Aku Hanya Figuran

Aku Hanya Figuran
Ch 47 - Pertemuan Tak Terduga


__ADS_3

Aku pergi keluar dan mencari makan. Untungnya masih ada beberapa pedagang kaki lima yang masih buka. Aku makan dengan lahapnya.


Aku makan nasi goreng. Setelah habis, Aku memesan lalapan di pedagang satunya. Aku makan porsi untuk porsi tiga orang. Aku tidak peduli lagi, yang penting Aku kenyang.


Setelah kenyang, pikiranku mulai tenang. Aku mengelus-ngelus perutku dengan sayang.


"Sudah kenyang Dek, Kita pulang yuk..." Aku mengambil motor dan pulang ke kosan. Setelah itu Aku kembali berbaring di ranjang.


Berita infotaiment tadi kembali melintas di pikiranku. Rasa sakit yang dalam menusuk jantungku. Aku tidak ingin menangis, tapi airmata tetap mengalir di pipiku.


Dari awal Alex memang bukan milikku, tapi milik Diana jadi wajar kalau pada akhirnya mereka menikah. Akulah yang menjadi orang ketiga dalam hubungan mereka. Aku yang menyebabkan Alex mengkhianati Diana, Aku orang yang bersalah di sini. Tapi mengapa rasanya masih tetap sakit?


Kalau perasaanku sesakit ini, lalu bagaimana dengan perasaan Diana? Kami berdua melakukan hubungan itu, sampai pada akhirnya Aku hamil. Bagaimana bila Diana tahu hal ini? Diana pasti akan lebih sakit hati lagi. Jadi Aku tidak perlu merasa jadi korban di sini, karena korban yang sebenarnya adalah Diana dan Aku adalah penjahatnya.


Bila Diana dan Alex menikah, Aku akan berusaha untuk berlapang dada. Hati kecilku tidak bisa menerimanya, tapi pikiran warasku mendoakan kebahagiaan mereka.


"Maaf Di... Aku sudah lancang menginginkan milikmu. Semoga pernikahanmu dan Alex bahagia. Aku berjanji tidak akan muncul di depan kalian lagi. Berbahagialah kalian berdua... Maafkan Aku..."


Aku memeluk perutku dengan erat. Menyembunyikan kesedihanku dari bayiku. Aku berharap dia tidak menyadari perasaanku dan ikut bersedih.


Detik itu juga, Aku berjanji akan melupakan Alex. Aku tidak akan mengharapkan dia lagi atau bermimpi hidup bahagia dengannya. Mimpi itu hanya mimpi, tak akan pernah menjadi nyata. Selama ini Aku terlalu hidup dengan perasaanku sendiri tanpa memakai logika yang ada.


Pernikahan Alex dan Diana membuka pikiranku. Sebanyak apapun Aku mencintai, tapi kalau orang yang Kita cintai tidak mencintai Kita, maka hanya akan menjadi buih dalam lautan. Yang akan hilang di hempas ombak.


Aku akan melepas perasaanku pada Alex. Aku hanya akan mencintai anakku. Aku akan fokus pada kebahagiaan Aku dan anakku. Tanpa Alex Kami juga akan bahagia, Aku yakin dengan hal itu!


"Dek, lupakan apa yang Mama katakan kemarin-kemarin. Kamu tidak punya Papa, Kamu hanya punya Mama. Kita akan hidup berdua. Nanti setelah Kamu lahir, Mama akan membawamu bertemu dengan kakung dan uti. Mereka akan mencintaimu Dek, sama seperti Mama yang juga mencintaimu. Jadi Kamu tidak boleh bersedih ya, Kita pasti akan bahagia."


***


Aku menghapus semua akun media sosialku. Aku juga menghapus Grup FB. Semua foto-foto Alex yang kusimpan di galery juga sudah Aku hapus. Aku tidak ingin tahu tentang kabar mereka. Semakin Aku mengetahuinya, semakin membuat perasaanku sedih. Bila Aku sedih, akan sangat berpengaruh pada keadaan bayiku. Aku tidak ingin hal itu terjadi.


Aku menarik diri dari dunia luar. Aku menghindari TV karena takut melihat berita mereka bertebaran. Aku benar-benar akan menutup hatiku. Mencegahnya dari sakit hati yang lebih dalam.


Aku hanya berkomunikasi dengan keluargaku dan Sizil. Keluarga memaksaku untuk pulang ke rumah, namun Aku selalu mencari-cari alasan untuk menolaknya. Sizil selalu ingin tahu keberadaanku, namun Aku juga berhasil menghindarinya.


Suatu malam Aku dan Sizil sedang berteleponan.

__ADS_1


"Bu, beberapa hari ini ada telepon dari kantor pusat."


"Bukannya tiap hari kantor pusat selalu telepon ya Zil?"


"Iya emang sih Bu. Tapi anehnya mereka telepon menanyakan Ibu lho. Sudah Kami katakan juga kalau Ibu sudah resign dan pulang ke kota Ibu..."


"Ada masalah apa ya Zil? Seingatku, semua pekerjaan sudah Aku selesaikan."


"Ya Aku herannya juga di situ Bu. Kami bertanya apa ada urusan pekerjaan yang belum selesai? Tapi dia tidak mau jawab Bu."


"Laki-laki apa perempuan yang nyari Zil? Coba Kamu ingat-ingat Zil, apa ada pekerjaanku yang belum selesai?"


"Perempuan Bu. Dia mengatakan namanya Winda. Memang nama Winda pasaran banget sih Bu, tapi kok Aku feeling Winda yang nyari Ibu adalah Winda yang sama dengan sekretaris GH yang baru itu Bu."


"Hah? Apa maksudmu Zil?"


"Oh iya lupa sih, Ibu kan dulu nggak ikut meeting waktu GH baru sidak. Jangan-jangan gara-gara Ibu nggak ikut meeting nih, makanya dicariin. Disuruh tanggung jawab sama target kali Bu."


"Ihh ngaco Kamu. Itu kan kejadian sudah beberapa bulan yang lalu. Kenapa minta tanggung jawab targetnya baru sekarang? Aneh kan. Lagian kan pekerjaanku sudah Aku selesaikan semua dan sudah Aku serahkan sama penggantiku. Kenapa tidak mencari penggantiku saja?"


"Ya Aku bingungnya di situ Bu. Nggak taulah apa tujuan dia mencari Ibu. Lupakan... Lupakan... Sekarang Ibu dimana? Lagi apa?"


Aku tidak memikirkan perkataan Sizil. Aku sudah tidak begitu peduli dengan hal lain lagi selain bayiku.


***


Pagi itu Aku melakukan aktivitas biasa. Aku sarapan dalam jumlah banyak untuk mengisi tenaga. Hari itu Aku ada janji temu dengan salah satu nasabah prioritas.


Nasabah berjenis kelamin wanita dan berusia sekitar 50 tahunan itu tampak tertarik dengan produk asuransiku. Beliau mengundangku ke rumahnya, memberi kesempatan bagiku untuk menjelaskan produk itu secara gamblang.


Aku memakai celana kanguru dan atasan batik yang bagian perutnya longgar. Baju batik yang di desain untuk wanita hamil itu terdapat dua tali di sisi-sisinya. Aku mengikat tali itu ke belakang sehingga hasilnya perutku tampak lebih besar dan menonjol.


Usia kehamilanku memasuki enam bulan. Tubuhku masih tetap langsing seperti biasa. Hanya bagian perutku saja yang sangat menonjol. Sepertinya nutrisi makanan yang Aku makan hanya masuk ke tubuh bayiku saja. Tidak ada tumpukan lemak di tubuhku. Hanya buntelan bayi di perut.


Banyak ibu-ibu hamil yang iri dengan kesehatan dan tubuh langsingku. Aku sangat bersyukur. Bayiku benar-benar tidak menyusahkanku. Dia sangat pengertian.


Aku sudah mengetahui jenis kelamin bayiku, dan dia laki-laki, yeay!! Aku membayangkan anak kecil tampan di mimpiku. Pasti dia adalah anakku.

__ADS_1


Aku memoles wajahku dengan make up minimalis dan mengurai rambut hitam panjangku. Aku selesai berdandan. Aku melihat penampilanku di cermin. Meskipun hanya bekerja sebagai agen, tapi penampilanku tak kalah dengan pegawai bank pada umumnya. Aku puas dengan tampilanku.


"Baik Dek, Mama sudah siap. Ayo Kita kerja sekarang."


Aku mengambil motor di parkiran kost dan mulai memacunya ke arah perumahan elit di kota Malang. Hatiku berbunga-bunga, membayangkan akan segera dapat nasabah.


"Kalau hari ini goal, semua komisinya akan Mama beliin buat barang-barang Kamu Dek. Doain Mama goal ya Dek..." Ucapku sembari menyetir motor.


Setengah jam berkendara, akhirnya Aku memasuki kawasan elit itu. Aku mencari rumah sesuai dengan alamat yang diberikan oleh nasabah itu. Lima belas menit mencari, akhirnya Aku menemukannya. Aku menekan pintu bel rumah.


Ting... Tong... Ting... Tong...


Ting... Tong... Ting... Tong...


"Ya sebentar." Terdengar suara pria dari dalam. Aku berdiam, menunggu dengan sabar. Lima menit kemudian, pintu gerbang dibuka dan...


Aku melihat wajah itu!! Wajah yang sangat kukenal. Wajah yang selama belasan tahun bersarang di mimpi-mimpiku.


Ya, Aku melihat ALEX!!


Kami sama-sama tertegun. Kami bertatapan sangat lama. Tidak ada suara yang keluar. Hanya tatapan keterkejutan yang sangat nyata.


"Kh-khansa..." Aku mendengar suara Alex secara lirih menyebut namaku. Dia menatapku dari atas ke bawah. Pandangan matanya langsung tertuju pada perutku. Kilas terkejut semakin nampak di wajahnya.


Dengan spontan Aku menutup perutku dengan tangan. Aku merasa di telanjangi. Aku merasa terpergok karena telah melakukan sesuatu yang salah. Aku...


"Siapa yang datang Al?" Tiba-tiba dari arah belakang tubuh Alex muncul seorang wanita cantik. Satu kali lihat saja Aku langsung tahu dia siapa. Ya, dia adalah Diana, seorang Princess D.


Diana menghampiri Kami. Dan kilatan rasa sakit kembali menamparku ketika melihat perutnya yang membuncit. Ya, Diana juga sedang hamil!!


***


Happy Reading 😑


NB : Nih akhirnya Alex Aku keluarin ya. Aku sudah nggak tahan dibully emak2 dimari (padahal belum waktunya keluar 🤧). Btw, besok libur update ya. Selain karena tidak enak badan, hari Minggu harusnya libur update.


Tetap di tunggu kisah AlKhans hari Senin ya, terima kaseeeeeehh 💃💃💃

__ADS_1


~ErKa~


__ADS_2