
“Bagaimana magang kalian asik gak?” tanya pak Muklissembari duduk bersila.
“Asik apanya Pak, banyak hantunya,” celetuk Doni membuat pak Muklis tertawa.
“Hantu bagaimana? Memang pernah lihat?”
“Tuh Sisil saja di bawanya ke tengah hutan Pak,” jawab Krisna.
“Bener Pak Wawan?” tanya Pak Muklis heran.
“Yah begitulah Pak, ada yang suka sama Sisil dari alam sebelah dan ingin membawanya,” jawab pak Wawan tak bisa berbohong.
“Wah kenapa jadi sampai seperti itu, dulu tidak ada yang seperti itu jaman kami, saat menggarap rumah di sana, kayaknya ada yang gak beres terjadi di sana, memang apa yang terjadi yang saya tidak tau pak Wawan?” tanya Pak Muklis begitu penasaran karna dulu tidak ada yang seperti itu terjadi pak Wawan menghela nafas panjang.
“Saya juga tidak tau pak Muklis, yang saya tau sejak hilangnya adik pak Darno yang desas desusnya hilang di Alas waringin kejadian-kejadian aneh mulai muncul walau tak pernah memakan korban, namun kemaren itu karyawannya pak Hendri ada yang meninggal di lahan dan disaksikan oleh mereka dan itu menurut saya juga janggal karena gak mungkin orang yang bekerja disana tidak tau apa yang dilakukannya bahaya dan malah mendekat ke ekskafator itu, itu sudah jadi yang paling mengerikan yang terjadi dan di ulang kejadian Sisil kemarin, dan saya juga rasa memang ada yang tidak beres dengan semua hal ini kemarin saat saya mengantar kan bu Sarah juga ada hal yang tidak wajar masa sampai tengah jalan mobil yang kami tumpangi mogok padahal gak ada yang rusak kemarin terpaksa bu Sarah ikut angkot.”
“Wah … tapi mudahan semua ini cepat berlalu pak Wawan dan gak ada hal-hal aneh yang terjadi lagi.
Mendengar hal tersebut Krisna dan Doni saling bertatapan karena mereka baru saja mengalami hal yang aneh tadi malam.
“Ya mudahan saja, kalian istirahat saja tidur-tidur dulu disini sampai nanti sore sampai bu Sarah datang dan kita jemput beliau atau boleh juga kalau kalian mau jalan-jalan di sekitar sini.”
“Kami tidur saja Pak, ngantuk tadi malam d ganggu hantu gak bisa tidur,” sahut Krisna.
Mereka tertawa mendengar kata-kata Krisna yang mereka kira bercanda.
“Ya sudah tidurlah bapak nanti mau melihat-lihat di sekitar sini,” ucap pak Wawan.
Sedangkan Abi memilih merebahkan badannya karena tadi malam ia hampir tidak tidur di lepasnya baju seragam itu dan di buatnya mengganjal kepalanya sedangkan Krisna dan Doni sudah tertidur dengan cepat, tak lama ia pun juga ikut terlelap.
Sisil yang melihat itu hanya menghela nafas melihat mereka semua tertidur sedangkan ia tak bisa tidur dan memilih keluar kembali kerumah sebelah pak Wawan dan pak Muklis pun berjalan mengelilingi komplek sembari ngobrol banyak hal, tak terasa waktu berlalu cepat dan senja pun telah tiba Sisil pun membangunkan mereka untuk segera mandi.
“Bi bangun,” Sisil mengoyang lengan Abi dan laki-laki itu tidak terbangun.
Sisil menggerak tangan Abi laki-laki itu masih tidak bergeming karna masih di alam mimpi yang membuatnya susah di bangunkan.
“Abi!” teriak Sisil di telinga Abi membuat Abian langsung kebingungan dan terduduk.
“Ada apa? apakah ada kebakaran?” ucapnya masih kebingungan.
Sisil tertawa melihat ekspresi wajah Abi yang kebingungan, melihat Sisil yang tertawa membuat Abi hanya bisa terdiam menatap gadis itu.
“Kamu mengerjaiku?’”
“Tidak, habis kamu di bangunin gak bangun-bangun, lalu aku harus apa? ini sudah sore tuh semua sudah pada mandi tinggal kamu aja yang belum, sudah sana mandi sebentar lagi kita jemput selingkuhan mu,” bisik Sisil di telinga Abi.
__ADS_1
Ucapan Sisil itu membuat Abi langsung melotot dan mencubit gadis itu tak perduli Sisil meringis kesakitan
“Kau bilang gitu lagi tak kuangap kau adik lagi!” ucap Abi dengan nada marah dia pun berdiri.
“Aku cuma bercanda, maaf,” jawab Sisil.
Namun Abi tak perduli dan melangkah mencari kamar mandi di rumah itu, Sisil menghela nafas baru kali ini dia melihat Abi marah, dia memukul mulutnya berulang kali menyesali apa yang dikatakannya pak Wawan pun masuk kedalam rumah di ikuti pak Muklis.
“Kenapa Sil kok muram gitu?” tanya pak Wawan yang melihat Sisil terlihat sedih.
“Gak apa-apa Pak,”
Sisil tersenyum, Abi pun sudah terlihat keluar dari kamar mandi dan tidak memakai seragam kerja lagi dia memakai Hem warna hitam panjang yang lengannya di gulungnya sampai siku dan celana yang sama warnanya.
“Kalian sudah siap semuanya, kalo sudah kita berangkat kata bu Sarah dia hampir sampai jadi nanti biar pas gak menunggu lama,” ucap pak Wawan mereka pun berpamitan dan mengucapkan terimakasih kepada pak Muklis yang sudah dengan baik hati membagikan ilmunya pada mereka.
Mereka pun masuk kedalam mobil itu, sementara pak Wawan masih berpamitan pada sahabat lamanya nya itu mereka terlihat tertawa bersama sebelum pak Wawan meninggalkan rumah itu dan masuk kedalam mobil, mereka pun melambaikan tangan kepada pak Muklis dan mobil itu pun kembali meluncur dengan cepat menuju kota kabupaten menuju terminal yang ada di kota itu yang tak jauh dari rumah sakit yang Abi datangi kemaren, mobil itu pun berhenti di area terminal menunggu bu sarah tiba disana banyak penjual makanan membuat Doni dan Krisna langsung turun dari mobil dan membeli yang mereka mau begitu pun pak Wawan yang turun membeli gorengan tinggallah Sisil dan Abi yang berada di dalam mobil.
“Bi,” panggilnya namun Abian tak menjawab.
“Aku minta maaf, aku hanya bercanda tidak ada maksud apa pun,” ucap Sisil dengan merasa bersalah.
“Seharusnya kamu tau Sil semua ini tidak mudah bagiku, aku juga tidak menginginkan perasaan yang seperti ini aku juga berusaha menjaga jarak dengannya dan aku hanya tidak tega itu saja, andai kamu tau apa yang aku rasakan, andai kamu tau betapa aku merasa serba salah dengan keadaan ini, kalo kamu saja tidak bisa memahami ku apa lagi yang lain, untuk hal apa aku pernah marah sama kamu aku tidak pernah apa pun yang kamu katakana karna aku memahami mu, namun kau membuat lelucon yang sangat menyangkut harga diriku, aku harus bilang apa lagi,” ucap Abi dan turun dari mobil.
“Bi! Abi!” panggil Sisil yang tak bisa berbuat apa pun melihat Abi masih marah padanya.
Sebuah mobil berwarna putih berhenti tak jauh dari mobil pak Wawan dan terlihat Sarah turun dari mobil itu dan mendekati mobil pak Wawan.
“Sisil?”
“Bu sarah,” Sisil langsung membuka pintu mobil itu dan memeluk mentornya itu.
“Loh kenapa? Kamu kangen sama aku atau lagi ada masalah?” tanya Sarah langsung yang melihat wajah Sisil begitu sedih.
“Ada yang marah sama Sisil.”
“Siapa? Hendra?” tanya bu sarah.
Sisil mengeleng membuat Sarah berfikir kalo Krisna dan doni gak akan mungkin Sisil sesedih ini.
“Abi?” tanya Sarah sisil hanya mengangguk.
“Bukannya dia tak pernah marah sama kamu, apa masalahnya?”
Sisil menggeleng tak mungkin dia mengatakannya karena kalau sampai dia mengatakannya bisa-bisa Bu Sarah juga ikut marah karna perkataannya.
__ADS_1
“Sudahlah dia tak kan tega marah sama kamu lama biarkan saja dulu, ngomong-ngomong pada kemana yang lain?”
Sisil menunjuk Abi yang berdiri di penjual jam tubuhnya yang tegap membelakangi mereka Sarah memandangi tubuh itu dan tanpa sengaja Abi menoleh dan tatapan mereka pun beradu untuk sejenak.
Mereka pun saling berpaling menghindar satu sama lain dan Sisil melihat itu
‘Jadi itukah yang mereka rasakan?’ batin hati Sisil.
Tak lama mereka pun sudah kembali dengan beberapa kantong plastik ditangan mereka masing-masing begitupun juga pak Wawan.
“Sil pindah kebelakang ya,” ucap bu sarah kepada Sisil yang duduk di sebelah pak Wawan.
Sisil mengeleng menoleh kearah Abi yang duduk di belakangnya tidak mungkin Sisil duduk di samping Abi yang lagi marah padanya, Sarah pun akhirnya mengalah dan duduk di samping Abi sedangkan Doni dan krisna duduk di kursi paling belakang.
Mobil itu pun meluncur dengan kecepatan sedang Abi hanya terdiam tak bisa berkutik karna Sarah di sampingnya dan sesekali melirik wanita itu di sela remangnya cahaya.
‘Walau kami marahan lebih baik Sisil yang ada di sampingku dari pada Sarah,' batin Abi.
Begitupun dengan sarah yang berfikir sama lebih baik dengan yang lain dari pada duduk berekatan dengan Abi apa lagi dia ingat pasti Abi yang memindahkannya kemaren ke dalam kamar betapa malunya dia bila ingat itu kenapa juga dia harus memindahkan dirinya kekamar dan dalam bentuk apa tidurnya saat Abi melihatnya, memikirkannya Sarah sudah sangat malu, mobil itu terus tancap gas tak ada yang mengobrol sama sekali suasana menjadi sunyi pak Wawan pun berdehem karena merasa ada yang aneh dengan mereka.
“Bu Sarah bagaimana sudah selesai urusannya?” tanya pak Wawan memecah keheningan itu.
“Iya Pak sudah sangat beres, tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi,” jawab Sarah .
Pak Wawan paham apa yang dimaksud karena sebelum berangkat bu Sarah sudah bercerita tentang apa yang akan di urusnya yaitu tentang pernikahannya yang tidak jadi dilaksanakan, pak Wawan pun tersenyum mobil itu pun sudah memasuki desa dan tak lama pun mereka sampai di halaman mes yang terlihat sepi itu.
Krisna dan Doni sudah berlari masuk kedalam rumah begitupun dengan Sisil sedang Abi langsung duduk diteras mengeluarkan hpnya dan berbicara kepada seseorang di seberang sana.
“Terima kasih pak wawan,” ucap Sarah kepada pria baik hati itu.
Pak Wawan hanya mengangguk Sarah pun masuk melewati Abi yang sedang asik bertelfonan dan langsung menuju kamar di lihatnya Sisil sudah berbaring Sarah pun menganti bajunya dan ikut berbaring juga.
Namun hidungnya mencium sesuatu yang ia kenal di ciumnya bantal itu dan benar saja aroma wangi itu dari sana.
“Sil apa tadi malam ada yang make bantal aku?” tanya Sarah.
“Iya Bu Abi yang tidur disana nemenin Sisil kenapa?” tanya Sisil.
“Oh gak apa-apa ya sudah teruskan tidur mu,” ucap Sarah dan membalik bantal itu namun aroma wangi itu masih tercium olehnya akhirnya dia pun berdiri dan menganti sarung bantal itu dengan yang baru bukan dia alergi dengan aroma parfum itu, tapi dia hanya takut tidak bisa tidur karena akan membayangkan laki-laki itu ada di sampingnya.
Abi pun masuk kedalam rumah dan menutup pintu itu suasana sudah sepi tinggal ia saja yang ada diruangan tengah itu karena ia tak bisa tidur perutnya mulai bunyi karena yang lain beli makanan dia malah ga beli karna biasanya Sisil yang membelikannya dibukanya kulkas yang ada didapur tidak ada makanan yang langsung jadi, roti pun tidak ada dia menutup kembali kulkas itu dan menghela nafas sembari duduk lagi di ruang tamu tiba-tiba terdengar pintu terbuka dan ternyata Sarah yang keluar dari kamar dan menuju dapur entah apa yang dilakukannya.
Terdengar dia memasak sesuatu agak lama dia di dapur dan keluar dengan membawa piring di tangannya dan meletakkannya di meja tepat di depan Abi, Abi pun melongo menatap Sarah.
“Makanlah tak baik tidur dengan perut kosong, dan jangan marah lagi pada Sisil kasian dia sangat sedih,” ucapnya dan berlalu kembali kekamarnya tanpa Abi bisa mengatakan sepatah kata pun saking terkejutnya dia kalau Sarah tahu dia saat ini kekelaparan.
__ADS_1
Dan di hadapannya sudah ada nasi goreng walau tidak ada udang kesukaannya dengan ragu di makannya nasi goreng itu walau tak seenak buatan Ambar namun tak lama nasi goreng di hadapannya pun sekejab lenyap masuk dalam perutnya, dia pun langsung menuju kamar dan merebahkan tubuhnya.