
"Oke kalau gitu. Segera kabari papa kalau kamu sudah menemukan konsepnya ya" ucapnya. Tanpa menunggu jawaban dariku, papa melanjutkan pertanyannya kepada si bungsu "Ar, kalau kamu gimana di sekolah nak?"
Ardi adalah anak bungsu dari keluarga kami. Nama lengkapnya adalah Ardi Setya Putra Nugraha. Dia terpaut 4 tahun dariku. Dia sekarang menginjak kelas 1 SMP.
"Sama seperti kak Alea dan kak Rama pa, Baik-baik saja." Jawabnya
"Bagus kalau begitu. Papa besok akan pergi ke Manila untuk mengurus salah satu perusahaan papa yang disana selama seminggu." Pamit papa
Papaku memiliki banyak perusahaan di negara ini maupun di luar negeri. Jadi tak heran jika papa pergi ke luar negeri untuk mengecek perusahaan- perusahaan miliknya. Kami terbilang keluarga yang kaya. Dan papa juga merupakan ketua yayasan di sekolahku.
"Iya pa" jawab kami serentak.
Papa dan mama pun beranjak dari meja makan, begitu pun kakakku dan adikku. Tidak dengan aku, aku segera keluar menuju bagasi dan naik ke mobil Pajero milikku. Aku akan ke cafe untuk bertemu dengan teman-temanku.
Sesampainya di cafe, Deon, Alex, dan Soni sudah menungguku dimeja pojok favorit kita berempat kalau kesini. Cafe yang menjadi tempat nongkrong kami setiap malam adalah Nugraha Caffe. Ia itu memang caffeku. Sengaja aku menyuruh mereka kesini untuk menemaniku mengawasi cafe.
"Akhirnya loe dateng juga Ram" Ucap Alex
" Sorry deh gue telat, soalnya tadi ngobrol dulu sama papa" jawabku
__ADS_1
"Tumben amat ngobrolnya lama?" Tanya Deon
" Iya, papa nanya mau ngerayain sweet 17th dimana sama konsepnya gimana" jawabku
"Terus loe bilang apa?" Tanya Deon kembali
"Belum tau lah,gue juga belum mikirin mau buat party yang kayak gimana? Lagian juga belum ada pasangan buat gandengan" jawabku memelas
"Hahahaha jomblo akut" ejek Soni
"Biar gue jelek gini, tapi punya gandengan dong. Gak kyak Rama ganteng ganteng jomblo hahahaha" imbuh Alex "Loe terlalu milih mungkin ram, padahal banyak cewek yang suka sama loe tapi loe tolak semua" tambahnya
Mendengar temanku bertiga mengejekku aku hanya menjawab
"Cantik sih cantik wajahnya, tapi kan loe aemua tau sendiri kelakuannya. Dan gue nggak suka cewek kayak gitu. Gue sukanya yang kayak Risma baik,manis, murah senyum, mandiri lagi. lagi pula hati gue masih tetap belum bisa berpaling dari Risma"
"Ram, gue tau loe itu sayang banget sama Risma. Tapi loe harus mulai buka hati loe buat yang lain karena loe sama Risma nggak mungkin bisa bersatu lagi" tutur Deon
"Bener kata Deon Ram. Risma udah beda alam sama kita. Dia pasti juga pengen loe bisa bahagia walau tanpa dirinya. Apa loe nggak inget pesan terakhir dia sebelum dia ninggalin loe?" tambah Soni
__ADS_1
"Iya-iya gue tau kok. yang kalian omongin bener. Gue bakal buka hati kalau gue udah ketemu sama gadis yang mirip Risma" ucapku mengakhiri pembahasan mengenai gandengan.
Aku pun langsung menuju ruang manager untuk menanyakan perkembangan Caffe dan permasalahan Caffe. Setelah urusanku dengan manager selesai aku langsung memesan Green Tea Latte favoritku. Dan kami lalu bergurau hingga lupa waktu. Memang itu kebiasaan kita setiap malam, selalu ngafe dan ya gitu bercanda sampai lupa waktu. Dan tengah malam kita baru pulang ke rumah kita masing-masing.
********
Pagi itu jam menunjukkan pukul 7 kurang 15. Aku beserta teman satu gengku berjalan menelusuri lorong menuju kelas kami. Semua gadis memperhatikan kita semua. Kenapa semua gadis memperhatikan kita?. Oke aku jelasin. Di sekolah ini Aku,Deon,Alex, dan Soni merupakan teman sejak kami masuk kesini. Dan disini geng kami merupakan geng yang jadi most wanted para gadis karena wajah kami yang tampan.
Deon dia tinggi, putih, hidungnya mancung,manis dan berkumis tipis. Papanya berasal dari Jerman. Karena ketampanannya itu menjadikan dia playboy. Tak terhitung berapa banyak mantannya.
Alex dia tinggi namun tak setinggi Deon,warna kulit sawo matang, dia orangnya manis. Jangan salah, hitam manisnya ini yang membuat para gadis mengejarnya. Tapi dia tidak se playboy Deon, tapi mantannya juga terbilang banyak walau tak sebanyak Deon. Alex merupakan pria Indonesia asli, ibunya berasal dari Bali dan ayahnya dari Batak. Dia bersekolah disini karena ayahnya mendapat tugas untuk mengurusi perusahaan kakeknya yang ada di sini.
Selanjutnya,Soni dia merupakan pria blasteran dari indo cina. Kulitnya putih, tingginya hampir sama dengan Alex dan matanya sipit. Dia juga sama playboy nya dengan Deon.
Yang terakhir aku. Aku merupakan keturunan Indonesia asli,namun memiliki darah Belanda. Karena kakekku adalah orang Belanda. Aku memiliki tinggi 173 cm. Kulitku putih, rambutku hitam, hidungku mancung, dan berkumis tipis. Aku beda dari kertiga temanku,walau akulah most wanted disini tapi aku tidak playboy.
Kita termasuk bad boy disini. Iya karena jarang ngerjain PR,suka berkelahi,dan tau sendiri teman-temanku Playboy. Kami juga sering bolos pelajaran, terutama aku. Paling seminggu aku masuk kelas cuma 4 hari dan itu kalau ada pelajaran yang tidak aku sukai aku lebih memilih untuk pergi ke roof top. Di roof top aku selalu memandang langit yang nampak luas dan mengenang kenangan saat masih bersama Risma. Walaupun Risma sudah meninggalkan aku selama 3 tahun, tapi kenangan itu masih jelas terekam di memoriku. Bukan hanya itu, terkadang aku ke roof top hanya untuk sekedar tiduran dan mendengarkan musik. Karena dengan musik merupakan penenangku. Roof top sekolah ini sengaja aku beri 2 sofa dan 1 meja serta diberi penutup pada bagian sofa dan meja agar terhindar dari panas dan hujan. Aku sengaja meminta papa untuk mendesain roof top seperti ini. Karena roof top ini tempat yang paling aku sukai di sekolahan. Dan papa mengerti itu.
Namun di balik ke bad boy an kami, kami juga masih memiliki prestasi di bidang olahraga. Kami seringkali mengikuti turnamen dan selalu menyandang gelar juara. Kami semua masuk dalam tim basket SMA Garuda sejak masuk ke sekolah ini. Bukan hanya itu, kami bahkan menjadi pemain inti di tim basket SMA Garuda. Itu membuat para gadis disini semakin mengidolakan kami. Selain basket, kami juga gabung kedalam team marching band SMA Garuda. Dan aku menjadi seorang mayorite di team. Marching band kami sering menjadi pengisi acara dalam acara-acara kenegaraan yang dihadiri langsung oleh bapak presiden.
__ADS_1