
“Astaga Abi! Kamu bikin takut tau gak,” ucap Krisna yang berdiri tak jauh dari pintu.
“Ya maaf habis kalian sangat berisik, ada apa sih malam-malam teriak-teriak bangunin orang sekomplek tau ga, terus ini kenapa gelap begini?”
“Ya itu masalahnya tiba-tiba lampunya mati kami kaget,” ucap Krisna.
Abi pun mendatangi Krisna dan mengecek sklar itu dan lampu itu menyala secara otomatis membuat Krisna dan Doni melongo saling bertatapan.
“Lha nih nyala, main-main aja kalian nih,” ucap Abi dan berjalan mengambil selimutnya.
“Beneran Bi tadi aku pencet saklarnya berulang kali tapi tetap gak mau nyala,” sahut Krisna.
“Lah itu buktinya nyala,” Doni langsung berdiri dan memegang lengan Abi.
“Kamu kenapa sih Don, lepasin!” ucap Abi mencoba melepas pegangan tangan Doni.
“Gak mau aku melepasnya pokoknya kamu harus tidur sini, aku takut Bi beneran tadi sudah di coba Krisna gak mau nyala, sekarang nyala dengan mudahnya pasti ini ada yang jahili kami,” ucap Doni dengan sedikit ketakutan.
“Makanya Don jangan suka nonton film horor jadinya lampu mati sebentar aja kamu sudah halu sudah aku mau balik nemeni Sisil.”
“Tidak boleh! Kamu di sini aja Bi, sepertinya habtu di sini bersahabat sama kamu Bi,” Doni kekeh memegang lengan Abi membuat Abi tertawa.
“Ya sudah kalo kalian takut ikut tidur di kamar Sisil saja bagaimana?”
“Ya ga gitu juga Bi,” jawab Krisna.
“Aku ikut kamu Bi, aku takut di kamar ini,” ucap Doni langsung membawa bantal mengikuti langkah Abi keluar.
Akhirnya Krisna pun mengikuti juga lalu menutup pintu itu dan lampu dalam kamar itu kembali mati, sesosok bayangan keluar dari kamar itu menembus jendela dengan sekejab Krisna yang saat itu tidak sengaja melihat bayangan tersebut hanya bisa bergidik, ia langsung menutup pintu lalu mengikuti Doni serta Abi.
Dalam kamar Sisil mereka berebut tempat untung Sisil tidak terbangun karena keributan mereka, akhirnya Abi pun mengalah dan tidur di kasur sarah lagi.
Diletakkannya kepalanya di bantal empuk itu dan aroma harum langsung menusuk hidungnya, yah aroma rambut wanita itu yang biasa Abi cium bila berdekatan dengan Sarah membuat Abi memejamkan mata karena desiran angin yang masuk lewat langit-langit itu membuat aroma itu datang lagi dengan perlahan dia menghela nafas agar jantungnya tak merasa sesak aroma harum itu mengingatkan semua tentang gadis imut itu membuat Abi langsung menarik selimutnya sampai keatas kepala agar aroma wangi itu tidak terlalu tercium olehnya.
Entah jam berapa dia terlelap karna saat bi Siti datang dia juga sudah terbangun lagi dan duduk di kursi di meja makan sembari ngobrol dengan wanita paruh baya itu ingin sekali ia menanyakan tentang Ambar namun mulutnya tak pernah terbuka untuk itu, karena ia malu kalau sampai bi Siti tahu tentang hubungannya dengan Ambar karena belum waktunya.
Ambar juga belum mengiyakan untuk mau jadi istrinya gadis itu masih penuh dengan rahasia yang di pendamnya.
“Kenapa den Abi, kok malah jadi melamun?” tanya bi Siti.
“Gak papa Bi, hanya lagi galau saja,”
__ADS_1
Wanita paruh baya itu tertawa tertahan.
“Galau itu apa to Den?”
P jadi tersenyum mendengar pertannyaan bi Siti, “bimbang Bi,” sahut Abi.
“Oh gitu, kenapa to Den, pasti tentang wanita ini ya?”
“Yah begitulah Bi,” jawab Abi sembari tersenyum kembali.
“Wajar saja lah Den, Den Abi kan ganteng pasti banyak yang suka, sudah gitu den Abi sangat baik dan juga sopan sama orang tua, gadis mana yang ga suka sama Den Abi,” ucap bik Siti membuat Abi terkekeh.
“Bi Siti itu terlalu banyak memuji saya, saya ga sebaik yang bi Siti kira,” ucapnya merendah.
“Baik ndaknya manusia itu terlihat dari mata, dan juga perilakunya adab dan sopan santunnya, kata orang jaman dulu begitu, kalo pintar tapi gak punya adab dan sopan santun mereka terlihat seperti orang bodoh, tapi orang bodoh yang punya adab dan sopan santun dia terlihat seperti orang pintar karena semua orang akan segan.”
Ucapan bi Siti membuat Abi mengangguk angguk karna yang di katakana nya itu benar omongan orang dulu memang benar adanya dan sekarang kita jarang mengikutinya dan berlaku seenaknya sendiri.
Sisil pun terbangun dan hendak turun dari ranjangnya dan betapa kagetnya Sisil ketika ia melihat muka Krisna dan Doni ada di bawah ranjangnya.
“Astaga kalian ngapain tidur disini?” pekik Sisil membuat mereka berdua juga ikut kaget dan terbangun Krisna menguap dan mengusap kedua matanya.
“Ada apa sih Sil?” tanya Abi berdiri di depan pintu.
“Ngapain mereka tidur disini? Bikin aku kaget saja untung gak aku injak mereka,” sahut Sisil.
“Oh mereka takut katanya, tadi malam mereka di jahili sama hantu di kamar,” sahut Abi.
“Hantu? Mereka tuh hantunya sudah bangun-bangun kembali kekamar kalian sudah pagi,” ucap Sisil galak.
“Masih ngantuk Sil, kenapa kamu itu selalu kejam sama kita,” ucap Doni.
“Aku itu tidak kejam Don, aku kan mau mandi dan setelah mandi harus beraktifitas seperti cewek-cewek lainnya kalo kalian masih di sini mana bisa aku melakukan itu, sudah sana balik lagian kalian gak kerja apa, mandi sana!” ucap Sisil lagi.
Mendengar penjelasan Sisil dengan malas mereka pun beranjak pergi dan meneruskan tidurnya di kursi ruang tamu, sisil hanya geleng-geleng kepala melihatnya. Abi pun mengambil selimutnya dan juga pergi dari kamar itu sembari mengedipkan matanya kearah Sisil membuat Sisil mengacungkan tinjunya hingga Abi pun tertawa.
Mobil yang membawa mereka terus melaju membuat mereka yang ada di dalam mobil binggung karena arah mobil itu kedesa bukan ketambang.
“Kita mau kemana Pak?” tanya Abi heran.
“Oh, kita mau melihat perumahan yang di bangun pak Muklis di Sawahan deket kota kabupaten,” jawab pak Wawan.
__ADS_1
“Asik akhirnya ada sesi jalan-jalan juga biar tidak melulu lihat truk dan batu.” ucap krisna kegirangan.
“Iya nanti pulangnya sekalian jemput bu Sarah,” ucap pak Wawan yang membuat Abi langsung terdiam antara senang dan juga bingung harus berperilaku bagaimana terhadap gadis itu bila bertemu.
Mobil itu terus meluncur meninggalkan desa kecil itu menuju Sawahan tak memakan waktu yang lama mobil itu berbelok kekiri sebelum kabupaten kota memasuki sebuah perumahan yang elit dan masih banyak rumah yang masih belum selesai di bangun mobil itu pun berhenti di salah satu rumah yang sudah selesai di bangun dan sudah di tempati, tanpa diminta pun mereka turun dengan sendirinya dan mengikuti pak Wawan menuju rumah itu, dan dari dalam rumah itu keluar seorang laki-laki yang masih Nampak muda menyambut mereka dengan ramah.
“Wah, akhirnya kalian sampai juga, ayo masuk anggap rumah sendiri saja, bebas disini mau ngapain aja asal jangan di bakar saja,” ucapnya dengan candaan yang lumayan lucu membuat mereka tersenyum mendengarnya.
“Makasih Pak Muklis, bagaimana kerjaannya, lancar bukan?”
“Ya Alhamdulillah semua lancar pak Wawan tinggal tiga puluh persen saja,” sahutnya.
“Bagus kalau begitu, nih mau ngrepotin pak Muklis karena bawa anak-anak ini kemari, boleh gak sekiranya mereka melihat-lihat untuk proses magang mereka sehari ini aja, kasian bosen di tambang terus.”
“Wah dengan senang hati Pak Wawan silahkan saja, mari saya antar kerumah sebelah saja yang belum jadi dari pada jauh-jauh, kalian lihat bagaimana insfraktuturnya kalau ada yang menurut kalian tidak pas boleh kalian kasih masukan, karena rumah ini special pesanan orang yang mintanya dibuatkan rumah model modern klasik,” tuturnya.
“Wah saya suka ini,” ucap Krisna langsung bersemangat karna menyangkut minatnya.
“Ya sudah kalian lihat di sebelah nanti kesini lagi kalo sudah selesai kami mau ngobrol-ngobrol lama kami tidak jumpa,” ucap pak Wawan sembari tertawa dan di iyakan oleh pak Muklis.
Mereka pun keluar dan menuju rumah yang tak jauh dari rumah yang di huni pak Muklis di sana sudah banyak pekerja dan juga mandornya, Krisna pun meminta izin untuk melihat sketsa rumah itu dan langsung geleng-geleng kepala takjub melihatnya karna sangat detail dan tersusun rapi mulai dari halaman dan ruangan yang begitu singkron apa lagi melihat taman yang akan di buat di dalam rumah itu.
“Kenapa Kris?” tanya Abi yang melihat Krisna geleng-geleng kepala terus.
“Gila, kalo orang kaya tak tanggung-tanggung bikin rumah serba wah,” ucapnya.
“Makanya Arsitek gajinya mahal, seharusnya kamu senang dong itu impian terbesar mu,” sahut Abi.
“Aku senang tapi untuk jadi yang seperti ini butuh pengalaman, proses dan biaya,” sahut Krisna.
“Ya itu makanya jalani prosesnya dulu, nikmati jangan mengeluh, dosen mengajar lebih dua jam kamu sudah garuk-garuk kepala,” ucap Abi membuat Krisna tertawa terkekeh.
“Bi, tentang tadi malam lampunya nyala sampai sekarang, kamu merasa aneh ga sih akhir-akhir ini kita selalu dihadapkan dengan kejadian diluar nalar kita? apa lagi yang terjadi sma Sisil sungguh sangat menghawatirkan, aku sih masih belum percaya yang seperti itu seratus persen, tapi masa iya sih kita itu di terror hantu yang ada di alas waringin?” ucap Krisna.
“Dan lagi, asal kamu tahu aja. Saat aku mau nutup pintu aku lihat bayangan di dalam kamar dia berlahan menembus jendela kamu pikir aja ini gak masuk akal banget,” sambung Krisna.
“Yah aku sendiri juga gak tau Kris, tapi ya alangkah baiknya kita waspada jaga sikap dan ucapan kita dimana pun kita berada agar tidak menganggu mereka yang tidak bisa kita lihat,” ucap Abi mengingatkan.
Mereka pun dengan asiknya melihat proses pembuatan rumah yang begitu megah itu dan sesekali membantu para tukang itu memoles dinding sedang Sisil hanya asik melihat sembari menghitung berapa jumlah uang yang akan di habiskan untuk membangun rumah itu sampai selesai pasti sangat fantastis nominalnya.
Namun akan terbayar lunas bila hasilnya akan sangat memuaskan untung suasana hari ini sangat bersahabat karna harinya mendung namun tidak turu hujan mereka pun beristirahat untuk makan siang pak Wawan pun memanggil mereka dan mengajaknya makan di rumah pak Muklis, dengan akrab dan santai mereka makan dengan tenang hingga Doni pun kekenyangan.
__ADS_1