ALLIN [ You Are My Woman ]

ALLIN [ You Are My Woman ]
54


__ADS_3

4 tahun kemudian


Arnold turun dari lantai atas dan tersenyum melihat anak kecil laki-laki nya


" Arlan makan apa?" tanya Arnold pada anaknya, Arlan menatap Ayahnya


" makan bubur"


" bubur apa?"


" tidak tahu, Mama yang masak" Arnold tersenyum dan mencium kepala anaknya


" Papa jangan cium-cium aku cuma Mama yang boleh Cium aku" kata Arlan cemberut


" kenapa seperti itu, Kenapa cuma Mama Papa tidak boleh "


" pokoknya tidak boleh"


" ya Sudah kalau begitu, Papa cium Mama saja" Arnold berjalan kearah dapur untuk mencari istrinya, tanpa diduga Arlan turun dan mengejar ayahnya


" tidak boleh! Papa tidak boleh!" Arnold berhenti berjalan dan tersenyum menatap anaknya


" ada apa pagi-pagi sudah ribut " kata Allin yang datang dari dapur sambil membawa dua piring sandwick


"Mama" Arnold langsung memeluk Allin dengan erat, Arlan yang melihat itu memukul pelan kaki ayahnya


" lepas, jangan peluk -peluk Mama" Arnold tidak perduli dan malah menciumi wajah istrinya, Arlan kesal dan masih memukul kaki ayahnya, Allin menghembuskan nafasnya pelan


" Arnold sudah, kenapa kamu suka sekali menjahili anakmu"


Arnold melepaskan pelukkannya


" Mama" Arlan mendekati ibunya dan minta digendong, Allin memberikan dua piring tersebut pada Arnold lalu menggendong Arlan, Arnold yang melihat itu memasang wajah cemberut


" kenapa aku yang harus membawanya?"


" kamu kenapa tidak pakai pakaian kantor ?" Allin bertanya saat melihat suaminya memakai baju santai


" aku libur"


" libur terus, kalau kamu tidak mau kerja biar aku saja yang kerja "


" tidak boleh, kamu dirumah saja jaga Arlan sama aku"


" aku dirumah dan kamu harus kerja"


" hari ini saja besok aku akan kerja "


" ya sudah kamu kalau dipaksa juga tidak bisa, kamu kan keras kepala"


" sayang" kata Arnold tidak suka dibilang keras kepala


Allin pergi menuju meja makan meninggalkan Arnold, Arnold juga menyusul Allin kemeja makan


" Mama susu Arlan belum ada"


" maaf ya sayang, Mama bikinkan dulu ya" Allin berdiri dari kursi dan berjalan kearah dapur, Arnold yang melihat itu tersenyum


" Papa lupa mau bikin Kopi, Papa kedapur dulu ya" Arnold langsung berdiri dan menyusul Allin, Arlan hanya menatap ayahnya sejenak sebelum dia kembali makan bubur nya


Arnold melihat Allin dan duduk di tempat dapur, Allin hanya melihatnya sekilas dan melanjutkan membuat susu untuk Arlan


" sayang"


" hem"


" sayang"


" ada apa?"


Arnold menarik Allin dan memerangkap Allin diantara kakinya


" malam tadi kamu tidur dimana ?"


" dikamar Arlan"


" tidur disana terus, anak itu jangan terlalu dimanja "


" Arlan masih kecil Arnold "


" aku rindu tahu sama kamu, rindu peluk kamu" Arnold membawa Allin kepelukkannya


" aku juga" Arnold tersenyum dan menatap wajah istrinya dan langsung mencium istrinya


Arnold mencumbu Allin dengan semangat dan dalam, Allin yang awalnya keget mulai menikmati ciuman itu, Arnold menarik Allin semakin dekat dengannya dan menciumnya semakin liar


" Mama mana susu ku!" Allin memegang pundak Arnold untuk mengehentikan Arnold yang masih mencumbu mesra bibirnya


" Arnold "


Arnold menarik bibirnya dan menyatukan dahi mereka, Arnold menatap dalam mata Allin dan menyentuh wajahnya


" sebentar lagi " Arnold kembali akan mencium Allin tapi Allin menahan mulut Arnold dengan tangannya


" nanti Arlan melihat kita" Arnold menurunkan tangan Allin dari mulutnya dan kembali mencium bibir istrinya


" Mama!" Allin langsung menarik dirinya saat terdengar jelas suara Arlan


Arlan datang dan langsung menghampiri ibunya, Arnold turun dari meja dapur lalu mengusap bibirnya dengan jari


Allin menggendong anaknya dan membawanya menuju meja makan, Arlan menatap bibir ibunya yang memerah, Arlan menyentuh bibir ibunya dengan tangan


" kenapa Bibir Mama merah?" Allin terdiam dan gugup sambil menatap Arnold yang tersenyum sambil meletakkan segelas susu diatas meja


" itu...." Allin tampak kesulitan Menjelaskannya

__ADS_1


Arnold hanya diam saja tidak ingin membantu menjelaskan


" digigit serangga ya ?" Allin dengan cepat mengangguk, Arnold menatap istri dan anaknya


" serangganya jahat, kalau Arlan tahu, Arlan akan pukul serangga itu sampai mati"


" huk...huk.." Arnold terbatuk saat mendengar anaknya berkata seperti itu disaat dia memakan sandwick nya


Allin tersenyum mendengar itu dia mengusap sayang kepala anaknya


Arnold menatap istrinya dan memindahkan kursinya untuk duduk disamping Allin, Allin menatap Arnold bingung


" hari ini kita kencan keluarga bagaimana ?" Arnold memeluk istrinya dari samping, Arlan menatap ayahnya


" kencan keluarga ?" tanya Allin pada suaminya


" iya, aku..kamu...sama Arlan jalan-jalan Arlan mau kan?"


Arlan menatap ayahnya antusias,


" mau!" Arnold tersenyum dan menatap istrinya


" bagaimana sayang kamu mau kan?" Allin tersenyum dan mengangguk, Arnold mendekatkan wajahnya ingin mencium Allin tapi Arlan menarik tangan ibunya menjauh


" tidak boleh!" Allin tersenyum melihat itu dia menyentuh wajah anaknya


" iya, Papa tidak akan cium Mama, sekarang Arlan habiskan sarapan Arlan dulu ya" Arlan menatap ayahnya waspada takut bila ayahnya kembali berniat mencium ibunya


Arlan kembali makan dan Arnold yang melihat kesempatan itu langsung menarik wajah istrinya dan mencium bibir istrinya gemas, Arlan yang melihat itu berteriak


" Papa!" Arnold tertawa besar dan menjulurkan lidahnya pada Arlan


" Papa menang" Arlan kesal dan hendak turun untuk memukul ayahnya


" Arlan selesaikan dulu makannya" Arlan tidak jadi turun dari kursi dan menatap penuh permusuhan ayahnya, Arlan memegang tangan ibunya takut diambil ayahnya, sedangkan Arnold menyikapi santai perlakukan anaknya sambil memakan sandwick nya kembali


**


Arnold menatap istrinya yang sedang berdanda didepan cermin, Arlan sedang memainkan mobil-mobilan diatas ranjang, Arnold tidak suka dengan baju yang dipakai Allin,


" pakai Jaket sayang" Allin menatap Arnold yang berbicara


" kenapa?"


" lenganmu terlihat, pakai baju yang ada lengannya"


" Arlan coba lihat Mama, Mama cantik kan pakai baju ini?" Arlan yang sibuk sama mobil mainannya menatap ibunya dari atas hingga bawah


" cantik"


" tuh kan Arlan saja bilang cantik"


Arnold kesal dan mendekati Arlan


" Arlan dengar Papa ya, kalau Mama keluar dengan dandanan cantik nanti banyak laki-laki yang mau sama Mama, memangnya Arlan mau punya Papa baru"


" makanya suruh Mama ganti baju" Arlan memberikan mobil mainanan miliknya pada Arnold dan turun dari ranjang mendekati ibunya


" Arlan tidak mau punya Papa baru, Papa Arlan cuma Papa Arnold " Allin menatap suaminya yang tersenyum menang, Allin berjongkok dan menenangkan anaknya


" iya, iya Mama ganti baju" Arnold juga beranjak dari kasur dan berjalan menuju lemari


" tidak perlu ganti baju, pakai jaket saja" Arnold memasangkan jaket pada Allin, Allin hanya diam lalu bercermin


" No Bad"


" baiklah kalau begitu, ayo kita jalan-jalan" Arnold menggendong Arlan ditangan kanan dan menggenggam tangan Allin dengan tangan kirinya


**


" kita mau kemana?" Arnold menatap istrinya dan tersenyum


" jalan-jalan "


Arnold menatap Arlan yang duduk dipangkuan Allin


" Arlan mau kan jalan-jalan?"


" iya"


Mereka sampai disebuah taman dan turun dari mobil, Arnold mengambil alih Arlan pada gendongan Allin, banyak orang yang juga jalan-jalan menikmati waktu bersama, Allin sedikit tidak nyaman karena takut dilihat oleh rekan kerjanya dikantor, apalagi sekarang Arnold tidak bekerja, apa yang akan mereka pikirkan nantinya ditambah banyak orang yang memperhatikan mereka Allin jadi semakin tidak nyaman


Allin yang semula berjalan disamping Arnold memberi jarak diantara mereka, Arnold yang melihat Allin menjauh menarik Allin mendekat


" jangan jauh-jauh dariku" Allin menatap Arnold dengan senyum kecil


" aku malu"


" kamu malu jalan sama aku dan Arlan" kata Arnold dengan nada tidak suka


" tidak...bukan seperti itu, aku hanya tidak nyaman karena orang-orang memperhatikan kita"


" jangan perdulikan mereka" Arnold tersenyum dan mencium cepat istrinya, Arlan melihat itu tapi aneh dia tidak marah dan malah memeluk leher ayahnya


" Arlan tidak marah?" tanya Arnold saat tidak mendapat kemarahan dari anaknya


Arlan tidak menjawab dan melihat toko ice krim, Arlan menyentuh wajah ayahnya dan mengarah nya ketoko ice krim tersebut


" Arlan mau ice Krim?" tanya Arnold


" iya"


" cium dulu tapi"


Arlan dengan cepat mencium pipi kanan ayahnya

__ADS_1


" sebelah lagi" Arlan kembali mencium pipi kiri Arnold


" ayo kita kesana" Allin tersenyum melihat intrakasi suami dan anaknya


**


Mereka sedang duduk dimeja mereka, mereka juga sudah memesan dan sedang menunggu ice krimnya datang


Arnold sedang bercanda dengan anaknya dan Allin melihatnya dengan senyum bahagia


" terima kasih Tuhan"


Pesanan mereka datang, Arlan sangat senang dan langsung memakai ice krimnya, Arnold dan Allin tersenyum melihat itu


" pelan-pelan sayang" Allin mengusap bibir anaknya yang belepotan dengan ice krim, Arnold yang melihat itu sengaja mengotori mulutnya dengan ice krim


" sayang" Allin melihat Arnold dan tertawa pelan, Allin juga membersihakan bibir Arnold yang penuh dengan ice Krim


Arnold tersenyum dan mengedipkan matanya pada Allin, Allin tersenyum dan memakan ice krim nya juga


**


Setelah jalan - jalan di taman, Arnold membawa Allin dan Arlan ke Mall, mereka berhenti ditoko mainan


" Arlan suka?" Allin menepuk tangan suaminya yang hendak mengambil mobil mainan


" Arlan sudah punya"


" tapi yang dirumah beda sama yang ini, iya kan Arlan?" Arlan mengangguk


" pokoknya tidak boleh "


" kali ini saja" Allin menatap Arnold dan menghela nafas


" seterah kamu" Arnold tersenyum dan membawa mainanan itu ketempat kasir


Setelah berbelanja mereka pergi ke restoran yang ada disana, Arnold duduk disamping Allin dan menatap wajah kesal istrinya


" sayang?" Allin menatap Arnold dengan datar


" kamu marah?"


" iya, kalau aku tahu seperti ini lebih baik dirumah saja"


" kamu jangan marah, ini juga baru sekali tidak setiap hari" Arnold memeluk pinggang istrinya dengan sebelah tangan


" iya tapi kan mainan banyak itu untuk apa coba? buang-buang uang saja " tunjukan Allin pada lima bungkusan besar disana


" aku punya banyak uang sayang, uangku tidak akan habis hanya kerena membeli mainan ditoko itu"


" iya aku tahu, tapi kamu jangan terlalu memanjakan Arlan"


" iya maaf, aku janji ini yang terakhir" Arnold mencium pipi istrinya berkali-kali merasa Menyesal, Allin tersenyum dan menjauhkan wajah suaminya


" malu dilihat orang"


" biarkan saja" Arnold kembali akan mencium Allin


" Mama" Arnold dan Allin menatap Arlan


" Arlan mau pipis" Arnold tersenyum dia pikir Arlan akan marah lagi padanya tapi tidak dia hanya ingin pipis, Arnold berdiri dan menggendong Arlan


" ayo sama Papa"


" Mama, kami pergi ketoilet dulu ya"


" iya"


Arnold dan Arlan pergi dari sana, Allin kembali memakan makanannya


" hai" Allin menatap siapa yang bicara, dahi Allin berkerut tidak kenal dengan pria yang menyapanya


" boleh aku duduk disini"


" maaf, tapi tidak bisa"


" sebentar saja" pria tersebut duduk didepan Allin dan menatap Allin dengan senyuman


" maaf tapi suami dan anak saya sebentar lagi kembali"


" kamu jangan berbohong untuk mengusirku, tidak mungkin wanita muda dan cantik seperti kamu sudah menikah dan punya anak"


"maaf tapi bisa Tuan duduk ditempat lain "


" perkenalkan namaku Hans kalau kamu?" bukannya pergi pria itu malah mengangkat tangannya untuk berkenalan


Arnold dan Arlan sudah selesai dan keluar dari toilet, Arnold sudah akan sampai tapi dia melihat pemandangan yang membuat jiwa yang lama tidak membara kembali membara dengan kobaran yang besar


" berengsek beraninya dia menggoda istriku " Arnold berjalan cepat menuju meja Allin, Arnold sudah sampai dan duduk disamping Allin dengan Arlan dipangkuannya, Arnold menatap tidak suka pria didepannya lalu dia menatap Allin yang hanya diam saja


Arnold menarik Allin dan mencium bibirnya sedikit lama


Pria yang tadi duduk didepan Allin dan Arnold kaget melihat itu


" Mama" Arlan berpindah dan duduk dipangkuan Allin, pria tadi semakin kaget, dia berdiri dan langsung pergi dari sana


" siapa dia?" tanya Arnold tidak suka


" tidak kenal"


" kalau ada pria yang seperti itu lagi jangan di perduli kan bilang saja kamu sudah punya suami dan anak"


" aku bilang seperti itu tadi tapi dia tidak percaya" Arnold menghembuskan nafasnya pelan, ini bukan salah pria itu ini karena istrinya terlalu sempurna


Arnold tersenyum dan merangkul istrinya

__ADS_1


" aku tahu, mulai sekarang kita liburan dirumah saja"


__ADS_2