
“Kamu” ucapnya menunjuk kearah Abi
“Aku” jawab Abi lirih namun dia semakin menatap tajam, hingga mata nya berubah putih semua.
“Ku bunuh kau!” ucapnya tiba-tiba menyerang abi seketika Abi menahan tangannya yang hendak mencekiknya dengan sekuat tenaga.
“Kamu harus mati! Teriaknya
Lalu terus berusaha mencekik Abi, Hendra dan yang lainnya berusaha menenangkan Abi pun menjauhkan, namun Sisil yang melihatnya pun berteriak histeris.
“Keluar Sil Keluar,” teriak Hendra yang masih berusaha menahan Eza agar tidk mencekik Abi, namun kekuatan Eza jadi tidak seperti manusia normal Hendra dan tiga temen nya pun terpental kebelakang.
“Lari Bi!” teriak Hendra
Abi berusaha lari namun Eza sudah lebih dulu dengan cepat mencekal lengan Abi dengan kuat, Abi meringis kesakitan berusaha melepaskan diri namun laki-laki itu malah dengan beringas dan dengan mudah nya mengangkat tubuh Abi ke atas.
“Turunkan Za! Turunkan” teriak Hendra kembali
Akan tetapi laki-laki itu malah mengerang dan melemparkan tubuh Abi dengan kuat kearah dinding sontak saja tubuh Abi pun membentur dinding jatuh menghantam meja yang ada di bawahnya.
kejadian itu sangat cepat hingga orang yang ada di tempat itu hanya bisa tertegun melihatnya tanpa bisa membantunya.
Hendra dan yang lain langsung memegang Eza beramai-ramai, sedangkan Abi hanya bisa merintih lalu darah keluar dari hidung dan kepalanya, pak Bagas yang melihat kejadian itu langsung berlari menghampiri Abi.
“Bi, astaga bagaimana ini kamu masih sadarkan?” ucap pak Bagas dengan sekuat tenaga membopong tubuh Abi yang terkulai lemas di lantai.
“Mang Ujang bantuin malah bengong..” teriak pak Bagas mang Ujang pun langsung berlari begitu mendengar teriakan pak Bagas mereka berdua membopong tubuh Abi keluar dari rumah itu dan berpapasan dengan Pak Wawan.
“Abi kenapa Pak?” Tanya pak Wawan yang melihat Abi di bopong mereka
“Di serang Eza pak.
“Sampe seperti ini?
“Iya pak sebaik nya cepat kedalam mereka masih memegangi nya, kalo kelamaan mereka tidak kuat nanti,” kata Pak Bagas dan berlalu pergi.
Pak Wawan dan mbah Suroso berlari ke dalam sesampainya di dalam rumah mereka sudah mendapati Eza di pegangi begitu banyak orang.
“Cepat pak kami sudah tidak tahan Eza bener-bener menggila,” kata Hendra.
Sedangkan Eza masih mengerang-erang dan berusaha melepaskan diri dari pegangan mereka mbah Suroso pun menghampiri Eza dan memegang kepalanya dan membisikkan sesuatu di telinga Eza, sedang laki-laki itu meronta-ronta kesakitan entah mantra apa yang di bisikkan mbah Suroso di telinga laki-laki itu.
“Aku tak mau pergi! Teriaknya
“Dunia mu bukan disini pergilah,” ucap mbah Suroso
“Aku tak mau hahahaha,' laki-laki itu malah tertawa menggema seakan meledek.
“Kalo kamu tidak mau pergi berarti kamu siap mati terbakar,” ucap mbah Suroso geram dan memegang kepala itu dengan kuat.
“Pulang atau mati!” teriak mbah Suroso lagi masih dengan membaca mantra-mantranya.
“Ampuun, ampuun, iya aku kembali,” ucapnya.
“Sampai aku melihatmu kembali habis kau!” kata mbah Suroso
“Aku hanya di suruh,” ucapnya lagi dengan masih mengerang kesakitan.
“Aku tidak perduli sopo seng ngongkon koe ( siapa yang menyuruh mu) yang penting keluar dari jasad ini kalo tidak akan ku bakar kamu,” ucap mbah Suroso.
Mbah Suroso seperti menarik sesuatu dari ubun-ubun laki-laki itu hingga tubuh Eza mengejang seperti orang kena Step dan mbah Suroso mengengam sesuatu di tangan nya dan melempar nya jauh, seketika tubuh itu langsung lemas lunglai.
Mbah Suroso mengusapkan telapak tangan nya kewajah Eza dan laki-laki itu pun mengerjapkan mata dan melihat kesekeliling dengan kebingungan.
“Ada apa Hen? Tanya nya masih dengan kebingungan karna melihat banyak temen nya ada di sekelilingnya.
“Alhamdulillah, kamu baru saja kesurupan dan hamper membunuh Abi,” tanya Eza
“Trus bagaimana dengan Abi?” tanya Eza sembari duduk dan meringis.
“Aku juga belum tau keadaan Abi bagaimana, kenapa apa ada yang sakit?” tanya Hendra
“Badan ku terasa sakit semua Hen,” ucapnya Eza memegangi pundak.
“Biasa itulah efek orang kesurupan, karna akan menguras energy kamu beberapa hari nanti juga akan baik sendiri, ya sudah saya tinggal dulu melihat keadaan Abi,” Kata Pak Wawan di ikuti mbah Suroso keluar dari rumah itu menuju mes Abi.
Di sana sudah ramai orang terlihat Abi berbaring di kamar di tunguin oleh Sisil dan bu Sarah terlihat kepala Abi sudah di perban dan baju sudah di ganti.
“Bagaimana Bu, keadaan Abi? tanya Pak Wawan
“Saya bisa ngomong apa pak, bagaimana bisa terjadi seperti ini, ini sangat mengerikan bagaimana kalo sampe dia terluka lebih parah,” ucap bu Sarah dengan nada sangat sedih karna dia tidak pernah membayangkan kejadian seperti ini bisa terjadi dan semua ini nyata tanpa ada yang bisa menghentikan nya.
__ADS_1
“Maaf Bu kami juga sangat tidak menyangka semua ini terjadi, biasanya tidak sampe seperti ini, kalo pun ada yang kesurupan mereka hanya berteriak-teriak saja Bu tidak sampe menyerang seperti ini.
“Tapi Pak Bu Sarah–“ ucap bu Sarah terhenti ketika Abi memegang lengannya, bu Sarah pun menoleh di lihatnya Abi menggelengkan kepalanya menandakan dia tidak boleh berdebat lagi dengan pak Wawan sedangkan mbah Suroso memandang Abi dengan lekat.
“Bolehkah saya bicara berdua dengan nak Abi?” tanya mbah Suroso tiba-tiba membuat yang ada di ruangan itu pun menoleh semua kearah mbah Suroso
“Boleh mbah, boleh, mari kita semua keluar sebentar,” ucap pak wawan.
Mereka pun menurut meninggalkan kamar itu menuju ruang tengah sedang Abi hanya bisa merasakan tubuhnya yang remuk redam sembari berbaring tak berdaya, mbah Suroso mendekati Abi di pandang nya Abi dengan lekat dan menyentuh telapak tangan kiri Abi sembari memejamkan mata, tak lama mbah Suroso pun melepas tangan itu secara tiba-tiba, Abi hanya bisa terdiam menatap beliau dengan perasaan yang penasaran.
“Kalo nak Abi tidak keberatan, jauhilah gadis itu,” ucap Suroso yang tiba-tiba membuat Abi semakin penasaran
“Maksud mbah Suroso apa?” tanya Abi lirih
“Maksud mbah kalo bisa jangan diteruskan hubungan kalian, bahaya,” ucapan Suroso membuat Abi semakin tak mengerti dan semakin membuatnya binggung.
“Lantas hubungannya apa dengan kejadian ini?” tanya Abi yang semakin bingung.
“Banyak jadi berhati-hatilah dimensi lain itu datang dan pergi sesuka hati tidak bisa kita analisis pakai akal dunia kita,” mbah Suroso yang menjelaskan kepada Abi.
“Saya bukan orang yang tidak percaya hal gaib mbah, tapi kalo masalah ini mbah sangkutkan dengan orang yang saya fikirkan, sebaik nya mbah pergi,” perkataan Abi tidak terlalu nyaring tapi mampu membuat mbah Suroso terdiam dan menatapnya tajam dan Abi pun tidak takut ditatapnya mbah Suroso juga dengan tatapan tajam.
“Aku hanya memperingatkan mu, dan itu untuk kebaikan mu,dan sebaiknya kalian pulang saja sebelum hal-hal buruk terjadi pada kalian karna mahluk gaib di alas waringin mulai terganggu dengan kehadiran kalian.”
“Kami ke sini tidak ingin mengganggu mereka, kami ke sini hanya sebentar, dan itu juga tidak ada hubungannya dengan yang mbah katakana tentang gadis yang aku cintai, sebaiknya mbah Suroso pergi karna saya mau istirah,“ ucap Abi dengan kesal.
Abi tak terima mbah Suroso menyangkut pautkan masalah ini dengan kehidupan pribadinya yang ia rasa tak menganggu siapa pun
Mbah Suroso masih menatap Abi dengan tajam dan berdiri meninggalkannya.
Abi mendengar mbah Suroso bercakap-cakap dengan pak Wawan entah apa yang mereka bicarakan tak terdengar jelas dari kamar Abi namun tak lama mobil yang biasa pak Wawan bawa berbunyi dan meninggal kan halaman Mes tak lama Sisil pun masuk rasa sakit di kepalanya mulai terasa lagi Abi pun meringis kesakitan.
“Sakit ya Bi,” tanya Sisil panik memegang kepala Abi
“Jangan di pegang sakit Sil.”
“Iya-iya maaf, duh harus gimana dong, ngeri sih orang kesurupan tu ternyata ya baru kali ini aku lihat secara langsung.”
“Sudahlah aku juga baru ngalami hal seperti ini,” ucap Abi dengan nada lemas
“Tadi mas Hendra cerita katanya orang yang kesurupan itu di pegangi lima orang juga ga kuat nahan, katanya kamu di angkat dan di banting nya dengan mudah, bagaimana mana yang sakit.”
“Lho mbah Suroso tadi tidak membenarkan, lalu ngapain tadi dia ingin berdua dengan mu ngomong apa dia?” tanya Sisil
Abi hela nafas pendek tak tahu menjawab apa untuk pertanyaan Sisil karna Abi tak ingin Sisil khawatir.
“Malah bengong, ngomong apa tadi mbah Suroso?” tanya Sisil yang sangat penasaran
“Enggak ngomong apa-apa hanya suruh hati-hati aja selama di sini jangan aneh-aneh.”
“Yakin, itu aja?” Sisil mencoba menanyakan kembali.
Abi mengangguk terlihat Bu Sarah masuk membawa sesuatu di tangannya
“Minum obat dulu Bi,” kata bu sarah memberikan obat itu kepada Abi.
“Bisa bangun ga?” tanya bu Sarah kembali.
Abi mencoba bangun, namun tenaganya serasa tidak tersisa bu Sarah langsung menahan punggung Abi bagar dirinya tidak terjatuh.
“Makanya kalau tidak bisa ngomong,” ucapnya di telinga Abi sembari menahan tubuh itu dengan kedua tantangannya.
Sedangkan Sisil membenahi letak bantal Abi biar agak tinggi agar pemuda itu bisa bersandar bu Sarah dengan lembut meletak kan kepala Abi perlahan di atas bantal itu dan tersenyum Sisil pun memberikan obat itu dan menyuruh Abi untuk membuka mulut nya Abi pun hanya pasrah dan melakukan nya beberapa obat itu pun masuk ke mulut dan sekejap pindah keperut dengan seteguk minuman.
“Ya sudah kamu istirahat Ibu balik kekamar dulu, Sisil tunguin Abi tidur di kasur Krisna atau Doni biar mereka tidur di luar nanti atau tidur di Mes sebelah, kalo ada apa-apa bangunkan Aku aja jangan sungkan.” Sisil pun mengangguk dengan mantap karna dia juga tak akan tega meninggalkan Abi dengan kondisi lemah begini akhirnya bu Sarah pun keluar kamar itu.
“Sil, Jangan cerita sama Bunda aku mohon padamu, Aku tidak mau jika nanti bu Sarah akan memberitahukan bunda dan bunda khawatir bila tau keadaan ku kayak gini bisa-bisa aku langsung di suruh pulang, kita kan disini tinggal seminggu lagi, yah aku mohon,” Pinta Abi dengan sepenuh hati.
“Dengan satu syarat,” kata Sisil
“Apa?” tanya Abi penasaran dengan syarat yang dia ajukan Sisil kepadanya.
“Gampang kok sesampai di rumah nanti kamu harus ajari aku naik mobil,” kata Sisil dengan terseyum.
“Yakin tidak ada yang lain?” tanya Abi kembali
Sisil menggeleng penuh kemenangan karna selama ini Abi tidak pernah mau mengajarinya menyetir karna kalo dia di ajari sudah heboh duluan dan itu membuat Abi pusing dan tidak sabar mengajarinya.
“Baiklah, tapi bener ya jangan ngomong sama bu Sarah dan Bunda.”
Sisil pun mengangguk dengan sangat senang.
__ADS_1
“Aku ambil selimut dulu hore belajar naik mobil,” ucap Sisil kegirangan sambil berlari keluar.
Abi hanya bisa terdiam dan teringat ucapan mbah Suroso tentang Ambar mana mungkin beliau bisa berkata seperti itu Ambar gadis baik dan lemah lembut tidak masuk akal apa bila kejadian hari ini dikaitkan dengannya semua otak dan hati nya menolak tidak terima.
Beberapa menit kemudia obat yang di berikan Sisil telah bekerja Abi pun mulai menguap dan dia pun tak tau lagi Sisil kapan berada di kamar karna Abi sudah tertidur pulas.
“Bangun Bi,” panggilan itu membuatnya mengerjap-ngerjapkan mata karna Abi sangat hapal suara siapa itu.
“Ambar,” ucap Abi.
Begitu membuka mata Ambar pun tersenyum manis seperti biasanya jemari lembutnya menyentuh pipi Abi dengan lembut, Abi melihat kesekeliling kamar itu kosong dia melihat jam yang berada didinding menunjukkan sudah pukul Sembilan, berarti mereka sudah berangkat bekerja semua, dan Abi pun di tinggal sendirian,dan apa yang dikatakan mbah Suroso tidak benar, Ambar adalah gadis biasa nyatanya dia datang menjenguk nya seperti biasa, bisik hatinya dan menatap Ambar yang ternyata sudah menatap nya.
“Aku tahu apa yang kamu fikirkan?” ucap Ambar
“Kamu tahu?” tnya Abi terheran
“Apa aku seperti yang kamu fikirkan?” tanya Ambar kembali
Abi pun menggeleng dan tersenyum.
“Kemaren kamu nyasar?” tanya Ambar.
“Kok tau.”
“Aku dengar dari bik Siti, kan aku sudah bilang kiri-kiri baru kanan masa begitu lupa,” Abi pun tertawa tertahan mendengarnya.
“Kok tertawa,” celetuk Ambar dengan kesal.
“Habis kamu tambah cantik kalo marah.”
“Aku tidak khawatir hanya takut aja kalo kamu nyasar dan ga bisa balik lagi gimana?” tutur Ambar karena khwatir
“Ada kamu katanya kamu akan selalu menolongku.”
“Trus! kamu seenak nya nyasar-nyasar gitu,” kata Ambar dengan kesal.
Abi hanya nyengir mendengar ucapan Ambar.
“Sudah jangan marah,” ucap Abi merebahkan kepalanya di pangkuan Ambar di peluk pinggang gadis itu dengan erat,
“Kamu tahu Ambar jika aku sangat mencintai mu begitu dalam hingga aku tak bisa melupakan sedikit pun senyuman mu dari ingatan ku.”
“Aku tau tapi aku ingin rasa cinta itu membuat mu kuat bukan malah melemahkan jiwa dan raga mu,” nasehat Ambar
“Kamu sok puitis,” ejek Abi
“Kamu yang selalu puitis, biar kamu tau perjalanan hidup seseorang itu tidak ada yang mudah, bahkan sangat menyakitkan,” sahut Ambar.
Abi mendengar kata-kata itu sangat begitu hampa di pandangnya wajah cantik itu dia pun menunduk dan tersenyum di rabanya kepala Abi yang masih terasa sakit dan sakit itu perlahan menghilang.
“Kenapa setiap kau sentuh luka yang kurasakan sakit selalu tidak terasa sakit lagi,” tanya Abi yang binggung.
“Karna aku menyentuhnya dengan cinta dan kasih sayang dan juga karna kamu sangat mencintai ku jadi rasa sakit mu terasa berkurang itu aja penyebabnya,” kata Ambar yang penuh makna.
“Sudah aku pulang dulu karna kamu sudah baik-baik saja.”
“Tidak bisakah lebih lama? Aku belum baik aja,” Abi meminta kepada Ambar
Ambar pun memeluk Abi sembari berbisik.
“Sekarang udah lebih baik kan,” tanya Ambar.
Abi mengangguk menarik tangan Ambar kembali saat gadis itu hendak melepaskan pelukannya.
“Sebentar saja,” ucap Abi memeluknya kembali sejenak dia hanya tersenyum membiarkan Abi memeluk nya dan dengan berat hati melepas pelukan nya, Abi pun membiarkan Ambar melangkah pergi meninggalkan nya, diintipnya dari jendela arah kepergian gadis itu dia berjalan menjauh sesekali menoleh dan tersenyum terdengar suara lari-lari kecil dari arah lain dan terlihat Sisil berlari masuk.
“Bi! Abi!” panggil Sisil
“Apa” jawab Abi
“Sudah kamu makan nasi nya?” Tanya sisil sambil melihat meja yang ada di kamar itu.
“Lho kok belum di makan, bagaimana sih, kamu itu harus makan biar cepat sembuh,” ucap Sisil sembari mengambil makanan yang sediakan tadi pagi sebelum dirinya berangkat
“Ayo cepat buka mulutmu,” Sisil sedikit memaksa Abi.
Abi pun membuka mulutnya sembari menatap Sisil
“Kenapa?”
“Kamu itu kok sekarang ngalahi bunda cerewetnya, nyerocos aja, aku kan baru bangun belum sempat makan” eluh Abi.
__ADS_1