Aman

Aman
Episode 16


__ADS_3

Mi-Ran terbangun di pagi hari dan kaget melihat ada telpon masuk dari Je-Ha. Setelah sempat menyesali kebodohannya yang tertidur lelap semalam, ia langsung bersemangat kembali karena ge-er mengira Je-Ha menelponnya karena ingin bertemu. Bergegas ia menuju dapur dan mengambil kotak-kotak bekal, lalu meminta ibunya untuk mengisinya dengan berbagai jenis hidangan. Apes bagi Mi-Ran, setibanya di ruang pengawas, yang ada hanya bodyguard yang sebelumnya menemani Je-Ha bertugas. Mau tidak mau ia pun memberikan makanan-makan tersebut untuknya.


Je-Ha sendiri saat itu sedang mengawasi Gwan-Soo, yang sedang makan usai bermain sepakbola bersama teman-temannya, yang merupakan para pejabat negara. Keluar dari tempat makan, satu persatu dari mereka mendapatkan bingkisan ‘vitamin D’, yang ternyata adalah ‘duit’, alias sogokan dari Gwan-Soo agar terus mendukungnya.


Bodyguard Gwan-Soo lalu menginformasikan mengenai meninggalnya Choi Sun Ja, tante dari Yoo-Jin, yang suaminya memegang sebuah grup keuangan internasional. Karena merasa akan ada hal menarik di sana, Gwan-Soo mengajak bodyguardnya untuk pergi ke sana, meski ia tidak diundang sekali pun.


Kim Dong-Mi sedang membantu Yoo-Jin bersiap untuk pergi ke upacara pemakaman. Dong-Mi memuji bosnya yang belakangan ini rutin mengunjungi dan merawat Sun Ja. Yoo-Jin berdalih bahwa itu hanya show agar ia bisa mendapatkan saham perusahaan JB Group bagian Sun-Ja nantinya. Tapi Dong-Mi tidak percaya karena ia merasa keduanya benar-benar saling memperhatikan.


“Itu semua hanya karena kita bersimpati satu sama lain,” ujar Yoo-Jin. “Tapi aku bahkan tidak punya keponakan sepertiku.”

__ADS_1


Setibanya kembali di kantor, ketua Joo langsung mengajak Je-Ha untuk ikut dengannya. Ia menanyakan hasil mata-mata Je-Ha terhadap Gwan-Soo, yang dijawab Je-Ha sesuai dengan yang ia lihat. Ketua Joo menyarankannya agar tidak usah terlalu memforsir banyak energi dan lebih baik menunggu hingga ada kesempatan.


“Saat berhubungan dengan balas dendam, kamu harus menunggu waktu yang tepat,” saran ketua Joo.


Tujuan mereka ternyata adalah lokasi upacara pemakaman Sun-Ja. Setibanya di sana, ketua Joo heran melihat anak buahnya semua bergerombol di luar. Ternyata mereka tidak diperbolehkan masuk oleh pegawai kuil. Hanya sopir dan seorang asisten saja yang diperbolehkan untuk mendampingi tamu undangan, karena sudah ada tim bodyguard dari sebuah perusahaan keamanan yang berjaga di dalam. Ketua Joo dan Je-Ha menjadi was-was mendengarnya, apalagi setelah beberapa saat kemudian mobil yang ditumpangi Gwan-Soo melintasi mereka dan masuk ke dalam area kuil.


Usai memberikan penghormatan terakhir, keluarga Sun-Ja lalu mengajak Se-Joon dan Yoo-Jin untuk mengikuti mereka menuju ruang pertemuan. Je-Ha yang melihatnya tiba-tiba menghampiri Yoo-Jin. Ia beralasan ada telpon dari rumah bagi Yoo-Jin. Begitu yang lain melangkah pergi meninggalkan mereka berdua, diam-diam Je-Ha menyelipkan sebuah pulpen ke tas Je-Ha, sambil memintanya untuk menekan pulpen tersebut sekali apabila keadaan mulai mencurigakan agar Je-Ha bisa mendengar apa yang terjadi, serta menekan dua kali apabila Yoo-Jin membutuhkan bantuannya.


Ruang pertemuan keluarga ternyata dijaga dengan ketat. Begitu Yoo-Jin masuk ke dalam, dua orang bodyguard yang berada di dalam langsung menguncinya. Semua anggota keluarga yang lain sudah berada di sana, termasuk Choi Sung-Woon, saudara Yoo-Jin, yang menyambutnya dengan santai, namun langsung terdiam kembali karena ditegur oleh pamannya.

__ADS_1


Next Episode 17...


TERIMA KASIH TELAH MAMPIR LAGI UNTUK MEMBACA NOVEL SAYA. JANGAN LUPA UNTUK LIKEE👍👍👍


DAN KOMENTAR DI BAWAH 👇👇👇


DAN JANGAN LUPA KASIH AKU


👉⭐⭐⭐⭐⭐👈

__ADS_1


__ADS_2