Alas Waringin

Alas Waringin
Perkenalan Hendra dan Sisil.


__ADS_3

“Hah?”


Ia menarik nafas perlahan tanpa disadarinya sudah ada seorang cowok yang dari tadi memperhatikan nya.


“Selamat pagi mba Sisil,” sapa cowok itu ramah.


Hal itu sontak membuat Sisil terkejut dan membuka matanya, hingga membuat cowok itu tersenyum manis.


“Pagi,” jawab Sisil sembari tersenyum.


“Bagaimana betah di sini?” tanyanya.


“Lumayan mas, mas sendiri sudah lama kerja di sini?”


“Iya sudah lama hampir dua tahun, tapi bulan depan mau resign, jangan panggil saya Mas, panggil Hendra saja.”


“Loh kenapa? Kalau gitu panggil Sisil juga ga pake mbak,” kata Sisil berkelekar membuat wajah Hendra yang lumayan tampan itu hanya bisa tersenyum malu.


“Yah pengen suasana baru, ada panggilan dari perusahaan lain yang lebih dekat, lagi pula bekerja di sini cukup beresiko,” sahutnya.


“Oh begitu, enak ya kalau sudah banyak pengalaman kerja dimana saja banyak yang nerima, bahkan kadang di cari,” ucap Sisil.


“Trus habis magang di sini rencananya mau kerja dimana?”


“Yah … belum tahu, tapi kalau untuk terus di sini kayaknya gak deh, serem soalnya,” 


Mendengar jawaban dari Sisil membuat  Hendra tertawa.


“Malah tertawa emang ada yang lucu?” Sisil pun pura-pura merajuk.


“Maaf-maaf bukan maksud menertawakan mu, tapi kamu lucu, namanya juga hutan ya beginilah keadaannya, nanti kalau aku sudah pindah dari sini aku bantu carikan kerjaan yang gak seram,” ledeknya sembari tersenyum.


“Tuh kan masih ngeledek, tapi bener ya jangan bohong.”


“Iya bener, kasih aku nomor telepon kamu dulu tapi jangan ganti-ganti nomor kayak anak SMA yang lagi labil ya.” ucapnya sembari mengeluarkan ponselnya dari saku celana.

__ADS_1


“Alah bilang saja mau minta nomor ku,  sini aku kasih,” ucap Sisil meraih ponsel itu.


Sisil pun mulai menekan tombol untuk memasukkan nomor teleponnya dan memberikannya kembali kepada Hendra, sedang Hendra hanya tersipu malu.


“Beneran nanti aku carikan kerjaan kalau kamu sudah lulus.”


“Alah malah pacaran pagi-pagi aku gak di bangunin,” ucap Abi yang tiba-tiba muncul di belakang gadis itu tanpa mereka sadari sedang kan Sisil langsung memegang dadanya karna terkejut dan reflek langsung mencubit pinggang Abi.


“Aduh sakit Sil!” pekik Abi.


“Kamu seneng banget bikin aku jantungan!” ucapnya kesal. 


“Habis kalian asik sekali sampai aku datang gak tahu, hati-hati mas Hendra kalo pacaran sama dia, cubitan setannya ini lo bikin perut langsung mules,” ucapan Abi malah membuat Sisil mendaratkan lagi cubitan kelengan Abi.


“A-aduh Sil sakit, ampun-ampun ga lagi.”


“Kalian ini gak bisa akur ya,” ucap hendra geleng-geleng kepala.


“Jangan khawatir Mas, walau seperti ini dia sangat baik dan perhatian ga ada duanya seantero jagat raya,” ucap Abi merangkul pundak sisil. 


Abian sangat tahu kalau Hendra menyukai Sisil karena saat berada di lahan Hendra sering curi-curi pandang ke arah sisil tanpa di sadari oleh gadis itu.


“Aku tinggal dulu ya, mau apel pagi sama temen-temen dulu,” ucap Hendra.


“Siap Mas lanjut.”


Hendra tersenyum dan berlari lari kecil menuju teman-teman nya


“Kamu ini ya Bi malu-maluin tahu gak!” omel Sisil.


“Malu-malu in kenapa?”


“Malah tanya kenapa masa iya kamu ngomong gitu sama dia aku kan baru kenal, apa coba yang dia fikirkan tentang ku nanti.”


“Aduh, tumben sekali kamu mikir kayak gitu, aku tau nih ternyata kamu juga naksir ya sama dia, jangan khawatir dia akan berfikir cewek cantik dan baik hati ini akan sangat pantas menjadi pendamping hidup ku,” ucap Abi.

__ADS_1


“Sok tahu kamu,” ucap Sisil.


Abi pun tergelak melihat wajahnya yang memerah karena malu.


“Idih malu tanda nya beneran suka nih.”


Ucapan Abi itu membuatnya berbalik, melihat wajahnya yang berubah marah dan meraih sandal.


Abi pun berlari keluar rumah mendatangi gerombolannya mas Hendra seketika terlihat Sisil langsung berhenti mengejar Abi.


“Kenapa Bi?” tanya Hendra.


“Gak apa-apa mas mau ikut gabung aja,” ucapnya mencari alasan, padahal ia lari dari kejaran Sisil.


“Oh, boleh aja.”


Abi pun ikut kelompok  Hendra bersih-bersih di area jalan yang menuju di komplek mes tersebut, disebut komplek karena semua hampir ada, ada kantornya rumahnya pun banyak serta ada kantin untuk kebutuhan mereka semua baru kali ini Abi berkeliling di sekitar sana, bahkan Abi belum pernah masuk ke kantor besar itu baru besok kami kesana untuk melihat lihat, mudahan mereka semua ramah.


“Kenapa Bi?” tanya Hendra yang melihat Bian terbengong.


“Di sini kira-kira berapa banyak karyawan nya Mas?”


“Yah mungkin sekitar dua ratus yang tinggal disini, belum sopir-sopir yang bawa truk-truk besar yang pulang pergi itu, kan mau buka lagi tambang nya yang kemaren di bersihin itu, itu ada 50 hektar luas nya,” sahutnya.


“Wow.. kira-kira sekaya apa yang punya perusahaan ini?”


“Jangan tanya Bi di makan tujuh turunan pun tidak akan habis,” sahut Hendra.


“Enak betul ya mas jadi orang terlanjur kaya.” Hendra malah tertawa.


“Kita lihat mereka enak belum tentu mereka seperti itu andaikan pun iya, mereka juga tau ap yang mereka perbuat kadang salah.”


“Salah gimana Mas?”


“Ya nama nya juga bisnis Bi bisnis di pertambangan itu sangat mengerikan lebih mengerikan dari yang kau bayangkan, bahkan pemerintahan kita ini hanya lah mainan bagi mereka yang berkuasa, apa kau pernah dengar bos tambang di penjara walau mereka tidak melakukan prosedur yang benar? Tidak kan ?”

__ADS_1


“Terus orang-orang yang seperti kita bagaimana mas?”


“Kita kan di gaji sesuai kemampuan kita Bi. urusan pertangung jawaban itu kan mereka yang nangung maka nya aku mau pindah ketempat yang lebih baik, yang mau bertanggung jawab menguruk semua lubang bila habis menambang,”


__ADS_2