
“Kamu ini selalu berteka-teki, baiklah aku akan dengan senang hati membantumu,” sahut Bagas.
Tanpa sengaja Abi melihat arloji yang ada di tangannya, Abi terkejut melihatnya rupanya jam sudah menunjukkan pukul setengah sebelas.
‘secepat itu kah perasaan baru sebentar aku mengobrol dengan nya,' batin Abi.
“Pulang lah nanti kamu di cari kalau kemalaman,” kata Ambar yang entah sejak kapan ia memperhatikan Abi melihat jam tangan itu.
“Kamu benar, pak Bagas tadi berpesan untuk tidak malam-malam pulang nya, kalo begitu aku pulang ya, tadi kalo dari sini berarti kiri terus kanan, kanan ya.”
Ambar mengangguk Abi pun berdiri dan bersiap untuk pergi, tiba-tiba Ambar langsung memeluk Abi erat dan mencium lembut pipinya seumur-umur Abi tidak pernah merasakan badannya bergetar dan seluruh tubuhnya menegang.
Jantungnya serasa berhenti berdetak hampir saja ia jatuh andai tidak Ambar masih memeluknya karena kakinya terasa lemas saking groginya.
Untung Abi masih sadar dan menguatkan diri namun Ambar terus memeluk Abi dengan erat seakan tak ingin melepasnya.
“Maaf,” bisiknya lagi di telinga Abi.
Dengan lembut Abi pun membalas pelukannya dan membisikkan juga sesuatu di telinganya rambutnya yang lembut menyentuh hidung Abi aroma rambutnya begitu wangi.
__ADS_1
“Aku juga minta maafb karena selalu membuatmu meminta maaf pada ku, jangan ucap kan itu lagi bila kamu mencintai ku, jangan teteskan air matamu kalau lagi bersama ku, aku hanya ingin kamu bahagia bila bersama ku tidak lebih dan tidak kurang, andai pun waktu kita tidak banyak bersama setidak nya bukan kesedihan yang kita ciptakan tapi senyuman yang selalu kita kenang,” tutur Abi.
Ambar pun mengangguk, Abi pun mengkecup lembut keningnya hingga hal itu membuat var tersenyum simpul.
“Nah begitu tersenyum, karna senyum mu adalah penyemangat ku, aku pulang dulu ya,” ucap Abi melepas gengaman tangannya dan naik di atas motor.
Ambar pun melambaikan tangannya motor pun melaju meningalkan halaman rumah Ambar, Abi masih ingat jalan yang ia lewati Abi pun belok kanan, namun setelah Abi berbelok kenapa jalan itu menjadi lurus saja dan tak ada rumah di sisi kiri kanan jalan, namun Abi tak menghentikan laju motornya ia tetap dengan kecepatan sedang.
Tak lama dari arah berlawanan terlihat lampu sepeda motor yang sama dengan Abi semakin mendekat dan dari pantulan sorot lampu jarak jauh terlihat seseorang berboncengan, dan semakin dekat Abi mengenalinya.
‘Mang Ujang' batin Abi.
“Abi! Kamu tidak papa kata seseorang turun dari boncengan itu yang ternyata pak Wawan.
“Tidak apa-apa pak, bapak mau kemana?” tanya Abi heran karna ini sudah larut.
“Ya mencari kamu, ngapain kamu di sini, bapak mencari kamu dari tadi malam, kan sudah bapak bilang jangan dekat-dekat area sini.”
“Abi dari rumah temen pak, sebentar aja.”
__ADS_1
“Coba kamu lihat sudah jam berapa ini?” tanya pak Wawan.
Abi pun melihat jam di tangannya, “masih jam setengah sebelas Pak,” sahut Abi.
“Lihat sekali lagi,” ucap pak Wawan.
Abi melihat lagi ternyata jam yang ada di tangannya mati.
“Memang ini jam berap Pak, jam saya mati ternyata.”
Pak Wawan menghela nafas panjang, “jam empat subuh Mas Abi,” Kata mang ujang.
“Hah? Jam empat tapi aku tadi cuma sebentar kok,” Jawab Abi kaget.
“Sudah, ayo kita pulang. Lain kali jangan jalan lagi malam hari ayo biar bapak yang nyetir,” ucap pak Wawan memegang motor itu Abi pun beringsut kebelakang.
Abi melihat kebelakang yang ternyata itu bukanlah jalan melainkan hutan belantara.
Cukup lama mereka menyusiri jalan setapak itu dan baru sampai Abi melihat semua teman-temannya termasuk bu Sarah sudah menunggunya di teras Mes hal itu membuat Abi jadi tambah bingung.
__ADS_1