Alas Waringin

Alas Waringin
Sisil menghilang


__ADS_3

Mereka pun kembali melanjutkan perbincangan sedangkan Abi hanya mendengarkan yang mereka bicarakan, sembari sesekali ikut tertawa jika ada hal yang lucu. Ingin  sekali Abi pergi dari sana andai ia bisa, untung pak Wawan menyudahi pembicaraan dan berpamitan untuk pulang.


Abi pun menyalami mbah Suroso ikut berpamitan namun Abi merasakan gengaman dari mbah Suroso begitu kuat untuk sejenak hingga Abi menatapnya namun beliau hanya tersenyum dan Abi sama sekali tidak mengerti arti senyuman itu, entah meledeknya atau ada maksud tertentu yang sama sekali tidak ia mengerti.


 Akhirnya mbah Suroso pun menarik tangannya dari gengaman tangan Abi dan Abi pun dengan cepat berlalu meninggalkan rumah itu lalu masuk   mobil, dilihatnya beliau masih menatap Abi dari depan pintu rumahnya, pak Wawan pun mulai menjalankan mobilnya rasanya Abi ingin langsung terbang sampai ke rumah.


“Kita mampir dulu kewarung ya Bi, Bapak lapar,” ucapnya sembari mengusap-usap bagian perutnya.


“Terserah Bapak saja, Abi ngikut tapi Abi tidak ikut makan ya Pak,” sahut Abi.


“Loh lha kenapa? Kamu gak lapar?”


“Abi tidak lapar Pak,” jawab Abi.


Walau Abi tadi belum makan karena ia hanya ingin pulang suasana ini membuat Abi tidak betah.


‘Memang harus ya semua itu di pertanyakan kepada mbah Suroso walau aku tahu beliau memang orang pintar di desa ini tapi apa mereka tidak punya pemikiran lain selain pergi ke mbah Suroso?’ batin Abi.


“Ya … kalo kamu gak makan ya kita langsung pulang saja.” ucap pak Wawan membuat Abi jadi tidak enak hati.


“Bapak makan saja Abi tungguin, gak apa-apa kok pak,” sahut Abi.


“Ya gak enak Bi masa makan sendiri, terus yang di ajak gak makan, bapakkan ingin kamu makan, kalau bapak sih sudah kenyang tadi sudah makan di rumah tapi kalau kamu ingin cepat pulang dan bertemu kekasih hati mu ya kita gak usah mampir.” 


Abi terkejut dengan perkataan pak Wawan, ia merasa jika pak Wawan seperti mengetahui hubungannya dengan Ambar walaupun sebenarnya bereka tidak berpacaran.


“Maksud bapak? Kekasih hati siapa Pak?” tanya Abi untuk menegaskan.


“Alah pake nanya lagi.”


“Beneran Abi tidak tau Pak? Di rumah siapa?” 


“Itu bu Sarah,  bapak lihat kamu dekat sekali sekarang dengan Bu Sarah.” 


Ucapan dari pak Wawan itu membuat Abi tertawa terbahak, karena Abi malah menyangkan pak Wawan mengetahui kedekatannya dengan Ambar.


“Loh kok malah tertawa, bapak serius ini,” ucapnya lagi sembari fokus mengemudi.


“Abi juga serius Pak, Bu Sarah kan sudah punya tunangan, bapak ini ada-ada aja.”


“Loh kamu belum tahu Bi?”


“Ya tau apa, ya tau kalo bu Sarah sudah mau menikah.”


“Kamu ini ketinggalan berita, satu rumah kok gak tahu kalau Bu Sarah tidak jadi menikah.” 


Perkataan pak Wawan membuat Abi terperanjat tak percaya.


“Hah? Serius Pak, bapak jangan bercanda? Nanti kalo bu Sarah tahu trus tak terima bapak bisa bahaya loh.”


“Kamu ini kalo di bilangin orang tua kok ngeyel, Bu Sarah sendiri yang bilang sama Bapak,” ucapnya berusaha meyakinkan Abi.


“Tapi beliau mau nikah katanya selesai dari sini, trus kalo ga jadi nikah, apa masalahnya pastikan serius Pak masalah nya.” 


“Mana bapak tau dia bilang begitu, dan kamu tau Bi, saat dia cerita dia sangat sedih dan menangis karna dia tidak tau harus bercerita sama siapa, karna bapak sudah di anggap bapak nya sendiri maka dia mau bercerita.”


“Apakah orang tua nya tau Pak?”


“Itulah kenapa dia lebih sedih lagi karena orang tuanya yang ngasih tau bahwa calon ya bu Sarah datang dan membatalkan pernikahan mereka,” tutur pak Wawan.


“Astaga laki-laki seperti apa yang tega melakukan hal seperti itu, kan mereka bisa menyelesaikan masalah mereka berdua dulu, bukan seperti itu, kejamnya.”


“Kamu benar Bi. kalau aku jadi orang tua bu Sarah sudah aku hajar laki-laki itu sampe babak belur, sembarangan mempermainkan pernikahan, kurang apa Bu Sarah cantik,pintar, anggun, santun sama orang tua.”


“Bapak benar, tapi kita tidak tau apa yang menjadi masalah mereka hingga laki-laki itu memutuskan sepihak pernikahan mereka, kasian bu Sarah beliau terlihat baik-baik saja walau hati nya hancur.”


“Tapi kamu jangan ngomong sama Bu Sarah kalo kamu tau masalah ini, nanti dia marah lagi sama Bapak, pura-pura ga tau saja ya,” ucapnya lagi 


Abi pun mengangguk tak lama mereka pun sampai pak Wawan melambaikan tangannya begitu Abi turun, dibukanya pintu itu perlahan betapa kaget nya dia begitu pintu terbuka ternyata bu Sarah masih duduk di kursi sembari membaca sebuah buku, bu Sarah pun menoleh.


“Sudah pulang Bi?” tanyanya.


“Ibu belum tidur?” tanya Abi balik.


“Sudah, Ibu terbangun dan belum bisa tidur lagi makanya baca buku,” jawabnya.


 Abi melihat Bu Sarah terlihat biasa saja tak terlihat kesedihan di wajahnya, mungkin itulah perbedaan kedewasaan, namun ia tak terlihat seperti dewasa kadang Abi masih menjahilinya karena menganggapnya mereka sepantaran karena wajahnya yang masih awet muda bahkan wajahnya terlihat seperti masih remaja.


“Kamu ngapain berdiri di situ, sudah istirahat sana besok bekerja.” Ucap bu Sarah.


“Abi masih mau makan Bu. jawab Abi dia menatap Abi menghentikan membacanya.

__ADS_1


“Tadi diluar gak mampir makan, gak di ajak makan sama pak Wawan?” tanyanya bertubi-tubi.


“Di ajak Bu, tapi Abi tak mau, karna takut kemalaman,” jawab Abi ngeles.


“Gimana ini, makanannya sudah habis dimakan Doni tadi tinggal nasi, ya sudah duduk lah aku bikinkan mie sama telor,” ucap bu Sarah yang berdiri dari tempat duduknya.


“Ga usah Bu Abi bikin sendiri.”


“Udah gak apa-apa, aku juga lapar mau sekalian makan mumpung ada temen nya, duduk lah.” 


Abi jadi tidak bisa membantah dan duduk di ruang tamu sedangkan bu Sarah menuju dapur, lumayan lama dan akhirnya beliau keluar dengan membawa dua mangkuk mie dan menaruh nya di atas meja, Abi kaget saat bu sarah tiba-tiba duduk di bawah.


“Kok duduk di bawah Bu?” tanya Abi heran. 


“Mejanya kependekan Bi. susah makannya, enak juga duduk di bawah, makan lah jangan hiraukan aku,” ucapnya Abi pun tersenyum dan mengikutinya duduk di bawah.


“Kok kamu ngikut?”


“Yah kayak nya memang enak begini,” ucap Abi.


Hal itu membuat bu Sarah tersenyum Abi melihat mangkuk berisi mie dan ada telur di dalamnya yang sudah di rebus lebih dulu, aroma mie rebus itu membuat Abi sangat tergoda.


“Lho kok ga di makan, ga suka?”


“Suka, ini kelihatan enak sekali baru kali ini Abi makan Mie ada telor nya yang seperti ini,” kata Abi. 


Abi menyeruputnya dan benar saja, sangat enak sekali Abi pun mengacungkan jempol kearah bu Sarah membuat Bu Sarah hanya tersenyum geli melihat tingkah Abi, dan tak lama pun mangkok itu kosong tak tersisa.


“Wah enak sekali, makasih ya Bu,” ucap Abi senang.


Sekali karena baru kali ini dia merasakan mie yang seperti ini dan itu pun buatan bu Sarah, Abi melihat Bu Sarah hanya memakannya sedikit, dan sekarang Abi paham kenapa beliau dari kemaren itu jarang terlihat  makan, bahkan makan mie pun dia tidak habis, Abi pun menarik mie yang ada di hadapannya dan meletak kan nya di atas mangkok nya.


“Kamu mau apa Bi?” tanyanya yang tahu mangkoknya diambil.


“Ya aku makan lah, bu Sarah kan tidak habis, mubazir lah kalo tidak di makan,” ucap Abi mulai menyeruput mie itu.


“Bi itu bekas ku, jangan di makan!” ucapnya hendak meraih mangkok yang ada di hadapan Abi namun Abi pegang jemari itu dan menahannya.


“Mulai sekarang kalo Abi melihat Ibu makan tidak habis apa pun itu akan Abi habiskan,”  ucap Abi menatap Sarah yang sudah menatap nya tajam, matanya mulai berkaca-kaca.


“Duh mie buatan Ibu memang enak sekali,” ucap Abi melepaskan tangannya dan memakan mie itu lagi.


 Abi tidak mau melihat air mata itu menetes, karna Abi takut harga diri nya akan terluka bila menangis di depannya, akan ia tunggu sampai wanita itu mau bercerita atau tepatnya ketika dia sudah menyelesaikan masalah nya dan melupakannya.


“Terimakasih Bu, aku sangat kenyang dan mau tidur, nitip mangkuknya ya,”  ucap Abi berdiri beliau tidak menjawab dan hanya menatap Abi dan tersenyum.


 Abi  masuk ke dalam kamar terlihat Bu Sarah masih duduk terdiam di sana Abi hanya bisa menarik nafas panjang karna dia pun tidak bisa melakukan apa pun untuknya.


Abu pun membaringkan tubuhnya di kasur dan langsung terlelap seketika akibat kekenyangan, keesokan harinya Abi di bangunkan oleh rekannya.


“Bangun Bi. Kamu kerja gak?” teriak Krisna sengaja di dekat telinga Abi membuat Abi langsung terlonjak kaget dan terduduk sedangkan Krisna dan Doni tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi wajah Abi yang kebingungan.


“Tega banget kalian bikin aku jantungan aja!” teriak abi dan melempar bantal kearah mereka berdua membuat mereka semakin tertawa.


“Makanya jadi orang jangan suka bagun siang,” kata Krisna lagi.


“Aku kan tidur malam habis ngantar pak Wawan,” jawab Abi dengan malas.


“Ngantar kemana memangnya?” tanya Krisna kembali.


“Bukan urusan kalian,” ucap Abi gantian dan pergi mandi tanpa menghiraukan pertanyaan-pertanyaan lainnya.


Entah kenapa pagi ini airnya sangat dingin Abi pun menyelesaikan mandinya sangat cepat, begitu Abi masuk kedalam dan melihat Bu sarah sudah bersiap untuk berangkat dan duduk di ruang tengah entah apa yang dikerjakannya, biasanya dia sudah menyapa Abi tapi kali ini dia menoleh pun tidak saat Abi melintasinya Abi pun kembali ke kamar dan bersiap.


 Dari luar terdengar mobil pak Wawan sudah berhenti di depan dan yang lain nya pun sudah keluar menuju mobil Abi pun bergegas keluar ternyata pak Wawan tidak membawa mobil yang biasanya beliau bawa mobil Strada 4x4 yang belakangnya tidak tertutup Abi pun memilih duduk di belakang bersama Krisna dan Doni.


 sedangkan bu sarah bersama Sisil di dalam dan dengan cepat mobil itu menuju lahan sesampainya di sana sudah banyak karyawan yang sudah memulai kerja, Abi tolah toleh mencari pak Hasan karna Abi akan ikut beliau turun lagi ke bawah tapi kali ini tidak bersama Sisil, dan tak lama pun Truk pak Hasan datang dan mendekat Abi pun melambaikan tangan.


 Pak Hasan dengan senyum khasnya pun terlihat sangat bahagia, 


“Jadi kan ikut?” tanya pak Hasan.


“Jadi dong Pak.”


“Ya sudah cepat naik,” ucap nya Abi pun hendak naik namun terdengar bu Sarah memanggil nya dan dia pun urungkan niatnya untuk naik ke truk itu.


“Iya Bu?” jawab Abi langsung.


“Kalo bekerja yang benar,” ucap bu Sarah mengancingkan baju Abi bagian atas yang terlepas dan membenarkan tali helm safety yang di gunakannya.


 Abi pun memandang wajah yang begitu dekat dengannya itu tiba-tiba jantungnya berdebar cukup kencang entah kenapa hal itu membuat Abi jadi salah tingkah.

__ADS_1


“Kalo kamu kenapa-kenapa nanti Ibu yang disalahkan lain kali jangan sampe teledor,” ucapnya lagi.


“Maaf Bu, tidak akan terulang lagi, terimakasih,” jawab Abi.


 Bu Sarah meninggalkan Abi begitu saja tanpa tersenyum pada nya Abi pun naik kedalam truk, dan berfikir apa yang dia lakukan tadi malam salah, atau dia terlalu lancang kepadanya.


“Bi Abi!” panggil pak Hasan berulang kali karena Abi tak menyahut pak Hasan pun menyentuh pundak Abi membuat Abi tergeragap.


“Ada apa? kamu punya masalah?” tanya pak Hasan.


“Gak kok Pak hanya ada masalah kecil saja, tenang saja Abi pasti akan mengatasi nya.” ucap  Abi tersenyum.


“Yakin? Baguslah itu baru laki-laki,” ucap pak Hasan tertawa.


Truk yang mereka naiki pun sampai kebawah dan eksavator  yang mengeruk batu bara itu pun mengisi truk mereka dengan cepat, truk yang mereka naiki pun kembali ke atas tanpa rintangan yang berarti Abi pun turun dan mengucapkan terima kasih kepada pak Hasan.


 Doni berlari lari kearah Abi dan dengan nafas ngos-ngosan dia berbicara terbata-bata.


“Si.. Si.. Sisil Bi,” ucapnya.


“Ada apa dengan Sisil ngomong yang benar dong, jangan bikin orang ikut panik,” ucap Abi sedikit berteriak.


“Sisil hilang Bi.”


“Hilang? Hilang gimana jangan ngaco kamu tadi kan sama kamu, kamu mau ngerjain aku ya, mau ngeprank aku lagi,” kata Abi dengan santai.


“Beneran Bi. tadi sama aku, begitu aku menoleh dia sudah gak ada.”


“Kamu sudah ngomong sama bu Sarah atau yang lain nya?” tanya Abi.


Doni menggelengkan kepalanya, “belum Bi.”


“Jangan bilang siapa-siapa dulu kita cari dulu, jangan bikin yang lain panik, siapa tau dia ke toilet, kamu cari dia di sekitar sini aku akan cari Sisil kesana.”


 Doni hanya mengangguk Abi pun berlari kearah kantin dan pos yang ada disana dan tidak menemukannya, dia pun berlari kearah toilet wanita dan semua terlihat  kosong.


‘Kemana kamu Sil, jangan bikin orang panik gini dong!’ Abi bermonolog.


“Belum ketemu Don?” tanya Abi sembari mengatur nafas.


“Belum Bi gimana ini?” ucap Doni mulai binggung.


“Kamu juga Don, gimana sih bisa Sisil gaK ada kamu gak tau,” ucap Abi mulai panik.


“Bagaimana aku tau dia tidak ngomong sama aku, kan sudah aku bilang dia tadi di belakang ku dan begitu aku menoleh dia sudah tidak ada!” ucapnya lagi.


“Sabar-sabar, mungkin dia ikut sopir-sopir itu turun kita cegat mereka nanti begitu naik kita lihat Sisil ikut mereka atau tidak,” usul Abi.


“Kalo tidak?” tanya Doni dengan muka sangat cemas.


“Baru kita lapor bu Sarah.”


Doni mengangguk dan berlari kearah lain agar tidak ada yang curiga satu persatu truk itu lewat tapi tidak ada satu pun yang membawa Sisil Abi sudah mulai pusing, kekhawatirannya memuncak, keringat dingin membasahi keningnya tatkala truk yang terakhir pun lewat dan Sisil juga tidak ada bersamanya Doni berlari kearah Abi.


“Bilanglah sama bu Sarah aku akan terus mencari Sisil, bilang pelan-pelan dan jangan bikin panik.”


“Trus kamu mau mencarinya kemana Bi?” tanya Doni ingin tau.


“Aku akan mencarinya di hutan itu, yang kalian dekati tadi, bagaimana pun caranya aku akan menemukannya, dia tanggung jawab ku.” 


Abi pun berlari kearah hutan yang ada di dekat sana, sedang bu Sarah yang melihat nya langsung berlari namun di hadang oleh Doni, Doni pun menceritakan kejadiannya dan bu Sarah pun kaget.


“Kenapa kamu tidak bilang dari tadi sih Doni?” ucap Sarah kaget.


“Anu … Bu Abi dan saya masih berusaha mencarinya tadi siapa tau ada di sekitar sini, dan begitu kami tidak menemukan nya baru kami beritahu bu Sarah.”


“Trus kemana Abi itu pergi?”


“Dia mencari Sisil masuk ke hutan Bu,” jawab Doni sedikit takut.


“Kenapa dia itu seenaknya saja berbuat kalo terjadi sesuatu bagaimana cepat beri tahu pak Wawan,” ucap Sarah dengan nada agak keras dan panik.


“Baik Bu,” ucap Doni berlari kearah pak Wawan yang duduk di kantin.


 Doni pun menceritakan semua nya kepada pak Wawan langsung pak Wawan berlari menghampiri bu Sarah.


“Beneran nih Bu Sisil hilang?” tanya pak Wawan begitu sampai di hadapan bu Sarah.


“Kata Doni begitu sih Pak, dan juga katanya Abi masuk kehutan itu mencari Sisil,” sahut bu Sarah.


“Apa? Ya sudah bu Sarah tunggu di sini saja saya akan cari temen-temen untuk mencari mereka mudahan mereka belum jauh,” Ucap pak Wawan langsung pergi sedang bu Sarah malah makin panic di tinggal sendiri.

__ADS_1


“Sil … Sisil! teriak Abi di tengah lebat nya semak belukar dan pohon-pohon yang menjulang tinggi.


“Sil! Kamu dimana?! Sisil!! Panggil nya lagi, tapi tak ada sahutan sama sekali


__ADS_2