
Je-Ha kaget melihat Jo tiba-tiba masuk ke kamarnya. Melihat ikatan Je-Ha, Jo melepaskannya sekaligus meminta bodyguard yang berjaga untuk keluar. Jo meminta maaf karena dulu tidak bisa membantu Je-Ha pada saat ia mendapat masalah di Blackstone. Je-Ha sepertinya memang kesal kepadanya karena ia ‘diusir’ keluar dari Blackstone sebagai ‘orang biasa’, sementara Jo masih tetap sebagai ‘tentara’.
“Kekuranganmu bukanlah kekuatan. Hanya saja kau tak punya alasan untuk membantuku.”, respon Je-Ha.
“Kau perlu kekuatan untuk mewujudkan keinginanmu,” balas Jo.
Choi Sung-Won membesuk Yoo-Jin. Yoo-Jin terlihat tidak terlalu suka melihat kedatangannya karena hubungan mereka yang tidak terlalu dekat. Tak lama kemudian asisten Se-Joon memberitahu bahwa awak media sudah menunggu di bawah. Sebelum ia pergi, Yoo-Jin memintanya untuk mendekatinya. Ternyata Yoo-Jin membuat penampilan Se-Joon agak berantakan agar semua orang percaya bahwa ia telah semalaman menunggui istrinya.
Sebagai seorang politikus, Se-Joon memang cukup lihai dalam berakting. Dalam konferensi pers dengan media yang sengaja ia lakukan di lorong rumah sakit agar lebih dramatis, ia mengatakan bahwa perasaannya hancur karena istrinya hampir mati gara-gara dirinya. Ia lanjut bercerita bahwa sudah banyak hal yang ia lakukan yang membuat istrinya kesusahan. Orang-orang mulai menangis mendengarnya.
“Namun istriku seorang yang pemberani,” lanjut Se-Joon, “DIa membuang segala yang dia punya dan mencintaiku yang tidak punya apa-apa.”
Sung-Won memuji akting Se-Joon. Ia berkata, “Seakan-akan terasa seperti dia sungguh-sungguh.”
__ADS_1
Yoo-Jin hanya terdiam. Namun dalam hati ia menjawab kata-kata adiknya, “Karena.. itu cukup benar.”
Se-Joon kini mulai memberi gong pada konferensi persnya. Ia menyatakan akan mengundurkan diri sebagai kandidat calon presiden karena merasa tidak mampu untuk menerima semua beban itu. Sebagai gantinya, ia akan tetap berjuang sebagai politiku untuk melawan terorisme di Korea yang nekad berbuat apa saja untuk mewujudkan keinginan mereka tanpa mempedulikan masyarakat yang lemah. Pancingannya berhasil. Mendengar penyataannya, semua orang yang berada di sana justru semakin bersemangat untuk mendukungnya sebagai presiden.
Jo memberikan kartu identitas baru pada Je-Ha, sembari menawari pekerjaan di JSS sebagai pengawal. Dengan demikian ia tidak perlu melarikan diri lagi ke sana kemari. Je-Ha tidak terlalu tertarik dengan tawaran tersebut. Tapi Jo memberitahunya bahwa mereka memiliki pusat data yang besar. Tidak hanya seputar JB Group yang mereka jaga saat ini, melainkan juga jaringan data di luar. Berbekal hal itu, Jo yakin bahwa Se-Joon pasti akan memenangkan kursi kepresidenan. Dan apabila itu terjadi, maka Je-Ha bisa dieksekusi secara ‘resmi’.
Je-Ha masih tetap menolak. Ternyata Jo sudah tahu alasan utamanya, yaitu karena Je-Ha mengalami PTSD (Post-Traumatic Stress Disorder). Jo justru berpendapat dengan adanya hal tersebut membuat Je-Ha bakal menjadi pengawal yang hebat.
“Ayo kita bersama-sama ke Blue House,” ajak Jo. “Jika kita melakukannya, kita bisa membalas dendam pada ******** yang melakukan ini kepada kita.”
“Jika kau melakukannya, kita akan saling menguntungkan dan kau tidak akan memiliki alasan untuk melarikan diri.”
Tapi Je-Ha tetap teguh pada pendiriannya. Ia memastikan tidak akan ada yang terluka apabila tidak ada yang berusaha menyentuhnya. Selain itu, ia juga akan menghapus video rekaman yang ia buat setelah pemilihan presiden berakhir. Ia pun pergi meninggalkan Jo setelah mengatakan hal tersebut.
__ADS_1
Sung-Won berpamitan untuk kembali ke kantor. Sebelum ia pergi, Yoo-Jin menanyakan masalah keuangan perusahaan mereka. Sung-Won berdalih saat ini sedang banyak pihak yang mengawasinya, sehingga ia tidak bisa menarik uang dalam jumlah banyak sekaligus. Yoo-Jin menyindirnya yang mungkin saja berat untuk melepaskan uang-uang itu. Sung-Won membantahnya karena yakin akan bisa mendapatkan kembali uang itu dalam jumlah yang berlipat ganda apabila Yoo-Jin menjadi First Lady.
Gwan-Soo tiba di rumah sakit untuk membesuk Yoo-Jin. Saat ditanya oleh awak media mengenai gosip dirinya yang berada di balik penyerangan Yoo-Jin, dengan cerdas ia membalikkannya dengan mengatakan ia juga ingin mendapatkan penyerangan semacam itu karena bisa meningkatkan popularitasnya sementara ia sendiri beristirahat santai di rumah sakit. Ia sempat berpapasan dengan Sung-Won. Meski sekilas saling menyapa, namun terlihat ada sesuatu yang lebih di antara mereka berdua.
Gwan-Soo masuk ke kamar Yoo-Jin. Setelah berbasa-basi dan saling menyindir secara halus, ia pun berpamitan kembali. Saat masuk ke dalam lift, ada Je-Ha dan seorang bodyguard yang mengantarkannya ke kamar di sana. Je-Ha teringat masa lalunya dimana Naniya terbunuh dan dari raut wajahnya sepertinyan Gwan-Soo adalah penyebabnya. Emosi Je-Ha memuncak. Dengan sigap ia merebut pistol yang dibawa oleh seorang polisi yang mengawal Gwan-Soo serta melumpuhkan semua pengawal Gwan-Soo (termasuk bodyguard yang mengantarnya). Terakhir ia menodongkan pistolnya ke arah Gwan-Soo, yang terlihat kaget sekaligus ketakutan melihat sosok Je-Ha.
Next Episode 13...
TERIMA KASIH TELAH MAMPIR LAGI UNTUK MEMBACA NOVEL SAYA. JANGAN LUPA UNTUK LIKEE👍👍👍
DAN KOMENTAR DI BAWAH 👇👇👇
DAN JANGAN LUPA KASIH AKU
__ADS_1
👉⭐⭐⭐⭐⭐👈