Aku Hanya Figuran

Aku Hanya Figuran
[POV Alex] Ch 94 - Amarah


__ADS_3

Aku menjadi gelap mata. Kepalaku tidak bisa berpikir. Yang ada hanya perasaan murka dan amarah. Emosi menutupi jalan pikirku.


Aku menghambur ke arahnya dan menerjang tubuhnya. Tubuh Aaron terlempar ke lantai. Aku mengejar dan menindih tubuhnya. Tanpa sadar tanganku memukul wajahnya dengan membabi buta.


"B*JINGAN!! BR*NGS*K!! JANC*K!! ASSS***!!"


BUUUKK... BUUUKK... BUUUKK...


Pukulan itu mengenai wajahnya secara telak. Darah segar mengucur dari hidung dan bibirnya. Aku tidak berhenti sampai di sana, Aku menarik rambutnya dan membenturkan kepalanya ke lantai.


Aku sudah tidak peduli lagi dengan hubungan darah Kami. Yang ada di pikiranku hanyalah perasaan ingin menghancurkan!!


Berani-beraninya!! Berani-beraninya dia melakukan ini padaku!! Br*ngsek!!


"BR*NGSEK!! RASAKAN INI!! RASAKAN!! MATI KAU!! MATI!! BAJ*NGAN!!" Aku tidak menghentikan pukulanku. Kedua kepalan tanganku bergantian menghajar wajahnya.


Aaron tidak melawan. Wajah tampannya sudah tidak berbentuk lagi. Darah segar memenuhi wajahnya.


"MATI!! MATI!! MATI!! BR*NGSEK!!"


"Akhhh!! Aaakhhh!! Alex!! Hentikan!! Hentikan!! Dia bisa mati!! Alex!!"


Aku merasa seseorang memeluk tubuhku dari belakang. Aku menoleh dan melihat Diana sudah memelukku. Tubuh t*lanjangnya menempel di tubuhku. Perasaan jijik menguasaiku.


"Lepaskan Aku!! Jangan sentuh Aku!!" Aku melepaskan diri dari Diana dan mendorong tubuhnya hingga terhempas ke belakang. Diana meringis kesakitan. Namun sejurus kemudian dia kembali bangkit dan memeluk tubuh Aaron yang sudah berlumuran darah. Dua tubuh t*lanjang bulat saling melindungi diri.


"Alex... Aku mohon... Ja-jangan pukul dia lagi... Kami bersalah... Kami salah... To-tolong maafkan Kami... Ja-jangan pukul dia lagi..." Diana menangis tersedu-sedu sembari tetap memeluk tubuh Aaron. Semburan rasa emosi kembali menguasaiku.


"Cuih!" Aku meludahi mereka. Perasaan jijik membuatku mual. Tubuhku masih tidak bisa berhenti gemetar. Emosi ini harus segera kusalurkan.


Aku mengambil meja di samping tempat tidur dan melemparnya ke sudut ruang.


BRAAAKK!!


Tak berhenti sampai disitu, Aku menarik TV LED dan melemparnya ke tembok. Aku melempar semua barang yang ada di sana hingga menimbulkan suara-suara berisik. Hal itu menarik perhatian para ART sehingga membuat mereka datang dan melihat keadaan Kami.


"A-ada apa Den? Kenapa rame..."


"KELUAR SEMUA!! BR*NGSEK!!"


BLAM!! (Pintu kamar kututup dengan keras)


Tubuhku masih tidak berhenti gemetar. Tatapanku kembali tertuju pada dua insan. Diana masih saja menangis sembari memeluk Aaron, sementara pria itu tampak setengah tak sadarkan diri. Matanya terbuka, tapi tatapannya menerawang.


"KENAPA??!! KENAPA HARUS DIA DI?!!" Aku membentak Diana yang masih menangis sesegukan.

__ADS_1


Tidak tahan melihat tubuh telanjang mereka, Aku melempar selimut kepadanya. Diana segera menutupi tubuhnya dan Aaron. Tangisan masih tidak berhenti mengalir dari wajah cantiknya.


Perasaanku sangat marah. Benar-benar marah. Aku tidak tahu ini perasaan apa. Apakah ini rasa cemburu? Atau hanya sekedar rasa terkhianati?! Kemarahan ini tidak bisa hilang dari dadaku.


Aku menatap kakak br*ngsek dan pacar murahanku. Benar-benar tidak habis pikir mengapa mereka mengkhianatiku seperti ini. Perasaanku sakit.


Meskipun Aku tidak tahu pasti perasaanku terhadap Diana seperti apa, namun Diana masih berstatus sebagai pacarku!! Bagaimana mungkin wanita itu mengkhianatiku dan berselingkuh dengan kakak kandungku?! Pengkhianatan mereka tidak main-main. Mereka sampai melakukan hubungan terlarang! Harga diriku sebagai laki-laki sungguh sangat terluka!!


Kalau memang mereka saling suka, kenapa Diana tidak minta putus saja?! Mengapa mereka mengkhianatiku? Melakukan pengkhianatan itu di rumah ini? Apa mereka sengaja ingin Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri?! Br*ngsek!!


"Kamu suka sama si br*ngsek itu?! Kenapa tidak mengatakannya padaku?! Kenapa melakukan hal seperti ini? Kenapa Di?!!"


"A-Al... Ma-maaf... A-aku salah... Ma-maaf... Huuu... Huuu... Hiks..."


"Aku benar-benar kecewa padamu Di!! Kamu murahan!!"


"Al!!" Diana tampak terkejut dengan kata-kataku.


"Kamu dan dia sama saja. Sama-sama br*ngsek!!" Aku beranjak keluar dari kamar. Sebelum benar-benar keluar, Aku kembali menatap sepasang manusia bej*d itu. "Mulai saat ini, Aku tidak ingin melihat kalian lagi!"


Aku membuka pintu dan kembali membantingnya. Aku berlari ke lantai bawah dan mengambil motor, kemudian Aku memacu motorku dengan kecepatan tinggi. Aku tidak peduli lagi dengan rambu-rambu lalu lintas. Aku tidak peduli dengan keselamatan. Aku hanya terus memacunya, mengikuti kemana arah motorku berlari.


"Aaaarrrrggghhhh!! Baj*ngan br*ngsek!! Aarrrrrghhhh!!"


BUUUKK... BUUUKK... BUUUKKK...


Ini benar-benar penghinaan!! Mereka anggap Aku apa? Hanya patung tak bernyawa?! Aku tidak tampak di mata mereka?! Bisa-bisanya mereka mengkhianatiku seperti ini?!


Kakak tidak punya otak dan pacar murahanku!! Sungguh mereka berdua pasangan yang serasi!! Sama-sama bej*d dan tidak berperasaan!!


Apa mereka tidak memikirkan perasaanku?! Seharusnya kalau mereka memang saling menyukai, mereka bisa mengatakannya padaku baik-baik!! Bukan seperti ini caranya!! Melakukan perselingkuhan di belakangku dengan status Diana masih pacarku!!


Dan Diana... Mengapa dia menjadi gadis yang seperti itu?! Umurnya bahkan baru 16 tahun?! Tapi mengapa dia rela tubuhnya dijamah oleh playboy tak berotak itu?! Apa memang dia sudah terbiasa melakukan hal seperti itu?!


"Aarrrghhhh!!"


Aku benar-benar tidak mengira orang-orang terdekatku akan mengkhianatiku seperti ini. Pengkhianatan ini membuat hatiku sakit. Bayangan itu tidak bisa hilang dari kepalaku. Betapa teganya!!


Tanpa sadar Aku memacu motorku ke rumah Dino. Sepertinya Aku memang tidak memiliki tempat tujuan lagi. Aku memarkir motorku dan duduk di depan rumahnya. Bagaikan orang bodoh Aku menangis di sana.


"Br*ngsek!! Br*ngsek!! Hiks..."


Cukup lama Aku berada di depan rumah Dino hingga akhirnya salah satu ART-nya menemukanku. Dino langsung keluar dan membawaku masuk ke dalam rumahnya.


Dino tidak bertanya apa-apa. Dia hanya menemaniku tanpa sepatah katapun keluar dari mulutnya.

__ADS_1


Terkadang Aku memaki-maki kedua orang itu. Terkadang Aku menangisinya. Mereka benar-benar tidak punya hati!


***


Selama beberapa hari Aku memutuskan untuk tidak pulang ke rumah. Aku juga tidak ke sekolah. Perasaanku masih campur aduk tidak karuan.


Aku mulai merokok dan minum-minuman keras. Dino melarangku, tapi Aku sudah tidak peduli lagi. Setidaknya dengan melakukan itu Aku bisa melupakan pengkhianatan mereka.


Di hari ketiga, orangtuaku datang ke rumah Dino. Mereka membujukku untuk pulang, namun Aku tetap teguh pada pendirian. Pada akhirnya mereka membawa Aaron dan Diana ke rumah Dino. Menjadikan rumah itu sebagai ajang sidang Kami.


"Sebenarnya Papa Mama sangat kecewa denganmu Ar. Kamu tahu gadis ini pacar adikmu, tapi Kamu mengambilnya darinya. Apa Kamu tidak memiliki perasaan? Mengapa harus pacar adikmu sendiri? Mengapa harus melakukan hubungan sejauh itu?! Dimana otakmu?!" Papa terlihat murka. Jarang sekali Aku melihat Papa seperti itu. Sementara Mama hanya terdiam. Dari wajahnya terlihat bahwa beliau cukup terkejut juga dengan insiden ini.


Aaron hanya duduk terdiam. Tak mampu menjawab perkataan Papa.


"Bagaimana rencanamu sekarang? Apa yang akan Kamu lakukan?" tanya Papa pada Aaron.


"A-aku akan kembali ke Jakarta Pa..."


"Tidak bisa seperti itu!! Mengapa Kamu menjadi laki-laki yang tidak bertanggung jawab?! Kamu sudah menodai anak gadis orang! Kamu harus mempertanggung jawabkan perbuatanmu!!"


Aaron kembali terdiam. Sementara kulihat Diana menundukan wajahnya dalam-dalam. Tampak menitikkan airmata.


"Diana adalah anak Pak Adrian. Salah satu keluarga yang dihormati dan disegani. Pak Adrian tidak akan terima bila anaknya diperlakukan seperti ini. Jadi, Papa mintabKamu ambil tanggung jawabmu!"


Aaron tampak terkejut. Dia menatap wajah Papa. Tatapan matanya bertanya-tanya. Mungkin dia bingung dengan maksud perkataan Papa.


"Ikat dia." ucap Papa dengan tegas.


"Ma-maksudnya Pa?" suara Aaron tampak gemetar.


"Kalian tunangan dulu. Setelah dia lulus sekolah, kalian bisa menikah!"


"Ta-tapi Pa!!" Aaron berdiri, tampak tidak terima dengan keputusan Papa.


"Jangan membantah!! Atau kalau tidak, Kamu pergi dari keluarga ini! Tinggalkan semua aset yang Kami beri!"


Tubuh Aaron tampak gemetar. Dari hal itu Aku bisa sadar. Aaron tidak mencintai Diana. Bahkan rasa sayang pun tidak ada. Itu hanya ketertarikan sesaat belaka. Aku menatap Diana yang menahan isakan. Entah mengapa timbul rasa kasihan.


Gadis bodoh. Kamu sudah menjadi korban dari seorang Yuan Aaron Seanan, seoarang playboy yang tidak pernah menyerahkan hatinya pada siapapun.


***


Happy Reading 😉


[Dua manusia khilaf, Aaron-Diana]

__ADS_1



__ADS_2