
“Bengong aja Bi. sendirian?” tanya hendra yang melihat Abi seperti orang binggung.
“Iya Mas sebentar aku panggilkan Sisil,” ucapnya berdiri dan masuk kedalam.
“Sil mas Hendra datang temui sana,” ucap Abi kembali duduk di samping Sarah yang masih duduk di tempat yang sama.
Sarah binggung melihat wajah Abi yang seperti orang kebinggungan, Sisil pun langsung keluar mendatangi Hendra.
“Bi, kamu kenapa?” tanya Sarah menyentuh pipi Abi lembut membuat Abi terkejut dan seperti tersadar di lihatnya Sarah yang ada di hadapannya.
“Kamu kenapa sih? kamu baik-baik saja?” tanya Sarah yang sedikit khawatir melihat Abi seperti itu.
“Iya gak apa-apa,” sahut Abi.
Abi baru ingat tadi ia baru saja bertemu dengan Ambar di tatapnya lagi Sarah yang juga masih menatapnya.
“Iya aku baik-baik saja.” ucap Abi lagi.
“Bagus lah kirain kamu kesambet, kayak orang binggung gitu,” ucap Sarah.
Ucapan sarah itu membuat Abi tersenyum, dan kembali memikirkan Ambar ia tak mengerti sampai sekarang kenapa gadis itu selalu datang secara tiba-tiba dan tak pernah lama, Ambar bahkan selalu tahu apa yang Abi rasakan.
‘Sebenarnya ada apa ini? aku yang salah atau aku sudah gila? atau semua ini hanya mimpi?’ batin Abi.
Abi memukul pipinya dengan keras membuat Sarah kaget Abi pun meringis kesakitan ternyata semua ini bukan mimpi karna dia merasakan sakit.
“Apa yang kau lakukan, kamu sudah gila ya?” tanya Sarah terheran-heran
“Aku takut ini mimpi, aku takut semua yang terjadi ini hanya ilusi, aku takut juga kalau kamu tidak nyata,” ucap Abi menyentuh pundak Sarah dengan kuat.
“Kamu kayaknya bener-bener kesambet nih biar aku panggilkan pak Wawan untuk memanggil mbah Suroso.” ucap Sarah mau menelepon.
Namun Abi mengambil telfon itu dari tangan Sarah dan langsung meletakkan di lantai
“Abi! Apa yang kamu lakukan?” ucap Sarah mau mengambil hp nya namun Abi memegang tangan itu dan menarik tubuh Sarah kepelukannya dengan paksa.
“Apa yang kamu lakukan, lepaskan Abi, kamu menyakitiku!” ucap Sarah namun Abi tak bergeming dan terus menatap Sarah kini tatapannya begitu kosong kembali membuat Sarah binggung.
“Abi lepaskan!”
Plak!
Sarah menampar keras pipi Abi dan Abi pun melepaskannya dan langsung tergeletak lemas, membuat Sarah sangat panik.
“Sisil! Krisna tolong!” teriakkan Sarah membuat Sisil dan hendra langsung berlari masuk kedalam.
“Ada apa Bu?” tanya Sisil langsung.
__ADS_1
“Abi!” Sarah menunjuk Abi yang tergeletek lemas di lantai.
Hendra langsung mengangkat tubuh itu kedalam kamar.
“Krisna dan Doni kemana?” tanya Sarah yang tak melihat mereka berdua dari tadi.
“Mereka ketempatnya pak Wawan Bu apa yang terjadi sama Abi Bu?” ucap Sisil.
“Nanti saja aku cerita ambilkan minyak kayu putih dulu,” pinta sarah sembari langsung berlari kekamar Abi.
Sedangkan Sisil berlari kekamarnya mengambil minyak kayu putih.
“Aku tak tahan lagi! kalian membuatku pusing, kalian tidak nyata pergilah!” ucap Abi tiba-tiba.
Namun sarah mendengar apa yang dikatakan Abi, dia seperti orang mabuk berbicara sendiri.
“Pergilah pergi! aku mau seperti dulu aku mau hidupku,” Abi terus mengomel.
Sisil pun berlari dan memberikan minyak itu kepada bu Sarah.
“Apa perlu kita memanggil pak Wawan Bu?” tanya Hendra.
Sarah menggeleng membuat Sisil dan Hendra berpandangan.
“Tidak usah biar aku yang jaga mungkin nanti dia juga akan sadar sendiri dia tidak apa-apa pergilah,” ucap Sarah memberi punggung Abi minyak kayu putih mereka pun paham dan keluar dari kamar itu.
“Aku harus pergi kemana, apa kamu tidak menyukaiku apa kamu sangat tertekan karna aku mencintai mu? apa semua ini salahku? bukankah kita sudah berjanji akan melakukan apa yang kita suka?” Sarah menangis terisak di samping Abi.
“Jangan pergi Ambar! jangan tinggalkan aku kembalilah, aku sangat mencintaimu.”
Ucapan dari mulut Abi itu membuat Sarah semakin menangis tersedu sedu hatinya sangat hancur namun apa daya dia hanya bisa menitikkan air mata, Abi terus mengomel matanya terus menutup walau sarah sudah mencoba membangunkannya dan akhirnya di teleponnya pak Wawan dan menceritakan semuanya.
Dari seberang sana pak Wawan pun paham dan langsung pergi kedesa memanggil mbah Suroso butuh waktu agak lama baru mereka sampai, Abi masih terus mengomel mbah Suroso pun memegang kepala Abi dan entah apa yang beliau baca hingga Abi pun tak lagi mengomel dan terdiam.
Namun belum juga sadar mbah Suroso pun mengikatkan sesuatu kepergelangan kaki Abi setelah itu beliau keluar.
“Pak Wawan jangan sampai benang itu lepas dari kakinya sampai dia meninggalkan tempat ini nanti, kalo tidak dia akan terus diganggu gadis itu,” ucap mbah Suroso dengan serius.
“Gadis Mbah?” maksud Mbah Suroso gadis yang mana?” tanya pak Wawan bingung.
“Dia dari alas waringin dia menginginkan Abi untuk jadi pasangan hidupnya, pokoknya jangan sampai benang di kakinya lepas kalau tidak Abi bisa dibawanya ke alam dia nantinya. Tapi jangan bilang pada Abi kalau benang yang ada di kakinya untuk itu, bilang saja agar tidak di ganggu mahluk halus karena kalau dia tau dia tidak akan memakai benang itu, kalian paham kan? dan jangan bilang pada siapa-siapa tentang kejadian ini karena nanti akan bertambah masalah dan rumit,” pinta mbah Suroso.
“Baik mbah, kami akan berusaha meyakinkannya,” ucap pak Wawan memandang Sisil Hendra dan bu Sarah mereka mengangguk setuju.
“Baiklah kalau begitu dia akan sadar sebentar lagi Mbah pamit dulu, mari pak Wawan.”
Pak Wawan pun mengangguk dan mengikuti langkah mbah Suroso keluar rumah itu Sisil langsung terduduk tak membayangkan apa yang dimaksud mbah Suroso adalah Ambar, kalo sampai benar betapa kasihannya Abi, dia sangat mencintai gadis itu bagaimana kalau sampai dia tau yang sebenarnya, bagaimana kalau dia tau bahwa gadis yang di temuinya selama ini hanyalah seorang hantu.
__ADS_1
Tapi apakah benar Ambar akan sejahat itu, apa pun itu tidak ada yang tidak mungkin, Hendra memegang pundak Sisil.
“Sabar kamu harus kuat untuk Abi, hanya kamu yang mampu menghadapi semua ini jangan biarkan dia sendiri buat dia melupakan gadis itu kalau bisa.”
Ucapan Hendra langsung menginggatkannya pada bu Sarah Sisil langsung menatap Sarah yang ternyata juga sudah menatapnya.
“Bu.. aku tau Abi menyukai Ibu jadi tolong.. bantu kami agar dia melupakan gadis itu tolong buat Abi yakin bahwa dia hanya menyukai Bu Sarah bukan gadis itu.”
Sarah terkejut mendengar permintaan Sisil bagaimana dia bisa melakukan itu, mereka sudah berjanji untuk saling melakukan hal yang mereka suka, namun bukankah yang aku suka berarti aku boleh melakukan apa pun termasuk membuatnya suka kepadanya.
“Tapi Sil apa itu jalan satu-satunya bagaimana kalau kita beri tahu saja mungkin dia mengerti,” sahut bu Sarah.
“Sisil tak yakin dia percaya Bu, yang ada nanti kita malah di tuduh menjauhkan dia dari gadis itu,” ucap Sisil membuat Sarah berfikir benar juga nanti dikira malah sarah yang mempunyai ide ini karena Abi tau bahwa Sarah menyukainya akhirnya Sarah pun mengangguk setuju.
“Tapi aku tidak janji ini akan berhasil ya.”
“Setidaknya kita mencoba Bu demi Abi,” ucap Sisil bersemangat.
“Baiklah kalau begitu aku yang akan menunggunya,” ucap Sarah bangkit dan menuju kamar Abi.
Di lihatnya Abi mulai bergerak Sarah langsung duduk di sampingnya tangan yang kokoh itu melingkar di pinggangnya Abi pun langsung membuka matanya karna mencium bau parfum Sarah dia terkejut saat sadar tangannya melingkar di pinggang gadis itu dia pun terduduk.
“Sarah,” ucap Abi terkejut
Sarah hanya tersenyum Abi mencoba menginggat sesuatu.
“Kamu baik-baik saja, apa aku melukaimu?” tanya Abi yang menggingat telah merebut hp Sarah.
“Tidak, kita bercanda terus kamu pingsan itu saja, seharusnya aku yang nanya apakah kamu baik-baik saja, apa terakhir yang kamu ingat?” tanya Sarah.
“Aku merebut hp mu, beneran kamu gak apa-apa?” tanya Abi lagi.
“Iya beneran, lihatlah aku gak apa-apa, aku baik saja, coba aku lihat apa kamu baik saja,” ucap Sarah sengaja menyentuh kening dan pipi Abi ingin tau reaksi Abi seperti apa.
“Jangan menyentuh ku seperti itu,” ucapnya.
“Kenapa bukankah kita boleh melakukan yang kita suka asal tidak melampaui batas?”
Abi terdiam memandang Sarah dan mendekatkan wajahnya ke wajah Sarah dan menempelkan tangannya di kening gadis itu.
“Panas juga dingin apa kamu mengigau kenapa jadi berubah?” tanya Abi.
“Aku tidak berubah kamu yang berubah,” ucap Sarah menahan kening Abi dengan telunjuknya karna Abi terus mendekat.
“Kan kamu yang berubah coba mau apa dekat-dekat,” ucap sarah meledek.
“Mencium mu.” gantian Abi yang meledek membuat Sarah terdiam.
__ADS_1
Abi pun tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi Sarah yang terdiam karna takut.