Alas Waringin

Alas Waringin
Kedatangan bos baru


__ADS_3

Silsil menghela nafas panjangnya.


“Iya makanya cepat makan, bagaimana masih sakit enggak?” tanya Sisil yang sangat khwatir.


“Sudah enggak sakit Sil, aku baik-baik saja, “ ucap Abi  sembari membuka mulut begitu sendok itu mengarah kemulut Abi.


“Sudah Sil,”


“Belum habis ini makananya,” oceh Sisil.


“Beneran aku sudah kenyang nanti kalo aku lapar aku makan lagi.”


“Ya sudah minum obatnya dulu” ucap Sisil sembari mengambil obat yang ada di meja dan menyodorkan kepada Abi.


Sebenarnya Abi sangat males minum obat karena ia sudah merasa baik-baik saja badan pun sudah tidak terasa sakit lagi setelah Ambar menyentuhnya.


“Tidak mau minum obat aku bilangin Bunda nanti,” ancam Sisil.


Abi pun  terpaksa minum obat itu satu persatu sampe habis, Abi yang seperti anak kecil di hadapan Sisil.


“Besok kita ke lahan lagi loh, kamu sudah bisa belum bekerja?” tanya Sisil.


“Mungkin sudah bisa Sil.”


“Besok kita kedatangan tamu bos besar katanya mau datang meninjau lokasi,” Sisil yang memberitahukan Abi.


“Bos besar? Pak Leo?” celetuk Abi.


“Bukan, Pak Adam katanya, ya udah karena kamu sudah minum obat aku tinggal balik lagi kerja ke kantor.”


“Sil!” panggil Abi begitu Sisil mau meninggalkan kamarnya


“Apa?” ucap Sisil menoleh.


“Makasih ya,” ucap Abi dengan senyum.


Sisil malah tertawa lucu sekali dan mengedipkan matanya lalu pergi.


 Abi hanya menggeleng saja melihat tingkah Sisil dan sangat bersyukur mempunyai sahabat seperti Sisil yang baik nya melebihi saudara, karen efek obat yang di berikan Sisil membuat Abi merasa mengantuk.


Namun masih ada yang menganjal di pikiran Abi yaitu tentang pak Leo, ia berfikir kalo pak Leo itu adalah atasan yang paling tertinggi ternyata pemikiran Abi utu salah masih ada bos besar, namun Abi tak pernah  lihat dan tak pernah tertera dalam perusahaan.


 Abi menjadi sangat penasaran seperti bos besar itu, Abi larut dalam fikiran sendiri banyak sekali yang ia fikirkan hingga entah yang keberapa kali dirinya  menarik nafas panjang hingga Abi pun tertidur kembali.


***


Kegaduhan sudah terdengar dimana-mana menjelang pagi ini padahal waktu masih menunjukkan pukul setengah enam, mungkin karena bos besar mau datang jadi mereka mempersiapkan diri.


“Bu Sarah,” panggil Abi yang melihat bu Sarah sudah rapi sepagi ini dan duduk di ruang tengah.


“Ada apa Bi?” tanya bu Sarah.


 Abi pun menghampiri bu Sarah dan duduk di sebelahnya


“Memang seperti apa sih pak Adam ini Bu, mereka semua sudah bersiap menyambut,” tanya Abi.


“Oh iya yang punya perusahaan ini Bi, gimana kamu sudah sehat?”


“Sudah Bu.”


“Sudah diganti perban nya?” tanya bu Sarah


 Abi pun menggeleng


“Sini ibu lihat,” ucap bu Sarah.


Bu sarah berjalan mendekat dan langsung membuka balutan kasa yang melingkar di kepala Abi bau harum langsung masuk dengan mudahnya kehidung Abi.


 Wajah bu Sarah yang begitu dekat dengan Abi membuat Abi menahan nafas untuk sejenak, laki-laki normal tidak mungkin aroma wangi bu Sarah  tidak membuat dirinya bersemangat.


“Gimana sih Bi, Sisil lupa ya menganti perbannya? sudah tidak usah pake perban lagi biar kering luka sebentar ibu ambili obat merah,” ucap bu Sarah sembari berdiri.


Beberapa menit kemudian bu Sarah kembali dengan membawa obat dan kapas terlihat luka dikening Abi karena terbentur meja.


 kemaren bu Sarah pun mengoleskan kapas yang ada obat nya itu kekening Abi, dia menatap Abi sejenak dan tersenyum.


Melihat Abi yang terseyum ke arah bu Sarah, bu Sarah pun bertanya kepadanya.


“Kenapa kamu menatap ibu seperti itu Bi?” tanya Bu Sarah yang heran.


“Tidak papa, Bu Sarah sudah sarapan belum, bik siti masak apa?” Pertanyaan Abi membuat bu Sarah tersenyum karna tahu laki-laki itu hanya mengalihkan pembicaraan.

__ADS_1


Bu Sarah sendiri juga tidak tahu kenapa dia begitu nyaman bila bersama Abi, tapi perasaan itu selalu ia buang jauh-jauh karna bu Sarah tahu itu tidak mungkin.


 mobil yang membawa mereka ke lahan sudah datang, pak Wawan tersenyum ramah di samping mobil menunggu kami masuk ke dalam mobil.


“Pagi pak Wawan lets go,” ucap Krisna bersemangat dan masuk ke dalam mobil begitu pun yang lain.


 Pak Wawan hanya tersenyum dan masuk kedalam mobil, mobil pun melaju seperti biasa jalanan yang bergelombang menjadi makanan mereka sehari-hari.


 Krisna tertawa ngakak saat pak Wawan bercerita lucu bahkan Doni sampai terbatuk-batuk sedangkan Sisil hanya memegangi perutnya menahan tawa sedangkan bu Sarah seperti biasa hanya tersenyum-senyum Abi hanya terdiam, entah kenapa Abi sangat tidak focus setelah kejadian kemaren Abi merasa sesuatu akan terjadi padanya entah apakah itu.


“Bi, ayo turun,” ajak Sisil menarik lengan Abi membuat Abi  kaget.


Ternyata mereka sudah sampai Abi melongo begitu sampai, karena sudah banyak karyawan yang berkumpul tidak seperti biasanya.


 Terlihat pak Darno sibuk ke sana kemari entah apa yang di kerjakannya pak Darno tidak lepas dari HT nya dan terus berkomonikasi.


Sedangkan Abi yang berjalan tanpa melihat-lihat dan hampir menabrak bu Sarah yang ada di depannya.


“Bi,” ucap bu Sarah dengan reflek sembari memegang lengan Abi yang hampir terjatuh akibat kesenggol tubuh Abi.


“Maaf Bu,” ucap Abi memegangi bu Sarah.


“Kamu kenapa sih tidak focus,” Bu Sarah menatap Abi. 


Bu Sarah pun hanya bisa tersenyum tidak bisa menjawab. 


“Bu, sepenting itu ya tamu nya?”


“Ya iya Bi soal nya kata pak Darno beliau jarang berkunjung.”


 Abi hanya bisa bilang itu dan hampir tengah hari rombongan itu datang mereka pun sudah berdiri bersiap di bawah tenda raksasa yang sudah di pasang rapi.


mobil yang membawa pak Adam pun sampe dan langsung berhenti di samping panggung yang sudah di siap kan sebegitu bagusnya, mereka semua bertepuk tangan menyambutnya. mereka pun ikut bertepuk tangan walau tak tau untuk apa.


 Laki-laki yang masih muda gagah dan mempunyai wajah yang lumayan tampan itu turun dari mobil dengan sangat berwibawa berjalan menuju panggung itu dan berdiri tegak penuh karisma.


“Itukah pak Adam Bu?“ tanya  Abi berbisik di telinga bu Sarah yang ada di sampingnya.


“Iya Bi.”


“Masih muda sekali Bu, aku kira sudah setua pak Darno.”


“Ngawur kamu, pak Adam itu anak yang punya perusahaan ini, dan pak Adam yang mengelola tambang di sini. sudah lihat saja jangan berbisik di telinga Ibu geli tahu” ucapan bu Sarah membuat Abi tersenyum dan dengan jahil malah meniup telinganya perlahan, dan dengan reflek Sarah mencubit Abi  hanya bisa meringis.


Abi hanya bisa menggeleng kalau sisil tahu Abi ngerjain bu Sarah pasti Sisil akan mengomel.


 Abi hanya tertawa dalam hati entah kenapa sekarang dia suka sekali menjahili mentor nya itu.


“kalian pasti sudah tahu siapa saya jadi saya tidak perlu memperkenalkan diri lagi, hanya ingin mengucapkan terimakasih atas sambutannya yang begitu meriah ini semoga kalian betah bekerja di sini dan jangan lupa usaha yang sukses itu harus di dasari dengan kerja keras dan tidak takut sama siapa pun jika kalian penakut dan tidak mau berkorban kalian tidak akan jadi orang yang sukses,” ucap pak Adam disambut tepuk tangan oleh semua orang kecuali Abi, bukan iri hanya saja Abi tidak mau bertepuk tangan karena dirasanya itu tidak perlu.


“Satu hal lagi bila bekerja di sini harus mematuhi aturan yang ada, jika ada yang berani macam-macam atau berhenti sebelum kontrak berakhir saya pastikan kalian akan kesulitan mendapat pekerjaan di luar sana!” ancam pak Adam dengan sangat tegas.


Ucapan pak Adam membuat Abi semakin tidak suka dengan perkataannya yang sangat egois dan sok berkuasa seketika Sisil menyenggol lengan Abi, Abi pun mengangkat alis pertanda bertanya, Sisil menarik lengan Abi hingga Abi agak menunduk.


“Kok ada atasan jahat seperti itu,” Bisik Sisil membuat Abi tersenyum.


“Sudah nikmati saja, bukannya kamu sangat ingin bekerja di perusahaan besar ini,” Jawab Abi membuatnya melotot.


 Acara itu membuat Abi jadi bosan dan Abi pun bernafas lega akhirnya acara itu selesai juga bos besar itu berjalan-jalan melihat-lihat keadaan tambang di ikuti anak buah nya dan pak Darno dan yang lain pun kembali bekerja sedangkan Abi dan yang lainnya mengikuti pak Hasan melihat-lihat Truk besar-besar yang berjajar rapi.


Pak Hasan menjelaskan fungsi-fungsi truk yang ada disana hanya sebentar mereka berkeliling karena hari sudah sore mobil yang membawa pak Adam pun sudah meninggalkan tempat itu.


“Kenapa nak Abi?” tanya pak Hasan.


“Tidak papa pak, memang pak Adam sering ke sini?” tanya Abi


“Tidak biasanya hanya setahun sekali tapi kadang juga datang tiba-tiba tanpa memberitahu, ya namanya juga pemilik suka-suka datangnya tapi kalo di sambut seperti ini ya resmi,” pak Hans memberi tahu.


“Yah kebanyakan sifat orang kaya seperti itu tidak usah heran nak Abi,” sambung pak Hans kembali.


“Tapi tetap saja saya kaget dengan perkataannya Pak,” Jawab Abi membuat pak Hasan tertawa dan menepuk pundak Abi pelan.


“Wajar nak Abi nanti kalo nak Abi sudah masuk dunia yang seperti ini tidak akan kaget lagi, karena itu makanan sehari-hari bagi kami jadi sudah kebal,” nasehat pak Hans.


Abi hanya tersenyum mendengar ucapan pak Hans yang menasehati dirinya.


 Terihat dari kejauhan  Bu Sarah melambai menandakan mereka sudah selesai dan menyuruh kita masuk kedalam mobil Abi pun berpamitan kepada pak Hasan dan berlari-lari kecil menuju mobil, kami pun sudah komplit mobil itu pun melaju dengan sedang seperti biasa dan tak lama pun sampai dan seperti biasa mereka pun berebut mandi dan pasti Abi yang kalah dan selalu terakhir, sedang Sisil sudah berpesan tidak mau di ganggu dan mau istirahat setelah mandi tinggal Abi sendiri yang duduk di ruang tengah bermain Hp, tiba-tiba pintu depan ada yang mengetuk tiga kali Abi pun berdiri dan menuju pintu depan dan membuka nya, terlihat pak Wawan berdiri di depan pintu.


“Pak Wawan!” pekik Abi


“Iya, mau ngajak kamu ke tempat mbah Suroso Bi,” sahut pak Wawan.

__ADS_1


“Lho memang ada yang kesurupan Pak?” tanya Abi


“Tidak Hi hanya ada yang ingin bapak tanyakan saja sama beliau jadi kalo sendiriankan tidak enak, kamu bisakah menemani bapak?” taanya pak Wawan kepada Abi.


 Abi terdiam sejenak padahal ia sangat males bertemu dengan mbah Suroso namun jika menolak tidak enak denhan pak Wawan dan akhirnya Abi pun mengangguk.


“Tapi sebentar saja ya pak, oh iya saya mau pamit dulu sama bu Sarah,” ucap Abi.


 pak Wawan pun mengiyakan lalu masuk ke dalam.


Sementara Abi pun mengetuk pintu kamar bu Sarah tak lama bu Sarah pun membuka pintu terlihat bu Sarah sudah memakai baju tidur dan hendak bersiap untuk tidur karena terlihat dari wajahnya yang sudah kusut, namun kecantikannya tidak berkurang.


“Abi? Kenapa?” tanya bu Sarah.


“Abi di minta nemeni pak Wawan Bu kedesa, apa boleh? Tanya Abi.


 Bu Sarah menolehkan kepalanya keluar ia melihat pak Wawan berdiri di depan pintu dan mengangguk dan kembali memandang Abi.


“Memang kamu sudah sehat beneran?” tanya bu Sarah.


“Yah masih sedikit sakit tangan nya sih Bu tapi tidak enak sama pak Wawan Bu,” jawab Abi.


“Ya sudah tapi jangan malam pulangnya hati-hati ya,” 


Abi mengangguk dan tersenyum dia pun kembali menghampiri pak Wawan dan mengangguk tanda boleh, ditutupnya pintu itu dan mengikuti pak Wawan masuk kedalam mobil, mobil itu melaju dengan cepat meninggal kan Mes menuju desa mobil itu melaju sambil dia mengingat-ingat jalan menuju rumah Ambar tapi tidak di temukan jalan yang pernah ia lalui mungkin ia lupa karena kemaren itu Abi terlalu fokus pada Ambar.


 Mobil itu pun sampai kejalan desa dan sudah melewati pasar yang mereka lalui dulu, dan ternyata mobil itu berbelok kekanan dari sebelum mereka lewati ternyata didalam sana masih banyak rumah mobil itu pun berhenti di sebuah rumah yang juga sederhana tidak terlalu besar mobil itu pun berhenti di pinggir jalan karena tidak bisa masuk kehalaman rumah itu karna jembatannya kecil lampu yang menerangi rumah itu tidak terlalu terang jadi terlihat suram.


“Ayo Bi turun,” ucap pak Wawan Abi pun menurut dan turun dengan ragu mengikuti pak Wawan menuju rumah itu, pak Wawan pun mengetuk pintu yang mulai usang di makan usia.


“Mbah, mbah!” panggilnya kami pun menunggu cukup lama dan akhirnya pintu itu terbuka.


“Selamat malam Mbah, maaf kalo menganggu mbah istirahat,” ucap pak Wawan begitu laki-laki tua itu berdiri di depan pintu.


“Masuk Wan,” ucapnya sembari melirik Abi sekilas mempersilahkan masuk.


Pak Wawan pun menarik Abi masuk kedalam rumah itu, mbah Suroso pun mempersilahkan mereka duduk di kursi bambu yang sudah terlihat tua juga.


“Ada apa kamu malam-malam kesini Wan, apa ada yang kesurupan lagi?” tanya mbah Suroso.


“Oh tidak Mbah hanya ada yang saya ingin tanya kan,” jawab pak Wawan.


“Oh ya silahkan apa yang ingin kamu tanya kan?”


“Ini mengenai perintah Bos besar, kata nya kemaren ingin buka lahan lagi yang berdekatan dengan alas waringin, apa boleh atau tidak saya di suruh pak Darno untuk menanyakan nya dulu pada mbah Suroso.”


“Yang sebelah mana nya itu Wan?”


“Yang sebelah barat nya Mbah atau sisi kanan dari Mes kami.”


“Kamu tunggu di sini dulu aku kedalam dulu.” ucap mbah Suroso.


Pak Wawan hanya mengangguk,  terlihat sekeliling ruangan itu tidak ada apa-apa selain kendi tua yang ada di pojokan rumah dan lemari yang sudah tua yang ada dekat di sebelah ruangan yang baru saja mbah Suroso masukin ada dua ruangan di sana dan Abi tidak melihat ada siapa-siapa lagi selain mbah Suroso.


“Pak,” panggil Abi memanggil pak Wawan pelan.


“Ya Bi.”


“Mbah Suroso tinggal sendiri, kok sepi sekali?” tanya Abi penasaran.


“Ga Bi dia tinggal bersama istrinya mungkin istri nya sudah tidur.”


“Tidak punya anak Pak?” tanya Abi lagi.


“Ada tapi mereka sudah berkeluarga dan tidak tinggal disini.”


“Oh begitu.” 


Abi hanya manggut-manggut mendengar penjelasan pak Wawan tak lama mbah Suroso pun keluar dan duduk kembali


“Bilang sama Bos mu, bisa membuka lahan di sana lagi tapi dengan syarat-syarat seperti biasa nya dan tidak boleh melebihi batas yang nanti mbah kasih.


“Begitu ya Mbah baiklah nanti saya sampaikan kepada mereka, terimakasih Mbah atas petunjuk nya.”


“Sama-sama, bagaimana nak Abi sudah sehat?” 


Pertanyaan mbah Suroso membuat Abi kaget karna dia tak menyangka beliau akan menanyakan hal tersebut setelah kejadian kemaren malam itu,


“Sehat Mbah,” jawab ku sembari tersenyum.


“Baguslah berarti tidak ada yang perlu di khawatirkan, kalo kamu perlu sesuatu atau ada yang ingin kamu khawatirkan datang lah kemari, mbah pasti bantu.” ucapnya sambil tersenyum.

__ADS_1


“Iya mbah terimakasih nanti pasti Abi kesini bila ada waktu.” Jawab Abi.


__ADS_2