Aman

Aman
Episode 28


__ADS_3

An-Na lalu melepas pelukan ayahnya. Ia berkata, “Ada sesuatu yang ingin aku tanyakan kepadamu, ayah. Apakah kau mencintai ibu?”


“Tentu saja. Itu sebabnya kamu lahir.”


“Dan apakah ibu benar-benar menggunakanku untuk memerasmu?” tanya An-Na lagi.


Se-Joon langsung menyadari bahwa pertanyaan An-Na barusan disebabkan oleh Yoo-Jin. Ia pun terdiam sejenak, bimbang harus menjawab apa. An-Na mulai meneteskan air matanya kembali.


“Apakah itu sebabnya kamu meninggalkan aku dan ibu?” tanya An-Na.


“An-Na, itu adalah urusan orang dewasa.” jawab Se-Joon perlahan.


“Aku juga orang dewasa sekarang. Dan aku ingin tahu.” balas An-Na.

__ADS_1


“An-Na, itu tidak penting lagi sekarang.”


“Kamu bilang kamu mencintai ibu. Tapi ibu mati! Dan aku dipaksa untuk pergi ke luar negeri, tapi kamu tidak sekalipun datang untuk melihatku! Lalu kenapa itu tidak berarti?”


“An-Na, ayahmu adalah orang yang melakukan hal penting untuk negara ini. Dan ketika kamu melakukan hal penting seperti yang aku lakukan, urusan yang tidak terlalu signifikan terpinggirkan.”, jawab Se-Joon sambil memaksakan diri untuk tertawa.


“Jadi itu benar,” ujar An-Na. Ia teringat perkataan Yoo-Jin sebelumnya, bahwa dirinya bagi ayahnya tidak seberharga yang ia bayangkan. Ia melanjutkan, “Yang dikatakan Choi Yoo Jin kepadaku benar. Semua hanyalah ilusi fana.”


Sambil menahan tangis, An-Na kembali merebahkan dirinya ke tempat tidur dan memalingkan wajahnya dari ayahnya. Se-Joon, juga sambil menahan tangisnya, lalu berpamitan sambil berjanji akan datang lagi nanti.


Untuk berpikir bahwa aku menggantungkan nasibku pada sampah sepertimu….


Ia pun terus tertawa, namun lambat laun berubah menjadi tangisan. Sama halnya dengan An-Na, yang tidak lagi bisa menahan tangisnya di tempat tidur.

__ADS_1


Je-Ha mendatangi kamar rawat An-Na. Ada Jang Mi-Ran (Lee Yea-Eun) dan ibunya di sana, sedang tertidur pulas, sementara An-Na justru terduduk melamun. Je-Ha pun membangunkan mereka dan meminta mereka untuk pulang terlebih dahulu karena sore nanti An-na sudah diperbolehkan untuk meninggalkan kamar rawat JSS. “Mengapa kamu membawa ayah ke sini?” tanya An-Na sepeninggal Mi-Ran dan ibunya. “Karena aku tidak ingin melihatmu mati,” jawab Je-Ha. “Kenapa kamu peduli aku mati atau tidak?” “Kamu tahu berapa banyak orang yang khawatir karenamu?” tanya Je-Ha balik. “Khawatir? Kamu benar. Maaf.”, jawab An-Na. Ia melanjutkan, “Telah membuat orang buruk sepertimu khawatir.” “Baiklah. Kita adalah orang jahat. Kita orang jahat yang telah mengurung dan mengawasimu. Tapi kamu tahu, aku lebih suka jika kamu juga menyadari usaha kami untuk melindungimu.” “Kamu menyebut membuatku ramen dan memberiku es krim sembari berpura-pura sebagai ayahku adalah ‘melindungiku’? Terserah. Keluar!” ujar An-Na. “Baiklah. Sepertinya aku membuat perjanjian bodoh dengan ayahmu,” ujar Je-Ha sembari berlalu meninggalkan kamar.


Yoo-Jin memanggil direktur JSS (Ko In-Beom) dan ketua Joo untuk datang menemuinya. Ia langsung menyemprot mereka karena kejadian semalam bisa terjadi. Ketua Joo segera meminta maaf dan berniat mengundurkan diri sebagai bentuk pertanggungjawabannya. Yoo-Jin menolaknya karena ia masih dibutuhkan. Direktur JSS lantas memberitahu bahwa si penjahat (bodyguard yang membelot) telah berhasil kabur, sementara rekannya, si wanita perias, mengancam akan melaporkan Se-Joon atas tuduhan pelecehan seksual dan mengajukan permintaan pemeriksaan ulang. Sambil tertawa Yoo-Jin meminta mereka dibiarkan saja untuk saat ini, sementara ia sendiri yang akan mengurus wanita tersebut setelah ia dibebaskan. “Chief Kim,” ujar Yoo-Jin pada Kim Dong-Mi (Shin Dong-Mi), “Kamu harus memastikan bodyguard yang mengkhianati kita menghilang apapun caranya. Itu satu-satunya cara agar kita tidak mengalami hal ini lagi. Kejar dia hingga ke ujung dunia bila perlu.” Dong-Mi mengiyakan. Sambil tersenyum dingin Yoo-Jin menggumamkan nama Park Gwan-Soo.


Anak Choi Su-Jan (yang meninggal beberapa waktu lalu) menenangkan ayahnya dan mengatakan bahwa pernyataan Se-Joon untuk melakukan investigasi terhadap International Finance Group (IFG) milik mereka hanyalah akting belaka karena ia tidak mungkin melakukannya. Tanpa diduga, sesaat kemudian sekelompok orang dari kejaksaan masuk dan menunjukkan surat penahanan mereka atas dakwaan pelanggaran hukum IFG dan penggelapan dana. Penggeledahan pun dilakukan di kantor tersebut. Beberapa orang terlihat panik dan berusaha menyembunyikan dokumen tertentu, namun berhasil dicegah oleh orang-orang kejaksaan. Tak lama kemudian Se-Joon tiba di suatu tempat. Wartawan yang sudah menunggunya segera menanyakan pendapatnya mengenai kejadian itu. Dengan tenang Se-Joon menyatakan bahwa ia akan mengikuti semua proses investigasi yang berlaku dan membuktikan bahwa semuanya baik-baik saja. Tim penyidik dari kejaksaan juga mendatangi kediaman Yoo-Jin. Sebelum masuk, ketua tim mengingatkan pada anak buahnya bahwa kunjungan kali ini adalah semacam ‘business trip’, bukan penggeledahan, karena Se-Joon-lah yang meminta mereka untuk melakukannya. Tak lama kemudian Yoo-Jin datang menemui mereka. Dengan ramah ia menyambut mereka dan menunjukkan tumpukan kardus berisi dokumen-dokumen yang telah disiapkan untuk diinvestigasi. Ia juga menawarkan mereka untuk sarapan terlebih dahulu karena ia sudah menyiapkan sandwich. Ketua tim lantas meminta anggotanya untuk menyantap sandwich-sandwich tersebut dengan ditemani oleh Dong-Mi. Sepeninggal mereka, Yoo-Jin memberitahu bahwa ia telah menyiapkan sesuatu bagi ketua tim di ruangannya. Di sana, Yoo-Jin menanyakan perkembangan penyelidikan terhadap IFG. Ketua tim penyidik kaget mendengar Yoo-Jin meminta agar penyelidikan dilakukan seketat dan senetral mungkin karena mengira Yoo-Jin akan meminta sebaliknya. Ia pun berjanji akan melakukannya.


Ibu Choi Sung-Won (ibu tiri Yoo-Jin) bersama ayahnya sedang membahas mengenai penyidikan IFG. Meski kaget, mereka sudah menyangka bahwa Yoo-Jin mampu melakukan hal seperti itu. Apalagi mengingat kekuatan IFG dan keluarga pamannya itu yang tidak seberapa. Kakek Sung-Won memastikan bahwa jika sampai Yoo-Jin menyentuh keluarga mereka maka itu sama saja dengan Yoo-Jin menyerah terhadap pemilihan presiden. Ia yakin bahwa tanpa mereka Yoo-Jin tidak akan punya dana untuk melakukan kampanye. Namun demikian, ia merasa mereka harus segera mencari sekutu sebelum Yoo-Jin dan Se-Joon masuk ke Blue House agar posisi mereka tetap aman. Sementara itu, Gwan-Soo sedang bercukur di tukang cukur langganannya saat berita terbaru mengenai penyidikan IFG dibacakan di radio. Min Chul, sekretarisnya, datang tak lama kemudian, memberitahu bahwa sebagian dari orang-orang di IFG adalah sponsor mereka juga, termasuk anggota parlemen Kim, Heo, dan Song. Gwan-Soo kaget mendengarnya. Sekretarisnya melanjutkan bahwa ia khawatir kejadian ini akan membuat anggota parlemen lain yang ada di pihak mereka bimbang. Gwan-Soo lantas meminta tukang cukur untuk keluar terlebih dahulu. “Min Chul, apakah kamu pikir Jang Se-Joon ditakdirkan untuk punya umur panjang? Atau kita yang benar-benar kurang beruntung?” tanya Gwan-Soo. “Aku minta maaf, tuan, tapi aku rasa mereka punya orang yang istimewa di pihak mereka.” jawab Min Chul. “Orang yang mengincarmu terakhir kali.”


**Next Episode 29...


TERIMA KASIH TELAH MAMPIR LAGI UNTUK MEMBACA NOVEL SAYA. JANGAN LUPA UNTUK LIKEE👍👍👍


DAN KOMENTAR DI BAWAH 👇👇👇

__ADS_1


DAN JANGAN LUPA KASIH AKU


👉⭐⭐⭐⭐⭐👈**


__ADS_2