
“Aku hanya bercanda, jangan takut aku tidak akan melakukan itu,” ucap Abi dengan tertawa.
Sisil yang mendengarnya tersenyum bahagia karna Abi sudah kembali seperti semula Sarah pun memukul Abi pura-pura marah dan Abi pun dengan segala cara membujuk gadis itu supaya tidak marah.
“Aku lapar mau makan, aku mau bikin Mie mau tidak?” ucap Sarah kepada Abi.
“Tentu saja yang seperti kemaren ya,” sahut Abi langsung bersemangat dan melompat dari tempat tidurnya menyusul gadis itu kedapur dan melihat cara Sarah membikin mie sambil mereka terus bercanda.
“Kalo sampe enggak habis aku habiskan lagi mie mu,” Ucap Abi serius
“Enak saja tentu saja habis tak kan ku sisakan, bilang saja karena kamu sangat suka mie buatan ku,” sahut Sarah dengan terseyum.
“Kalo begitu nanti kamu akan membuatkan mie seperti ini untukku seumur hidupmu,” kata Abi sembari tertawa dan memakan mie itu dengan lahap.
Sarah hanya mengaminkan yang di katakan Abi.
‘Bila aku jadi istrimu akan aku buatkan mie seperti ini kapan pun kau mau,' batin sarah tersenyum melihat Abi yang begitu menyukainya dan sengaja tidak menghabiskan mienya agar laki-laki itu menghabiskannya.
“Besok kita tidak ketambang tapi ke lahannya Pak Erik lagi,” kata sarah membuat Abi terdiam menginggat kejadian hari itu.
“Tapi kalo kamu tidak mau ikut juga tidak papa,” sambung sarah yang melihat Abi langsung terdiam dan mengaruk kakinya.
Di situ Abi baru sadar kalau ada sesuatu yang melingkar di kakinya dan memegangnya.
“Jangan dilepas,” Sarah yang memperingati Abi
“Itu tadi dari mbah Suroso katanya tidak boleh dilepas sampai kamu meninggalkan tempat ini karna kamu diganggu mahluk jahat tadi,” Sarah yang menjelaskan kepada Abi.
“Kamu masih percaya hal yang kayak gini aku percaya mahluk lain itu ada tapi yang kayak gini kan ga boleh.”
“Tolong lah Bi.. tinggal beberapa hari lagi.. kamu tidak tau bagaimana kamu mau melukaiku tadi,” sahut Sarah serius Abi hanya menghela nafas panjang.
“Bener Bi untuk beberapa hari ini aja itu juga demi keselamatanmu,” celetuk Sisil yang tiba-tiba muncul dari depan.
Abi hanya terdiam dan tidak jadi melepasnya ia pun berdiri dan masuk ke kamarnya Sisil dan Sarah pun berpandangan dan menghela nafas lega mereka pun juga buru-buru masuk kekamar karena ada yang ingin Sisil bicarakan kepada bu Sarah.
“Ada apa?” tanya Sarah begitu mereka sampai di kamar
“Bagaimana kalo Abi melepasnya Bu?” kata Sisil.
“Tidak, jangan khawatir Abi tidak akan melepasnya Abi tidak akan tega membayakan nyawa orang lain, Abi hanya ingat kalau mau membayakan nyawaku Abi tidak akan melakukan itu lagi. jadi jangan khawatir tinggal kita harus membuatnya merasa tidak memakainya itu saja,” Sarah yang menjelaskan kepada Sisil.
Sisil pun mengangguk, mereka mengobrol hingga tak terasa sudah larut malam akhirnya mereka pun bersiap untuk tidur.
Keesokan paginya Sarah tersontak kaget ketika Alarmnya berbunyi dan itu pertanda sudah jam enam pagi, dilihatnya Sisil sudah tidak ada dikamar pasti Sisil sedang mandi Sarah langsung turun dari ranjangnya dan keluar dari kamar di lihatnya Bik Siti sudah selesai masak dan mengangguk padanya.
Sarah pun membalasnya dengan senyuman ia pun menuju ruang tengah dan duduk menonton Tv yang sudah menyala entah siapa yang habis menontonnya tidak di matikan di liriknya kamar Abi yang masih tertutup dan terlihat sepi.
__ADS_1
‘Pasti Abi masih tertidur,' batin sarah.
“Apa kamu mencariku,” ucap Abi berbisik di telinga Sarah.
Abi sudah mengendap-endap setelah habis mandi melihat Sarah duduk di ruang tamu sebenarnya mau mengagetkan tapi takut Sarah terkejut sedang Abi bilang begitu saja Sarah sudah terkejut.
“Abi,” ucapnya melotot.
Abi pun duduk di samping gadis itu dan menonton berita tanpa menghiraukan Sarah yang melotot padanya.
“Cepet mandi nanti keduluan Doni sama Krisna lo,” kata Abi memperringati Sarah.
“Biar saja kali ini aku mau jadi yang terakhir mandi mau nonton TV dulu,” sahut Sarah dengan asik menonton tv.
“Mau nonton TV atau mau deket aku,” Ucap Abi meledek Sarah.
“Dua-duanya,” Jawaban sarah membuat Abi menoleh.
Dan Sarah yang tak menghiraukannya membuat Abi gemes dan menggeser duduknya mendekati Sarah baru Sarah menoleh.
“Kenapa? Ga boleh?” ucap Abi sembari tersenyum.
“Aku belum mandi jangan dekat-dekat,” Jawab Sarah dengan risih karena ia belum mandi.
Abi pun tentap duduk di dekat Sarah hingga ia merasa tidak nyaman.
“Ada apa aku tidak ngapa-ngapain kok, lagian nih ya kamu tetep harum kok walau ga mandi sini aku peluk, “ ucap Abi merentangkan tangannya membuat Sarah tertawa dan menjitak kepala Abi.
“Aaauuuw.. sakit tau.”
“Siapa suruh ke GR an,” ucap Sarah
“Aku tidak GR hanya pede saja,” Ucapnya tertawa ngakak
“Sama aja dong,” Sarah seneng Abi sudah seperti biasanya.
“Kenapa kita kelahan nya pak Erik, memang ada apa disana?” tanya Abi ingin tahu.
“Emmm, katanya Sih pengerukan pertama, kalo difikir-fikir kenapa juga kita harus ke sana bukankah sama saja pertama dan yang sudah ada,” ucap sarah sedikit binggung.
“Yah, mungkin ada pembukaannya atau ritual yang harus kita lihat kali,” Jawab Abi sekenanya.
“Kamu benar, dan mungkin juga semua karyawan harus hadir sebab itu kita diminta kesana,’ sahut Sarah.
“Baguslah setidaknya kita hanya menonton dan tidak bekerja, karna aku sangat ingin istirahat,” ucap Abi sembari menyandarkan kepalanya dikursi.
“Ya sudah istirahatlah aku mau mandi dulu,” sahut sarah berdiri dan meninggalkan Abi yang memejamkan matanya.
__ADS_1
obil pak Wawan sudah menunggu di halaman sedangkan mereka belum ada yang siap pak Wawan menunggu dengan sabar di teras rumah duduk dengan santainya sampai mereka keluar.
“Maaf pak Wawan telat,” kata Sarah kepada laki-laki itu.
Pak Wawan hanya tersenyum, mereka pun masuk kedalam mobil dengan terburu-buru.
“Santai saja, kita belum telat acaranya juga agak siang di mulai,” Kata pak Wawan yang melihat mereka begitu gelisah.
Mendengar itu mereka pun bernafas lega.
Sesampainya di sana Abi hanya bisa terdiam hutan yang dulunya begitu lebat kini sudah tidak ada lagi, yang ada hanyanlah lubang sedalam kira-kira tiga meter dan luasnya entah berapa puluh meter dan sudah banyak truk yang berada di sana berjajar rapi.
Terlihat mbah Suroso sudah berada disana entah ritual apa yang dilakukannya dia kelihatan sangat sibuk Abi hanya bisa menghela nafas panjang melihat pemandangan itu.
“Jangan melamun, dan jangan memikirkan yang tidak bisa kamu bayangkan,” kata Sarah memperingati.
Yang berada di samping Abi dari tadi melihat laki-laki itu hanya memandang lurus takut kalo Abi kesambet lagi.
“Aku tidak melamun hanya tidak bisa membayangkan, betapa sekarang ini semua hanya diukur dengan uang,” Jawab Abi
“Tidak semua Bi sudah kita nikmati saja acaranya, ayo kita duduk di sebelah sana,” Sarah menunjuk pohon yang tumbang tidak jauh dari tempat mereka berdiri.
Abi pun mengikutinya sedang Doni dan krisna lebih memilih berada di depan bersama karyawan lainnya Sisil pun duduk disebelah Sarah.
“Kenapa sih harus pake ritual-ritual segala?,” Tanya Sisil penasaran
“Yah itu kan tergantung kepercayaan Sil,” Jawab Sarah
“Bukan hanya itu Sil, inikan tempat terpencil pastilah masih ada adat yang mereka lestarikan,” ucap Abi menambahi
“Trus sekarang kita ngapain nih, kayak gini aja, bosen tahu, mending di lahan satunya rame banyak temen ada pak Hasan, mang Deden,” Ucap Sisil mengerutu
“Sudah jangan protes paling kita di sini juga ga sampe sore habis siang pulang,” Jawab Abian tersenyum
“Enak kalian berdua bisa sambil bermesraan lha aku, jadi obat nyamuk disini,” kata Sisil meledek melihat Abi mencuri pandang kepada bu Sarah.
“Maksudmu?” yanya Abi dan Sarah bersamaan dan mereka pun saling memandang karna mereka mengatakan hal yang sama.
“Tuh kan sampai ngomong pun sama,” ejek Sisil kepada mereka berdua.
“Kamu aja yang fikirannya kayak gitu, tidak seperti itu Sil,” sahut Abi
“Lalu seperti apa, seperti itu juga enggak papa Sisil senang kok kalau kakakku yang ganteng ini dapat wanita baik dan cantik seperti bu Sarah,” puji Sisil.
Wajah Abi langsung memerah mendengar kata-kata Sisil yang begitu langsung terus terang kenapa Sisil sekarang membela Sarah bukankah Sisil tahu kalau Abi sangat mencintai Ambar bukankah Sisil juga tau kalau saat ini Abi masih menjalin kasih dengannya kenapa Sisil jadi berbelok arah.
Abi menatap Sisil dengan wajah yang sungguh tak mengerti sedangkan Sarah hanya terdiam tidak bisa berbuat apa-apa mendengar kata-kata Sisil mereka pun terdiam untuk sesaat dan keheningan pun muncul fikiran mereka melayang entah kemana sampai tersadar saat mendengar ucapan pak Erik yang begitu lantang membuka acara itu.
__ADS_1
Mereka bertiga hanya mendengarkan dari tempat mereka duduk sampai Sisil berdiri karna Hendra memanggilnya dia pun berlari-lari kecil menghampiri laki-laki itu.