
“Bu,” panggil Abi.
Tapi bu Sarah tidak menjawabnya Abi pun memegang pundaknya baru beliau menoleh dan memandang ke arah Abi, di saat itu Abi merasakan kesedihan yang mendalam dari tatapan nya
“Iya ada apa Bi?”
“Bu Sarah baik-baik saja?” tanya Abi penuh selidik.
“Iya baik saja kenapa?”
“Kata bu Sarah di sini tidak boleh melamun, tapi bu sarah kok melamun?” Bu Sarah terdiam tak menjawab
“Bu. kita hanya bisa berusaha tapi bukan kah takdir itu milik Tuhan, kalau kehidupan itu bisa kita pilih seperti pekerjaan tapi kalau takdir tidak bisa kita pilih, bu Sarah adalah panutan Abi, Bu Sarah adalah wanita yang tangguh, jangan lah menyerah oleh keadadan apa pun itu,” ucap Abi menyemangatinya
Bu Sarah pun mengangguk dan tersenyum Abi tau senyum itu tak kan hilang hanya karena hal-hal yang masih mampu di atasi nya.
Mobil yang mereka tumpangi pun sudah sampai doni dan Krisna langsung berlari kekamar dan mengambil handuk dan langsung mandi, Abi hanya pasrah karena kalah cepat dengan mereka, panas yang luar biasa membuat kami ingin segera menguyur badan dengan air yang sangat menyegar kan itu, Abi pun mengambil handuk dan taruh di lehernya lalu duduk di kursi ruang tamu sedangkan bu Sarah dan Sisil langsung masuk kekamar.
Abi melirik jam, rupanya sudah hampir dua puluh menit mereka di kamar mandi kenapa lama sekali mereka di mandi nya, biasanya mereka mandi seperti bebek secepat kilat Abi lihat mereka berdua masuk Abi pun berdiri hendak kekamar mandi tapi bu Sarah dan Sisil sudah keluar kamar dan hendak mandi, Abi pun menghela nafas dan kembali duduk, Doni dan Krisna menertawakan Abi.
“Ngalah sama cewek,” ucapnya sembari duduk di samping Abi.
“kampret!” mendengar kata kampret mereka tertawa geli.
“Wah dia mulai ketularan kita Don, jangan jadi seperti kami jadi lah anak manis saja,” ucap Krisna sedang Doni hanya mengangguk dan masih tertawa.
“Anak manis, emangnya aku berbi, laki-laki itu ganteng plus macho,” Jawaban Abi semakin membuat mereka tambah tertawa geli.
Terlihat Sisil masuk rumah Abi pun langsung berlari.
“Hati-hati Bi!” teriak Sisil karna Abi sengaja hendak menabraknya.
__ADS_1
Abi hanya tertawa dan keluar menuju kamar mandi.
“Dingin sekali gini mereka betah sekali mandi dari tadi,” ucap Abi sembari dengan cepat menyelesaikan mandinya dan berganti pakaian yang sudah ia bawa.
Sengaja Abi memakai kemeja berwarna abu gelap senada dengan celana karena bajunya belum ada yang kering, Abi juga tak banyak membawa baju ganti.
‘Tahu gini di sini hujan terus aku akan bawa baju banyak,' gumamnya terus mengerutu dan keluar dari kamar mandi sudah rapi.
Bu Sarah menatap Abi saat ia melewatinya yang sedang makan, Abi pun berhenti.
“Ganteng ya Bu?” tanya Abi meledek bu Sarah.
“Iya ganteng, jadi keluar nya?”
“Iya jadi, Bu Sarah juga cantik, kalo Abi belum suka sama seseorang dengan senang hati Abi akan melamar Ibu setelah lulus kuliah,” ucap Abi mengoda bu Sarah yang memang sangat cantik tidak kalah dengan anak –anak kuliahan sebayanya bahkan mungkin ia terlihat sangat muda di bandingkan anak –anak kuliahan.
“Dasar cowok mulutnya buaya darat sudah sana pergi atau aku akan benar-benar jatuh hati karna rayuan gombal mu itu,” ucap bu Sarah gantian meledek Abi.
Abi hanya tertawa dan menuju ke kamar lalu mengambil parfum kesayangannya dan memakainya
“Mau kedesa sebelah.”
“Ikut,” ucap Doni bersemangat.
“Iya kita ikut dong Bi,” kata Krisna ikut bersemangat.
“Duh gimana ya, maaf ya lain kali aja aku sudah janji sama seseorang dan aku pinjam motor pak bagas jadi gak bisa,”
“Janji sama siapa, emang kamu kenal orang sini?” tanya Krisna.
“Ada deh, rahasia,” jawab Abi sembari keluar kamar
__ADS_1
Abi tidak menghiraukan mereka yang sedang mengoceh penuh protes, Abi melangkahkan kaki ke mesnya pak Wawan di sana sudah ada pak Bagas yang ada di teras rumah seperti biasa.
“Wah tumben Bi,” kata pak Bagas yang melihat kedatangan Abi.
“Iya pak mau ada perlu sama bapak.”
“Oh ya sudah ayo masuk.”
“Di sini aja pak.”
“Ya sudah mau perlu apa?” tanya pak Bagas.
“Saya boleh pinjam motor Pak, buat ke desa,” ucap Abi.
“Oh … ya sudah tunggu sebentar bapak ambilkan kunci nya,” kata Pak bagas langsung masuk kedalam rumah.
Tidak lama ia keluar dengan kunci kendaraan di tangannya dan memberikannya pada Abi.
“Pak Wawan kapan pulang nya Pak?”
“Mungkin nanti malam, biasanya begitu.”
“Oh, kalo gitu motornya saya bawa dulu ya Pak.”
“Iya-iya jangan malam-malam pulang nya ini di hutan bukan di kota.”
“Siap Pak,” kata Abi pamit berangkat.
Abi menstarter motor trail itu perlahan tidak cepat juga tidak lambat menyusuri jalan yang sepi hanya ada suara-suara burung dan jangkrik yang berbunyi saat menyusuri jalan menuju desa.
Tak lama terlihat lampu-lampu dari rumah-rumah warga yang bersinar.
__ADS_1
‘Di mana Ambar menunggu ku?’ batin Abi.
baru Abi berucap dalam hati lampu motornya menangkap sesosok tubuh berdiri di pinggir jalan dan Abi pun mengenalinya, dan Abi pun menghentikan motornya tepat di samping Ambar.