Alas Waringin

Alas Waringin
Masa lalu yang terungkap


__ADS_3

“Ayo, kita cari Sarah kalopun aku mati aku tak kan menyesal setidaknya aku bersamanya.” 


Sisil pun mengangguk dan mengikuti langkah Abi menyusuri hutan itu lama mereka berjalan namun tidak ada tanda-tanda keberadaan Sarah dan mahluk itu Abi pun menghentikan langkahnya dan bersandar di sebuah pohon ia mulai teringat dengan Ambar. 


‘Kemana gadis itu lama tidak bertemu, setidaknya kamu baik-baik saja maaf aku tidak bisa menepati janjiku untuk menolongmu aku tidak bisa menepati janjiku untuk membawamu pulang menemui orang tuaku maafkan aku,’’ batin Abi.


Air matanya kembali menetes menginggat gadis pujaan hatinya itu, Sisil langsung memegang lengan Abi erat begitu melihat sekelebat bayangan mendekat kearah mereka seketika Abi kaget dan memandang Sisil, Sisil memberi kode mengarahkan kepalanya ke depan dan Abi pun memandang kedepan jantung mereka berdua berdetak kencang saat sesosok bayangan mendekat Abi pun mengumpulkan keberanianya mengarahkan senter itu kedepan tangannya. 


Abi semakin gemetar mengetahui siapa yang ada dihadapan mereka.


“A-Ambar?” ucapnya tak percaya gadis itu tersenyum.


Abi langsung berlari menghampiri dan memeluknya.


“Kenapa kamu disini. Disini berbahaya ayo cepat kita pergi dari sini ucap Abi menarik tangan gadis itu namun Ambar tak bergeming.


“Kamu tidak dengar ucapanku? Ayo cepat!” ucap Abi lagi Ambar hanya tersenyum.


“Abi aku tidak akan kemana-mana, dan mungkin inilah saatnya kamu membantuku dan kamu juga harus tau siapa aku sebenarnya,” ucapnya sangat lembut.


“Kamu itu ngomong apa ayo cepat kita pergi darisini sebelum mahluk itu datang!” ucap Abi kembali menarik tangan Ambar. 


Namun Ambar masih tak bergeming Sisil pun menghampiri Abi.


“Dia tak akan pergi Bi,” ucap Sisil dan  Abi pun memandang Sisil tak mengerti.


“Maksudmu apa Sil? kamu sudah kenal sama Ambar?” tanya Abi keheranan Sisil menggeleng.


“Aku hanya tahu kalau dia bukan seperti kita.”


“Maksudmu?” tanya Abi yang belum mengerti yang dikatakan Sisil.


“Buatlah dia mengerti Ambar,” ucap Sisil yang sebenarnya sedikit takut karena wajah Ambar yang cantik jadi membuatnya sedikit tidak takut. 


Ambar pun tersenyum dan sedetik kemudian tubuh Ambar melayang dan tidak berpijak diatas tanah Abi yang melihatnya langsung terduduk lemas dia tak sanggup berkata-kata lagi karena dia tak menyangka gadis yang selama ini dia cintai ternyata hantu.


Ambar mendekati Abi. “Kamu takut?” tanyanya. 


Abi menggeleng karena rasa sukanya mengalahkan rasa takutnya.


“Lalu kenapa kamu disini? kamu tahu mahluk menyeramkan itu?” tanya Abi langsung Ambar mengangguk.


“Kenapa kamu baru datang menemuiku?”


“Aku selalu bersamamu karena kalian yang membuatku tak bisa menemuimu dan aku tak bisa menolongmu.”


“Kami?” tanya Sisil tak mengerti.


“Iya Abi memakai gelang yang ada dikakinya dan itu ada mantra yang membuatku tak bisa mendekatinya,” ucap Ambar pelan.


“Tapi sampai saat ini Abi masih memakainya tapi kok kamu bisa menemuinya?” tanya Sisil.


“Tidak Sil, aku tidak memakainya saat mahluk itu menyerangku tadi benang itu tersangkut jadi aku memutusnya, aku merindukanmu boleh aku memelukmu?” ucap Abi Ambar mengangguk Abi pun memeluk gadis itu erat. 


“Aku mencintaimu,” bisik Abi di telinga Ambar. 

__ADS_1


Gadis itu tersenyum dan mengusap kepala Abi perlahan tubuh Abi langsung mengejang membuat Sisil terkejut dan ketakutan namun Ambar memberi isyarat bahwa Abi baik-baik saja, sesuatu masuk kedalam ingatannya dan ingatan itu adalah masalalu Ambar   Abi menetes tak terbendung ternyata masa lalu gadis itu sangat menyakitkan pantas dia selalu menangis, Ambar pun melepaskan tangannya.


“Aku berjanji akan menolongmu bukan, akan aku buat orang yang membuatmu menderita lebih menderita,” bisik Abi dan memeluk Ambar lebih erat.


“Pergilah dan berjalanlah lurus kedepan jangan menoleh sekalipun walau kamu mendegar sesuatu,” ucap Ambar sembari melepas pelukan Abi.


“Itu artinya kita harus berpisah?” ucap Abi dengan mata berkaca-kaca karna tak ingin berpisah dengan gadis itu Ambar tersenyum dan mengangguk.


“Bukankah kamu ingin menolongku?” tanya  Ambar. 


Mendengar hal tersebut Abi terdiam karena dia masih ingin mencari Sarah.


“Aku tahu apa yang kamu pikirkan, tapi bukankah kita tidak bisa melawan takdir, pergilah sebelum bertambah lagi korban,” ucap Ambar.


Abi pun menghela nafas dadanya terasa sesak dan akhirnya dia mengangguk namun kembali dipeluknya Ambar diciumnya pipi gadis itu untuk sesaat, Ambar pun hanya bisa meneteskan air mata dan memluk Abi erat, Sisil yang melihat itu hanya bisa terbengong dan terdiam Sisil akhirnya menarik tangan Abi.


“Ayo kita pergi!” ucap Sisil. 


Dengan berat hati Abi melepaskan pelukannya dan mengikuti langkah kaki Sisil Ambar melambaikan tangannya mereka berdua berjalan beriringan dan menginggat kata Ambar bahwa tidak boleh menoleh, suara erangan mahluk itu terdengar sangat jelas menggelegar namun dengan sekuat tenaga mereka berdua tidak menoleh dan akhirnya melihat ada cahaya terang di depan mereka Abi dan Sisilpun berlari sekuat tenaga menuju cahaya itu dan mereka pun berdiri tepat dipinggir hutan dengan pohon besar beringin disamping mereka berdua.


“Pak Darno! Itu Abi!” teriak seseorang laki-laki yang melihat Abi dan Sisil berdiri tak jauh dari mereka.


Pak Darno yang mendengar teriakan itu langsung berlari kearah Abi dan merangkul Abi dengan sangat gembira.


“Kamu baik-baik saja?” tanyanya penuh dengan khawatir.


“Iya pak baik saja,” ucap Abi dengan keadaan yang masih binggung.


“Mana yang lain?” tanya pak Darno mencari Krisna Doni dan Bu Sarah.


“Tidak apa-apa yang penting kalian selamat,” ucapnya dengan muka yang sangat sedih terlihat pak Wawan berlari-lari bersama dengan mbah Suroso Abi yang melihatnya langsung mengepalkan tangannya dengan geram begitu mereka berdua sampai dihadapannya Abi langsung melayangkan tinjunya kearah orang tua itu.


“Buuk.!”


Dan telak mengenai hidung mbah Suroso laki-laki tua itu langsung terhuyung-huyung hendak jatuh namun Abi langsung mengejarnya dan memberikan tamparannya kembali kewajah laki-lakitu hingga mbah Suroso tersungkur ke tanah. pak Darno dan pak Wawan yang melihat Abi sangat kalap langsung memegangi tubuh Abi.


“Apa yang kamu lakukan Abi!” bentak pak Darno.


“Dia pantas mendapatkannya Pak! Dia sangat pantas dan rasanya aku ingin membunuhnya!” teriak Abi dengan sangat kesalnya. 


Mbah Suroso yang masih terduduk karna terjatuh tertawa terbahak-bahak.


“Rupanya kau sudah tau, tapi bukti apa yang kau miliki, kau tidak punya bukti! Teriaknya.


“Kau mau bukti! Teriak Abi kembali menampar laki-laki tua itu dan menyeretnya. 


“Abi apa yang kau lakukan, ada apa semua ini, apa yang kamu lakukan?” tanya pak Darno masih kebinggungan dengan apa yang terjadi. 


Abi langsung melempar laki-laki tua itu tepat dibawah pohon beringin besar itu.


“Itu bukti yang kau minta!” bentak Abi.


Mbah Suroso mulai sedikit ketakutan dan hendak kabur namun Abi kembali menendangnya dan tersungkur.


Plaak! 

__ADS_1


Sebuah tamparan mendarat dipipi Abi dengan keras Abi memandang pak Darno yang sudah menamparnya


“Kamu kesurupan! Kamu tidak punya rasa hormat sama sekali dengan orang tua!” Bentakknya dengan wajah memerah.


“Apa yang harus aku hormati dari laki-laki tua bejat seperti dia! apa!” teriak Abi lebih keras.


“Dia yang telah membuat Ambar meninggal rasanya aku ingin sekali membunuhnya dan menguburnya hidup-hidup di tempat ini juga!” teriak Abi. 


Bagai disambar petir pak Darno mendengar nama Ambar di sebut oleh Abi.


“Apa yang kamu bilang tadi dia membuat siapa meninggal?” tanya pak Darno tak percaya.


“Ambar!” teriak Abi lagi pak Darno langsung terduduk lemas. 


Pak Wawan langsung memegangi atasannya itu sedangkan Abi kini yang dibikin binggung kenapa pak Darno langsung lemas mendengar nama Ambar.


“Bagaimana kamu tau tentang Ambar Bi, dia Adikku yang menghilang lima tahun lalu dan mbah Suroso bilang adikku itu hilang di Alas Waringin ini, “ucap pak darno menunjuk mbah Suroso. 


Pak Darno menangis sejadi-jadinya karena sampai saat ini dia berharap adiknya itu masih hidup Abi hanya terdiam gantian dia yang tak percaya kalau Ambar ternyata adiknya pak Darno.


“Dia ingin menjadikan Ambar tumbal untuk kekuatan ilmunya dia harus menjadikan Ambar budak nafsunya namun Ambar berhasil kabur tapi malang dia terjatuh tepat di runcingnya bambu dibelakang rumahnya dan dia pun menyeret Ambar kesini dan menguburnya dibawah pohon beringin tepat dibawah dia sekarang duduk,” ucap Abi kembali menarik baju laki-laki tua itu.


“Kau masih ingin bukti lain, tepat di gengamannya ada rambut laki-laki tua tak tau malu itu yang tersisa ditangan sebelah kiri mayat Ambar,” ucap Abi kembali mendorong tubuh tua renta itu minggir dari hadapannya.


Ambilkan cangkul!” teriak Abi.


“Tidak ada yang membawanya Bi,” ucap pak Wawan. 


“Ambilkan sekarang juga aku tidak mau kekasihku terkubur disini lama aku sudah berjanji untuk membebaskannya!” ucap Abi kembali menitikkan air mata.


Dadanya sangat terasa sesak seperti ada berpuluh-puluh ton yang menghimpit dadanya.


Tiba-tiba saja terdengar suara rintihan Abi langsung mencari suara itu di tempelkannya telinganya di tanah yang ada di bawahnya.


“Ada apa Bi?” tanya Sisil yang melihat tingkah Abi yang begitu aneh.


“Aku mendengar suara perempuan merintih Sil, tak lama suara itu terdengar lagi kali ini Sisil juga mendengarnya Sisilpun langsung berlari kearah suara yang ada dibalik pohon beringin itu dan diapun terkejut setengah mati melihat siapa yang ada disana.


“Bu Sarah!” teriaknya dan langsung memeluk wanita itu erat sedangkan Sarah masih kebinggungan karena baru tersadar dari pingsannya.


Semua orang pun langsung mengerubutinya begitu pun dengan Abi yang langsung terduduk lemas tak bisa berbuat apa-apa melihat Sarah yang ternyata masih hidup. 


Beberapa orang pun membantu Abi mencangkul membongkar tanah dimana Ambar di kuburkan secara tidak layak Abi pun meletakkan cangkulnya dan menggalinya dengan tangannya Abi pun langsung menangis kembali melihat mayat Ambar yang masih utuh, seperti orang baru meninggal dan dengan senyum khasnya. 


Pak Darno pun jatuh pingsan melihat jasad adiknya masih utuh selama lima tahun berada disana, mobil Ambulan meluncur membawa jasad Ambar untuk dimakamkan dimakam keluarga pak Darno sedangkan Abi, Sisil dan Sarah diantar pak Wawan pulang mereka semua terdiam tak ada yang percaya apa yang mereka alami semuanya nyata adanya Abipun menggengam jemari Sarah lembut 


“Bagaimana kamu bisa selamat?” tanya Abi penasaran.


Sarah pun tersenyum dan menunjukkan cincin yang melingkar di jarinya pemberian kakek tua yang mereka temui di hutan tempo hari, Abi pun tersenyum mobil itu pun melaju meninngalkan desa itu dan tanpa disadari oleh Abi dan Sarah cincin yang mereka kenakan tiba-tiba lenyap dengan sendirinya bersama kepergian mereka yang meninggalkan tempat itu.


Tamat.


 


Terima kasih untuk para reader yang sudah membaca novel ini.

__ADS_1


Nantikan novel baru Author yang lainnya, dan jangan lupa beri dukungan se ikhlasnya.🙏


__ADS_2