
Abi melihat Sisil yang sudah terduduk ketakutan menutup telinganya, Abi pun langsung berlari menghampirinya
“Abi.. Krisna,” ucapnya tersendat-sendat di sela isak tangisnya Abi pun memeluknya.
“Tidak akan terjadi apa-apa, Krisna akan baik-baik saja, dengar Sil, kamu tidak boleh seperti ini kamu harus kuat, kalo kita semua lemah bagaimana kita mencari Krisna,” ucap Abi memberi semangat walau dirinya sendiri saat itu juga merasakan hal yang sama dengan mereka ketakutan dan sangat panik.
Namun dia menguatkan diri untuk terlihat baik-baik saja dihadapan mereka kalo dia juga terlihat seperti mereka siapa yang akan menguatkan mereka disaat seperti ini, Abi menghela nafas berulang-ulang.
“Ayo bangunlah kita cari Krisna!” Abi pun menarik tangan Sisil untuk berdiri sementara Doni hanya terdiam dengan tubuhnya yang gemetar.
“Ayo Don bangunlah kita cari Krisna,” ucap Sarah memegang lengan Doni.
Laki-laki itu memandang Sarah dengan ketakutan tatapannya hampa.
“Krisna Bu, apakah kita juga akan mengalami nasib yang sama,” ucapnya terisak
Sedangkan Sarah tidak mampu menjawab ia sendiri saja masih merasa lemas dengan kejadian barusan.
“Tidak Don, Krisna akan baik-baik saja yang penting kita jangan sampai terpisah,” jawab Abi meyakinkannya Doni hanya terdiam membisu.
“Ayo kita teruskan, kita cari Krisna dan cari jalan keluar dari sini.”
Abi mengarahkan senternya kedepan dan mulai berjalan menyusuri hutan yang begitu lembab dan gelap tertutup kabut itu, Abi merasakan tangan Sisil yang begitu dingin karna ketakutan Abi pun menghentikan langkahnya dan diikuti yang lainnya.
“Kenapa Bi?” tanya Sarah pelan.
“Suara itu,” ucap Abi langsung mematikan senternya.
Diikuti oleh Doni dan Sarah yang juga langsung mematikan senternya mencari suara yang dimaksud oleh Abi.
“Aaarrggg!”
Suara itu terdengar lagi dan sekelebat bayangan yang begitu besar melintas tak jauh dari mereka, mereka pun langsung merunduk dan berjalan berjongkok mendekati arah bayangan itu berhenti terlihat mahluk yang begitu besar melayang tak jauh dari mereka.
“A-” Abi langsung membungkam mulut Sisil yang hendak berteriak melihat mahluk menyeramkan itu.
Mereka masih bisa melihat mahluk itu diantara kabut yang menyelimuti tempat itu, mereka hanya bisa menahan nafas melihat mahluk besar dengan rambut yang begitu panjang menjuntai ketanah dengan mata merah menyala dan gigi yang bertaring begitu panjang hampir sampai dada.
tubuh Abi pun gemetar dan sekuat tenaga dia menahannya baru kali ini dia melihat mahluk yang begitu menyeramkan sedang Sarah langsung menyembunyikan wajahnya dipunggung Abi dadanya serasa sesak menahan takut yang teramat melihat mahluk itu, mahluk itu mengangkat tangannya yang begitu besar dan berbulu panjang berkuku runcing keatas lalu kembali mengerang.
“Aaarrrghh.”
Suara itu terdengar lagi mengelegar dan tiba-tiba tubuh Krisna pun turun dari atas mendekat kearah mahluk itu, Abi hanya bisa tercekat memandangnya dan langsung membenamkan wajah Sisil dalam pelukannya agar gadis itu tak melihatnya.
“Bi,” ucap Sisil.
“Diamlah dan jangan bergerak,” bisik Abi.
Nafas Krisna tersengal-sengal tak kala tangan besar dan berkuku runcing itu mencekik lehernya.
“Akkkhh!”
Suara itu terdengar lagi bahkan Krisna yang mau menjeritpun tak mampu karena cekikan itu begitu kuat Abi yang melihatnya pun tak bisa berbuat apa-apa kakinya seperti terpaku dalam tanah sedangkan Doni hanya bisa terbengong melihat semua itu seperti patung tanpa bersuara sedikitpun.
Wajah mahluk yang menyeramkan itu mendekati wajah krisna yang sudah bercampur darah, Krisna hanya bisa melihat wajah mahluk yang menyeramkan itu di sela rasa sakit yang tak tertahankan itu, mahluk itu dengan mudah menghempaskan tubuh Krisna ketanah.
__ADS_1
tubuh itu jatuh berdentam, suara rintihan Krisna terdengar menyayat hati namun kembali mahluk itu dengan kekuatan gaibnya mengangkat tubuh Krisna kembali keatas tanpa memegangnya dan menghantamkan kembali tubuh itu kesebuah pohon yang besar.
“Aaaaaa!!” teriakan Krisna terdengar memecah keheningan hutan itu.
Darah pun keluar dari tubuhnya belum juga Krisna bernafas dengan normal mahluk itu kembali menerbangkan tubuh Krisna mendekat kearah mahluk itu dan dengan buas mahluk itu memegang kepala Krisna dengan tangan besarnya itu dia pun menatap krisna dan menyeringai dan dengan sekali hentakan tangan itu meremukkan kepala Krisna dengan sadis.
Abi pun tercekat dan menutup mulutnya sendri dengan kedua tangannya tubuhnya menggigil dan berusaha menenangkan diri bahwa yang dilihatnya hanyalah mimpi belaka, Doni yang melihat kejadian itu langsung berdiri
“Aku harus pergi aku tidak mau mati disini!” ucapnya langsung berlari.
“Doni kamu mau kemana Doni!” panggil Abi namun Doni tak perduli dan terus berlari dan menghilang dibalik semak belukar.
“Aku akan menyusulnya.” Ucap Sarah namun Abi langsung menarik tangan itu untuk tetap duduk Abi pun menoleh kembali dimana mahluk itu berada dia pun terkejut karna mahluk itu sudah menghilang.
“Kenapa kamu mencegahku, Doni pergi kita kehilangan dia.”
“Lalu apa yang akan kamu lakukan mengejarnya yang belum tentu kamu temukan dia, bukankah sudah aku bilang kita harus bersama, hah.. jangan malah menambah masalah lagi kita akan cari dia tapi kita lihat dulu Krisna,” ucap Abi berdiri.
Sarah hanya terdiam memikirkan bagaimana Doni yang sendirian di hutan ini Abipun menyalakan senternya kembali dan melangkah diikuti Sarah dan Sisil mencari tubuh Krisna yang tergeletak tak jauh dari mereka bersembunyi tadi lampu senter itu pun membentur sebuah kaki dengan sepatu yang begitu Abi kenal, Abi pun mengarahkan lampu senter itu sedikit keatas menyusuri tubuh itu dan begitu sampai ke kepala senter yang di pegang Abi langsung bergetar begitu melihat kepala itu sudah tak berbentuk.
Sarah dan Sisil yang melihatnya, tak mampu menahan perut mereka yang langsung terasa mual dan muntah-muntah, mereka berdua pun terduduk lemas dan tak bisa menahan tangis.
“Apa yang harus kita lakukan Bi, kenapa semua ini terjadi pada kita apa salah kita,” ucap Sarah disela isak tangisnya.
sedangkan Abi hanya terdiam tak mampu menjawabnya kakinya sendiri pun terasa lemas namun dia dengan sekuat tenaga menahannya agar dia tak terjatuh
“Kenapa ada mahluk sekejam itu, bagaimana kita akan menjawab pertanyaan keluarganya,” ucap Sisil.
“Jangan kamu pikirkan itu Sil, kita bisa keluar dari hutan inipun itu sudah sebuah mukjizat,” ucap Abi lirih membuat mereka terdiam.
Sementara Doni terus berlari diantara gelapnya hutan itu nafasnya tersengal-sengal dan diapun menghentikan larinya.
‘dimana aku ini,' gumamnya sembari melihat kesekelilingnya dan dia pun menyalakan senternya.
dia pun tiba-tiba menepuk jidatnya karena begitu bodoh meninggalkan teman-temannya dan dia pun kini kebinggungan tak tau harus kemana, nafasnya masih belum stabil bahkan angin yang berdesirpun tak mampu mengalahkan hentakan nafasnya yang berbaur dengan rasa takutnya.
“Doni!” panggilan itu membuatnya tersentak dan mencari arah suara itu.
“Doni!” panggilan itu kembali terdengar.
“Krisna. itu suara Krisna,” ucapnya lirih.
Doni pun hendak berlari kearah suara itu namun langsung berhenti teringat bahwa Krisna sudah tidak ada lagi, tubuhnya pun langsung menggigil dan dia pun langsung berbalik arah dan lari tungang langgang tak perduli semak belukar diterjangnya.
Sementara Abi, Sisil, dan Sarah terus berjalan menyusuri hutan itu mencari Doni namun mereka tidak juga menemukan sahabatnya itu Sisil pun menghentikan langkahnya.
“Capek Bi, kita istirahat dulu,” ucap Sisil duduk ditanah tidak perduli tanah itu sedikit basah terkena embun, ia pun mulai menangis lagi menginggat Krisna.
Abi yang melihat Sisil yang menangis lagi langsung emosi.
“Kamu bisa gak tidak menangis, atau kalau kamu ingin menangis, menangislah yang kencang agar mahluk itu datang kemari dan menghabisi kita semua!” ucap Abi sedikit membentak karna dia sudah tak tahan lagi dengan keadaan ini.
“Abi, jangan ngomong gitu, pahamilah dia lagi sedih,” ucap sarah.
“Apa kalian kira aku tidak sedih kehilangan Krisna, tapi tolonglah, kita harus kuat, jangan biarkan energi kita habis hanya untuk menangis, kita masih harus mencari Doni,” ucap Abi menginggatkan.
__ADS_1
“Sudah kalian jangan bertengkar, yang dibilang Abi ada benarnya juga Sil, kalo kita tidak saling menguatkan, dan menguatkan diri kita sendiri lalu bagaimana kita bisa menyelesaikan masalah ini, sudah jangan menangis lagi,” ucap Sarah sembari mengusap pundak Sisil Abi pun langsung memeluk Sisil.
“Maaf, dengarkan aku, apapun yang terjadi aku tidak akan meninggalkan kalian,” ucap Abi sembari menghapus airmata Sisil yang masih mengalir dipipi gadis itu.
“Kamu janji?” ucap Sisil akhirnya.
“Aku janji.”
“Tapi Bi, seandainya nanti aku tidak selamat, tolong Bilang kepada orang tuaku untuk tidak bersedih dan mengiklaskan aku, bilang pada mereka aku sangat menyayanginya.”
Abi yang mendengar ucapan Sarah itu langsung memeluk gadis itu erat.
“Aku tak akan biarkan itu, aku takkan biarkan mahluk itu membawamu aku janji, dan akan aku cari kemanapun mahluk itu membawamu, jangan berkata seperti itu itu sangat membuat hatiku sakit.”
Mendengar kata-kata Abi Sarah menitikkan airmatanya dipeluknya Abi erat.
“Aku rasa aku sangat mencintaimu,” bisik Sarah ditelinga Abi.
Hal itu membuat Abi hanya bisa menitikkan air matanya tanpa bisa menjawabnya mereka pun kembali berjalan mencari Doni, Abi yang dari tadi melihat arlojinya hanya bisa menggeleng karna jam itu tetap diangka dimana mereka mulai masuk kehutan itu.
Sementara pak Wawan berlari-lari mendatangi pak Darno yang baru sampai dari kota, pak Darno yang melihat pak Wawan berlari ke arahnya pun sudah mulai curiga bahwa ada yang tak beres melihat wajah pak Wawan yang panik.
“Ada apa pak Wawan?” tanyanya langsung begitu laki-laki itu ada dihadapannya.
“A-anu Pak,” ucapnya terbata-bata.
“Anu apa? coba cerita dengan jelas.”
“Itu Pak mereka hilang,” jawabnya
“Mereka siapa? Hilang bagaimana?” tanya pak Darno lagi.
“Bu Sarah dan anak magang Pak,” Pak Darno langsung terkejut.
“Kok Bisa, sudah berapa lama?”
“Dua hari Pak,” jawabnya dan menjelaskan semua kronologinya kepada laki-laki itu pak Darno hanya bisa terdiam giginya berbunyi bergeretak pertanda dia sangat marah.
“Kenapa bisa terjadi kan sudah saya bilang awasi mereka! kenapa dibiarkan sendiri mereka seharusnya sudah pulang hari ini, apa kalian sudah mencarinya?”
“Sudah Pak, tapi tidak ketemu hanya satu tempat yang belum kami cari.”
Pak Wawan menghentikan kalimatnya dan pak Darno pun paham
“Apa kau berfikir mereka berada disana?” tanya pak Darno memandang pak Wawan.
“Saya yakin mereka disana saya juga tidak tau bagaimana mereka bisa sampai di Alas Waringin, ini diluar kemampuan kita pak.”
“Kita cari kesana.” ucap pak Darno.
“Tapi pak tidak ada yang mau pergi kesana,” jawab pak Wawan.
“Mereka tanggung jawab saya pak Wawan, pak Wawan tidak ingat kejadian lima tahun yang lalu, saya membiarkannya karena itu hanya satu nyawa walau itu belahan jiwa saya dan saya membiarkannya dan menuruti apa kata-kata kalian semua tapi sekarang lima pak Wawan dan saya tidak akan tinggal diam kalau perlu akan saya bakar hutan itu untuk menemukan mereka. panggil mbah Suroso untuk membantu kita kalau tidak ada yang mau mencari kesana saya yang akan pergi sendiri kesana! Hubungi keluarganya bilang kalau mereka pulang terlambat karena ada tambahan magang sampai mereka ketemu,” ucap pak Darno dengan tegas.
Sedangkan pak Wawan hanya bisa mengangguk dan segera pergi sementara pak Darno hanya bisa menatap kosong jauh teringgat kejadian lima tahun yang lalu.
__ADS_1