Alas Waringin

Alas Waringin
Berkunjung ke Rumah Ambar


__ADS_3

“Sudah lama menunggu nya?” tanya Abi.


Ambar pun hanya menggelengkan kepalanya tanpa menjawab.


“Yuk naik, kita mau kemana?”


“Katanya mau kerumah,”  ucap Ambar.


Hanya dalam hitungan beberapa detik Ambar tiba-tiba sudah berada di boncengan belakang Abi tanpa ia sadari. Abi merasa aneh sekaligus bingung karena ia sama sekali tidak melihat Ambat berjalan ke arahnya.


“Ya sudah arahin jalannya ya Ambar soalnya aku gak tahu jalan di sini,” ucap Abi.


“Baiklah,” sahut Ambar lembut.


Abi menarik pedal gas motor tersebut, perlahan tangan kanan Ambar melingkar di pinggang Abi. Hal itu membuat Abi sedikit grogi.


“Bapak kamu ada di rumah?” tanya Abi.


“Gak ada.”


“Ibu?”


“Ga ada juga.”


“Lah terus memang kamu di rumah sama siapa aja?” tanya Abi.


“Ibu bapak tapi mereka sedang tidak ada di rumah.”


“Lalu aku kerumah mu terus datangin siapa?”0


“Biasanya laki-laki suka jika di rumah tidak ada siapa-siapa,” jawabannya membuat Abi tertawa geli.


“Kamu ini. Gak semua seperti itu, kemana arah rumah mu ini? Soalnya ada belokan di depan kiri dan kanan.”


“Kiri,” sahut Ambar tak lama ada belokan lagi.


“Kiri lagi,” ucapnya tanpa Abi bertanya. 


Tak lama terdapat belokan lagi.

__ADS_1


“Lalu?”


“Kanan,” sahutnya singkat.


“Jauh juga rumah kamu Ambar,” ucap Abi.


“Gak juga. tuh rumahku yang paling ujung,” katanya.


Ambat menunjuk sebuah rumah yang sederhana beratapkan genteng tanah liat, lampunya pun tak terlalu terang. Abi melihat tadi juga tidak terlalu banyak yang mereka lewati, motor yang mereka naiki berbelok ke halaman yang lumayan luas itu.


 Abi mematikan mesin motornya, ia pun turun berdiri di samping Abi, Abi memandang ambar yang malam ini jauh lebih cantik dan anggun dengan memakai setelan baju dan rok panjang berwarna merah, rambutnya yang terurai panjang membuat penampilan nya sangat sempurna.


“Ayo masuk,” ucapnya berjalan menuju teras rumah.


Abi pun mengikuti langkahnya saat ia mau membuka pintu Abi tiba-tiba menarik lengannya, Ambat pun menatap Abi.


“Duduk di sini saja di rumah kan gak ada orang,” ucap Abi.


Abi duduk di kursi panjang yang terbuat dari rotan yang ada di teras rumah, Ambar pun menatap Abi dan tersenyum.


“Kenapa tersenyum begitu?”


“lalu kamu kesini mau apa?”


“Ya mau ketemu kamu dan kenal orang tua mu lah, malah mereka ga ada, memang mereka kemana?” tanya Abi.


“Ke rumah saudara yang sakit.”


“Oh. sayang sekali,” kata Abi.


Mereka berdua pun terdiam untuk sesaat karena ini pertemuan pertama mereka di luar mes, jadi Abi bingung mau membahas apa, Abi pun menatapnya saat tiba-tiba ia mengengam tangan Abi dan tersenyum.


“Biarkan, aku merasa tenang bila memegang mu,” ucapnya sangat lembutak.


Abi pun tersenyum senang dan membiarkannya dan balas mengengam erat jemari lembut itu.


“ Kamu tau aku sangat senang bila bersama mu.”


“ Aku tau, selamat ulang tahun untuk mu,” ucapnya dan itu sangat membuat Abi terkejut lagi.

__ADS_1


“Jadi kamu juga tau aku berulang tahun, katakan apa yang tidak kamu tau tentang ku? kamu tahu semuanya tentang aku tapi aku tidak tau apa-apa tentang kamu,” kata ABI kembali menatapnya.


“Nanti kamu juga tahu.”


“Yah kamu benar, nanti kalo kamu sudah jadi istriku aku akan tahu semuanya tentang kamu, Bunda pasti senang mempunyai menantu seperti dirimu,” ucap Abi dan memandangnya yang sudah memandang Abi dengan mata yang sudah menetes kan air mata.


Abi jadi bingung kenapa Ambar selalu menangis bila mendengar Abi berkata serius padanya, Abi mengusap air matanya yang mengalir di pipinya itu.


“Maaf … maafkan aku.”


Hanya itu yang bisa Abi ucapkan karna ia tidak tahu lagi harus berbuat dan berkata apa suasana pun menjadi hening, keheningan itu semakin bertambah saat suara burung hantu berbunyi di antara pohon yang ada di sekitar rumah ambar, entah berapa lama mereka terdiam.


Abi membiatkan Ambar larut dalam lamunannya Abi menggenggam jemari lembut itu dengan erat.


“Sayang,” panggilnya memecah keheningan.


Panggilan itu membuat Abi tak berdaya selain memandangnya 


“Hmmm..?” sahut Abi


“Apa yang kamu minta bila umur mu tidak lama lagi?”


“Kenapa ngomong begitu, umur itu rahasia Tuhan, tapi jika itu terjadi padaku aku hanya ingin hidupku bermanfaat untuk orang lain.”


“Kenapa?”


“Karena kan kita di ciptakan hanya untuk bermanfaat untuk orang lain, selain beribadah dan taat pada Tuhan, kalau hidup kita aja tidak bermanfaat untuk orang lain untuk apa kita hidup sia-sia aja kan, dan sampai sekarang aku masih hidup itu karena Tuhan sangat menyayangiku, dan juga bunda yang sangat mencintai ku karna doanya aku selalu sehat,” tutur Abi.


“Lalu kamu?” tanya Abi.


“Aku ingin ada untuk mu.” 


Ucapan Ambar itu membuat Abi tertawa senang mendengarnya.


“Benarkah, berarti kamu sangat mencintai ku, aku harus bersyukur untuk itu.”


“Iya aku sangat mencintai mu dan juga hanya kamu yang bisa membantuku Abi.”


“Aku? Apa yang bisa aku bantu katakan saja.”

__ADS_1


“Nanti kamu juga tahu,” sahutnya sembari tersenyum.


__ADS_2