
“Bi!” Panggil pak Darno yang sedang memanggang aku pun langsung menghampirinya.
“Iya Pak.”
“Duh. ini kecapnya kurang coba kau belikan di warung yang kita lewati tadi sama Doni, ga jauh dari sini,” ucap pak Darno memberikan uang lima puluh ribu kepada Abi.
“Pake apa pak?” tanya Abi.
“Jalan kaki aja Bi, kan gak jauh yang kita mau belok kesini tadi.”
“Siap Pak,” jawab Abi dan langsung memanggil Doni untuk ikut kami berdua pun berjalan beriringan.
“Mana sih warungnya Bi?” tanya Doni.
“Di depan pasti yang terang itu Don, kenapa baru berjalan sudah capek?” tanya Abi.
tak lama mereka pun sampai di warung yang tak terlalu besar itu, Abi pun menyuruh Doni untuk masuk membelinya dan Abi berdiri di teras warung itu, terlihat seseorang berjalan kearah Abi karna cahaya lampu yang tidak ada jadi Abi tak bisa melihat karna jaraknya yang masih terlalu jauh.
‘Mungkin orang yang ingin belanja kewarung,' batin Abi Doni pun tiba-tiba muncul.
“Yuk Bi.”
di saat yang bersamaan orang yang tadi Abi lihat, terlihat wajahnya karna terkena sinar lampu yang ada di depan jalan, dan Abi pun kaget karna mengenalnya dia pun melewati mereka dan masuk kedalam warung sembari tersenyum.
“Don kamu pulang duluan ya.”
“Kok gitu, mana aku berani pulang sendiri kamu mau kemana?”
“Sudah aku ada urusan sebentar, dekat saja masa gak berani dari sini juga terlihat rumah pak Abdi,” ucap Abi.
Doni pun hanya garuk-garuk kepala dan terpaksa mengiyakan walau dia takut Abi pun melihat Doni berlari membuatnya ingin tertawa tapi yang di tunggunya sudah keluar, dan melewatinya begitu saja, membuat nya heran dan mengejarnya di balik remangnya cahaya dan menarik tangan itu.
“Kenapa jadi sombong,” ucap Abi menatap wajah yang begitu dirindukan dia hanya tersenyum.
“Lucu ya, lucu ya melihat orang yang begitu merindukanmu, jadi kamu ga kangen sama aku?” tanya Abi merajuk melepaskan tangan nya, namun Ambar kembali mengengam jemari Abi.
“Kamu baik-baik saja?” tanyanya.
“Kenapa bertanya begitu, tentu saja aku tidak baik karna aku merindukan mu.”
“Kan sekarang sudah ketemu.”
“Trus.. bisakah kita ….”
Abi sengaja tidak meneruskan kalimatnya melihat ekspresi wajah Ambar dahulu.
“Kita apa?” tanya Ambar mengeryitkan alisnya yang begitu indah itu yah walau tak begitu jelas Abi melihatnya karna lampu di desa ini tidak ada.
“Kita jalan-jalan,” ucap Abi, Ambar menggeleng pelan.
“Kenapa?”
“Nanti kamu di cari sama mereka.”
Abi baru ingat kalo dia tadi menyuruh Doni untuk pulang duluan.
“Ya sudah disini saja dulu sebentar mereka juga gak akan mencariku, kalo pun mencariku mereka akan tau kalo aku disini.”
Ambar hanya tersenyum dan mengangguk dada Abi mulai berdetak kencang, sungguh Ambar selalu bikin Abi selalu merasa gelisah bila di hadapan nya Abi jadi binggung mo berbuat apa selain mengenggam jemari lembut Ambar dan mempermainkan jemarinya yang lentik itu, Abi tidak sadar kalo Ambar sudah menatapnya dari tadi hingga tatkala Abi menganggkat wajahnya mata mereka pun langsung beradu pandang.
terlihat mata indah itu berkaca-kaca, yah walau hanya dalam gelapnya sinar rembulan Abi bisa melihat mata itu sudah siap menitikkan airmata, Abi hanya bisa menghela nafas tak mengerti kenapa Ambar selalu bersedih Abi pun memeluk Ambar erat, bahkan Ambar malah memeluk Abi lebih erat dan air matanya tumpah dengan begitu saja membasahi kemeja Abi, Abi pun memgelus rambut itu mencoba menenangkannya.
Abi juga tidak tau apa yang selalu menjadi kesedihannya ingin sekali Abi bertanya tapi dia selalu tidak bisa mengucapkannya takut dia akan tambah bersedih, aroma wangi tubuhnya tercium lagi oleh hidung mancung Abi membuat tubuh Abi bergetar.
“Bukankah aku pernah bilang bahwa jangan ada air mata lagi,” bisik Abi di telinga Ambar dia hanya mengangguk.
“Lalu kenapa kau menangis lagi?”
__ADS_1
“Aku bahagia karna bisa bertemu dengan mu.”
“Dengan cara menangis?”
Ambar menggeleng lagi dan memeluk ku lebih erat lagi seperti tidak mau aku meninggalkan nya.
“Kau tau aku sangat merindukan mu?”
“Tapi aku tidak boleh lagi keluar sendiri malam hari, kalo siang aku bekerja, kalo kamu tidak menemuiku bagaimana aku menemuimu, bahkan aku lupa jalan menuju rumah mu.”
Kata-kata Abi membuatnya tersenyum Abi bisa merasakan senyum itu di dalam dekapannya.
“Kamu menertawaiku?”
“Tidak,” jawabnya singkat.
“Jangan bohong aku bisa merasakannya walau aku tidak melihatnya,” Abi melepaskan pelukannya.
“Tuh aku tidak menertawakan mu,” ucapnya menahan tawa.
“Iya sekarang, tadi aku merasa kalau kamu tertawa,” ucap Abi.
Ambar tetap menggeleng dengan imutnya sembari tersenyum Abi pun akhirnya ikut tersenyum melihat nya , dia sungguh gadis yang ajaib karna sebentar dia tertawa dan menangis.
“Sudah pulanglah, nanti kamu di cari Ibumu,” ucap Abi menatap Ambar yang masih tersenyum manis dia mengangguk dan berjalan menjauh.
Abi pun hanya bisa memandangi punggung Ambar yang semakin menjauh di balik gelapnya jalan di desa itu dan Abi pun kembali kerumah pak Abdi dengan rasa bahagia yang teramat.
“Haduh kamu kemana saja Bi?” tanya pak Darno.
“Oh, tadi ketemu teman pak di jalan jadi ngobrol.”
“Lihat mereka semua sudah hampir selesai makannya kamu malah baru sampai, sudah cepet makan sana sama Doni dan yang lain keburu habis nanti.”
Abi pun hanya mengangguk dan duduk di sebelah Doni, sementara bu Sarah dan Sisil yang berada di rumah mang Ujang tertawa tak tertahankan melihat Bu Yayuk yang memakai sarung terbalik.
“Ayo Bu Sarah nak Sisil mangga di cicipi kue seadanya ini, ini asli buatan saya lho,” ucapnya dengan bahasanya yang campur-campur, campur ngapak dan sunda.
“Iya Buk, tapi manggilnya Sarah saja jangan pake Bu jadi ga enak serasa dikerjaan terus,” ucap Sarah sembari mengambil kue yang ada di hadapannya dan memakannya begitupun dengan Sisil.
“Oh.. iya-iya kalo gitu bu Sarah, eh Sarah maksud saya.”
“Wah … enak sekali kuenya Bu Yayuk, ternyata memang sangat berbakat bikin kue,” ucap Sisil memuji membuat bu Yayuk tersenyum-senyum malu.
“Terima kasih ini tahap belajar nak Sisil jangan memuji gitu Ibu jadi malu.”
“Beneran Bu yang dikatakan Sisil memang benar kue buatan Buk Yayuk sangat enak, wah mes ini sudah buk yayuk rubah ya sangat bagus sekali interiornya,” kata sarah.
Sejak datang tadi melihat ruangan itu sangat cantik dengan motif bunga-bunga sakura kecil-kecil yang ada didinding tidak seperti yang ada di mes mereka hanya polos berwarna putih.
“Terima kasih ini kreasi anak saya, tapi dia sekarang tidak disini sedang sekolah di kota,” sahut bu Yayuk.
“Oh begitu,” Bu Sarah melirik Sisil memberi kode bahwa sudah saatnya mereka pulang.
Mungkin Abi dan yang lainnya akan segera pulang Sisil pun paham dan mengangguk.
“Kalo begitu kami permisi pulang Bu, terimakasih sudah di perbolehkan jalan kesini.” ucap Sarah akhirnya.
“Loh kalian nginap disini aja, emangnya mereka sudah pulang?”
“Mungkin mereka sebentar lagi pulang Bu, kapan-kapan saja, masih banyak yang harus di kerjakan.”
Sarah dan Sisil bangkit dari duduknya bu Yayuk pun manggut-manggut dan ikut berdiri mengantar mereka sampai depan Mes.
“Biar saya panggilkan mang Ujang untuk mengantar kalian,” ucap bu Yayuk.
“Gak usah Bu kan dekat saja kasian mang ujang capek, mangga Bu,” ucap Sarah mengangguk dan mengandeng Sisil.
__ADS_1
Bu Yayuk pun ikut mengangguk dan tak bisa berbuat apa-apa dan masuk kedalam rumah mereka berdua pun berjalan beriringan belum terlalu jauh mereka melangkah, Sarah merasakan ada yang mengikuti langkah mereka dan ia pun menoleh namun tidak ada siapa-siapa di belakang mereka. tiba-tiba bu Sarah merasakan bulu kuduknya berdiri sesekli bu Sarah mengusap tengkuk lehernya.
“Ada apa Bu?” tanya Sisil yang melihat Sarah menoleh kebelakang tadi.
“Oh gak apa-apa Sil, ayo cepetan jalannya Ibu merasa sakit perut,” ucap Sarah berbohong karena sebenarnya dia takut kalau ada seseorang yang mengikutinya, Sisil pun menurut dan mempercepat langkahnya namun Sarah merasa langkah-langkah itu terus mengikutinya dan semakin dekat Sarah pun menoleh dan terkejut.
“Aaaa!” teriaknya.
Sisil pun ikut menoleh dan langsung memegang dadanya
“Mang ujang, bikin kaget saja,” ucap Sisil.
“Maaf bu Sarah, Sisil mengagetkan kalian, mang ujang panggil-panggil malah kalian semakin cepat berjalannya, maaf ya Bu,” ucap mang ujang yang melihat bu Sarah masih sedikit terkejut atau tepatnya ketakutan.
“Iya mang ujang gak apa-apa, memang ada apa mang?” tanya Sarah begitu sudah menguasai dirinya.
“Ini HP Bu Sarah tertinggal,” ucap mang ujang mengeluarkan hp itu dari kantong bajunya dan memberikannya kepada Sarah.
“Oh saya lupa mang terima kasih banyak sudah mengantarkannya,” ucap sarah sambil mengambil hp itu dari tangan mang ujang.
“Sama-sama Bu, kalau begitu saya pamit,” ucapnya mereka berdua pun mengangguk Sarah pun menghela nafas lega dan meneruskan kembali langkahnya menuju rumah sesampainya di rumah keadaan masih sepi mereka berdua pun langsung menuju kamar.
“Gila bener mang ujang hampir copot jantung Sisil Bu, Sisil kira hantu lagi,” ucap Sisil sembari berbaring.
“Kamu benar Sil sampe merinding aku di buatnya, padahal nih yah seumur-umur aku gak pernah merasakan takut seperti tadi, gara-gara kejadian kamu aku sekarang rada takut bila sendiri.”
“Sisil kira Ibu gak punya rasa takut,” ucap Sisil sedikit tertawa.
“Mana ada manusia ga punya rasa takut apa lagi tinggal di tempat yang kayak gini Sil,” ucapan Sarah yang serius membuat Sisil hanya tertawa.
Sarah pun menimpuk Sisil dengan bantal karna menertawakannya.
“Puas kamu melihat aku ketakuatan.”
“Bukan begitu Bu, maaf hanya ternyata kita sama,” ucap Sisil masih dengan tawanya.
Tak lama terdengar suara deru mobil berhenti dan tak lama rumah itu pun ramai kembali karna ocehan Krisna dan Doni yang begitu nyaring.
“Bi! Mau kemana?” tanya Krisna yang melihat Abi hendak keluar.
“Mau nyusul Sisil dan Bu Sarah,” jawabnya Sisil yang mendengar itu langsung bangkit dari berbaringnya dan langsung keluar kamar.
“Aku sudah pulang Bi,” ucapnya lantang Abi pun melihat sisil yang berdiri di depan kamar nya.
“Sudah pulang ternyata, kirain belum, ya sudah kalo gitu tidur lagi gih,” ucapnya sembari menuju kamarnya Sisil pun juga langsung balik lagi kekamarnya dan berbaring kembali.
“Kamu beruntung sekali mempunyai Abi,” celetuk Sarah yang membuat Sisil tak menyangka wanita itu akan berkata seperti itu.
“Maksud Ibu?”
“Tidak maksud apa-apa, hanya kadang aku iri melihat kalian begitu saling menyayangi masing-masing walau kalian hanya berteman.”
“Yah … Ibu benar aku sangat beruntung bertemu dengan Abi, bahkan ibunya pun sangat menyayangi ku seperti ibuku sendiri.”
“Kenapa kalian malah memilih tidak berpacaran? Bukankah dia sangat baik.”
“Entahlah.. mungkin dia terlalu baik untukku, dan kami juga tidak tau kenapa tidak ada rasa sedikit pun, mungkin kita sudah terlalu lama bersama-sama hingga yang muncul hanya rasa sayang antar saudara saja, dan bukan hanya Ibu yang bertanya seperti itu temen-temen Sisil juga banyak yang mempertanyakan hal yang sama, bahkan mereka tak percaya kalo kami hanya bersahabat tapi itulah kenyataannya kami hanya bersahabat, dan aku selalu berdoa dia mendapatkan kekasih terbaik dalam hidupnya,” ucap Sisil panjang kali lebar membuat Sarah hanya terdiam sembari menghela nafas panjang.
Sisil pun hanya tersenyum mendengar helaan itu dan ikut terdiam sampai dia tertidur Sarah yang tak bisa tidur pun akhirnya keluar kamar dan berbaring di kursi panjang yang ada di ruang tamu sembari mengerjakan tugas yang sudah ia simpan dalam hpnya tapi belum sampai dia selesai tanpa sadar dia tertidur dan hp itu jatuh di badan nya.
Ayam jantan pun berkokok tanda malam telah usai dan sang pagi yang gagah perkasa akan mulai datang Abi pun terbangun dan keluar hendak mengambil minum dia terkejut mendapati Sarah yang terbaring di kursi yang ada diruang tamu dia pun mendekatinya mengambil hp yang jatuh di lantai dan menaruhnya di atas meja di pandanginya wajah Sarah lekat semakin dia memandang wajah itu semakin terlihat cantik dan begitu imut lama dia memandangi nya dan menghela nafas panjang desiran itu kembali muncul secara tiba-tiba dia mulai mendekat dan mengangkat tubuh mungil itu perlahan-lahan takut kalo Sarah akan terbangun dan membawanya kedalam kamar membaringkan nya perlahan dan menyelimutinya dia pun kembali ke dapur dan mengambil segelas air dan meminumnya dia seperti terkena dehedrasi karna suhu tubuhnya yang berubah drastic setelah mengangkat tubuh Sarah dia seperti kepanasan dan mengambil air lagi dan meminumnya dia sendiri tidak tau apa penyebabnya dan dia pun langsung bergegas kekamar untuk mengambil handuk dan mandi, Abi pun menghentikan guyuran air kebadannya saat mendengar suara air yang mengalir dari kamar mandi sebelah tanpa henti.
“Jangan buang-buang air, matikan airnya,” ucapnya menegur namun tidak ada jawaban
“Kris, Doni jangan bercanda awas nanti kalo sampe keluar!” ucap Abi lagi.
Namun anehnya tidak ada jawaban lagi malah bau busuk yang menyengat yang ia cium Abi pun langsung terdiam karna bulu kuduknya langsung merinding ia pun segera menyudahi mandinya dan perlahan keluar dari kamar mandi.
__ADS_1
Air itu terus terdengar bergemericik mengalir dengan dada yang berdegup di ketuknya pintu kamar mandi itu perlahan.