Alas Waringin

Alas Waringin
Abi dan Sarah tersesat


__ADS_3

“Ada apa Mas?”


“Ngapain kamu disana katanya kamu ingin mereka bersama,” tanya Hendra.


“Iya trus kenapa?”


“Terus bagaimana mereka bisa dekat kalau kamu ngikut aja, kasih waktu mereka banyak-banyak berdua biar mereka semakin dekat gimana sih kamu ini,” ucap Hendra


“Kamu betul kenapa begitu saja aku tidak mengerti,” ucapnya menepuk jidatnya.


“Acaranya apa sih Mas?”


“Kamu sih disana terus tadi pak Hendri menanam kepala kerbau di ujung sana dan melakukan berbagai ritual yang mbah Suroso perintahkan.”


“Untuk apa kepala kerbau Mas?” tanya Sisil lagi.


“Ya aku gak tau juga Sil, makanya aku penasaran dan ingin melihatnya tadi, aku kan juga gak pernah lihat pembukaan yang ada di tambang tau-tau kan sudah kerja aja begitu mereka sudah mulai menggali batunya,” jawab Hendra dan Sisil pun tersenyum.


“Kenapa kamu tersenyum,” tanya Hendra penasaran.


“Lihat Krisna sama Doni tuh sampai melongo gitu melihatnya,” ucap Sisil yang melihat mereka di sudut sebelah kiri tak jauh dari mereka.


Hendra yang melihatnya ikut tertawa tertahan di buatnya, membuat Sisil gemes melihat Hendra seperti itu Hendra hanya mengangkat alisnya melihat Sisil yang masih menatapnya membuat Hendra menghentikan tawanya dan merangkul pundak Sisil dengan gemas dan dengan ragu di lingkarkannya tangannya di pinggang Hendra laki-laki itu tersenyum dan mengengam jemari itu erat.


Mereka berdua dengan asik melihat ritual itu sedangkan Sarah dan Abi kembali sedikit canggung karna ucapan Sisil tadi.


“Aku mau nelpon dulu,” ucap sarah berdiri. 


Abi hanya mengangguk Sarah pun berjalan agak jauh di dekat hutan yang sebagian belum di tebang itu dia begitu asik mengobrol dengan temannya dan tak merasa kalau dia sudah berjalan agak masuk kedalam hutan Abi yang melihat sarah tidak ada langsung berlari dan mencarinya.


“Sarah!” panggil Abi, namun sarah tak mendengar dan baru sadar kalo dia sudah didalam hutan saat berbicara di telepon yang ia gunakan sudah terputus karena tidak ada signal. 


Sarah pun melihat ke sekitar dan binggung kenapa dia sampai berjalan sejauh ini dan hendak kembali, dia bertambah binggung tatkala melihat semua arah yang sama.


“Sarah..! panggil Abi lagi dan terus berjalan memasuki hutan itu. 


sedangkan Sarah hanya terdiam mencoba memejamkan mata dan membukanya kembali dan yang dilihatnya kini tidak sama dia melihat pohon yang ia lewati tadi dia pun berjalan menuju pohon itu dan betapa terkejutnya dia melihat Abi dari arah itu.


“Sarah,” ucap Abi yang melihat Sarah berdiri mematung dia pun langsung menghampirinya dan memeluknya.


“Sukurlah kamu tidak apa-apa ngapain kamu telponan sejauh ini?” tanya Abi.


“Aku tidak tau, aku juga tidak sadar kenapa aku sampai sejauh ini, sukurlah kamu datang Bi,” ucap Sarah. 


Abi langsung menggandeng lengan Sarah dan mengajaknya berjalan hendak menyusuri jalan yang ia lalui tadi tapi mereka berdua binggung karna jalan yang ia lihat tadi tidak ada lagi.


“Tenang, jangan panik kita jalan saja siapa tau ada jalan yang lain,” ucap Abi tersenyum kepada Sarah membuat Sarah sedikit tenang.

__ADS_1


Untung Abi bersamanya kalau tidak dia tak tau harus apa, pasti dia sudah sangat panik dan tidak tau harus bagaimana, 


“Kamu telponan sama siapa sih sampai jauh-jauh dari aku?” ucap  Abi mengalihkan pembicaraan agar Sarah tidak tegang walau sebenarnya dia sendiri juga sedikit panik


“Teman,” jawab Sarah yang terus mengikuti langkah Abi dengan perlahan.


“Bener? Cuma temen?” tanya Abi meyakinkan.


“Iya bener kenapa sih ga percaya?”


“Yah siapa tau udah ada gebetan lain,” ucap Abi menerka padahal dihatinya ada rasa cemburu.


“Kamu ini, kamu kira mudah mendapatkan gebetan baru setelah semua yang aku alami, semua orang sudah tau kalo pernikahan ku gagal dan itu sangat membuat pihak wanita sangat tidak di untungkan karna banyak sekali yang mencibir dan menyalahkan pihak dari keluarga kami, mereka tidak tau apa yang terjadi walau pihak laki-laki yang salah tetap saja kami yang yang di hujat dan di pandang sebelah mata oleh masyarakat, mungkin kalo aku yang biasa hidup di kota itu tidak masalah namun kedua orang tuaku, itu sangat menyakiti mereka rasanya aku ingin sekali berteriak andai aku bisa ingin sekali aku mencaci maki mereka, namun aku fikir lagi untuk apa, itu tidak akan memperbaiki semuanya.” 


Ucapan Sarah membuat Abi menghentikan langkahnya, Sarah pun ikut berhenti.


“Kenapa berhenti?” tanyanya sangat polos.


“Kamu tidak menanggis?” tanya Abi. 


Sarah hanya terdiam dan menggeleng.


“Untuk apa aku menangisi laki-laki seperti dia buang-buang air mata,” ucapnya melangkah. 


Abi menarik tangan itu dan memeluk Sarah dengan erat.


Sarah mendorong tubuh Abi membuat Abi terkejut.


“Jangan menyuruhku menangisi laki-laki kurang ajar seperti dia aku tidak akan menangis setetes pun untuk dia karna rasa benci ku lebih besar dari pada cintaku dulu padanya, bukan karna dia laki-laki dia bisa seenaknya aku bisa bahagia walau tanpa dia bukan setiap wanita mudah di sentuh dan bukan karna aku tidak mau di sentuh dia dengan mudah menyentuh gadis lain sampai hamil, katakan  padaku, apa kamu seperti itu? apa kamu akan melakukan hal yang sama seperti dia? haruskah aku menangisinya hubungan itu bukan hanya fisik, hubungan itu tentang kenyamanan, tentang bagaimana kau mengerti orang yang kau cintai memahaminya menghormatinya, aku sudah banyak berkorban waktu ku untuk menunggunya karena dia bekerja jauh dan dengan mudah dia melakukan penghianatan itu kepadaku, kau menyuruhku menangisinya? Ha … pantas kah dia aku tangisi?” ucap Sarah memukuli dada Abi. 


Laki-laki itu hanya diam saja membiarkan Sarah melampiaskan kemarahan padanya setidaknya itu yang dapat ia lakukan untuk mengurangi sakit hati gadis itu Abi menangkap kedua tangan itu.


“Sudah? atau masih mau memukulku lagi? kalau mau kita teruskan dirumah saja sekarang kita harus kembali,” ucap Abi menenangkan Sarah dan mengandeng tangan itu melangkah pergi namun tak lama Abi menghentikan langkahnya.


“Ada apa?” tanya Sarah.


“Kenapa jadi banyak jalan kita harus kemana?Kamu ingat saat kamu masuk kesini tidak?” tanya Abi menoleh kearah Sarah.


“Mana aku ingat, aku tak sadar masuk kesini karna asik telponan,” ucapnya 


“Terus?” 


“Apa yang terus? ya kita ikuti jalan yang lurus saja bagaimana?” ucap Sarah.


“Yang belok kanan saja bagaimana karena seingatku aku tadi berbelok kekiri kalo kita dari sini berarti belok kanan kan,” kata Abi walau masih ragu-ragu.


“Terserah deh aku ngikut kamu saja,” ucap Sarah. 

__ADS_1


Mereka pun berjalan mengikuti jalan setapak yang berbelok ke kanan lama mereka berjalan namun tak menemukan tepian hutan Sarah mulai gelisah suara burung hantu pun terdengar dengan seramnya sekelebat bayangan melintas di antara pepohonan membuat Sarah menghentikan langkahnya


“Bi berhenti dulu ya,” ucap Sarah menarik tangan Abi karena takut melihat bayangan tadi.


“Capek ya?” sarah mengangguk dan melihat kesekeliling Abi yang melihat Sarah masih berdiri pun heran.


 “Ayo duduklah, ada apa?” tanya Abi.


Sarah pun duduk sedangkan Abi masih berdiri sambil melihat keadaan di sekitar tidak ada tanda-tanda suara truk atau apa pun yang mengisaratkan mereka telah dekat dengan tempat kerja.


“Kita tersesat ya, kamu tidak melihat sesuatu?” tanya Sarah mencoba untuk tidak takut.


“Melihat Apa? Kayaknya yang aku heran kita masuk kehutan tadi tidak begitu jauh kenapa jadi kita begitu jauh dari tempat kita tadi?” ucap Abi keheranan.


“Bi tadi aku melihat sesuatu berwarna hitam terbang di antara pepohonan,” ucap Sarah mulai merinding.


“Jangan berfikir aneh-aneh tidak ada apa-apa.” 


Abi memotong kalimat Sarah langsung agar Sarah tidak terlalu jauh berfikir dan menjadi takut namun bayangan hitam dan tinggi besar itu kembali muncul kali ini Abi pun melihatnya


“Ayo kita teruskan lagi,” ucap Abi menarik tangan Sarah dan mengajak Sarah berlari namun bayangan hitam itu terus mengikuti mereka dari balik pepohonan membuat Sarah takut dan terjatuh.


“Aauuw!” teriak Sarah membuat Abi berhenti dan kembali membantu Sarah berdiri.


“Masih kuat jalan gak?” tanya Abi kepada Sarah yang meringis kesakitan karna lututnya berdarah.


“Aku masih kuat jalan kok cepat kita pergi dari sini mahluk itu terus mengejar kita Bi,” ucapnya. 


Mereka pun berlari tak tentu arah karna hutan itu begitu lebat mereka pun dengan susah payah menerobos semak belukar tak perduli apa pun yang penting bisa terhindar dari mahluk yang mengejar mereka nafas mereka pun ngos-ngossan dan mereka pun berhenti sembari mengedarkan pandangan kesekeliling mereka.


Sarah memegang lengan Abi kuat dia hampir sudah tak kuat untuk berjalan Abi pun tersenyum melihat sebuah perkampungan.


“Sarah ada desa, tapi kayaknya bukan desa yang sering kita lewati,” ucap Abi menunjuknya Sarah pun melihat arah dimana Abi menunjuk dan benar disana ada sebuah desa kecil.


“Ayo Bi kita kesana,” ucap Sarah menarik tangan Abi. 


Mereka pun berjalan beriringan dengan tertatih-tatih, desa itu terlihat sepi dan rumah-rumah mereka masih terbuat dari bambu dan beratapkan ilalang.


“Sepi sekali Bi,” ucap Sarah.


“Iya, kenapa jadi sepi sekali, dan terlihat suram sekali seperti lama tidak ada orangnya.”


Sarah kembali merasa takut dan di pegangnya lengan Abi.


“Sudah jangan takut mahluk itu tidak mengejar kita lagi,” ucap Abi menenangkan.


“Abi itu ada orang yuk kita tanya sama dia dimana jalan arah pulang,” ucap Sarah menunjuk seseorang yang berjalan kearah mereka dengan membawa kayu bakar di pundaknya.

__ADS_1


__ADS_2