ALLIN [ You Are My Woman ]

ALLIN [ You Are My Woman ]
55


__ADS_3

Arnold sudah siap dengan pakaian kerjanya, Allin datang dan memakainkan dasi untuk suaminya


" mana Arlan?"


" dibawah sedang sarapan " Arnold tersenyum dan memeluk pinggang istrinya dan menempelkannya pada tubuhnya


" hari ini jangan kemana-mana" Allin tersenyum dan menyelasaikan memasang dasi Arnold


" iya"


" kalau Mama mamintamu kerumahnya jangan mau, bilang saja aku yang melarangmu"


" iya"


" kalau kamu mau kekantor ajak saja Arlan nanti aku suruh Deon jemput kamu sama Arlan"


" iya"


" kamu jangan Iya-iya saja, harus janji tidak boleh kemana-mana "


" iya janji"


Arnold tersenyum dan mencium cepat bibir istrinya, Arnold duduk dikasur dan memakai sepatunya, Allin menatap Arnold dan tersenyum


" aku kebawah dulu ya, kasihan Arlan sendirian " Allin mendekati Arnold dan mencium Arnold tiba-tiba


Allin menarik dirinya dan tersenyum


" cepat turun aku duluan " Allin pergi dari sana, Arnold tersenyum lebar dan berbicara keras


" sayang! Masih kurang ciumannya!"


Allin hanya tersenyum saat mendengar teriakkan Arnold


**


Allin mengantar Arnold hingga depan rumah sambil menggendong Arlan


" sayang aku pergi kerj dulu ya" Arnold mencium Arlan lalu mencium Allin sebentar


" sudah pergi sana"


" ingat kalian tidak boleh kemana-mana"


" iya Papa"


Arnold tersenyum dan masuk kedalam mobil yang Deon sudah menunggu disana


Arnold melambaikan tangannya dan dibalas Allin


mobil Arnold pergi dari sana, dan Allin masuk kembali kedalam rumah, baru Allin meletakkan Arlan disofa bel rumah berbunyi


Tit....


" Arlan tunggu disini ya, Mama mau buka pintu dulu" Allin menyalakan televisi dan mencari channel kartun untuk Arlan lalu dia pergi untuk membuka pintu


Allin membuka pintu dan langsung tersenyum lebar


" Lucas"


" hai" Allin tersenyum dan langsung memeluk Lucas


" apa kabarmu ?"


" baik, ayo masuk" Lucas masuk dan melihat sekeliling rumah


" tidak ada yang berubah sejak terakhir aku kesini saat kamu melahirkan Arlan"


" Arlan ada diruang tamu, dia pasti senang kamu datang"Lucas tersenyum dan mengikuti Allin


Arlan melihat siapa yang datang dan langsung turun menghampiri ibunya, Arlan menjulurkan tangannya minta digendong


Allin tersenyum dan menatap Lucas


" maaf dia memang sedikit manja "


" tidak masalah, itu karena ayahnya juga seperti itu" Allin tertawa pelan mendengar itu, Arlan tidak suka melihat ibunya dekat dengan pria lain selain ayahnya dan menatap tidak suka pada Lucas dengan bibir mengerucut lucu


" sayang ini Paman Lucas, Arlan kenal tidak?"


" tidak " kata Arlan cuek, Allin mengusap punggung Arlan dan menatapnya


" Arlan tidak boleh bicara seperti itu, minta maaf sama paman Lucas" Arlan menatap dingin Lucas dan menjulurkan tangannya,Lucas tersenyum dan menyambut tangan Arlan


" aku rasa sifat ayahnya sudah menular pada anaknya"


Allin membawa Lucas untuk duduk, Allin menurunkan Arlan disofa


" Arlan main sama Paman Lucas ya, Mama mau buat kan minuman dulu buat Paman" setelah bicara seperti itu, Allin pergi dari sana menuju dapur, Lucas menatap Arlan yang memasang wajah cemberut


" Arlan kenapa cemberut?"


" Arlan tidak suka sama Paman"


" kenapa ?"


" Arlan tidak suka Paman dekat-dekat dengan Mama, cuma Papa dan Arlan yang boleh dekat sama Mama" Lucas tersenyum dan menggeleng pelan


" dia sudah seperti Arnold kedua sekarang"


" tapi kan Paman Lucas kakaknya Mama Arlan"


" tidak boleh pokoknya tidak boleh"


" iya, iya Paman tidak akan dekat-dekat dengan Mama Arlan"


" Paman janji ya"


" janji" Arlan tersenyum dan mulai kembali menonton kartun kesukaannya sepongsbob


" Spongsbob itu Yang warna kuning ya?" Lucas bertanya pada Arlan untuk menciptakan kedekatan

__ADS_1


" iya, masa Paman tidak tahu"


" kalau bintang merah muda itu siapa ?"


" Patrick"


" Patrack?"


" Patrick Paman "


" oh Patrick"


" kepiting warna merah itu siapa namanya ?"


" Tuan Krab"


" kalau tupai yang pakai baju astronot itu ?"


" sandy"


" kalau...."


" Paman tanya terus aku kapan bisa nonton" Lucas tersenyum dan mencubit pipi Arlan yang cuby


" kamu kenapa bisa sangat imut sih?" tanya Lucas dengan gemas, hingga kedua pipi Arlan memerah karena kulitnya yang putih


Arlan cemberut pada Lucas yang mengatakannya imut


" aku tampan Paman bukan imut"


" iya kamu tampan mirip sama Arnold "


" mirip Mama Allin"


" mirip Papa Arnold "


" mirip Mama"


" iya-iya mirip Mama Allin" Arlan mengangguk mengisyaratkan bahwa dia puas,


" bocah ini padahal dia mirip Arnold pria posesif itu,dia tidak ingin dibilang mirip Arnold tapi tidak mau pria lain mendekati ibunya"


Allin datang membawa dua gelas minuman untuk Lucas dan Arlan


" mana Arnold?"


" kekantor"


" kamu sejak kapan tidak kerja lagi?"


" sejak Arlan lahir, Arnold melarangku kerja"


" tapi kan Arlan sudah besar sudah bisa ditinggal, Bibi Alda pasti senang kalau Arlan dititipkan disana"


" kamu seperti tidak kenal Arnold saja, dia itu tidak boleh dibantah, aku pernah nekat pergi kerja saat Arlan Berusia tiga tahun, dia pulang marah-marah dan melarangku keluar rumah selama sebulan, dan bahkan yang bikin aku tidak Habis pikir dia juga tidak kerja selama sebulan untuk mengawasiku, gila kan?"


" dia itu terlalu posesif, dari pertama kali jumpa juga kelihatan"


" tapi dia tidak pernah menyakiti ku, aku tahu itu cara dia mencintaiku"


" oya, aku lupa kamu kapan tiba? kamu tidak memberitahu ku"


" iya, aku baru tiba kemarin malam, aku tidur dihotel karena tidak ingin menyusahkan paman dan Bibi"


" kalau begitu tidur disini saja"


" kamu nyakin Arnold tidak marah"


" tidak, dia sudah cukup baik sekarang"


**


" Arlan! Papa pulang!" Arnold masuk kedalam rumah dan langsung teriak-teriak memanggil anaknya, Arnold mengerutkan dahinya setelah tidak ada jawaban biasanya Allin akan langsung menghampirinya


" sayang! Aku pulang!" Arnold masuk lebih dalam dan mendengar suara tawa dari arah dapur,


" ada suara pria, tidak mungkin itu suara Arlan" Arnold dengan cepat berjalan kearah dapur dan melihat punggung seorang pria yang sedang membelakangi Arnold,


Jiwa Arnold membawa dan rasa cemburu mulai berkobar, Arnold berjalan kearah Allin dan pria itu yang tertawa


" Lucas?" Arnold melihat pria itu dan menatapnya datar, Lucas melihat Arnold dan tersenyum


" hai"


" kenapa kamu ada disini?"


Lucas menatap Allin dan kemudian menatap Arnold


"hanya berkunjung "


Arnold tidak merubah raut wajahnya dan menatap istrinya


" mana Arlan?"


" lagi tidur"


" anak kamu tinggal sendiri dan kamu malah tertawa sama pria lain" Allin menatap Lucas dengan wajah minta maaf, ternyata Arnold tidak berubah meski usia pernikahan mereka sudah hampir 5 tahun


"Mama" Allin menatap Arlan yang baru bangun tidur dan berjalan mendekati Allin dengan wajah mengantuk, Allin tersenyum dan mendudukan Arlan dipangkuannya


" Arlan sudah bangun?" Arlan mengagguk dan memeluk leher ibunya dan kembali memejamkan matanya


" Arlan sudah tidur lama, bangun ya Papa sudah pulang " Arlan membuka matanya dengan pelan dan menatap arah depannya


" itu bukan Papa itu Paman Lucas" Allin tersenyum dan mengarah mata anaknya pada Arnold


" itu Papa" Arlan melihat Arnold dan tersenyum


" Papa" Arnold mengambil alih Arlan dari pangkuan Allin dan membawanya pergi dari sana, Allin menghembuskan nafasnya pelan dan menatap Lucas


" Maaf ya Lucas "

__ADS_1


" tidak, aku mengerti" Lucas menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi dan menatap punggung Arnold yang menjauh


" aku rasa aku juga akan bersikap seperti itu "


" kamu berbeda dengan Arnold kamu pria yang lembut"


" kamu jangan salah sangka, aku mungkin lebih posesif dari suamimu"


" Really?"


Lucas mengangguk dan tersenyum sedangkan Allin menatap tidak percaya atas perkataan Lucas


" tapi aku belum menemukan wanita yang dapat membuatku takut kehilangan"


" kamu tahu kamu pria yang baik dan juga tampan banyak yang menyukaimu, kamu saja yang jual Mahal"


" aku hanya tidak ingin memberi harapan, bila aku sudah menyukai wanita aku tidak akan melirik wanita lain"


" wanita yang nanti bersamamu pasti sangat beruntung"


Lucas tersenyum dan menatap Allin yang melamun


" kamu sudah beruntung memiliki suami seorang Arnold "


**


Arnold membawa Arlan kekamar dirinya dan Allin dan meletakkan Arlan diatas kasur, Arnold juga duduk dikasur dan menatap Arlan yang menatapnya polos


" sejak kapan Paman ada disini?"


" pagi tadi"


" pagi tadi?"


" iya setelah Papa pergi Paman datang"


Arnold berdecak kesal mendengarnya, jika Lucas datang Allin pasti lebih sering bersama pria itu, Arnold tidak suka


" Arlan" Arlan menatap ayahnya,


Arnold mendekatkan wajahnya pada telinga Arlan


" Arlan tidak mau kan Mama lebih sering sama Paman Lucas?" Arlan menganggukkan kepalanya


" Papa kasih tahu ya, Arlan harus selalu ganggu Mama sama Paman Lucas supaya Mama tidak dekat-dekat dengan Paman, memangnya Arlan mau Mama lebih dekat sama Paman Lucas dari pada Papa"


" No"


" makanya Arlan harus ajak Paman Lucas main, supaya Papa bisa dekat sama Mama ya"


" iya"


Arlan langsung turun dari ranjang dan berlari keluar kamar, Arnold tersenyum senang kemudian dia berucap


" maafkan aku Ya Tuhan sudah memanfaatkan anakku"


**


Arlan melihat ibunya yang sedang berbincang diruang tamu, Arlan langsung berlari dan duduk dipangkuan Lucas


Allin dan Lucas kaget dengan itu


" hei anak kecil, sejak kapan kamu bersikap baik padaku?"


Arlan menatap Lucas dan tersenyum manis


" Paman Lucas kita main mobil-mobilan Yuk"


Arlan menarik Lucas dan membawanya keruangan bermainnya, Allin hanya diam menatap perubahan siapa Arlan


Allin menatap Arnold yang turun dari lantai dua, Arnold turun dengan biasa dan menatap sejenak Allin sebelum dia pergi kearah dapur


Allin juga beranjak dan menyusul Arnold


" kamu bicara apa sama Arlan?" Arnold yang hendak duduk di kursi makan menatap Allin santai


" bicara apa?"


" sikapa Arlan pada Lucas berubah sejak kamu membawanya pergi tadi"


" aku tidak bicara apa-apa, memangnya apa yang terjadi?"


" Arlan tiba-tiba mengajak Lucas bermain, padahal sejak Lucas datang Arlan selalu bersikap tidak suka pada Lucas"


" bukankah itu bagus, Arlan dan Lucas bisa berbaik kan"


" ya"


Arnold menarik Allin untuk duduk dipangkuannya, Allin menatap sekelilingnya takut Lucas atau Arlan melihatnya


" nanti Lucas melihat kita" Arnold tidak menghiraukan perkataan Allin dan meletakkan kepalanya diceruk leher Allin


" aku rindu kamu"


Allin tertawa pelan mendengar perkaaan Arnold


" kita setiap hari bertemu"


" kamu sibuk mengurus Arnold berberapa tahun ini, sehingga perhatianmu berkurang padaku"


" tidak, itu hanya peraaanmu saja" Allin menyentuh wajah Arnold dan mengusapnya, Arnold menatap dengan mimik terharu berharap belaian lebih


" kamu baru pulang mau makan?"


Arnold mengangguk dan mengecup cepat bibir istrinya


" lepas dulu, biar aku siapkan" Arnold menatap sejenak Allin dan hanya diam


" kamu sudah makan bersama Lucas?"


" tidak, aku menunggumu " Arnold tersenyum dan memeluk erat Allin sambil mulutnya menciumi leher Allin, Allin merasa sedikit aneh atas sikap Arnold tapi dia mencoba bersikap biasa, Arnold sering melakukannya tapi entah kenapa kali ini terasa berbeda, seakan Arnold mencoba memancing dirinya

__ADS_1


Allin memegang tangan Arnold melepaskan dekapan suaminya dari dirinya


" aku siapkan dulu" Allin berdiri dan menyiapkan makan malam untuk Arnold, Arnold hanya dia dengan matanya memperhatikan setiap pergerakkan Allin


__ADS_2