Alas Waringin

Alas Waringin
Kematian yang berlanjut


__ADS_3

Doni terus berlari tanpa tau arah tujuan, suara itu terdengar lagi membuat Doni menghentikan langkahnya dia pun melihat ada sebuah cahaya seperti lampu sebuah rumah, Doni pun senang dan berlari menghampirinya.


Namun, saat sudah semakin dekat Doni menghentikan langkahnya rupanya itu bukanlah lampu rumah melainkan sebuah senter yang melayang diudara, Doni pun merasa ada sesuatu yang menyentuh kepalanya ia pun mendongak ke atas dilihatnya mata merah menyala itu menatapnya.


Doni hendak berteriak namun suaranya tidak bisa keluar badannya semakin menggigil ketakutan dan ia pun terduduk dengan lemas wajahnya pucat pasi.’Aaargghh.. mahluk itu kembali mengerang dengan lendir yang menetes dari mulutnya


“Am-ampuun!”


Suara Doni terdengar lirih sekali namun mahluk itu malah mengibaskan tangannya dan seketika tubuh Doni melayang dan membentur pohon dengan sangat keras dan tubuh itu jatuh berdentam ketanah Doni pun berteriak sangat keras.


“Aaaaaa.!”


Teriakan itu memecah keheningan hutan dia pun meringis kesakitan tubuhnya yang sedikit gemuk itu serasa remuk redam dia pun mencoba bangkit namun belum juga dia berdiri tegak mahluk mengerikan itu sudah ada dihadapannya dan langsung mencekik lehernya.


Teriakan dari suara Doni tercekat, dia mencoba melepaskan diri namun cekikan itu sangat kuat membuatnya tak bisa bernafas dia hanya bisa menatap wajah menyeramkan itu berharap mahluk itu melepaskannya namun mahluk itu malah mendekatkan wajahnya kewajah Doni.


“Aarrggghh!” erangnya hingga erangannya itu membuat angin yang cukup kencang keluar dari mulutnya hingga tubuh Doni ikut terbang dan membentur pohon.


Teriakan Doni kembali terdengar Abi yang mendengar teriakan itu langsung menghentikan langkah Sarah.


“Kayak suara Doni Bi,” ucap sarah.


“Iya itu suara Doni dari arah mana?” tanya Abi.


Sisil menunjuk kearah barat “kayaknya di sana deh,” ucap Sisil.


“Yuk kita kesana.” Ucap Abi dan berlari diikuti Sisil dan Sarah mereka pun berjalan agak cepat diantara gelapnya kabut itu.


“Suara itu berhenti bagaimana kita mencarinya?”, “Doni! Doni!” panggil Abi sedikit keras.


namun tidak ada jawaban merekapun berhenti mengatur nafas karna mereka sudah ngos-ngossan Abi pun merasakan ada sesuatu yang jatuh menetes di pundaknya dan dia pun merabanya dan dilihatnya tangannya dan ternyata itu sebuah Darah dia pun langsung berlari menjauh membuat Sisil dan Sarah binggung dan mengikutinya dengan perlahan Abi mengarahkan senternya keatas pohon yang ada diatasnya tadi seketika Sarah dan Sisil langsung berteriak histeris.


Mereka mendapati tubuh Doni sudah menancap dahan yang ada diatas pohon, dengan berlumuran darah. mereka bertigapun langsung berlari menjauh dengan tenaga yang tersisa tubuh mereka menggigil dan suara erangan itu kembali terdengar membuat mereka bertiga saling bergandengan dan mengarahkan lampu senter itu kesegala penjuru.


“Abi.. aku takut,” ucap Sisil memegang lengan Abi erat.

__ADS_1


“Tenanglah Sil, tidak akan terjadi apa-apa,” ucap Abi menenangkan erangan itu semakin dekat dan bayangan yang begitu besar semakin mendekat membuat mereka bertiga semakin gemetar.


Kembali terdengar suara erangan, mahluk itu terlihat melayang di depan mereka dan tangannya pun terangkat keatas dan dengan sekali hentakan dengan kekuatan gaibnya tubuh mereka bertiga terangkat keatas.


“Abi..aku tidak mau mati,” teriak Sisil yang masih memegang tangan Abi.


“Aku tidak akan membiarkannya.!” Teriak Abi memegang tangan Sarah dan Sisil mahluk itu semakin mengeram dan menghentakkan tangannya membuat tubuh mereka jatuh ketanah dan pegangan mereka terlepas, mahluk itu kembali mengangkat tangannya dan kini tubuh Sarah yang terseret menjauh.


“Tidak, Sarah!!” teriak Abi langsung mengejar tubuh Sarah dengan sekuat tenaga dan dia pun berhasil menangkap tangan itu


“Tolong aku Bi.aku tidak mau mati seperti ini,” ucap Sarah dengan ketakutan dan berlinang air mata.


“Aku memegangmu, jangan khawatir aku tidak akan melepaskannya jangan takut.” ucap Abi mengenggam jemari itu kuat namun mahluk itu kembali menghentakkan tangannya membuat tubuh Abi terhempas disemak belukar sedangkan tubuh Sarah terseret kembali .


“Abi!” teriaknya dan tubuh itu menghilang dibalik kabut yang tebal Abi yang mendengarnya langsung bangkit dengan susah payah karena benang pemberian mbah Suroso yang melingkar di kakinya tersangkut ranting Abi pun langsung menarik benang itu hingga putus dan berlari kembali dimana Sarah tadi berada namun tak menemukannya.


“Aaaaaa!! Sarah!! Teriaknya dengan kencang membuat Sisil yang tadi pingsan sampai terbangun dan melihat Abi yang sudah berdiri tak jauh darinya menangis sejadi jadinya.


“Aku takkan membiarkanmu mahluk sialan akan kucari kemanapun kau membawanya!!” teriak Abi sangat marah.


“Abi,” Sisil menyentuh pundak Abi membuat laki-laki itu terkejut begitu melihat Sisil dia langsung memeluk sahabatnya itu dan menangis.


“Mahluk sialan itu membawanya Sil, aku tidak bisa menjaganya, aku tidak berguna, kenapa tidak aku saja kenapa harus Sarah yang dibawanya aku tidak bisa menepati janjiku,” Abi menangis penuh penyesalan sedang Sisil hanya bisa terdiam.


“Kamu sudah berusaha Bi, jangan menyalahkan diri sendiri kita juga tak mau semua ini terjadi ayo kita cari bu Sarah,” ucap Sisil menghibur Abi kata-kata Sisil membuat Abi terdiam dan melepaskan pelukannya dia pun langsung mencari senter yang terlepas darinya.


Doni terus berlari tanpa tau arah tujuan, hingga suara itu terdengar lagi membuat Doni menghentikan langkahnya ia pun melihat ada sebuah cahaya seperti lampu sebuah rumah diapun senang dan berlari menghampirinya namun semakin dekat Doni menghentikan langkahnya karna itu bukan lampu rumah itu sebuah senter yang melayang diudara, Doni pun merasa ada sesuatu yang menyentuh kepalanya dia pun mendongak keatas dilihatnya mata merah menyala itu menatapnya, diapun hendak berteriak namun suaranya tidak mau keluar badannya semakin menggigil ketakutan dan diapun terduduk dengan lemas wajahnya pucat pasi.’Aaargghh.. mahluk itu kembali mengerang dengan lendir yang menetes dari mulutnya


“A..a..am..ampuun.’ suara Doni terdengar lirih sekali namun mahluk itu malah mengibaskan tangannya dan seketika tubuh Doni melayang dan membentur pohon dengan sangat keras dan tubuh itu jatuh berdentam ketanah Doni pun berteriak sangat keras.


“Aaaaaa.!! Teriakan itu memecah keheningan hutan dia pun meringis kesakitan tubuhnya yang sedikit gemuk itu serasa remuk redam dia pun mencoba bangkit namun belum juga dia berdiri tegak mahluk mengerikan itu sudah ada dihadapannya dan langsung mencekik lehernya.


“A..ak.ak.. “ suara Doni tercekat, dia mencoba melepaskan diri namun cekikan itu sangat kuat membuatnya tak bisa bernafas dia hanya bisa menatap wajah menyeramkan itu berharap mahluk itu melepaskannya namun mahluk itu malah mendekatkan wajahnya kewajah Doni,’Aarrggghh..!!! erangnya hingga erangannya itu membuat angin yang cukup kencang keluar dari mulutnya hingga tubuh Doni ikut terbang dan membentur pohon dan.’ Jleb!!


“AAaaaaa!!!! Teriakan Doni kembali terdengar Abi yang mendengar teriakan itu langsung menghentikan langkahnya

__ADS_1


“Kayak suara Doni Bi.” Ucap sarah


“Iya itu suara Doni dari arah mana?” tanya Abi Sisil menunjuk kearah barat


“Yuk kita kesana.” Ucap Abi dan berlari diikuti Sisil dan Sarah mereka pun berjalan agak cepat diantara gelapnya kabut itu.


“Suara itu berhenti bagaimana kita mencarinya, Doni.. Doni panggil Abi sedikit keras namun tidak ada jawaban merekapun berhenti mengatur nafas karna mereka sudah ngos-ngossan Abi pun merasakan ada sesuatu yang jatuh menetes di pundaknya dan dia pun merabanya dan dilihatnya tangannya dan ternyata itu sebuah Darah dia pun langsung berlari menjauh membuat Sisil dan Sarah binggung dan mengikutinya dengan perlahan Abi mengarahkan senternya keatas pohon yang ada diatasnya tadi seketika Sarah dan Sisil langsung berteriak melihat tubuh Doni sudah menancap diatas pohon itu dengan berlumuran darah, mereka bertigapun langsung berlari menjauh dengan tenaga yang tersisa tubuh mereka menggigil dan suara erangan itu kembali terdengar membuat mereka bertiga saling bergandengan dan mengarahkan lampu senter itu kesegala penjuru.


“Abi.. aku takut.” Ucap Sisil memegang lengan Abi erat


“Tenanglah Sil, tidak akan terjadi apa-apa.” ucap Abi menenangkan erangan itu semakin dekat dan bayangan yang begitu besar semakin mendekat membuat mereka bertiga semakin gemetar.


“Aaaarggghh.. mahluk itu terlihat melayang di depan mereka dan tangannya pun terangkat keatas dan dengan sekali hentakan dengan kekuatan gaibnya tubuh mereka bertiga terangkat keatas.


“Abi..aku tidak mau mati.” Teriak Sisil yang masih memegang tangan Abi


“Aku tidak akan membiarkannya.! Teriak Abi memegang tangan Sarah dan Sisil mahluk itu semakin mengeram dan menghentakkan tangannya membuat tubuh mereka jatuh ketanah dan pegangan mereka terlepas, mahluk itu kembali mengangkat tangannya dan kini tubuh Sarah yang terseret menjauh.


“Tidak, Sarah!! teriak Abi langsung mengejar tubuh Sarah dengan sekuat tenaga dan dia pun berhasil menangkap tangan itu


“Tolong aku Bi.aku tidak mau mati seperti ini.” ucap Sarah dengan ketakutan dan berlinang airmata


“Aku memegangmu, jangan khawatir aku tidak akan melepaskannya jangan takut.” Ucap Abi mengenggam jemari itu kuat namun mahluk itu kembali menghentakkan tangannya membuat tubuh Abi terhempas disemak belukar sedangkan tubuh Sarah terseret kembali .


“Abi!! Teriaknya dan tubuh itu menghilang dibalik kabut yang tebal Abi yang mendengarnya langsung bangkit dengan susah payah karna benang pemberian mbah Suroso yang melingkar di kakinya tersangkut ranting Abi pun langsung menarik benang itu hingga putus dan berlari kembali dimana Sarah tadi berada namun tak menemukannya.


“Aaaaaa!! Sarah!! Teriaknya dengan kencang membuat Sisil yang tadi pingsan sampai terbangun dan melihat Abi yang sudah berdiri tak jauh darinya menangis sejadi jadinya.


“Aku takkan membiarkanmu mahluk sialan akan kucari kemanapun kau membawanya!! Teriak Abi sangat marah dadanya bergemuruh karna menahan tangis dan amarah tangannya mengepal dan memukulkannya ketanah berulang kali.


“Abi.” Sisil menyentuh pundak Abi membuat laki-laki itu terkejut begitu melihat Sisil dia langsung memeluk sahabatnya itu dan menangis.


“Mahluk sialan itu membawanya Sil, aku tidak bisa menjaganya, aku tidak berguna, kenapa tidak aku saja kenapa harus Sarah yang dibawanya aku tidak bisa menepati janjiku.” Abi menangis penuh penyesalan sedang Sisil hanya bisa terdiam.


“Kamu sudah berusaha Bi, jangan menyalahkan diri sendiri kita juga tak mau semua ini terjadi ayo kita cari bu Sarah,” ucap Sisil menghibur Abi kata-kata Sisil membuat Abi terdiam dan melepaskan pelukannya dia pun langsung mencari senter yang terlepas darinya.

__ADS_1


__ADS_2