alex berbuat semaunya. Perasaan bersalah karena melakukan hal terlarang tersaput oleh perasaan dan gairah yang mendalam. Aku kembali hanyut oleh permainan.
Seluruh tubuh Alex menguasai tubuhku. Membuatku pasrah dan tak berdaya. Tubuhku seolah terbang ke angkasa.
Tanpa Aku sadari, Alex telah melepaskan semua busana Kami. Dia menutupi tubuhku dengan tubuhnya. Tidak memberikan kesempatan padaku untuk menolak.
Sementar bibir, tangan dan bagian tubuhnya yang lain tak henti-hentinya memberikan rangsangan, yang membuatku terbang ke awang-awang.
"Khansa... Bolehkah?" Alex menatapku dalam-dalam. Suaranya parau, menahan gairah yang melanda. Tatapan matanya gelap dan dalam, seolah-olah menghipnotisku. Membuatku takluk dengan sendirinya.
Tanpa sadar Aku menganggukan kepalaku. Memberinya ijin untuk melakukan apapun yang dia mau.
Aku memejamkan mataku.
Tuhan... Maafkan Aku. Aku telah melakukan dosa yang sangat besar. Ijinkan Aku untuk bersamanya. Aku sangat mencintainya.
Ayah... Maafkan Aku. Anakmu telah melakukan dosa besar. Jangan terlalu kecewa padaku. Ayah... Pahami perasaanku. Aku sangat mencintainya. Aku rela memberikan nyawaku untuknya. Maafkan Khansa, Ayah...
Pikiranku tersentak ketika Aku merasakan benda asing aneh menerobos tubuhku. Rasa sakit yang begitu mendalam kurasakan di bagian sensitifku.
"Auuwww..." Aku meringis kesakitan. Bibir hangat Alex langsung mencium bibirku dengan lembut. Berusaha mengalihkan rasa sakit yang kurasakan.
Aku menahan rasa sakit itu. Sakitnya benar-benar luar biasa. Seolah-olah merobek tubuhku dengan sangat hebat. Airmata mengalir di sudut mataku. Aku memeluk tubuh Alex dengan erat. Mengigit punggungnya, meredam rasa perih di tubuhku.
Airmata mengalir di pipiku. Tubuhku dan tubuh Alex telah bersatu. Kami telah melakukan dosa besar!
Tuhan... Ayah... Maafkan Aku. Aku telah tidur dengan laki-laki yang bukan suamiku. Maafkan Aku... Aku sangat mencintainya... Sangat... Sangat mencintainya... Ijinkan Aku untuk bersamanya.
***
Khansa ❤️ Alex
Happy Reading 🥺
Pasti entar lagi Khansa bakal dihujat nih 😂😂 kabooorr dulu aaahh 🏃♀️🏃♀️💃💃
__ADS_1