Alas Waringin

Alas Waringin
Makhluk yang mengelabui Sisil


__ADS_3

Sementara Sisil terus berjalan di tengah hutan digandeng seorang laki-laki.


“Hen kita mau kemana?” tanyanya tapi laki-laki itu tidak menjawab dan terus menarik pergelangan tangan Sisil.


“Mas Hendra berhenti, kita mau kemana, Sisil takut ini hutan kalau kita nyasar nanti gimana?” tanyanya menghentikan langkah dan menarik tangannya. 


Laki-laki yang di panggilnya Hendra itu hanya tersenyum, senyum yang tak biasa membuat Sisil menjadi merinding dan takut.


“Mas Hendra jangan bercanda, kita ada dimana ini? Yuk kita pulang sebentar lagi sudah sore mas Hendra mau bawa Sisil kemana?” tanya Sisil.


 Bertubi-tubi tapi tak satu pun jawaban keluar dari mulut Hendra kecuali menatap Sisil dengan liarnya seakan ingin menelan tubuh itu hidup-hidup, Sisil sudah mulai gemetar karna dia merasa ada yang aneh dengan Hendra dan itu bukan seperti Hendra yang dia kenal, Sisil sudah mau melangkah kabur namun kaki nya serasa sangat berat di gerak kan laki-laki yang dianggapnya Hendra itu mendekat tiba-tiba wajah nya berubah sedikit demi sedikit Sisil semakin gemetar dan lemas dia pun terduduk ketakutan karna wajah itu berubah menjadi penuh luka dan mengeluarkan darah mata nya bahkan keluar terlepas satu, Sisil pun memejamkan mata tak berani melihat nya dan dengan ketakutan dia berteriak.


“Aaaaaaaa….!!! 


Teriakan itu menggema membuat Abi langsung berhenti dan mencari arah teriakan itu karna dia sangat hafal dengan suara itu.


“Sisil!” teriak Abi berlari kearah datangnya suara teriakan itut.


menghiraukan semak belukar di hadapan nya dia terus berlari.


“Sil … Sisil!” teriaknya terus menerus, dan Sisil pun mendengar panggilan itu masih dengan mata terpejam dia berteriak sekuat tenaga lagi.


“Abi! Tolong!”


 Mendengar teriakan itu Abi semakin cepat berlari di cari nya sosok gadis yang dia kenal di antara semak belukar nafas nya berpacu dengan langkah nya yang kian cepat berlari dia pun menghentikan langkah nya seketika begitu melihat Sisil meringkuk di bawah pohon besar di pegangnya Sisil perlahan.


“Jangan! menjauhlah setan! aku tidak mau kau bawa. Aku mau pulang!” teriaknya sambil terus meringkuk ketakutan.


“Sil ini aku Abi, tenanglah.”


“Tidak! Kamu pasti hantu tadi menjauh lah!!” teriaknya histeris Abi pun kebinggungan.


‘Memangnya muka ku seperti hantu apa?’ pikir Abi.


Langsung diraihnya tubuh itu dan dipeluk erat, walau dia meronta-ronta.


“Sisil! Ini aku Abi! Abi mu tersayang! Sadarlah!” ucap Abi mengguncang tubuh itu dengan kuat.


Sisil pun membuka matanya perlahan dan dengan ketakutan dia memegang wajah Abi.


“Bener kamu Abi?”


“Iya ini aku, memang siapa lagi,” ucapnya.


Sisil langsung menangis dan memeluk Abi dengan erat.


“Ayo kita pulang aku tidak mau lagi disini kita pulang Bi, tempat ini menakutkan,” ucapnya dengan berurai air mata.


Abi mengusap pundak nya dengan lembut untuk menenangkan Sisil.


“Iya kita pulang tenanglah,” ucap Abi.


Abi merasakan tubuh Sisil sangat gemetar karena ketakutan Abi pun berinisiatif untuk menggendongnya. 


“Pegangan Sil,” ucap Abi.


Sisil tak menjawab namun berpegangan erat dan melingkarkan tangannya di leher Abi dan menaruh wajah nya di pundak itu, Sisil tidak mau melihat jalan sama sekali Abi pun dengan tenaga yang tersisa mengendongnya sambil mengingat-ingat jalan mana yang dia lalui tadi.


“Bagaimana ini pak Wawan hari sudah mulai sore mereka belum ketemu juga,” ucap bu Sarah khawatir.


“Jangan khawatir Bu mereka pasti ketemu karena ini hanya hutan kecil saja, kalau masih di sekitar sini mereka masih aman.”


“Bagaimana saya gak khawatir pak Wawan, mereka orang baru di tempat ini dan tidak tau arah mana yang mereka tuju,” ucap bu Sarah.


“Kami juga berusaha Bu, karyawan juga sudah masuk dan mencari mereka,” ucap pak Wawan.


“Abi! Sisil!”


Teriakan itu terdengar di segala penjuru hutan, dan Abi pun mendengarnya ia kemudian mempercepat langkahnya kearah suara itu. Abi tersenyum saat melihat seragam yang sama ada beberapa meter dari jaraknya terlihat olehnya Abi pun berteriak.


“Di sini!” teriak Abi.


Laki-laki itu pun berlari menghampiri, “kamu gak Apa-apa?” tannyanya.


Dengan nafas yang tersengal Abi hanya bisa menggelengkan kepalanya tanpa menjawab pertanyaan tersebut.

__ADS_1


“Syukurlah semua orang sedang mencari mu, kawan-kawan sudah ketemu!” teriaknya dan yang lain pun berdatangan.


“Biar aku gantiin menggendongnya,” kata salah satu karyawan yang ada disana namun Sisil berpegang erat di leher Abi seakan tidak mau.


“Tidak usah Pak saya masih kuat,” jawab Abi walau rasanya kakinya sudah tak sanggup melangkah namun demi Sisil yang masih ketakutan dikuatkan tubuhnya membawa  sampai keluar hutan itu.


Nafas Abi pun sudah ngos-ngosan begitu sampai di lahan bu Sarah dan yang lain nya pun berlari menghampiri.


“Bi bagaimana keadaan Sisil?” tanya bu Sarah panik.


“Nanti saja saya cerita.” ucap Abi.


Abi pun  lalu membawa Sisil menuju mobil, Krisna dan Doni pun membantu menaikkan tubuh Sisil kedalam mobil Sisil pun duduk dan memeluk Abi erat seakan tidak mau jauh dari Abi, dan ia pun masih memejamkan mata.


Abi hanya menghela nafas sebenarnya apa yang ia lihat hingga ia tak berani membuka matanya.


“Tenanglah, sudah tidak apa-apa kan ada aku, kamu gak perlu takut,” ucap Abi.


Abi mencoba menenangkan Sisil dengan cara mengelus pundaknya, namun Sisil sepertinya masih syok dan tidak mau ngomong sepatah kata pun selain tangannya yang masih gemetar memeluk Abi.


Mobil itu pun melaju dengan kecepatan penuh dan tak lama pun mereka sampai Abi membopong Sisil masuk kedalam kamarnya, bu Sarah pun meminta pak Wawan untuk memanggil mbah Suroso kembali, Sisil meringkuk dan masih tetap memegang tangan Abi dengan ketakutan hingga Abi pun tak bisa kemana-mana selain di ssampinnya.


Abi melihat bu Sarah masuk kedalam kamar dan menatap Abi, entah apa yang beliau lihat mungkin karna tampang Abi yang sudah amburadul saat ini, Sarah pun mengambil handuk dan bergegas pergi keluar kamar tanpa satu patah kata pun, Abi tak habis pikir apa kesalahannya, hingga ia berdiam diri sekarang bila di hadapannya, Abi tak harus perduli yang penting Sisil baik-baik saja dan akan baik-baik saja.


Abi mengelus rambut Sisil tak lama bu Sarah masuk kembali dan sudah berganti pakaian tiba-tiba Hendra datang.


“Sisil bagaimana Bi?” tanyanya.


“Masih begini Mas, Sisil yang mendengar kedatangan Hendra langsung berteriak histeris.


“Pergi! Pergi! Aku tidak mau lihat dia! aku tidak mau lihat!” teriaknya sembari melempar bantal dan apa yang ada di sampingnya.


Abi dengan susah payah memegang tubuh Sisil di bantu bu Sarah.


“Mas Hendra pergi dulu saja dari pada Sisil tambah mengamuk nanti,” pinta Abi yang memegangi tubuh Sisil dengan erat di bantu Bu Sarah.


“Benar kata Abi Hen. pergilah untuk sementara nanti kalau keadaannya sudah tenang kamu bisa kesini lagi,” ucap bu Sarah yang juga kesusahan memegang Sisil yang terus meronta.


Hendra pun tak bisa berbuat apa-apa selain menurut, ia sangat tidak paham kenapa Sisil begitu ketakutan melihatnya, akhirnya Sisil pun bisa mereka tenangkan Abi pun menghela nafas panjang dan duduk di bawah di samping ranjang itu bersandar kelelahan, bu Sarah pun keluar dan tak lama kembali lagi.


Dengan ragu Abi mengambilnya Abi memang sangat merasakan haus yang sangat teramat hebat, tapi melihat Sisil seperti ini membuat Abi tak sanggup memasukkan apa pun kedalam mulutnya.


“Abi kalo kamu tidak minum nanti malah kamu yang pingsan karna dehedrasi, kalau kamu juga ikut sakit siapa yang akan menjaga Sisil, dia hanya butuh kamu,”


Mendengar perkataan bu sarah Abi meminum air itu seteguk demi seteguk bersama air matanya yang tiba-tiba menetes Abi akan sangat bersalah andai dia tak ketemu.


‘Aku akan merasa bersalah bila terjadi sesuatu pada nya, kalau aku tidak datang tepat waktu apa yang akan terjadi padanya,' batin Abi.


Abi pun tak bisa membayangkannya, Abi pun melirik Sisil yang masih meringkuk ketakutan.


“Apakah dia akan baik-baik saja Bu?”


“Yakinlah dia akan baik-baik saja, kamu harus kuat untuk nya.” ucapnya mendekat pada Abi dan mengusap pundak Abi.


Tidak lama, pak Wawan muncul bersama mbah Suroso lalu masuk ke dalam kamar Sisil.


“Gimana Bu?” tannyanya.


“Masih ketakutan Pak, apalagi melihat Hendra dia mengamuk tadi.”


“Benarkah? Monggo mbah di lihat,” ucap pak Wawan mempersilahkan mbah Suroso untuk mendekat.


“Tolong di pegangngi!” ucapnya Abi pun dengan perlahan menyentuh pundak Sisil takut dia terkejut.


“Sil.”


“Aku takut Bi. ada hantu dia mau membawa ku,” ucapnya dengan nada bergetar.


“Iya-iya aku tau aku juga melihatnya,” ucap Abi menenangkannya.


 Dipeluknya Sisil erat dan mempersilahkan mbah suroso menyentuh kepala Sisil, mbah Suroso pun mulai berkomat –kamit membaca mantra, tubuh Sisil mulai mengejang tangannya begitu kuat mencengkeram lengan Abi namun ditahannya rasa sakit itu dan semakin memeluknya erat.


“Aduuh sakit Bi!” teriaknya.


Doni dan Krisna yang melihat dari depan pintu ikut meringis kesakitan dan saling berpegangan tak tega melihat Sisil yang mengerang kesakitan.

__ADS_1


“Lepaskan! Teriaknya lagi.


Mbah suroso tetap pada posisinya berdiri memegang kepala Sisil dan masih memejamkan mata sambil komat-kamit membaca mantra dan meniupkannya kekepala Sisil perlahan, Abi pun merasakan tubuh Sisil mulai lemas dan kepalanya jatuh bersandar di pundaknya.


“Tidak apa-apa, biarkan dia istirahat, kalau besok bangun atau nanti malam dia terbangun minumkan air putih ini padanya biar dia merasa tenang dan jangan tanyakan apa pun padanya kalau dia tidak bercerita,” kata mbah Suroso kami pun mengangguk bersamaan.


“Memang apa yang terjadi pada Sisil mbah?” Tanya bu Sarah.


“Biasa, ada mahluk dari alam sebelah yang suka sama dia dan ingin membawa anak ini kealamnya, untung kamu cepat menemukannya kalau tidak sudah hilang tidak ketemu dia, untuk saat ini jangan biarkan dia sendiri, kalau bisa selalu ajak ngobrol jangan sampai melamun, pulihkan kesadarannya dengan hari-hari seperti biasa takutnya  dia trauma saja, kalau sampe dia trauma itu berbahaya karena dia akan selalu ketakutan seumur hidupnya karena dia sudah melihat hal yang menakutkan dalam hidupnya, tapi dengan meminum air putih ini moga-moga itu tidak terjadi, kalau nanti ada hal-hal yang terjadi suruh pak Wawan panggil mbah, ini ada tamu di rumah jadi mbah tinggal dulu mari pak Wawan,” ajaknya.


“Terima kasih mbah,” Ucap Abi dan beliau hanya menggangguk dan tersenyum direbahkan tubuh Sisil perlahan dan menyelimutinya dipandangnya wajah  yang terlihat letih sekali itu Abi hanya bisa menghela nafas.


“Bu tolong jaga sisil sebentar Abi mau mandi, dan izin menjaganya malam ini di sini,” pinta Abi pada bu Sarah.


Wanita itu hanya mengangguk Abi pun keluar kamar dan mengambil handuk dan pakaian ganti dan menuju kamar mandi terlihat doni dan Krisna duduk di ruang tamu.


“Bi,” panggil Krisna dan Abi pun menghentikan langkahnya lalu Krisna mendekat pada Abi.


“Yang sabar ya. Sisil pasti pulih seperti biasa kok dia kan gadis yang kuat dan cerewet, ga mungkin dia ga akan ngomeli kita,” ucap Krisna memeluk Abi.


Ternyata Krisna sedih juga melihat sisil seperti itu walau mereka sering berantem, tapi itulah persahabatan kalau gak berantem gak rame.


 Abi pun mengangguk, dan mengusap punggung Krisna.


“Aku tau dia akan baik-baik saja, ya sudah aku mandi dulu minta doanya ya.”


Mereka mengangguk, Abi pun langsung menuju kamar mandi udara dingin tak ia rasakan lagi karena badannya terasa panas setelah selesai mandi Abi pun langsung kembali ke kamar Sisil namun, di ketuknya dulu pintu itu takut bu Sarah terkejut dia pun mempersilahkan Abi masuk.


 Abi pun duduk di tepian ranjang melihat Sisil yang masih terbaring dia pun bersukur Sisil sudah tidak seperti tadi, Abi pun mengambil bantal yang ada di sampingnya dan menaruh nya di lantai bawah.


“Kamu mau ngapain Bi?” tanya bu Sarah yang membuat Abi terkejut.


“Mau tidur Bu,” jawabnya.


“Tunggu di situ dulu,” ucapnya sembari berdiri dan menuju lemari pakaian.


Abi melihat bu Sarah mengambil selimut dan mengelarnya di lantai dan menaruh bantal Abi di sana.


“Sudah tidurlah pasti kamu capek,” ucapnya dan kembali berbaring di kasurnya.


Abi pun duduk tidak langsung berbaring di keluarkan hpnya, ingin sekali dia menelfon Ibundanya tapi dia takut malah nanti membuat Bundanya khawatir. 


Akhirnya dia pun hanya bisa bermain game karena  belum bisa tidur, dilihat tubuh Sisil bergerak.


“Bi,”  panggilnya namun Abi melihat matanya masih tertutup didekatinya Sisil perlahan.


“Bi aku takut,” ucapnya lagi, digenggamnya jemari itu perlahan.


“Jangan takut, aku disini. aku gak kemana-mana, sudah tidurlah, atau mau aku ambilkan minum?”


Sisil menggelengkan kepalanya dan memegang lengan Abi dengan cukup erat, Abi pun tak bisa berkutik hanya bisa duduk di samping nya.


“Baiklah aku akan bercerita hal yang lucu di masa kecil ku special hanya untuk kamu jadi dengarkan,” ucapnya.


 Abi mulai bercerita hal-hal konyol yang ia lakukakan bersama teman-temannya di waktu kecil, mulai memanjat pagar orang sampai ia tersangkut di pohon, bu Sarah yang belum tidur menutup mulutnya menahan tawa sesekali bila ada hal yang lucu Abi katakan saat bercerita, dan tangan Sisil pun mulai melemas pertanda dia sudah tertidur lagi Abi bahkan tidak tahu kalau wanita di belakang nya tidak tidur dan mendengarkan ceritanya.


sampai dia selesai dan merasa Sisil sudah tertidur Abi pun perlahan memindahkan tangan Sisil, dan kembali turun kebawah dan bersandar di ranjang itu, Abi  hanya bisa menghela nafas panjang di sandarkannya kepalanya di ranjang sambil berfikir keras bagaimana caranya agar esok Sisil tidak merasa takut lagi, tiba-tiba bayangan Ambar muncul dengan senyum manisnya di ingatan Abi, sungguh sekarang Abi sangat merindukan gadis itu.


‘taukah dia bahwa aku sangat merindukannya?’ hembusan nafasnya terdengar perlahan hingga tanpa sadar ia tertidur sejenak dan terkejut kembali saat Sisil tiba-tiba berteriak.


Dengan kesadaran yang belum pulih ia langsung melompat keranjang dan memeluk Sisil yang sedang ketakutan, bu Sarah pun dengan binggung langsung berdiri disisi ranjang itu dengan membawa air dalam botol yang di berikan mbah Suroso tadi.


“Abi beri minum iin,” kata bu Sarah memberikan botol itu.


Abi pun langsung mengambilnya dan dengan susah payah meminumkannya.


“Sil tenanglah tidak apa-apa ada kami disini.”


“Hantu itu Bi … hantu itu menyeramkan,” ucapnya dengan ketakutan.


“Iya, aku tau tapi disini tidak ada hantu, kamu aman jangan pikirkan hantu itu pikirkan, bunda, aku, mama, dan yang lainnya semua sayang sama kamu, semua akan baik-baik saja,” ucap Abi berusaha menenagkan Sisil.


Sisil pun mulai agak tenang dan memandang Abi serta bu Sarah.


“Iya Sil tidak apa-apa ada kami bersamamu,” ucap bu Sarah sembari duduk di samping Abi dan mengelus pundak Sisil lembut.

__ADS_1


__ADS_2