
“Bi,”
“Apa?” Abi menoleh.
“Sudah jangan takut, kita sudah selamat sampai sini, Sisil pasti sudah menangis saat ini karna kita belum kembali kasian dia.” ucap Abi.
Ia membayangkan anak itu pasti sangat khawatir sekali tak lama terdengar deru mobil berhenti di depan rumah itu dan Agung pun muncul dengan seorang laki-laki paruh baya.
“Ini pak Rt yang akan mengantar kalian, saya hanya bisa membantu sampai sini saya tidak bisa ikut mengantar kalian, tidak tega meninggalkan Mbok sendirian dirumah,” ucapnya.
Abi pun berdiri dan langsung merangkul Agung
“Terimakasih ini sudah lebih dari cukup, maaf kami belum bisa membalas kebaikan mu Gung,” ucap Abi dengan tulus membuat Agung tersenyum.
“Tidak apa-apa aku senang bisa membantu mu, aku tadi sudah bercerita kepada pak Rt beliau akan mengantarmu sampai rumah beliau tahu dan kenal dengan mang ujang katanya.”
Abi pun sangat senang mendengarnya mendengar ada pak Rt yang sudah datang wanita itu pun keluar dengan terburu-buru.
“Antar mereka sampai rumah Pak,” pintanya kepada pak Rt.
“Jangan khawatir Mbok Ijah, saya akan antar mereka sampai depan pintunya kalo perlu,” ucap pak Rt sedikit bercanda.
Mereka pun berpamitan kepada Agung dan mbok Ijah Abi dan Sarah berulang kali mengucapkan terima kasih kepada mereka, karena telah menolong dan mengizinkan mereka beristirahat disana, wanita paruh baya itu pun melambaikan tangannya begitu mobil pikup yang membawa Abi dan Sarah mulai bergerak meninggalkan rumah itu.
Abi menghela nafas lega karna sebentar lagi mereka akan sampai rumah.
“Sukurlah kalian tidak apa-apa,” ucap pak Rt memecah keheningan.
“Iya pak, terimakasih sudah mau mengantar kami,” jawab Abi
“Tidak apa-apa itu sudah tanggung jawab saya, bukankah kita di wajibkan saling tolong menolong, lihat pacarmu sudah sangat kelelahan kasian dia mengantuk,” ucap pak Rt yang melihat Sarah dengan mata tertutup menahan kepalanya dengan tangan di kaca jendela mobil.
Abi yang melihat itu pun langsung menarik kepala sarah dan menyandarkan di bahunya.
“Kalian sangat romantis, saya jadi teringat masa muda,” ucap pak Rt tertawa.
“Kami belum pacaran Pak, dia mentor magang saya,” jawab Abi.
“Benarkah? Kok tak terlihat seperti atasanmu kalian terlihat sepantaran bahkan terlihat muda dia dari pada kamu,” ucap pak Rt.
“Benarkah? Mungkin saya yang terlihat tua.”
“Bapak kira tadi kalian sudah bertunangan karna cincin kalian hampir sama,” ucap pak Rt membuat Abi tersadar dan melihat jemarinya dan jemari Sarah yang memang terdapat cincin pemberian kakek yang ada di hutan tadi dan itu nyata.
Cincin itu masih ada di jemari mereka dan cincin itu memang hampir sama cuma berbeda ukuran saja,.
“Ini pemberian orang Pak,” jawab Abi.
Pak Rt mengangguk mobil itu meluncur dengan cepat menuju Mes sekitar pukul dua belas mereka sampai dan pak Wawan pun sudah berada di halaman bersama Sisil dan yang lainnya menunggu Abi, karena tadi mang Ujang yang memberi tahu bahwa Abi dan Sarah ada di desa Karang Asem dan di antarkan oleh RT setempat begitu melihat Abi dan Sarah turun Sisil pun langsung memeluk Abi dan menangis.
“Sukurlah, kamu tau aku sangat khawatir.” Ucap Sisil sembari menangis
“Iya aku tau, sudah jangan menangis aku tidak apa-apa,” ucap Abi.
Sisil pun gantian memeluk Sarah dengan masih berurai air mata dan mengajak mereka masuk, sebelum masuk sekali lagi Abi mengucapkan banyak terimakasih kepada pak Rt itu, sedang pak Rt itu Cuma mengiyakan dan lanjut ngobrol dengan pak Wawan dan lainnya menceritakan bagaimana kejadian sampai Abi dan Sarah sampai di desanya sedangkan pak Wawan hanya geleng-geleng hampir tak percaya karena itu sangat jauh sekali dari tempat mereka kerja tadi bahkan, yang lainnya yang mendengar pun juga sama tak percayanya.
Bisa terjadi seperti itu tapi mereka semua bersyukur mereka berdua selamat, pak Rt pun berpamitan pulang karna hari sudah sangat larut pak Wawan pun sebenarnya menahannya untuk menginap di tempatnya namun pak Rt itu menolak dengan berbagai alasan dan dengan berat hati pak Wawan pun membiarkan laki-laki itu pulang, sementara Abi duduk bersandar di kursi memandangi cincin pemberian kakek yang ada di hutan itu kenapa bisa begitu pas dijarinya, Sarah keluar kamar dan membawa bantalnya dan langsung menaruhnya di pangkuan Abi dan dia langsung berbaring disana.
“Aku tidak bisa tidur sendirian, Sisil sudah meninggalkan ku tidur, nanti kalo aku sudah tidur kamu boleh pindah kekamar,” ucapnya langsung tanpa meminta persetujuan Abi.
__ADS_1
Abi hanya terdiam dan menghela nafas di pandangnya Sarah yang sudah berganti pakain setelah mandi tadi dan dia memejamkan mata meringkuk di sampingnya Abi dengan pelan mengelus rambut lembut itu, supaya Sarah cepat tertidur.
Benar saja tak lama gadis itu sudah terlelap dan dengan pelan Abi mengangkat bantal itu dan dengan pelan pula dia bergeser dan dia pun bangkit, bukan kekamar namun mengangkat tubuh Sarah membawanya masuk kekamar dan membaringkannya perlahan di lihat Sisil benar-benar tidur pulas hingga tak tahu Abi masuk dan membaringkan tubuh Sarah.
Abi pun menyelimutinya dan dengan pelan-pelan pula dia meninggalkan kamar itu menuju kamarnya di lihatnya dua sahabatnya itu sudah tertidur sangat pulas hingga tak tau dia sudah datang Abi pun berbaring dan mencoba memejamkan matanya namun dia tak juga bisa terlelap karena tiba-tiba wajah Sarah yang muncul di ingatannya.
Abi tak habis pikir sampai dia menghitung 1-100 bahkan sampai mundur pun dia juga tidak bisa terlelap akhirnya dia keluar kamr membawa bantal sembari berbaring dia menonton Tv dan ajaib tak lama dia tertidur pulas, dan sekarang gentian Tv yang menonton dia tidur.
Kicauan burung dan kokok ayam terdengar bersahutan dengan pelan bik Siti membuka pintu dan dia pun melihat Abi yang tertidur di ruang tengah, bi Siti pun tak membangunkannya dan langsung kedapur untuk memasak sampai bi Siti selesai masak tak ada satu pun mereka yang terbangun dia sedikit heran, tumben-tumbenya semua orang di rumah itu kesiangan batinnya sampai dia meninggalkan rumah itu pun mereka belum ada yang bangun.
Tidak lama Krisna dan Doni keluar kamar begitu melihat Abi Doni hendak membangunkannya karna bahagia namun krisna menarik tangan Doni untuk tidak melakukan itu dan mengelandangnya kekamar mandi. Sisil pun terbangun dan langsung keluar kamar di lihatnya TV masih menyala namun tidak ada orang.
Dia pun ingin menonton TV sebentar setelah mendekat ternyata Abi ada disana dan masih tertidur membuat Sisil mengurungkan niatnya dan kembali kekamar untuk mandi tapi setelah dia keluar ternyata kamar mandi penuh terpaksa dia menunggu di luar tak lama Krisna keluar.
“Sisil, Abi kapan pulang, dan dari mana dia?” tanya Krisna berubi-tubi.
“Tadi malam, dia tersesat di hutan, begitu keluar ternyata dia ada di desa lain, sama Rt sana diantar dia pulang,” jawab Sisil
“Hah? kok bisa, kayaknya tempat kerja kita ini makin horror aja,” ucap Krisna.
“Makanya jangan bangunkan dia pak Wawan juga bilang mereka jangan dulu kerja, kita di suruh kerja dikantor aja hari ini.”
“Asik, aku ketemu sama cewek-cewek cantik lagi disana.” ucap Krisna kegirangan.
Sedangkan Sisil hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan Krisna dan dia pun langsung masuk kekamar mandi itu dan berteriak jengkel karena Krisna tak mengisi air dalam bak itu, sedangkan Krisna yang mendengar teriakan Sisil tertawa puas.
Mereka bertiga pun sudah siap berangkat kerja dan Abi pun baru terbangun membuatnya kelabakan.
“Sudah mau berangkat, gimana ini aku belum mandi,” ucapnya binggung.
“Sudah tidur aja lagi, kami hanya kerja di kantor sini kalian berdua libur kata pak Wawan istirahat aja,” ucap Krisna.
“Sil,” panggil Doni.
“Hmm?”
“Aku itu jadi binggung sekarang ini melihat keadaan kita, kenapa sekarang jadi gka enak banget suasananya, kamu merasa tidak?”
“Kamu itu gimana sih Don, aku bukan merasa lagi, akukan pernah mengalaminya, kamu tidak tau betapa mengerikannya sendirian di hutan, sudah begitu lihat hantu yang menyeramkan lagi, kamu bisa bayangkan tidak, sampai sekarang pun kalo tidur kadang aku masih termimpi kejadian itu,” ucap Sisil bergidik.
“Memang kayaknya ada yang aneh dengan tempat ini apa lagi kalo aku melihat Alas Waringin itu menyeramkan sekali,” ucap Krisna.
Mereka pun terus mengobrol sembari berjalan menuju kantor tambang yang ada disana, sementara Sarah terbangun dan kaget karena dia sudah tidur dikamarnya dia pun tersenyum dan keluar dari kamar itu untuk mandi suasana sangat sepi.
Dia pun mengira semua sudah berangkat kerja tanpa tau kalo Abi masih tertidur diruang tengah dia pun dengan cepat menyelesaikan mandinya dan berganti pakaian memakai baju santai dirumah dengan celana pendek dan kaos oblong dan keluar kamar untuk makan dan bertepatan itu Abi terbangun membuat Sarah terkejut.
“Astaga Hantu!” ucap Sarah reflek membuat Abi menoleh dan dia pun langsung tertegun melihat Sarah berpakaian seperti itu karena dia tak pernah melihatnya.
Dipandangnya lagi Sarah dari ujung kaki sampai ujung kepala membuat sarah salah tingkah dan berlari kemeja makan dan mengambil makanan sedang Abi langsung berdiri dan mengambil handuk dan menuju kamar mandi dan melirik lagi gadis itu yang rambutnya di kucir satu keatas seperti anak SD dia pun dengan cepat menyelesaikan mandinya berharap Sarah belum selesai makan karna dia tak ingin makan sendirian dan dia pun kecewa ternyata Sarah sudah selesai dan duduk menonton TV terpaksa dia pun makan sendirian dan dengan cepat menghabiskannya dan menghampiri Sarah yang lagi menonton TV duduk di sampingnya.
“Kirain tadi kamu kerja,” ucap Sarah.
“Gak kata Sisil gak boleh kerja dulu,” jawab Abi sembari melirik sarah lagi.
Dadanya mulai berdesir kembali dia pun menarik nafas.
“Kenapa?” tanya Sarah yang mendengar helaan nafas Abi, Abi pun berdiri tak menjawab dan masuk ke kamarnya dan tak lama keluar dengan membawa jaketnya dan menutupkannya ke pangkuan Sarah membuat gadis itu terdiam menatap Abi dengan heran.
“Kamu itu umur 26 atau 17 pake baju seperti itu, aku ini laki-laki normal loh,” ucap Abi dengan nada bercanda.
__ADS_1
“Aku kan tidak tau kalo kamu dirumah, kalo aku tau kamu dirumah aku juga ga bakaln pake baju seperti ini,” jawab Sarah.
“Iya aku tau, aku hanya bercanda, maaf,” ucap Abi lagi.
Membuat Sarah jadi salah tingkah dan tak focus lagi menonton Tv karna ada Abi disampingnya.
“Abi!” terdengar suara memanggil namanya dan dia pun kenal suara itu Abi langsung menarik tangan Sarah untuk berdiri.
“Ada apa? kenapa kau menarik ku?” tanya Sarah heran.
“Ada orang kesini.”
“Iya memang kenapa?” tanya Sarah lagi.
“Itu pak Darno cepat ganti bajumu!” ucap Abi dengan tegas dia tak mau orang lain melihat sarah memakai baju seperti itu.
Membuat Sarah tersenyum dan berlari kekamarnya sedang abi pun berlari dan membuka pintu.
“Iya Pak, mari masuk.” ucap Abi ramah pak Darno pun tersenyum dan masuk kerumah itu.
“Dimana Bu Sarah?”
“Di kamarnya Pak.”
“Kalian baik-baik saja kan?” tanya pak Darno dan duduk di kursi panjang itu Abi pun mengambil jaketnya yang terjatuh dilantai.
“Iya kami baik-baik saja Pak, hanya kecapean saja berjalan seharian,” jawab Abi duduk di kursi yang ada disamping pak Darno.
Tak lama pun Sarah muncul sudah berganti pakain dengan piyama panjang dan menyalami pak Darno dan duduk di samping beliau.
“Kalian membuatku takut saja, aku sudah sangat khawatir saat tahu kalian hilang dalam hutan, itu menginggatkan ku kejadian lima tahun lalu saja, tapi kalian tidak apa-apa sukurlah,” ucapnya terlihat wajah pak Darno sedih mengatakan itu.
“Iya Pak kami tidak apa-apa, hanya tersesat saja saya minta maaf karena telah membuat bapak khawatir, itu kesalahan saya Abi hanya mencoba mencari saya saat memasuki hutan, saya terlalu asik bertelponan hingga tak sadar sudah jauh masuk kedalam hutan, maafkan saya Pak,” ucap Sarah sungguh-sungguh.
“Tidak apa-apa yang penting kalian baik-baik saja, dan selalu hati-hati.”
“Baik pak kami akan lebih berhati-hati, bapak mau minum kopi, saya bikinkan,” ucap sarah menawarkan kopi kepada pak Darno.
“Boleh, lama saya tidak minum kopi,” jawab pak darno.
Sarah pun berdiri menuju dapur dan membuat dua cangkir kopi untuk pak Darno dan Abi tak lama Sarah pun kembali membawa kopi itu dan menaruh cangkir itu di meja di hadapan pak Darno dan Abi.
“Terima kasih Bu,” jawab Abi berkata formal pada Sarah di hadapan pak Ddarno
Hal itu membuat Sarah tersenyum mereka pun ngobrol dengan santai sesekali mereka tertawa kadang juga mereka membahas soal pekerjaan yang dirasa sudah membuat mereka jenuh, pak Darno pun berpamitan untuk pulang.
“Terima kasih kopinya sangat enak Bu Sarah, lain kali saya mampir dan tolong di buatkan lagi,” ucap Pak Darno sedikit bercanda.
“Dengan senang hati Pak, mampir kapan pun bapak mau pasti nanti saya akan buatkan kopi untuk bapak,” ucap Sarah serius membuat pak darno tertawa.
mereka berdua pun mengantar pak Darno sampai teras rumah, pak Darno pun masuk kedalam mobilnya dan mobil itu pun menghilang di tikungan komplek, mungkin beliau mampir kekantor, Sarah pun masuk kedalam Abi pun langsung mengejarnya.
“Mana hp ku?” tanya Abi menghalangi langkah Sarah.
“Tadi kan sama kamu,” Ucap Sarah menghentikan langkahnya.
“Ga ada kan kamu bawa tadi ke kamar.”
“Aku gak bawa Bi, kan kamu tadi yang mainan game,” ucap Sarah membuat Abi garuk-garuk kepala menginggat dimana dia menaruh hpnya tadi dia pun mencarinya ternyata hpnya tertutup oleh jaketnya.
__ADS_1
“Tuh kan, kamu sih sudah pikun.” Ucap Sarah menuju kamarnya.