Alas Waringin

Alas Waringin
Ada namun tidak Ada


__ADS_3

“Memang masih ada mas yang seperti itu?”


“Ada tapi cuma sedikit,” sahutnya.


Abi pun hanya menganggukan kepala ketika mendengar penjelasan dari mas Hendra mereka pun menyusuri gang di belakang mes itu. 


“Mas, kok rumah itu kayaknya kosong?” tanya Abi menunjuk rumah yang sepertinya lama tidak di tempati.


“Oh itu bekas rumah mandor yang dulu kerja di sini.”


“Terus kemana dia sekarang?” tanya Abi.


“Dengar-dengar sih di usir dari sini entah penyebabnya apa aku tidak tahu karena karyawan di sini tidak ada yang mau ngasih tahu bila aku tanya, sudah yuk balik.”


“Sudah gini aja mas?” tanya Abi.


“Iya. Lah emang mau ngapain, tiap hari juga sudah ada yang bersih-bersih, Apel kayak gini hanya di suruh kita tuh ngobrol kayak ibu-ibu,” ucapnya  mereka berdua pun berjalan arah pulang.


“Mas Hendra,” panggil Abi.


“Iya ada apa?”


Abi merasa ragu untuk bertanya, Hendra pun menghentikan langka nya dan menatap Abi yang bingung mau bicara apa.


“Apa? Katakan aja gak usah sungkan,” ucap Hendra.


“Apa Mas Hendra beneran suka sama Sisil?” tanya Abi.


“Kalo iya kenapa?”


“Ya … gak apa-apa sih saya hanya ingin tau aja,” sahutnya.


“Atau jangan-jangan kamu cemburu?” ucapan mas Hendra membuat Abi tertawa.


“Lah kok malah tertawa?”


“Cemburu mas? Ya gak lah justru aku malah senang Mas Hendra suka sama Sisil, dia perlu laki-laki seperti mas Hendra.”


“Loh kok bisa?”


“Yah karena mas Hendra sangat dewasa walau masih muda, terus cara berfikir Mas Hendra aku suka, tapi kalau mas Hendra hanya ingin main-main saja, dan hanya akan melukai hatinya sebaiknya jangan mendekatinya, Sisil tidak butuh laki-laki seperti itu, dia tidak butuh candaan karena selama ini dia tidak pernah main-main untuk urusan cinta, kalau sampai Mas hendra melakukan itu aku tidak akan segan menghajar mas Hendra.” 


Terlihat mas Hendra malah tersenyum dan menepuk pundak Abi.


“Jangan khwatir, Mas bukan tipe yang kamu takut kan, Mas beneran suka sama temen mu itu, dan kayaknya kita cocok untuk menikah,”  jawabnya sembari tertawa namun terlihat keseriusan dari tatapannya.

__ADS_1


“Lalu kenapa kamu gak suka sama Sisil, kamu sudah punya pacar?” tanya Hendra kepada Abi.


“Yah dibilang gak punya tapi ada, dibilang ada tapi gak ada. bukan gak suka sama sisil kami sahabatan udah lama dan tidak ada rasa itu di aku mau pun Sisil kita kompak untuk jadi kakak adik, kami serasi kalo jadi kakak adik, karena dia sangat jahil, dan bunda sangat sayang sama dia, kayak nya kadang lebih sayang dia ketimbang sama aku, hahaha.”


“Oh ya, berarti kalian sedekat itu ya.”


“Ya karena aku hanya anak tunggal dan bunda seneng bila punya anak cewek Sisil aja kadang sampe tobat karna sudah besar sama bunda di perlakukan seperti anak kecil, jadi aku seneng karna Sisil membuat Bunda sangat senang bukan berarti bunda gak sayang sama aku bunda sangat menyayangi ku lebih dari dirinya sendiri, jadi mas hendra jangan salah paham nanti nya.”


“Oh.. yang aku maksud cinta mu siapa dia? Kenapa kau bilang antara ada dan tiada, kayak hantu aja,” ucap Hendra.


“Yah mau gimana lagi, aku sangat mencintainya, tapi entah kenapa walau dia sangat mencintai ku, setiap aku ngomongin keseriusanku padanya dia selalu menangis, emang ada yang salah dengan keseriusanku ini,” ucap Abi.


“ Yah itu memang aneh Bi. Tapi mungkin juga dia masih punya masalah lain yang tak bisa dia katakana pada mu, tunggulah dan sabar kalo dia sudah mengatakan kerisauan hati nya pasti semua akan baik-baik saja dan dia akan dengan senang hati menjadi milik mu, siapa memangnya Bi temen kuliah?” 


Abi menggelengkan kepalanya.


“Lalu siapa?”


“Dia tinggal di desa sebelah,”


“Katakan siapa namanya siapa tau aku mengenalnya.”


“Namanya Ambar Mas,” ucap Abi sedikit malu.


“Yang jelas dia sangat cantik mas , rambut nya panjang dan dia sangat wangi harum tubuhnya itu tidak pernah aku jumpai dimana pun, tutur kata nya sangat lembut, dan aku yakin laki-laki mana pun yang melihat nya pasti tergila-gila padanya karna dia begitu sempurna.”


“Wah rupanya gadis itu telah mengikat mu dan membuat mu terhipnotis, secantik itu kah, tapi kenapa aku tidak pernah melihatnya ya,” ucap Hendra mengaruk kepalanya karena bingung.


“Dia sering ke Mes kok mas gantiin bi Siti, kalo bi Siti tidak masuk.”


“Oh, berarti bi Siti kenal, yah semoga kau berhasil dengan cinta mu.”


“Siip mohon doa nya mmas” 


Mereka pun berjalan beriringan dan kembali menerus kan langkahnya tak lama mereka pun sampai.


“Gak ikut masuk mas?”


“Gak deh, saya mau mandi dulu lain kali saja,” teriaknya sambil berlari pergi karena melihat sisil yang keluar dari dalam rumah membawa kantong plastik hitam.


“Apa itu Sil?”


“Nah kebetulan, nih buang ketempat sampah,” ucapnya memberikan kantong plastik besar itu kepada Abi.


Abi hanya tersenyum dan menurut saja membuang nya ketempat sampah yang ada di depan rumah dan bergegas mandi.

__ADS_1


Sore yang indah Abi pun dengan santai duduk di teras, sembari melihati para tetangga yang sibuk masing-masing.


“Bi!”


“Astaga Sil! teriak Abi karena ia kaget mengetahui Sisil tiba-tiba muncul 


“Sorry. kaget ya?” ucapnya tergelak dan duduk di sebelah Abi.


“Dasar kamu ya Sil!” 


Abi mencubit pipinya yang mulus itu sebagai balasannya, 


“Aduuuh sakit tau!” pekik Sisil memegangi pipinya yang putih bersih berubah warna agak memerah.


“Kamu suka banget sih menyakiti pipiku.”


Tangannya yang mungil itu hendak mencubit lengan Abi namun Abi menghindar dan tertawa sedang kan Sisil merajuk dibuatnya.


“Haduh kalian ini bikin iri aja,” kata bu Sarah yang muncul di depan pintu, mereka pun tersenyum dan saling senggol lengan saling menyalahkan.


“Ada yang kesurupan!!” terdengar teriakan seseorang.


Teriakan itu membuat mereka langsung berdiri dan keluar dari teras, Krisna dan Doni pun juga langsung keluar rumah menyusul Abi dan Sisil.


“Ada apa Bi?”


“Ada yang kesurupan katanya yuk kita lihat,”  ucap Abi.


Mereka berlarian kearah rumah yang sudah mulai ramai itu terlihat pak Wawan berlari kearah mereka dengan tergesa-gesa dan wajah yang cukup tegang.


“Mau kemana Pak? tanya Abi.


“Mau manggil mbah Suroso dulu Bi,” jawabnya sambil terus berjalan meninggalkan mereka.


Sedangkan Abi dan yang lainnya menuju rumah yang sudah ramai itu rumah itu berjarak tiga rumah dari yang mereka tempati, terlihat mas Hendra sudah ada disana Abi  pun lalu mendekatinya.


“Siapa yang kesurupan Mas?” tanya Abi dan Hendra pun menoleh. 


“Eza temen sekamar mas,” sahutnya.


Terlihat laki-laki itu mengerang-erang dengan liar, baru kali ini Abi melihat orang kesurupan secara langsung biasanya hanya lihat di serial Tv saja.


“Kok bisa kesurupan Mas?”


“Ga tau Bi. Tadi padahal hanya keluar buang sampah di depan aja, tiba-tiba langsung tersungkur dia,” tutur Hendra.

__ADS_1


__ADS_2