Aman

Aman
Episode 18


__ADS_3

Je-Ha ternyata berbelok arah untuk membakar kertas di dekat alarm kebakaran yang ada di kamar mandi. Usai menyiapkannya, ia tidak membuang waktu untuk menghajar satu demi satu bodyguard yang ada dengan bantuan payung yang ia bawa. Alarm berbunyi tak lama setelah semua bodyguard terkapar tak berdaya. Semua yang ada di dalam ruang pertemuan menjadi panik dan segera berlari keluar.


Yoo-Jin tetap berdiri mematung lantas terduduk di kursinya, masih syok dengan apa yang baru saja terjadi. Je-Ha menghampirinya, lalu membuka payungnya. Yoo-Jin yang kaget kemudian menoleh ke arah Je-Ha.


“Jangan khawatir, tidak akan ada pertemuan darurat di yayasan.” ujar Je-Ha, yang lantas memberikan sapu tangannya pada Yoo-Jin, yang masih tetap membisu.


Mereka berdua melangkah perlahan menuju pintu keluar.


“Aku jelas tidak menekan tombol dua kali, tapi ia tahu bahwa aku membutuhkannya.” ujar Yoo-Jin dalam hati. “Tidak ada seorang pun yang pernah bertindak sebelum aku memerintahkan mereka sebelumnya. Tapi orang ini tidak membutuhkan perintahku atau ijinku. Ya, ia bukanlah anjing pemburu. Ia serigala. Sangat berbahaya. Aku yakin aku tidak akan mampu untuk menjinakkannya.”


Sampai di depan pintu keluar, Je-Ha tiba-tiba memegang punggung Yoo-Jin.

__ADS_1


“Tegakkan punggungmu dan angkat wajahmu. Semua musuhmu melihatmu.” ujarnya pada Yoo-Jin.


Dengan tenang Yoo-Jin melangkah keluar bersama Je-Ha. Saat itu ayah mertua Sung-Won mendapat kabar bahwa pertemuan direksi telah dibatalkan. Beberapa orang bodyguard lantas menghadang langkah keduanya. Tapi suami Sun-Ja kemudian memerintahkan para bodyguard tersebut untuk minggir.


“Semoga bibi beristirahat dalam damai,” ujar Yoo-Jin pada pamannya, sembari pergi meninggalkan mereka.


Tanpa rasa bersalah, Se-Jon menyusul Yoo-Jin. Dengan dingin Yoo-Jin memintanya untuk pulang dengan naik mobil yang berbeda. Se-Jon pun membuang malu dengan tertawa terbahak-bahak. Dari kejauhan Gwan-Soo melihat kejadian tersebut sambil tersenyum puas.


“Tidak ada yang kalah, tidak ada yang menang. Bukankah itu benar?” tanya Gwan-Soo pada biksu yang menemaninya duduk. Biksu tersebut mengangguk.


Dalam perjalanan pulang, Yoo-Jin meminta agar Je-Ha tidak melakukan hal seperti tadi lagi.

__ADS_1


“Ya, ya, terserah,” ujar Je-Ha cuek.


Ketua unit VIP jadi sungkan dan ia pun meminta maaf pada Yoo-Jin atas kelakukan Je-Ha. Yoo-Jin juga kesal melihat sikap Je-Ha yang tidak terlalu menghiraukannya. Ia lalu meminta ketua unit VIP untuk membawanya ke Cloud Nine. Setibanya di kantor, direktur JSS (Ko In-Beom) menyambut Yoo-Jin dengan informasi bahwa semua anggota direksi yang tadi datang ke pertemuan sudah ia beri pelajaran dan surat pengunduran diri mereka sudah ada di tangannya. Tanpa berkata apa-apa Yoo-Jin melangkah mendekat ke arah direktur JSS, yang secara reflek memundurkan badannya karena takut. Ia pun jadi lega karena Yoo-Jin ternyata memuji tindakannya.


Bersama dengan direktur JSS dan ketua Joo, Yoo-Jin masuk ke lift untuk menuju Cloud Nine. Je-Ha hendak ikut serta, namun dicegah oleh ketua unit VIP. Ketua Joo juga memberi tanda agar Je-Ha tidak ikut dengan mereka. Dengan agak heran Je-Ha pun menurutinya.


**Next Episode 19...


TERIMA KASIH TELAH MAMPIR LAGI UNTUK MEMBACA NOVEL SAYA. JANGAN LUPA UNTUK LIKEE👍👍👍


DAN KOMENTAR DI BAWAH 👇👇👇

__ADS_1


DAN JANGAN LUPA KASIH AKU


👉⭐⭐⭐⭐⭐👈**


__ADS_2