
“Ayo minum lagi biar kamu tenang.” ucap bu Sarah lagi.
Abi pun memberikan Sisil minuman itu Sisil pun menurut dan meminumnya, terlihat ia sudah agak tenang Abi sedikit bisa bernafas lega.
“Tapi kamu jangan pergi ya Bi,” ucap Sisil sembari menaruh kepalanya di pangkuan Abi.
“Iya Sil aku gak akan kemana-mana jangan khawatir,” ucap Abi menenangkannya.
“Biar aku yang menjaganya Bi,” ucap bu Sarah menawarkan diri.
“Tidak usah Bu, istirahatlah biar saya yang menjaganya ini sudah tanggung jawab saya.”
Abi tahu bu Sarah menatapnya namun Abi tidak menatapnya balik Abi tau Sarah menghawatirkan dirinya, tapi ia juga harus tahu bukan saatnya untuk menjahili, atau menghiburnya seperti biasa, Sisil lebih penting dari pada kepatah hatiannya, karena Abi sudah meanggap Sisil sebagai adiknya dan itu berarti Abi bertanggung jawab penuh untuk semua yang terjadi padanya.
Abi tidak akan membiarkan sesuatu hal menimpa padanya, Sarah pun kembali ketempat tidurnya dan Abi meraih selimut lalu menutupkannya ketubuh Sisil yang meringkuk di pangkuannya, Abi hanya bisa berdoa semoga saat dia bangun nanti dia sudah tidak setakut ini.
Entah jam berapa Abi mulai terkantuk-kantuk kepalanya kekiri dan kekanan, sesekali kedepan dan kebelakang saking ngantuknya hingga dia tertunduk dengan tangan di lipat kedepan di atas dadanya terdiam dengan mata terpejam erat suara kokok ayam yang bersahutan pun tak lagi ia dengar.
Sarah yang saat itu terbangun kaget karena bi Siti yang sudah terdengar di dapur pun melihat Abi heran karna laki-laki itu masih dalam posisi yang sama seperti yang ia lihat tadi malam ia pun mendekat dan melihat Abi yang masih tertidur pulas begitupun dengan Sisil.
Bu Sarah pun beranjak meninggalkan mereka dan pergi untuk mandi, Sisil pun membuka matanya perlahan.
“Aduh punggungku,” ucapnya lirih memegang punggungnya yang terasa sakit karena hanya tidur meringkuk kesebelah kanan.
Sisil pun berbalik telentang dia langsung memegang jantungnya begitu melihat Abi tertunduk kearahnya karna dia tak sadar kalau ia tidur di pangkuan Abi.
“Astaga!” pekik Siisl langsung membuat Abi tergeragap kaget mendengar suara itu dan sudah mendapati Sisil duduk di hadapannya.
“Ada apa? kamu baik-baik saja, Sil ayo katakan,” ucap Abi kebingungan menyentuh kepala Sisil.
Sedangkan Sisil juga kebinggungan kenapa sampai ia bisa tertidur dipangkuan Abi.
“Jawab Sil kamu baik-baik saja kan? Atau ada yang sakit? ayo katakan!” ucap Abi yang kebinggungan karna melihat Sisil hanya terdiam menatapnya.
“I-iya aku baik-baik saja. kamu ngapain tidur di kamar ini?”
Mendengat ucapan Sisil itu membuat Abi tertawa terbahak bahak hal itu membuat Sisil tambah binggung Abi mulai mencubit pipi Sisil dengan bahagia.
“Aaauuuuww! sakit tau Bi kamu udah gila ya,” ucap Sisil gantian mencubit pinggang Abi dengan meringis Abi masih tertawa bahagia.
“Kalo gitu kamu memang baik-baik saja syukurlah aku sangat menghawatirkanmu sayang ku,” ucap Abi sangat bersyukur dan memeluk Sisil dengan sangat bahagia.
“Iiih.. lepaskan kalo bu Sarah lihat gimana, kan gak enak.”
“Emang kenapa kamu kan adik ku. baguslah kamu gak apa-apa terimakasih Tuhan kau kembalikan adik ku tercinta ini dengan selamat dan tak satu apapun yang kurang,” ucapnya sangat bersyukur.
BbuSarah pun kembali dari mandinya dan sudah mendapati Sisil terbangun dan bercanda dengan Abi dia pun masuk dengan tersenyum bahagia.
“Iiih. kamu bau sekali lihat bahkan kamu tidak berganti pakaian dan seharian gak mandi, mandi sana aku mau kembali tidur di kamar,” ledek Abi hendak beranjak namun dia langsung terduduk kembali.
“Aduh pahaku keram, kamu sih tidur ga pindah-pindah kan jadi keram,” ucap Abi.
“Mana aku tahu kalau aku tidur di pangkuanmu kalau aku tahu aku malah gak bangun tadi biar kamu kapok,” ucap Sisil meledek.
“Dasar adik tak tau terimakasih, awas aja kamu ya nanti kalo kamu sakit lagi aku ga akan mau nemenin.”
“Alah ancaman mu tak mempan sama aku, aku kan tau kelemahan mu gak bakalan tega melakukan yang seperti itu,” ucap Sisil sembari berdiri dan mengambil peralatan mandinya.
Abi hanya bisa tersenyum mendengar kata-katanya.
“Terus aku gimana nih, mau ke kamar.”
“Tidur aja di situ memang kenapa sih repot amat gak ada yang ganggu dan keberatan juga,” ucapnya.
Abi melirik bu Sarah Sisil seperti tau apa yang Abi pikirkan.
“Bu Sarah juga ga akan keberatan iya kan Bu?” ucap Sisil.
Sarah kaget dan mengangguk setelah itu Sisil langsung kabur tanpa banyak bicara lagi.
‘dia bener-bener keterlaluan pahaku sangat sakit sekali sudah jauh menggendongnya malam masih memangkunya,' batin Abi.
Karena sangat sakit Abi pun dengan perlahan merebahkan kepalanya di bantal dan perlahan ditekuk kakinya dengan sekuat tenaga karena sakit sekali, Abi pun meringis menahan sakit terdengar helaan nafas bu Sarah dan dia pun menghampiri Abi.
__ADS_1
Jantung Abi tiba-tiba berdetak hebat saat Sarah mulai mendekat Abi memejamkan matanya agar tak melihatnya karena debaran jantung yang sangat aneh itu tak pernah ia rasakan kecuali bersama Ambar.
Namun kenapa sekarang saat bu Sarah mendekatinya debaran di jantungnya itu ada juga walau tak sekuat saat dia bersama Ambar, tiba-tiba tangan yang lembut itu menyentuh kaki Abi mengoleskan sesuatu di telapak kakinya dengan lembut, aromanya sangat harum seperti aroma terapi.
Abi tak berani membuka matanya dan berpura-pura tertidur walau sebenarnya tak tidur.
“Makanya jangan sok kuat, dan jangan gengsi untuk meminta tolong, apa susahnya meminta tolong,” ucap bu Sarah Abi hanya terdiam mendengar ucapannya.
“Dan jangan pura-pura tidur!” ucapnya lagi.
“A-aduh sakit!” pekik Abi kesakitan.
“Sakitkan?” ucapnya tersenyum menatap Abi.
“Bukan gengsi atau tak mau meminta tolong, aku hanya takut.”
“Takut? Memang aku menggigit atau mau memakanmu?” ucapnya mulai tak formal lagi.
Bu Sarah berbicara dengan Abi dan itu yang Abi takutkan, Abi hanya bisa terdiam menahan nafas saat Sarah mulai memijit kaki Abi perlahan, untung Sisil cepat kembali dan sedikit terbenggong melihatnya Abi pun memberi kedipan padanya untungnya Sisil paham.
“Biar Sisil saja Bu, ibu silahkan bersiap biar aku tangani anak manja ini,” ucapnya tertawa terkekeh.
Bu Sarah pun mengangguk dan keluar dari kamar, Abi bernafas lega.
“Ooo.. suka sekali ya di pijit sama bu Sarah,” ledek Sisil memijat kaki Abi.
“Suka tapi aku tak bisa bernafas, aku malu Sil, aduh jangan yang itu Sil sakit sekali!”
“Jangan manja, kalo gak dipijit nanti kamu gak bisa jalan gimana, semua kan karna salah ku,” ucap Sisil.
“kamu mengingatnya?” tanya Abi langsung terduduk walau sambil meringis.
“Ya ingatlah, kamu kira aku akan dengan mudah melupakan, aku di bawa hantu sialan itu, hanya saja aku sudah tak setakut kemarin,” sahutnya.
“Kanu gila, seperti apa bentuknya? Kenapa kamu sangat takut melihat mas Hendra tadi malam?” tanya Abi.
“Karena hantu itu menyerupai mas Hendra, canggih gak tuh hantu sialan, habis itu mukanya berubah menakutkan tentu saja aku berteriak dan setelah itu aku tak sadar lagi, emang apa yang aku lakukan setelah itu?” tanya Sisil.
“Kau menghajarku aku mengendong mu sampai keluar hutan, dan tadi malam masih juga kau mengerjaiku dengan tidur di pangkuan ku, bagaimana kaki ku tidak sakit.”
“Sampai seperti itu, maaf ya kakak ku tersayang aku sangat merepotkan mu,” ucapnya.
“Makanya buruan pijit, atau aku nanti gak sanggup berjalan, dan gentian aku minta gendong kamu,” ancam Abi.
“ih aku gak mau kamu itu berat, iya-iya aku pijit nih.”
“Beneran sekarang kamu ga takut?” tanya Abi penasaran.
“Ya takut lah siapa bilang gak takut, cuma aku membuatnya untuk tidak menginggatnya agar tak takut.”
“Trus kalo kelahan kamu trauma gak?” tanya Abi.
“Itu dia aku untuk hari ini kayak nya ga ingin kelahan dulu aku bantu di kantor aja atau sementara mau dirumah saja, takut ketemu sama hantu lagi.”
“Trus kalo ketemu sama mas Hendra gimana takut ga?”
“Ya mudahan ga takut, kan dia bukan hantu,” ucap Sisil tersenyum malu.
“Dasar bilang aja malu ya kan? Pakai acara ngeles lagi. Memang cinta mengalahkan segalanya ya sudah aku mau kekamar ku saja bersiap untuk bekerja.”
Abi pun turun dari ranjang itu namun Sisil memegang tangan nya dan mendekat ketelinga Abi.
“Makasih ya, kayaknya bu Sarah mulai suka deh sama kamu Bi,” ucapan Sisil membuat Abi menatapnya tak percaya dia mengatakan itu dia mengangguk.
“Dia baru di tinggal tunangannya, masa iya secepat itu dia menyukaiku?” ucap Abi balik berbisik di telinga Sisil dan gantian Sisil yang terperangah kaget.
“Aku hanya berusaha menghiburnya,” bisik Abi lagi.
“Hati-hati nanti kamu jatuh hati padanya loh,” ledek Sisil.
“Aku sangat setia padanya dan itu tidak mungkin walau aku tak menampik bahwa dia sangat cantik dan mempesona kalo tidak ada Ambar mungkin aku akan jatuh cinta padanya,” ucap Abi langsung kabur Sisil hanya melongo ternyata memang benar apa yang difikirkannya.
“Bi!” panggil pak Darno yang melihat Abi berdiri di teras.
__ADS_1
“Iya Pak. ”jawabnya begitu santun.
“Gimana keadaan Sisil?”
“Oh baik saja Pak, Bapak mau kemana kok rapi sekali sore begini?”
“Mau jalan-jalan, yuk jalan-jalan?”
“Kemana Pak?”
“Cari jjand,” ucap Pak Darno tergelak membuat Abi ikut tertawa mendengar jawaban pak Darno.
“Bapak bisa aja nanti ketauan istri bapak bisa di pancung nanti Bapak.”
Yah walau Abi belum menikah setidaknya Abi h kalau suami-suami yang kelihatannya gagah di luar kalo sudah di hadapan istrinya pasti nyalinya menciut, kalau tidak takut istri minimal dia sangat mencintainya hingga tak akan rela membagi cinta untuk orang lain.
“Bagaimana mau ikut ga Bi?”
“Iya kemana Pak?” tanya Abi balik.
“Refresing kamu tidak bosen apa di dalam rumah terus ayo banyak temennya kita bakar-bakar ikan di rumah pak Abdi di desa ajak Krisna dan Doni.”
“Bu Sarah sama Sisil gimana Pak? Nanti mereka gak berani di rumah sendiri?”
“Iya juga suruh aja kerumah Yayuk istrinya mang Ujang,” sahutnya.
Abi sedikit ragu karena harus meninggalkan Sisil, yang baru saja mengalami kejadian kemaren.
“loh kok benggong, kenapa?”
“Ga tega ninggal Sisil Pak,” jawab Abi ragu.
“Gak apa-apa Bi pergi aja aku gak apa-apa nanti aku kerumah mang Ujang saja sama bu Sarah.”
Tiba-tiba Sisil menyahut dari belakang yang tak sengaja tadi mau menyuruh Abi untuk makan.
“Tuh Sisil gak keberatan, Bapak tunggu sepuluh menit lagi di Mesnya Pak Wawan,” ucapnya dan berlalu pergi, ku pandang Sisil dengan seksama.
“Bener kamu udah ga apa-apa?” tanya Abi yang masih khawatir dengan Sisil.
“Iya Bi.. sudah gak usah terlalu mikir aku, aku kan sama bu Sarah ga sendirian lagian nih ya kapan lagi kamu punya kesempatan kayak gini mumpung kita disini ya kita bikin moment yang tak terlupakan, santai saja sudah panggil Doni sama Krisna sana, aku mau makan sama bu Sarah.” ucap Sisil kembali masuk kedalam menuju meja makan karna disana sudah ada bu Sarah.
Abi pun memanggil Krisna dan Doni mereka sangat senang sekali dan mereka pun pergi kerumah pak Wawan disana sudah ada mas Hendra juga, ia langsung menarik tangan Abi dan Abi paham apa yang akan di bicarakannya pasti menanyakan kabar Sisil.
“Bi gimana keadaannya?” tannya mas Hendra seperti yang sudah Abi duga dia menanyakan pertannyaan itu.
“Sisil sekarang sudah membaik Mas,” sahut Abi.
“Apa dia masih takut kalau melihat aku?” tanya Hendra.
“Gak kok Mas dia kan suka sama Mas masa takut, sudah tenang saja dia baik-baik saja besok Mas Hendra bisa menemuinya.”
“Beneran? Jangan bercanda kamu Bi.”
“Iya, tuh kan mukanya langsung seneng, susah sih kalo orang lagi jatuh cinta ya sudah yuk mereka sudah menunggu,” ucap Abi yang melihat pak Wawan melambaikan tangan.
mobil yang membawa mereka pun meluncur dengan kecepatan sedang menyusuri jalan sepi penuh dengan pohon itu, pak darno ternyata orangnya lucu juga banyak orang yang tak menyangka kalo dia banyak punya lelucon, karena wajahnya yang berkumis lebat dan postur tubuh yang tinggi besar.
Tidak lama mereka pun sampai di rumah pak Abdi yang tak jauh dari pasar ternyata di sana sudah ramai orang membuat perapian untuk memanggang dan mereka laki-laki semua, mereka pun turun di sambut oleh pak Abdi.
“Ayo-ayo silahkan Pak Darno, wah ini anak-anak magang yang bapak ceritakan tempo hari ya?” tanya pak abdi mereka pun mengangguk dengan sopan.
“Iya pak Abdi, ini Abi, itu Krisna dan yang subur ini adalah Doni,,” ucap pak Darno dengan gelak tawa memperkenalkan mereka bertiga, mereka pun menyalami pak Abdi dengan ramah.
“Ya sudah, ayo-ayo duduk silahkan,” ucapnya tak kalah ramah.
“Pak Darno?” Panggil Abi.
“Apa Bi?”
“Kok saya ga pernah lihat beliau di tambang?”
“Ya jelas kamu gak lihat Bi, dia bukan bekerja di tambang, dia itu saudagar ikan terbesar di daerah sini, beliau yang memasok ikan untuk kebutuhan sehari-hari di tempat kita, yang tiap hari kau makan,” ucap pak Darno lagi-lagi sambil tertawa Abi pun ikut tersenyum manggut-manggut tanda mengerti.
__ADS_1
Suasana bertambah ramai tatkala ikan itu sudah di masukkan kepemanggang Abi hanya bisa melihat mereka bersenda gurau, Abi melihat mas Hendra dengan lihai membalik-balik ikan itu, sepertinya beliau sudah sangat sering melakukannya, tak salah Sisil menyukainya, di tengah keramaian itu Abi teringat Ambar.
‘Dimana dia sekarang? kok ga menengok ku lagi, aku pun mau kerumahnya sudah lupa jalan menuju rumahnya, apa dia tidak tahu aku sangat merindukannya' batin Abi.