ALLIN [ You Are My Woman ]

ALLIN [ You Are My Woman ]
47


__ADS_3

Mobil Arnold berhenti dirumah Ramond, disana sudah terpakir mobil Richard, Allin menatap Arnold yang tertidur dibahunya, dengan tangan Arnold memeluknya posesif


" Nona kita sudah sampai" Allin menghembuskan nafasnya kasar


" Arnold bangun "


" kenapa sih sayang? " Allin menjadi kesal


" cepat bangun!" Arnold membuka matanya tapi tidak melepaskan peluk kan nya


" kita sudah sampai ya?"


" iya, dan cepat lepaskan aku, aku mau turun " Arnold menatap Allin dan menyerukkan wajahnya keleher Allin


" Arnold!"


" biarkan aku tidur sebentar lagi, aku tidak bisa tidur nyenyak berberapa hari ini, karena tidak ada kamu"


" Arnold bangun! Kalau kamu tidak bisa membuktikan apa yang kamu katakan, aku akan benar- benar menceraikanmu"


Arnold langsung membuka matanya besar- besar dan menatap Allin dengan tegang


" tidak ! Ayo" Arnold langsung membuka pintu dan menarik Allin keluar


**


" kenapa kamu mengatakan hal buruk tentangku pada Arnold ?!" Arnold dan Allin mendengar suara Richard yang terdengar marah


" kamu dari tadi berbicara keras, duduklah dulu"


Arnold menggenggam tangan Allin dan masuk kedalam, semua orang terdiam menatap Arnold dan Allin


" Arnold kenapa kamu membawa wanita itu kerumah ?" Ramond menatapnya tidak suka


" sudahlah Pa, berhenti bermain- main" Arnold membawa Allin duduk disofa, Ramond menatap bingung Arnold


" Paman duduklah" Richard menatap Arnold dan duduk disampingnya


" sekarang jelaskan padaku, kenapa kamu melakukan hal itu?" Richard menatap tajam Kakaknya


Ramond menarik nafasnya panjang dan menatap Richard serius


" dari mana kamu tahu?"


" dariku Pa" Ramond menatap Arnold dan mencibikkan bibirnya kesal


" bagaimana kalian bisa bertemu?"


" harusnya kami yang bertanya? Kenapa kamu membawaku kepermaian bodohmu ini" Richard sudah sangat kesal


" Kenapa kalian menyalahkan aku?" tanya Ramond santai, istrinya menatap suaminya dengan menghembuskan nafasnya pelan


" tentu saja kamu yang salah, kamu sudah mencoreng nama baikku, kamu sudah membawa nama Istriku dan juga siapa itu Luna aku bahkan tidak kenal"


" dan juga Papa membuat aku berpisah dari istriku"


Ramond duduk dengan benar dan memanggil Stward, dia membisikkan sesuatu lalu stward pergi


Ramond masih duduk dengan santai, Arnold kesal dan memilih menatap istrinya


" kamu haus?" tanya Arnold, Allin menggeleng pelan, dia masih belum memahami inti permasalahnnya  kenapa Ayah Arnold melakukan itu


" kamu haus sayang, tunggu Mama ambilkan minum" Mama Arnold berdiri dan langsung pergi kebelakang


Arnold menatap Allin yang kaget dengan reaksi Mama Arnold


" kamu lihatkan, Mama tidak benci padamu, kamu masih menantu kesayangan" Arnold memeluk pinggang Allin dan merapatkannya pada dirinya


Ramond berdecak dan menatap tajam Arnold


" kalian jangan berpura - pura lagi" Arnold dan Allin menatap Papa Arnold dengan bingung


" siapa yang kamu bilang berpura- pura?" tanya Richard kesal


" diamlah Richard lebih baik kamu pulang "


" kenapa kamu harus mengusirku, aku masih belum selesai"


Ramond menatap Richard kemudian tersenyum, dia memanggil Richard agar mendekat, Richard dengan patuh mendekat, Ramond membisikkan sesuatu, dan mata Richard membesar


" aku pegang kata- katamu, awas bila kamu mengingkari"


" tenang saja"


" baiklah, kalau begitu aku pulang dulu, sampai kan salamku pada Kak Aura, sampai jumpa Arnold...Allin"


Richard pergi dari sana, Arnold dan Allin saling pandang dengan bingung


" apa yang Papa katakan pada Paman Richard ?"


" hanya mengatakan bahwa dia bisa mengambil Hotel milikmu yang ada di Jerman "


" Apa!"


Ramond tersenyum sinis dan saat itu Stward datang, dia menyerahkan sebuah Amplop, setelah menyerahkannya pada Ramond, Stward undur diri


Mama Arnold datang dengan membawa dua gelas minuman


" minum sayang" Allin membalas senyuman Mama Arnold


" terima kasih Ma"

__ADS_1


" sama- sama"


" Pa...aku tidak terima, kenapa Papa memberikan itu pada Paman, itu milikku"


" siapa bilang, itu masih milik keluarga "


" tapi aku yang membangunnya dari Nol"


Ramond meletakkan sebuah surat bertanda tangan dua orang diatas meja, mata Arnold dan Allin membesar kaget melihat itu


Surat perjanjian nikah


Arnold mengeratkan pelukannya pada pinggang Allin


" dari mana Papa mendapatkannya?"


" apa itu penting, yang penting kenapa kalian mempermainkan pernikahan dan menipu kami semua?"


" Dari mana Papa mendapatkannya?"


" dari Deon, dia yang mengantarkannya "


" Deon?"


" ya, dia datang kerumahmu untuk meminta Dokumen yang Papa minta, tapi siapa sangka, ada hal mengejutkan disana"


Arnold teringat, bahwa waktu itu dia mencari Dokumen  diruangannya  dan mengambil secara acak file- file diatas meja dengan tidak teliti, dan Surat perjanjian itu tidak sengaja terbawa Deon


" kenapa ? Apa lagi alasan kalian?"


" itu tidak membuktikan apa- apa, kami saling mencintai"


" Lalu apa yang ditemukan Istri Adam ibunya Allin, kalian tidur terpisah "


" tidak, kami tidur sekamar, iyakan sayang?" Allin mengangguk menatap Papa Arnold


" sudah berhenti bermain- main"


" jika dari awal kalian tidak ingin bersama, jujur saja, kenapa kalian harus menipu kami semua" kata Mama Arnold menimpali


Arnold dan Allin terdiam mereka memang salah, mereka memang membuat surat perjanjian itu, tapi sekarang berbeda, mereka saling mencintai


" sudah lebih baik kalian bercerai saja" kata Papa Arnold dengan santai menatap Arnold dan Allin


" apa! Tidak !" Arnold memeluk Allin dengan kedua tangannya


" lantas apalagi? Kalian tidak saling mencintai"


" aku mencintainya, kami saling mencintai!" Arnold memeluk Allin erat, seakan takut wanita itu akan diambil darinya


" jangan membohongi dirimu Arnold, Papa tahu, dari awal kamu sudah menolak perjodohan ini"


" itu dulu, dan sekarang aku mencintainya"


" sayang telpon orang tua Allin kesini, kita harus memutuskan tentang hubungan mereka " Aura yang dari tadi hanya diam mengangguk dan menelpon orang tua Allin


" kenapa kalian yang harus memutuskan ini adalah pernikahan kami, kami yang berhak memutuskan " kata Arnold tegas dengan nada penuh penolakkan


" kalian itu sudah salah, kita semua sudah tahu, kenapa kamu bersikeras"


" sudah sayang, kita pulang kerumah kita saja, buat apa kita disini" Arnold berdiri dan menarik Allin untuk pergi, tapi Allin tidak mau beranjak sama sekali, dia menatap Arnold dengan nyakin


" duduklah, kita harus menyelesaikan ke salahpahaman ini"


" aku tidak mau, kamu dengarkan mereka ingin memisahkan kita"


" kamu mau menikah dengan Allin karena tidak mau kehilangan semua aset berharga kamu kan?" Arnold menatap tajam Ayahnya


" dulu kamu mati- matian menolak dan harus diancam dulu baru mau" Arnold menatap Allin, takut bila wanita itu merasa sakit hati mendengar alasan Arnold menikah dengannya


" jangan dengarkan Papa sayang"


" kalau begitu duduklah " kata Allin datar, Arnold langsung duduk kembali dan memeluk pinggang Allin dengan satu tangan, mencoba membaca raut wajah istrinya


" semoga Allin tidak marah, ini semua karena Papa" Arnold menatap kesal Ayahnya yang dengan santai meminum kopinya, Lalu Arnold menatap istrinya


" sayang..." Allin menatap Arnold yang memasang wajah sedih


" ada apa?"


" kamu tidak marah kan?"


" untuk apa?"


" jangan pikirkan tentang perkataan Papa, dia tidak tahu apa- apa tentang kita"


Allin tersenyum menganggukkan kepalanya, Arnold merasa lega dan mengecup cepat bibir Allin, Allin kaget dan malu karena ada Papa Arnold disana, dan Arnold tampaknya tidak perduli,


Ramond mencibikkan bibirnya kesal melihat itu


" sudah sayang?" Tanya Ramond pada Istrinya yang baru tiba


" sudah, mereka akan tiba sebentar lagi"


" minumlah" Arnold mengarahkan gelas minuman pada Allin, Allin meminumnya karena dia memang merasa haus, dia bahkan belum makan siang, setelah Allin minum, Arnold juga minum di gelas yang sama


Kedua orang tua Arnold menatap mereka berdua dengan intens


Tiitt.....


" sayang tolong buka pintunya, itu pasti orang tua Allin" Ramond berbicara pada Istrinya, Aura mengangguk dan pergi untuk membuka pintu

__ADS_1


Arnold menatap Allin yang terlihat gelisah


" kita bisa pergi sekarang sayang" kata Arnold mengusap pipi Allin dengan tangannya, Allin menatap Arnold dan tersenyum


" tidak, kita harus bisa menyelesaikan ini semua" Allin menurunkan tangan Arnold dipipinya saat melihat kedua orang tuanya datang


" Mama" Mama Allin mendekati anaknya dan duduk diantara Allin dan Arnold membuat Arnold harus bergeser, Arnold hanya menatap dengan sedih, dia tidak bisa melakukan apa- apa saat ibu mertuanya bertindak


Papa Allin duduk disofa samping sofa Papa Arnold


" jadi mereka sudah tahu?" tanya Papa Allin pada Ramond


" ya, jadi bagaimana?"


" jalankan rencana B" Papa Arnold mengagguk mengerti


" jadi Arnold dan Allin katakan pembenaran kalian" kata Ramond sambil menepuk kertas surat perjanjian nikah Arnold dan Allin diatas meja


Arnold menatap Allin yang terpisahkan oleh Mama Allin


" aku mencintai Allin, dan soal surat itu, itu sudah tidak berarti apa apa"


" baiklah, kita bisa menerima bila kamu mencintai Allin, tapi bagaimana dengan Allin, tidak mungkin dia juga mencintaimu"


" Allin mencintaiku Pa!!" Arnold tersulut emosi saat mendengar Papanya berkata bahwa Allin tidak mungkin mencintainya


Papa Arnold hanya mengangkat bahunya acuh


" Papa kan Bilang mungkin, kenapa kamu harus terlihat marah?"


" tentu saja aku marah, kami itu saling mencintai!"


" Ya mungkin cuman kamu saja yang berharap "


" Papa!" Arnold tidak suka dengan perkataan Papanya


" iya Arnold, iya" Arnold bukannya tenang, malah tambah kesal mendengar itu


Arnold baru akan bicara tapi Allin lebih dulu berbicara


" kami memang saling mencintai Pa, aku mencintai Arnold "


Arnold merasa seperti terbang kelangit dan berbaring diatas awan, mata Arnold berkaca- kaca merasa sangat terharu, dia menatap Allin dengan penuh cinta


" terima kasih sayang, aku mencintaimu"


" aku dan Arnold memang melakukan perjanjian sebelum pernikahan tapi seiring berjalannya waktu kami belajar memahami satu sama lain "


" tapi kami tidak bisa percaya begitu saja"


" mau Papa apa sih sebenarnya, kan kami sudah bilang kalau kami saling mencintai, aku sungguh tidak mengerti dengan jalan pikiran Papa, Papa sengaja mengatakan kebohongan tentang Paman Richard agar memisahkan ku dengan Allin, tujuan Papa sebenarnya apa?"


" Papa hanya ingin tahu apa kalian sungguh saling mencintai"


" hanya Karena itu? Papa membuat aku dan Allin hampir berpisah, Allin hampir membuat surat pembatalan pernikahan dikantor catatan sipil" semua orang kaget disana kecuali Allin dan Arnold


" kamu serius sayang datang kekantor catatan sipil, ingin membatalkan penikahan?" tanya Mama Allin pada anaknya


Allin mengangguk mengiyakan


Melihat itu, Mama Allin berdiri dan duduk disamping suaminya


" bagaimana ini Pa? Sudah biarkan saja mereka bersama"


Arnold tidak menyiakan kesempatan itu, dia menggeser duduknya mendekatkan dirinya pada Allin


Papa Allin menarik nafasnya dan menatap Papa Arnold


" sudah Ramond, kita bisa mengawasi Mereka"


" kamu tidak seru Adam, ini baru berberapa hari, aku masih belum puas" Arnold dan Allin langsung menatap Ramond dengan kaget


Arnold sudah akan berbicara, tapi Allin menahan tangannya, Arnold menatap Allin yang menggelengkan kepalanya, memberi isyarat agar Arnold tidak melakukan apa- apa


Arnold mengangguk dan memeluk pinggang Allin dengan erat


" baiklah kita akhiri permainan ini"


" mereka sangat keterlaluan, mempermainkan aku dan Allin, hampir saja aku dan Allin berpisah "


" Arnold kamu jangan marah atau kesal pada Kami, ini semua salah kalian, kalian mempermainkan pernikahan, dan menipu kami"


" maafkan kami, kami tahu kami salah, aku janji dengan kalian semua, aku akan menjaga Allin dan mencintainya dengan sepenuh hatiku" Arnold sungguh merasa bersalah dan berdiri dari tempat duduknya, dia berlutut didepan Ayah Allin, semua orang kaget dengan apa yang Arnold lakukan


" aku yang paling bersalah disini, aku yang membuat surat itu dan meminta Allin melakukannya"


" sudah ku duga" Papa Arnold berbicara ditengah pengakuan maaf Arnold,


" Papa diamlah " Aura menegur suaminya yang menyela perminta maafkan Arnold


" jadi Pa...Aku minta maaf dan jangan pisahkan Allin dariku"


Adam menarik nafasnya dan tersenyum, dia memegang pundak Arnold


" Papa memaafkanmu, asal kamu bisa menjaga Allin dengan baik, jika tidak...Papa akan menjodohkanya dengan...."


" tidak! Jangan Pa" Adam tertawa dan menepuk pundak Arnold


" berdirilah"


" tapi jangan jodohkan Allin dengan pria lain"

__ADS_1


" tidak, berdirilah " Arnold berdiri dan tersenyum pada Adam


" terima kasih Pa"


__ADS_2