
“Permisi pak, boleh numpang nanya sebentar?” ucap Abi kepada laki-laki itu.
Laki-laki itu pun berhenti namun tidak menoleh kearah mereka dan mengangguk.
“Kami tadi tidak sengaja memasuki hutan ini dan tersesat kami tidak tau arah kemana tempat kerja kami di pertambangan, apakah bapak tau jalan keluar dari hutan ini?” tanya Abi begitu sopan.
Orang itu hanya menunjuk kearah darimana orang itu berjalan tadi dan meneruskan langkahnya sebelum Abi berterimakasih.
“Terimakasih Pak,” Teriak Abi garuk-garuk kepala karna merasa aneh.
“Aneh sekali sih Bi, dia tak mau bicara,” ucap Sarah.
“Mungkin dia tak bisa bicara tapi tak apalah yang penting dia sudah menunjukkan jalan pulang, yuk,” ucap Abi berjalan kearah dimana orang tadi menunjukkannya.
Ternyata banyak rumah disana dan banyak orang lalu lalang namun yang menjadi mereka binggung kenapa mereka semua terlihat agak aneh.
“Kalian mau kemana?” pertannyaan itu membuat Abi dan Sarah menoleh di lihatnya kakek-kakek tua sudah berdiri di belakang mereka.
“Kami tersesat Kek, mencari jalan pulang,” jawab Abi dilihatnya kakek itu juga mempunyai wajah yang sama sedikit berbeda dengan mereka berdua terlihat agak pucat.
“Oh … mampirlah kerumah dulu istirahat, pasti kalian capek,” ucapnya.
Abi dan Sarah saling memandang.
“Terimakasih kek tapi lain kali saja, karna kami takut dicari karna di perusahaan ada acara dan kami pasti sudah sangat terlambat karna tersesat,” ucap Abi menolak dengan sangat halus.
“Baiklah, jalan pulang kalian kearah sana lurus saja jangan belok-belok,” ucapnya.
“Terima kasih Kek, untung ada kakek kalo tidak kami pasti tidak tau harus bagaimana,” ucap Abi lagi kakek itu tersenyum.
Abi pun hendak melangkah kakek itu memanggil lagi membuat mereka kembali menoleh.
“Iya kek?” tanya Abi heran.
“Hati-hati sesuatu yang besar sedang menunggu kalian, jangan percaya dengan orang yang kelihatannya baik, mereka tak sebaik yang kalian lihat, ambillah ini.”
Kakek itu memberikan sebuah cincin dan langsung memasangkannya di jari Sarah dan Abi.
“Jangan sampai kalian lepas sampai kalian meninggalkan pergi dari desa yang kalian tinggali, inggat kalian harus ingat yang menciptakan kalian dimana pun kalian berada.”
Abi dan Sarah hanya bisa mengangguk dan mengucapkan banyak terimakasih karna sudah mengingatkan mereka akan hal itu, mereka pun pamit dan melangkah pergi belum jauh mereka melangkah dan menoleh kebelakang Abi dan Sarah langsung terkejut jantung mereka berdetak kencang tatkala melihat rumah-rumah yang mereka lihat tadi hilang tanpa jejak yang ada hanya pohon-pohon besar yang menjulang.
Sarah langsung memegang lengan Abi erat mereka pun dengan cepat meneruskan langkahnya menginggat ucapan kakek tadi lurus dan jangan berbelok-belok.
Sementara Sisil dan Hendra kebinggungan mencari Abi dan Sarah begitu pun dengan pak Wawan.
__ADS_1
“Kemana mereka Sil? Ini sudah malam.”
“Saya juga tidak tau Pak terakhir kami melihatnya duduk di pohon belakang yang tadi Sisil lihat kan ke bapak.”
“Terus mereka kemana, kita sudah mencarinya kemana-mana dan kita tidak menemukannya, kita harus mencarinya kemana lagi, ini sudah kedua kalinya ada yang menghilang kemaren kamu dan sekarang mereka berdua semua ini membuat Bapak pusing.”
“Sisil juga pusing Pak, kalo sampe mereka tidak ketemu bagaimana?” ucap Sisil sudah mulai terisak.
“Mereka pasti kembali, percayalah,” ucap Hendra menenangkan Sisil.
Sedangkan pak Wawan mencoba menghubungi mereka berdua namun tidak tersambung, beberapa orang berlari mendekat kearah mereka dengan tergesa.
“Maaf pak Wawan kami juga tidak bisa menemukan mereka, apalagi ini sudah malam kami tidak berani masuk lebih dalam lagi kedalam hutan, kalau malamini mereka belum kembali kita lanjutkan esok untuk mencarinya,” ucap laki-laki itu kepada pak Wawan.
“Baiklah terimakasih sudah membantu kami besok kita lanjutkan mencari mereka,” ucap pak Wawan mereka pun mengangguk dan pamit pulang.
Sisil semakin menangis tak membayangkan bagaimana nasib mereka berdua.
‘Sebenarnya mereka dimana hingga malam begini mereka belum pulang juga tidak mungkin mereka jalan-jalan tanpa memberitahu kami,' batin Sisil.
“Sudah kalian masuk saja kedalam rumah bapak akan berusaha mencari mereka di sekitar desa,” ucap pak Wawan dan berlari kemobilnya.
Mobil itu langsung tancap gas meninggalkan halaman rumah itu sedang Sisil di tuntun Hendra masuk kedalam rumah.
“Tenanglah Sil yakinlah mereka tidak akan apa-apa, kamu harus percaya itu, mari kita berdoa untuk keselamatan mereka.”
“Tidak, Alas itu masih jauh dari tempat kerja kita mungkin mereka hanya tersesat saja, tenanglah, mari kita berdoa saja,” ucap Hendra lagi.
Sisil hanya menurut dan mengikuti Hendra yang berdoa.
Sementara itu di tempat lain di tengah hutan, Abi dan Sarah terus melangkah di tengah teriknya mentari mereka saling bergandengan tangan dengan erat dan terus menginggat ucapan kakek itu untuk terus berjalan lurus tanpa belok walau ada banyak belokan didepan mereka, Abi pun menghentikan langkahnya membuat Sarah juga berhenti, Sarah dengan takut bertanya pada laki-laki itu.
“Kenapa berhenti?”
Abi menunjuk sebuah rumah dengan lampu yang menyala dan tiba-tiba suasana menjadi gelap membuat Sarah langsung mendekap Abi erat.
“Bi, kenapa kok tiba-tiba jadi malam?” ucap Sarah ketakutan.
“Aku juga tidak tau,” jawab Abi mengambil hpnya dan menyalakan senter dalam hp itu.
Abi merangkul Sarah menuju rumah itu dan mengetuk pintu dari kayu itu tiga kali, tak lama pintu pun terbuka seorang laki-laki yang masih muda berdiri dihadapan mereka memandang mereka berdua dengan tatapan binggung.
“Kalian siapa?” tanyanya heran.
“Kami tersesat dalam hutan dan menemukan rumah ini, ini dimana ya?” tanya Abi balik.
__ADS_1
“Dari hutan? Masuklah. ayo cepat masuk! mbok.. Mbok!” teriaknya memanggil seseorang kami pun masuk kedalam rumah sederhana itu dan tak lama seorang wanita paruh baya keluar.
“Ayo silahkan duduk, saya ambilkan minum dulu,” ucap laki-laki itu bergegas menghampiri wanita yang dipanggil Mbok itu.
“Siapa mereka Gung?” Tanya wanita paruh baya itu kepada anaknya.
“Itu Mbok, mereka tersesat dari hutan belakang, coba Mbok Tanya mereka dari mana, kasian sepertinya mereka kebinggungan Agung ambilkan minum dulu untuk mereka,” ucapnya berlalu masuk kedalam.
Sedangkan wanita paruh baya itu mendatangi Abi dan Sarah yang sudah duduk di kursi yang terbuat dari bambu itu dan duduk di kursi yang ada dihadapan mereka berdua Abi dan sarah memandang wanita itu dan wanita paruh baya itu tersenyum.
“Kalian ini dari mana, kenapa bisa tersesat dari hutan belakang?” tanya wanita itu.
“Kami bekerja di tambang Mbok, entah bagaimana dia ini lagi telponan dan masuk hutan jadi saya mencarinya setelah ketemu kami mau balik lagi ketempat asal tapi kami malah tidak menemukan jalan ketempat kerja lagi dan sampai kesini, maaf mengganggu malam-malam begini.”
“Oh, begitu.” Ucapnya.
Pria munda bernama Agung pun tiba dengan membawa dua gelas air putih dan menaruhnya di meja yang ada dihadapan mereka dan ikut duduk di kursi sebelah wanita itu.
“Ayo diminum dulu pasti kalian haus,” ucap Agung.
Abi dan Sarah pun meminum air di gelas itu hingga sisa sedikit.
“Aku dengar tadi kalian dari tambang, jauh sekali kalian sampai kesini.”
“Jauh, memang ini dimana?” tanya Abi masih binggung karna suasana yang tadi langsung berubah dari siang yang sangat terik menjadi gelap.
“Ini Desa karang Asem, kalo desa yang kalian sebut ada tambangnya itu dua desa dari sini, bahkan itu sangat luar biasa kalian bisa sampai kesini pasti kalian sangat capek berjalan seharian,” ucapnya membuat Abi dan Sarah saling bertatapan.
“Dua desa? Kami tadi sampai tak jauh dari rumah ini masih siang tapi begitu kami melihat rumah kalian tiba-tiba menjadi gelap apakah ini sudah sangat larut, karna jam tangan kami mendadak mati,” tanya Abi lagi gantian merka yang saling berpandangan.
“Iya ini sudah malam sudah jam sepuluh malam kira-kira, dan saya tidak bisa mengantar kalian pulang malam-malam begini, tapi untunglah kalian bisa keluar dari hutan itu, kalian tidurlah disini besok baru saya antar kerumah pak RT,” ucapnya sungguh-sungguh.
“Kalau kami pulang besok pasti semua orang binggung dan khawatir bahkan mungkin mereka masih mencari kami, kalo bisa antarlah kami mala mini, kamu bisa menginap disana dan besok baru pulang,” ucap Sarah memohon.
“Mereka benar Gung, pasti mereka saat ini sedang banyak yang mencari antarlah mereka kasian,” ucap Wanita itu kepada anak laki-lakinya.
“Mbok benar, Agung harus mengantar mereka dengan apa Mbok, Agung kan tidak punya kendaraan, punyanya kan Cuma sepeda gunung,” jawab agung kembali.
“Datanglah ketempat pak RT mintalah tolong beliau untuk mengantar mereka pulang,” ucap wanita itu lagi dan Agung pun mengangguk dan berpamitan untuk ketempat pak RT.
“Bagaimana kalian bisa keluar dari hutan itu?” tannya wanita itu.
“Oh, didalam hutan sana ada desa kecil dan ada seorang kakek-kakek yang menunjukkan jalan kesini, namun aneh mereka semua tidak berbicara dan wajah mereka terlihat sedikit pucat Mbok,” ucap Abi wanita itu tersenyum.
“Untung kalian menemukan desa itu, kalo tidak kalian akan terjebak selamanya di hutan itu, itu adalah desa Wono urip yang dikenal warga sekitar sini desa gaib. karena desa itu desa alam sebelah desa itu kadang muncul dan juga bisa tiba-tiba menghilang mereka tidak pernah menggangu kami kadang saat ada orang yang tersesat di hutan itu jika mereka baik maka mereka akan menolong, namun kalo yang tersesat itu orang yang tak baik maka mereka juga tidak akan menolong,” ucap Wanita itu menjelaskan membuat sarah merinding karena menginggat kejadian tadi.
__ADS_1
Ternyata yang berbicara dengan mereka adalah orang yang sudah meninggal.
“Istirahatlah sebentar sebelum kalian pulang Mbok tinggal sebentar.” ucapnya berdiri Abi hanya mengangguk.