Alas Waringin

Alas Waringin
Pulangnya Sarah


__ADS_3

“Apa ada orang?” tanyanya dengan suara yang sedikit tertahan.


Abi meboleh ke kiri dan kanan suasana masih sepi dan gelap tak ada jawaban lagi Abi pun memberanikan diri mendorong knop pintu itu perlahan dan pintu itu pun terbuka.


“Braak!!” 


kosong tak ada orang disana Abi pun hanya bisa berdiri mematung dan langsung memegangi hidungnya  karna bau busuk itu tercium kembali begitu pintu itu terbuka dan air yang keluar dari kran itu tak lagi menetes, dan Abi pun binggung karna tidak ada bekas air yang mengalir disana, dia pun langsung keluar dan berlari masuk dan Abi  kembali terkejut saat tiba-tiaba muncul seseorang di hadapannya.


“Astaga Bi Siti, bikin kaget saja,” ucap Abi memegangi dadanya yang semakin berdegup kencang karna terkejut wanita paruh baya itu tersenyum.


“Kenapa Den Abi, kok kayak takut gitu? Bi Siti bukan hantu kenapa setakut itu?” ucapnya Abi hanya bisa menghela nafas.


“Iya itu untung Bi Siti bukan hantu kalo tidak aku sudah mati berdiri karna takut lagian Bi Siti ngapain juga muncul tiba-tiba di hadapan ku, sudah aku di kerjain hantu tambah Bi Siti lagi,” ucap Abi serius


“Benar Den, ada hantu?” tanyanya serius Abi hanya nyengir.


“Iya, Bi Siti,” ucapnya berjalan menuju kamarnya. 


Sedang bi Siti hanya terbengong dan menengok keluar tidak ada apa pun dan kembali kedapur Abi pun sudah kembali kekamar dan sudah sangat rapi dan duduk di ruang tamu, matahari pun sudah muali menampak kan dirinya cahayanya yang keemasan menyapa langit yang begitu biru.


Membentang di hiasi awan-awan yang putih tipis Doni dan Krisna pun langsung berlari untuk mandi sembari bercanda pintu kamar sisil terbuka di lihatnya Sisil keluar sembari menguap lebar.


“Di tutup Sil nanti kemasukan lalat loh,” teriak Abi mendengar itu bi Siti tertawa dari dapur.


“Biarlah sekalian ku makan buat sarapan,” teriaknya balik membuat bi siti semakin tertawa Sisil pun mendekati Abi dan duduk di sampingnya.


“Lho kok ada hp bu Sarah di sini?” tanya Sisil menunjuk hp yang tergeletak di atas meja.


“Tertinggal mungkin, bawa kasihkan beliau kalau kmau kedalam,” jawab Abi sembari tersenyum.


“Hmm.. harumnya Bi Siti masak apa?” teriak Sisil.


“Opor nak Sisil,” jawab bi Siti dari dalam dapur.


“Asik ayo makan Bi,” Sisil menarik lengan Abi namun Abi tak bergeming membuat Sisil terdiam menatapnya.


“Mandi dulu Sil, kamu mau makan mandi aja belum tuh mereka udah pada selesai mandi. sana dulu aku tunggu dimeja makan,” ucap Abi berdiri dan menuju ke meja makan yang tak jauh dari kamar Sisil, Sisil pun cemberut dan menuju kamarnya dan langsung pergi kekamar mandi. 


Abi hanya menggelengkan kepala, sementara bu Sarah yang terbangun terkejut melihat dirinya sudah ada dikamarnya bahkan berselimut di lihatnya Sisil tidak ada di kamar mau Tanya sama siapa dia melihat jam yang masih menunjukan pukul setengah tujuh kurang lima belas menit.


“Pasti …,” ucapnya tak meneruskan kalimatnya.


di ambilnya handuk dan keluar dari kamar di lihatnya Abi yang sudah rapi duduk menghadap meja makan, Abi pun tau kalo Sarah yang keluar dari kamar itu namun dia tetap focus pada hp nya dan tak menoleh sedikit pun Sarah menghela nafas dan berlalu.


Abi meliriknya sekilas terlihat Sisil sudah berjalan kearahnya dan tak lama duduk berhadapan dengannya dan langsung mengambil nasi menaruh di piringnya.


“Astaga kamu beneran lapar ya?” tanya Abi heran.


“Aku kan menunggu mu untuk makan kamu malah mau meninngalkan ku makan sendiri, luar biasa,” ucap Abi berdiri dan hendak pergi.


“Abi! Kau mau kemana jangan ngambekan deh kayak perempuan lagi datang bulan,” ucap Sisil membuat Abi menghentikan langkahnya dan menoleh.


“Aku sudah tak berselera, makanlah,” ucapnya kembali meneruskan langkahnya keluar.


“Kenapa sih anak itu jadi ngambekan,” Sisil mengerutu dan meneruskan makannya tak lama Doni dan Krisna pun ikut gabung.


“Mari makan Bu,” ucap Krisna kepada bu Sarah yang melewati mereka.


“Kalian makan saja nanti saya menyusul,” jawabnya dan langsung masuk kekamar dan tak lama keluar dan bergabung dengan mereka.


“Hp bu Sarah tadi ketinggalan di meja depan sudah Sisil taruh di meja kamar.”


“Oh iya, makasih ya Sil,” jawab bu Sarah meneruskan makannya bi Siti pun mengantarkan teh dan menaruhnya di atas meja.


“Loh Den Abi tadi ga jadi makan to nak Sisil?” tanya bi Siti yang melihat Abi tidak ada disana.


“Ngambek bi Siti kena PMP,” Jawab Sisil melucu.


“Ha?.. apa itu nak Sisil? tanyanya lagi.


“Palang merah pria Bi,” jawab Sisil tertawa di ikuti Krisna dan Doni sedangkan Sarah hanya terdiam tak ikut tertawa.


Pikirannya melayang entah kemana sedang Bi Siti hanya tersenyum geleng-geleng dan berlalu pergi mobil pak Wawan pun berhenti di depan rumah itu pak Wawan pun turun karna melihat Abi yang duduk di teras dan menghampirinya.


“Wah lagi santai sudah siap semua?” tanya pak Wawan.


“Mereka lagi makan Pak.”


“Kamu sudah makan kok sudah di luar?” tanya pak Wawan Abi hanya tersenyum saja tak menjawab sedang pak Wawan tau apa arti senyuman itu.


“Abi, bapak juga dulu pernah muda tau persis yang sedang kamu alami, namun jangan sampai ketakutan dan keegoisan diri menjadi penyebab suatu hubungan kandas bahkan tidak terjadi karna hanya rasa takut, dan jangan melakukan hal yang akan membuatmu binggung jadilah laki-laki yang bijak, cinta itu bukan rasa kasihan dan juga bukan nafsu semata. Cinta yang sejati itu saat kau menerima dia apa adanya, menerima semua kekurangannya bukan kelebihannya,” ucap pak Wawan yang tau kegalauan hati Abi. 

__ADS_1


Abi hanya tertunduk tak mengira pak Wawan akan mengatakan semua itu di pagi ini dia hanya bisa menghela nafas panjang tak menyangka pria yang ada dihadapannya itu ternyata adalah laki-laki yang sangat bijaksana dalam mengukur suatu hubungan.


“Lantas Abi harus apa Pak?” tanya Abi.


“Itu terserah Abi sendiri bukankah semua itu harus di lalui dengan bertahap, jalani saja sampai akhirnya kau menemukan jawabannya, bukankah sesuatu yang indah itu perlu pengorbanan, banyak yang harus kau korbankan, waktu, fikiranmu, kegigihanmu dan kesetiaanmu semua itu perlu ujian dan ujian yang paling berat adalah saat kau harus merelakan kebahagianmu untuk kebahagiannya.”


Abi hanya bisa melonggo mendengarkan kata-kata pak Wawan yang begitu mengena di hatinya, pak Wawan tersenyum melihat Abi yang sedikit binggung.


“Sudah jangan terlalu dipikirkan suatu saat, saat kau mengalaminya kau akan tau dan paham apa yang bapak ucapkan, sekarang jalanilah masa muda mu dengan kebahagian jangan terlalu banyak memikirkan hal yang tidak perlu, fikirkan masa depan, jangan terlalu larut dalam masalah cinta, itu akan membuatmu tak bisa berfikir jernih dalam menghadapi dunia ini, santai saja,” Ucap pak Wawan sembari tertawa dan Abi pun ikut tertawa.


Ia mulai tahu arah pembicaraan pak Wawan dan tak lama yang lainnya pun muncul mereka pun bergegas naik kedalam mobil itu dan meluncur ke area tambang, dalam perjalanan mereka tertawa dan bernyanyi bersama kecuali Abi dan Sarah yang hanya tersenyum tak lama mereka pun sampai dan seperti biasa mereka sudah kabur masing-masing ketempat dimana mereka biasa ikut para karyawan disana tapi hari ini Sisil ikut Abi, karna Abi sudah trauma meninggalkan gadis itu takut menghilang lagi matahari begitu terik di atas kepala mereka para karyawan pun sudah mulai meninggalkan pekerjaannya dan menuju kantin.


“Ayo Bi tadi pagi kamu belum makan kita kekantin dulu,” sisil menarik lengan laki-laki itu secara paksa Abi pun akhirnya menurut saja.


Sisil pun mengambil beberapa lauk dalam piring itu untuk Abi, dan memberikannya kepada laki-laki itu Abi hanya bisa manyun karna Sisil mengambilkan makanannya banyak sekali menurutnya.


“Mana habis Sil banyak sekali.”


“Sudah gakbusah protes makan saja,” ucap Sisil meninggalkan Abi dan mengambil makanan untuknya sendiri. 


“Sil,” panggil Abi sedikit berbisik.


“Apa?” jawab Sisil sembari terus makan.


“Tadi pagi saat aku mandi aku dikerjain sama hantu kayaknya,” ucap Abi.


“Apa?! tanya Sisil terkejut dan langsung menghentikan makannya dan memandang Abi serius.


“Bener saat aku mandi seperti ada yang mandi dikamar mandi sebelah airnya sampai melimpah jadi aku tegur kukira Doni,atau Krisna eh, ga ada jawaban sekali aku keluar dan kubuka pintu itu ga ada siapa-siapa yang ada hanya bau busuk yang menyengat langsung lah aku lari masuk kedalam,” tutur Abi. 


Sisil tertawa terbahak mendengar Abi bercerita


“Malah tertawa,” ucap Abi menimpuk kerupuk kearah Sisil.


“Gitu aja kamu takut apa lagi aku yang kemaren itu, coba aja bayangin sendiri,” ucap Sisil masih tersenyum sembari meneruskan makannya membuat Abi hanya pasrah di ketawain oleh Sisil.


kantin di lahan ini sudah seperti layaknya pasar ramenya kalau sudah siang begini Abi mengedarkan pandangannya kesemua arah di ruangan itu bahkan keluar namun sosok yang dicarinya tidak juga ketemu.


“Cari siapa Bi?” tanya Krisna yang tiba-tiba muncul di sampingnya.


“Kamu itu suka sekali bikin orang terkejut ya.”


“Bu Sarah kemana?”


“Eh iya Bu Sarah kemana ya kok ga ada di sini biasanya dia duduk di pojokan kalo gak duduk di luar di bangku itu,” ucap Krisna ikut mencari juga.


“Tanya pak Wawan, repot amat,” ucap Sisil yang baru muncul.


“Kamu benar Sil, cerdas juga kamu, yang jadi masalah pak Wawan juga tidak ada,” ucap Krisna lagi.


“Jadi kemana mereka berdua, mojok?” ucap Doni dan langsung mendapat pukulan ringan dari Abi.


“Sembarangan aja kamu nih kalo ngomong.” 


Doni malah tertawa yang melihat Abi sewot


“Sudah nanti kita Tanya kalo pulang,” jawab Sisil meneruskan makannya.


Abi hanya bisa menghela nafas dan kembali duduk waktu istirahat pun sudah usai mereka kembali bekerja masing-masing begitupun dengan Abi dan yang lainnya waktu berlalu dengan cepat tak terasa sudah waktunya mereka pulang.


Abi dan yang lainnya pun menghampiri mobil yang membawa mereka datang disana sudah ada pak Wawan yang tersenyum ramah.


“Pak Wawan, Bu Sarah kok ga ada kemana?” tanya Sisil langsung.


“Oh, Bu Sarah ada urusan pulang besok malam mungkin baru sampai lagi,” jawab pak Wawan.


“Pulang? enak sekali aku juga pengen sudah kangen sama suasana rumah,” ucap Sisil dan langsung masuk kedalam mobil itu di ikuti yang lainnya.


sedang Abi hanya terdiam selama di perjalanan fikiran nya melayang-layang, memikirkan sesuatu yang membuatnya gelisah mobil itu pun sampai seperti biasa Krisna dan Doni sudah lari duluan untuk bergegas mandi sedang Sisil langsung menuju kamar dengan wajah cemberut karna bakal tidur sendirian malam ini.


Abi pun dengan malas masuk kedalam rumah wajahnya tidak bersemangat karna panas yang begitu terik membuatnya sedikit kecapeaan di rebahkannya badannya di kursi panjang itu menunggu giliran untuk mandi Sisil pun dengan muka tak bersemangat duduk di kursi pendek di sebelah Abi.


“Ga ada bu Sarah gak rame, sepi, biasanya kami sudah bercanda-canda dalam kamar,” ucapnya dengan muka masih di tekuk.


“Memang Bu Sarah ga pamit sama kamu?”


“Kalau pamit mana mungkin aku sesedih ini, ada apa ya Bi kok tiba-tiba dia pulang?”


“Yah mungkin ada urusan yang mendesak Sil, kita kan tidak tau urusan orang apa,” jawab Abi padahal dia sendiri juga tidak enak hati karna wanita itu tidak ada di rumah.


“Kau benar kita tak tau semua urusan orang, tapi malam ini kamu harus temeni aku, aku ga mau tidur sendiri,” ucapnya membuat Abi terduduk langsung.

__ADS_1


“Ga enak sama yang lain Sil, apa lagi bu Sarah tidak ada.”


“Bodo, ya buka saja pintu kamarnya lagian juga ga tidur seranjang kamu tidur saja di ranjangnya bu Sarah, pokoknya aku gakbmau ya tidur sendirian.”


“Biar aku aja yang temeni Sil.” ucap krisna yang muncul baru selesai mandi.


“Ogah betul kamu yang nemenin, karna kalo kalian berdua yang nemenin malah tidak aman.”


“Kami ini kan laki-laki baik-baik kejam sekali bilang begitu sama kami,” ucap Krisna lagi.


“Muka mu tak menunjukkan hal itu,” ucap Sisil lagi dan ngeloyor pergi.


Mereka hanya tertawa melihat Sisil tambah sewot gara-gara bu Sarah tidak ada.


“Sudah temeni saja Bi, kasian dari pada ngambek dan ikut kekamar kita, mau tidur dimana dia.”


“Iyo Bi kau kan abangnya,  apa-apa kita paham aja, dia kan baru aja kena musibah masih terasa takut lah,” tambah Doni.


Abi hanya tersenyum ternyata mereka berdua sangat perhatian sama Sisil, sampai berfikir segitunya Abi pun mengangguk membuat Krisna dan Doni senang melihatnya.


“Ya udah kalo gitu aku mandi dulu,” ucap Abi berdiri menuju kamar mengambil handuknya dan menuju kamar mandi. 


Setelah makan malam mereka pun langsung masuk kekamar masing-masing Abi dengan rikuh duduk di kasur di mana Sarah biasanya berbaring.


“Kenapa Bi? Ga tidur?” tanya Sisil yang melihat Abi masih duduk di tepian ranjang itu.


“Rasanya gimana gitu Sil tidur disini,” jawab Abi membuat Sisil tersenyum.


“Kenapa? Karna itu tempat tidur bu Sarah? sebenarnya kalian berdua tuh kenapa sih?” tanya Sisil curiga.


“Kenapa apanya?”


“Ya kalian kenapa rasanya aneh tau ga lihat kalian berdua tuh sekarang jadi canggung, kadang menghindar satu sama lain, kadang perhatian satu sama lain, kalian saling suka?” tanya Sisil yang sudah tidak tahan melihat mereka berdua seperti itu, Abi hanya melonggo.


“Ngawur kamu itu Sil, aku kan punya Ambar, dan tidak ada yang lain dan aku tak mungkin menduakan dia.”


“Kamu bisa ngomong gitu, tapi perlakuanmu sama bu Sarah itu lain loh, jangan salahkan bu Sarah nanti kalo dia suka sama kamu.”


“Sil, aku hanya mencoba menghiburnya, perhatianku untuknya sama seperti aku perhatian sama kamu, itu aja.”


“Benarkah? Apakah rasa bersama ku sama saat kau bersama nya?” Abi terhenyak dan terdiam tak bisa menjawab karna yang dikatakan Sisil benar rasa itu tidak sama saat dia bersama Sisil.


“Lalu aku harus apa?” tanya Abi pelan.


“Jangan menyakiti diantara mereka sebelum semua itu terlambat,” ucap Sisil menarik selimutnya.


Abi hanya terdiam dan menarik nafas perkataan pak Wawan terulang kembali di ingatannya dia pun tak berani tidur di kasur itu dan memilih tidur di bawah mengambil bantal dari kasur Sisil namun matanya tak mau terpejam, batinnya bergejolak merasakan kegelisahan yang teramat, salahkah bila dia memperhatikan mentornya itu dia hanya niat membantu mengurangi kesedihannya.


Abi hanya tidak tega melihat Sarah bersedih itu saja, tapi bukankah juga salah bila dia terlalu perhatian karna akan menimbulkan persepsi baru, dia juga tidak mau nanti Ambar salah sangka, ia tidak mungkin mau menyakiti hati gadis yang sangat ia cintai itu. 


Abi menghela nafas lagi dan memiringkan badannya menutup matanya agar bisa cepat tertidur sementara di kamarnya Doni dan Krisna juga belum tidur masih asik bermain hp masing-masing.


“Kris?”


“Ada apa?”


“Hajarlah yang besar itu, biar aku bisa lewat!” ucap Doni sangat bersemangat.


“Nih juga sudah di usahakan,” jawabnya dan dengan bersamaan itu lampu dalam kamar itu padam membuat mereka berteriak bersamaan


“Aaaah!” pekik mereka berdua.


“Kenapa kamu berteriak?” kata Krisna.


“Lah kamu juga kenapa berteriak?”


“Kaget aku,” sahut Krisna.


“Ya sudah sama, coba nyalain lagi lampunya, aku senter pake senter hp,” ucap Doni menyalakan senter hpnya. 


Krisna pun berdiri dan berjalan kearah saklar lampu dan mengeteknya berulang-ulang namun tak mau nyala juga.


“Ga mau Don, putus mungkin lampunya.”


“Trus kita gimana dong?”


“Ya sudah gelap-gelapan,” ucap Krisna dan dengan bersamaan itu pintu kamar terbuka secara tiba-tiba.dan berdiri sesosok tubuh di depan pintu itu.


“Aaaah!” mereka menjerit bersamaan lagi.


“Kalian kenapa sih berisik sekali?” Suara itu menghentikan teriakan mereka.

__ADS_1


__ADS_2