
“Pak Wawan jangan bikin kaget dong,” ucap Abi membuat pak Wawan hanya tersenyum.
“Kalian aja yang keasikan hingga tak sadar Bapak ada disini boleh gabung gak?” tanya pak Wawan bercanda.
“Boleh Pak silahkan duduk,” jawab Sarah.
Mereka pun asik ngobrol hingga tak terasa sudah sore dan mereka pun bersiap pulang Sisil dan yang lainnya pun sudah datang, mobil itu pun bersiap berangkat dan meluncur meninggalkan lahan.
kini suasana mobil itu pun kembali ramai karna mereka bercanda tanpa henti hingga pak Wawan pun sampai terpingkal-pingkal mendengar guyonan mereka tak terasa mereka pun sudah sampai bu sarah pun tak lupa berterima kasih kepada pak Wawan yang setiap hari mengantarnya laki-laki itu hanya mengangguk dan meninggalkan rumah itu.
Kini Abi yang berhasil mandi duluan membuat Doni cemberut tak lama Abi pun selesai dan langsung berganti pakaian dan duduk diruang tamu menonton TV karna baru tadi antenanya di pasang Sisil langsung merebut remote itu dan mengganti canelnya.
“Sisil aku lagi nonton berita,” kata Abi hendak meraih kembali remote itu namun Sisil menyembunyikannya.
“Aku ingin nonton sinetron aku kagen, lama gak menontonnya,” ucap Sisil membuat Abi mengalah.
“Bi, Aku dan doni mau kerumah pak Wawan mau ikut gak?” tanya Krisna yang sudah berdiri di depan pintu.
“Gak deh kalian aja,” jawab Abi dengan santainya.
“Ya udah berangkat dulu ya,” ucap Krisna dan Doni melangkah keluar sembari bercanda.
Mereka berjalan kerumah pak Wawan namun Doni menghentikan langkahnya.
“Kenapa Don?” tanya Krisna yang ikutan berhenti.
“Kamu dengar sesuatu gak?” tanya Doni.
“Dengar apa?” tanya Krisna penasaran.
“Aku dengar suara cewek tertawa Kris,” jawabnya sembari menoleh kesamping dan kebelakang.
“Kamu ini ngawur Don, mana ada cewek malam-malam begini berkeliaran,” jawab Krisna dan bersamaan dengan itu terdengar suara.
“Hihihihi.”
Terdengar suara itu sangat jelas dan sedikit melengking.
Doni langsung memegang lengan Krisna dengan ketakutan mendengar suara itu sedang Krisna malah mencari datangnya suara itu.
“jangan takut Don, ini pasti ada orang iseng ngerjain kita,” ucap Krisna dengan santai.
Namun suara itu terdengar lagi dari balik pohon yang tak jauh dari mereka berdiri Krisna pun mengarahkan pandangannya kepohon itu, dan langsung terdiam mulutnya langsung tak bisa berkata-kata.
Kakinya tiba-tiba langsung gemetar tangannya langsung menunjuk sesuatu yang ada di atas pohon membuat Doni melihat kearah yang di tunjuk Krisna gantian Doni yang gemetar.
“Ku-kuntilanak!” ucapnya terbata-bata melihat sesosok perempuan berambut panjang berbaju putih yang bergelantungan di atas pohon dan tertawa menyeramkan itu, sedang Krisna langsung berlari meninggalkan Doni yang masih terpaku tak bergerak.
__ADS_1
Krisna yang sadar Doni masih disana langsung menghentikan larinya.
“Don cepat!” teriaknya namun Doni masih saja tak bergeming membuat Krisna berlari lagi kearah Doni dan menarik tangan Doni dengan sekuat tenaga.
Sedangkan suara tertawa itu masih terdengar dengan nyaring membuat mereka lari tnggang langgang kerumah pak Wawan, sedang pak Wawan yang melihat mereka berlari ke arahnya hanya memandang penuh penasaran.
“Kenapa kalian berlari?” tanya pak Wawan begitu mereka sampai di hadapannya.
“Ha..han..hantu Pak!” jawab Krisna yang gentian bicara terbata-bata membuat pak Wawan tersenyum karna mersa mereka hanya bercanda.
“Kalian ini kalo bercanda suka aneh-aneh mana ada hantu jam segini,” kata pak Wawan tak percaya.
“Beneran Pak ada kuntilanak,” jawab Doni akhirnya begitu dia bisa menguasai dirinya.
“Beneran kalian melihat kuntilanak dimana?” tanya pak Wawan akhirnya mulai percaya.
“Di pohon yang besar dan rimbun pohon Pule pak,” jawab krisna.
“Ya udah yuk kita lihat kesana,” ucap pak Wawan.
Namun Krisna dan Doni serempak menggeleng membuat pak Wawan menghela nafas.
“Ya sudah yuk masuk, kalian ini makanya kalo mau magrib jangan suka keluar rumah,” ucap pak Wawan yang kasihan melihat Krisna dan Doni yang masih gemetar ketakutan dan dia pun binggung masa iya ada kuntilanak selama disini tidak ada yang pernah melihat kuntilanak itu.
Dia semakin merasa aneh dengan kejadian akhir-akhir ini, sementara Sisil asik menonton Sinetron kesayangannya dan sesekali dia marah-marah dan kadang menangis membuat Abi geleng-geleng kepala.
“Biarin suka-suka aku dong, mata-mataku sendiri, mulut juga mulutku sendiri kenapa jadi situ yang heboh.”
“Tentu saja karna kamu berisik, nanti aku akan bilangin ke mas Hendra kalo pacarnya ini penggila sinetron,” ucap Abi.
Langsung saja Sisil mendaratkan cubitan setannya ke pinggang Abi membuat Abi meringis kesakitan.
“Tanganmu itu kalo tidak mencubit gatal ya, sakit tau!” ucap Abi sembari mengusap pinggangnya yang sakit.
“Katanya laki-laki tulen di cubit gitu aja udah kesakitan,” ucap Sisil dengan entengnya.
“Hubungannya apa, coba aja kamu cubit mas Hendra kalo dia tidak kesakitan berarti dia bukan laki-laki tulen, laki-laki yang tinggi besar aja kalo digigit semut aja dia kesakitan apa lagi cubitanmu, sudah dandan sana pangeranmu mau datang jangan ganggu orang nonton berita.”
“Ga mau belum selesai sinetron ku,” jawab Sisil tetep kekeh dan tidak mau beranjak.
Sarah yang melihat hanya tersenyum dan menghampiri mereka.
“Kalian ini kalo sudah bersama ngalah-ngalahi tom dan jery kamu ngalah kenapa sih Bi,” ucap Sarah dan duduk ditengah-tengah mereka.
“Kapan aku pernah menang melawan kalian, apa lagi satunya ini pasti neneknya sinetron,” ucapan Abi membuat Sarah juga mendaratkan cubitannya kelengan Abi membuat Abi meringis untuk kedua kalinya.
“Kenapa sih kalian para wanita suka mencubit, heran aku.”
__ADS_1
“Ya udah kalo ga mau nonton pergi sana jangan berisik,” ucap Sisil.
“Enak saja gak mau kan aku yang duluan di sini, nonton-nonton saja kenapa jadi aku di suruh pergi.”
“Habis kamu berisik.” Ucap Sisil.
“Sudah-sudah kalian berdua gimana nontonya kalo kalian ngomong terus.”
Mereka pun langsung terdiam namun tak lama dengan usil Abi mencolek pinggang Sarah yang ada disampingnya itu membuat gadis itu menoleh namun, Abi dengan cuek seperti tak melakukan hal apa pun dan tak menoleh Sarah pun kembali menonton Sinetron itu dan Abi kembali menjahilinya membuat Sarah mau melayangkan cubitannya namun dengan sigap Abi memegang tangan itu dan menggenggamnya.
Sarah mau menarik tangan nya namun Abi tak melepaskannya Sarah pun akhirnya pasrah membiarkan tangannya takut Sisil tau sedang Abi merasa menang karna Sarah tak berkutik bila ada Sisil di gengamnya jemari lembut itu namun tak lama di lepaskannya karena dia langsung teringat dengan Ambar Abi pun langsung berdiri dan keluar menuju teras yang sepi itu membuat Sarah heran, air matanya menitik dengan tiba-tiba dadanya serasa sesak karna dia tak tahu apa yang harus di lakukannya.
‘dimana kamu Ambar? aku merindukanmu, tidak bisakah kamu datang, aku harus bagaimana dengan semua ini?” ucapnya sembari memejamkan matanya untuk sesaat.
Tiba-tiba sentuhan lembut menyentuh punggungnya Abi terkejut karna dia tau persis itu siapa dan langsung membuka matanya, dan benar saja gadis itu sudah tersenyum sangat manis di sampingnya, Abi pun melihat sekitar sangat sepi dan juga sudah gelap.
“Ka-kapan kamu datang dan dengan siapa?” tanya Abi masih kebingungan karena tiba-tiba Ambar sudah ada disampingnya tanpa dia tau kapan gadis itu datang.
“Memang itu penting, katanya kamu merindukanku ya aku datang, kamu gak senang, kalau begitu aku pergi,” ucapnya hendak melangkah.
Abi langsung menarik tangan itu untuk duduk di sampingnya dan tak melepaskan genggaman tangannya Ambar menghapus airmata yang tersisa di sudut pipi Abi.
“Apa yang kamu lakukan, kamu menangis,” ucap Ambar menatap Abi lekat namun Abi tak berani menatap gadis itu.
“Maaf,” ucapnya pelan.
“Kenapa kau meminta maaf?” tanya Ambar dengan sangat santai.
“Karena, aku tidak tau kenapa hatiku merasa seperti ini, sepertinya ada yang salah.”
“Tidak ada yang salah dengan hati dan perasaan mu, itu sangat normal, aku tau apa yang kamu rasakan kamu merasa bersalah padaku karena rasa yang ada di hatimu itu, kamu hanya laki-laki polos kamu terlalu jujur, kamu takut aku marah karna perasaan mu itu, kamu takut aku meninggalkan mu,” ucap Ambar dan memeluk Abi.
“Aku tidak akan meninggalkan mu karena belum waktunya untuk itu, kalau waktunya tiba kita akan berpisah,” ucapnya
Abi menggeleng, “kamu akan meninggalkan ku? Aku tidak mau kamu h aku sangat mencintaimu.”
“Aku tahu setidaknya aku juga merasakannya, terima kasih untuk cinta yang begitu besar untuk ku, aku tidak akan melupakannya, isilah sisi yang kosong itu untuk orang lain setidaknya kamu nanti akan memerlukannya.”
Abi melepas pelukan Ambar di tatapnya gadis itu lekat dadanya bergemuruh Ambar begitu sangat cantik tapi Abi merasa ada yang aneh dengannya seperti ada yang kurang, ada kekosongan di balik tatapan mata itu seperti tidak ada kehidupan dan tidak ada sama sekali semangat kehidupan Ambar mengusap lembut pipi Abi.
“Jangan terlalu berfikir tentangku,” ucapnya lembut dan menyandarkan kepalanya di bahu Abi dengan manja.
Abi menahan nafas wangi tubuh Ambar sangat membuatnya tegang, Abi hanya bisa menghela nafas dan dia ingat rasa ini juga yang dia rasakan ketika bersama Sarah sebenarnya apa ada yang salah dengannya benarkah dia juga mencintai wanita itu, lalu kenapa Ambar tidak marah walau dia tau akan hal itu dan malah menyuruhnya mengisi kekosongannya.
“Aku tahu kamu memikirkan apa aku bilang jangan di pikirkan itu akan membuatmu tambah binggung, kamu mencintaiku itu sudah cukup bagiku dan suatu saat m akan tau kenapa aku melakukannya, tersenyumlah. aku tak bisa lama aku harus pulang itu mobil yang aku tumpangi tadi sudah menunggu,” ucapnya.
Tanpa Abi sadari sudah ada mobil di depan rumah, Ambar mengecup lembut pipi Abi dan berlari menuju mobil itu dan dengan cepat mobil itu pergi tanpa Abi bisa mengatakan apa pun padanya karena masih binggung. terlihat Hendra berjalan kearah Abi dan melihat Abi yang sedang melamun.
__ADS_1