
Je-Ha masih terus berusaha menyadarkan An-Na melalui CPR. An-Na sempat membuka matanya sejenak sebelum kembali tak sadarkan diri. Ketua Joo yang dalam perjalanan menuju TKP hendak menelpon 911 untuk mengirimkan ambulans ke sana. Namun direktur JSS (Ko In-Beom) tidak memperbolehkannya. Ketua Joo terpaksa menurutinya dan meminta agar laju mobil semakin dipercepat. Tak lama ia pun tiba di sana. Je-Ha segera membawa An-Na masuk ke dalam mobil dan mengambil alih kemudi.
Je-Ha melapor untuk membawa An-Na ke rumah sakit, namun ketua Joo yang ada di belakang bersama An-Na memintanya untuk mengarahkan mobil ke markas JSS. Je-Ha pun memacu kencang mobilnya dan menerabas sana sini untuk bisa tiba sesegera mungkin di markas JSS. Sesampainya di sana, beberapa orang agen sudah menyiapkan tempat tidur untuk membawa tubuh An-Na ke ruang perawatan. Sementara itu, salah satu dari dua orang wanita yang melakukan selfie di depan An-Na sebelumnya, menyadari bahwa wanita yang ada di belakang mereka mirip dengan yang pernah difoto oleh Jean-Paul Lafait beberapa waktu lalu di Spanyol. Karena yang satu lagi tidak percaya kalau yang ada di latar foto mereka adalah orang yang sama, mereka berdua akhirnya memutuskan untuk menyebarkan foto An-Na di sosmed.
Kembali ke markas JSS. Dengan perasaan menyesal karena sudah membuat An-Na memakan es krim strawberry yang ia bawakan, Je-Ha menunggu An-Na dirawat di depan kamar. An-Na sendiri saat itu kembali terbayang saat-saat dimana ia menemukan ibunya terbaring dengan obat-obatan di sampingnya. Ternyata ada orang lain bersembunyi di balik pintu kamar tersebut. Ketika An-Na kecil membalikkan badannya, orang tersebut langsung menyalakan senternya dan menyekap mulut An-Na kecil. An-Na pun terbangun dengan nafas terengah-engah. Setelah diberitahu bahwa ia berada di ruang perawatan markas JSS setelah dibawa oleh Je-Ha, An-Na sempat terbayang dengan ciuman pernafasan darutan yang diberikan oleh Je-Ha. Dalam diam ia menatap wajah Je-Ha yang juga sedang menatap wajahnya dari balik pintu.
Tak lama dokter keluar dari kamar An-Na. Mi-Ran dan ibunya datang menghampiri, begitu pula Je-Ha. Mi-Ran menanyakan kondisi An-Na, yang dijawab bahwa reaksi alergi An-Na untuk saat ini telah berhasil dinetralisir. Je-Ha menanyakan apakah tidak sebaiknya An-Na dibawa ke rumah sakit, namun dokter menjelaskan bahwa ia juga seorang dokter. Lagipula, perlengkapan yang dimiliki JSS malah lebih baik dari kebanyakan rumah sakit.
“Tubuhnya akan jadi baik dengan obat-obatan, namun permasalahannya adalah kondisi mentalnya,” ujar dokter. Ia melanjutkan, “Aku tidak aku apa yang akan ia lakukan lagi dengan kondisi mentalnya sekarang ini. Pada satu titik ia pasti membutuhkan seorang psikologis. Kamu harus mengawasinya dengan baik.”
Je-Ha pergi begitu saja usai mendengarkan penjelasan dokter. Ia ternyata menuju ruangan ketua Joo dan menanyakan siapa yang membatalkan pengiriman ambulans.
“Lebih baik membiarkan An-Na mati daripada publik tahu tentang An-Na,” respon ketua Joo.
“Kamu sudah mengerti sekarang?” tanyanya pada Je-Ha. “Dan kesempatan lebih baik mana yang bisa kita dapatkan selain hari ini tadi ketika kamu memberinya strawberry yang ia makan meski ia tahu ia akan mati? Bahkan anggota parlemen Jang tidak bisa mengatakan apa-apa tentang ini.”
Je-Ha kembali mempertanyakan siapa yang mengirim kembali ambulans. Ketua Joo berdiri dan menegaskan pada Je-Ha bahwa apapun yang terjadi situasi An-Na tidak akan berubah.
__ADS_1
“Satu-satunya hal yang bisa kamu lakukan adalah melindungi dia apapun yang terjadi,” ujar ketua Joo. “Jika kamu tadi membawa An-Na ke rumah sakit, kita semua akan berakhir. Mi-Ran, penjaga rumah, dan dokter di ER juga. Dengan kata lain, semua orang yang tahu tentang An-Na. Well, terkecuali dirimu karena kamu adalah anggota Cloud Nine. Apakah kamu sudah lupa kenapa orang tua di perkebunan itu hampir mati? Bersikap seperti ini sama sekali tidak mirip denganmu. Jika mereka tahu kamu bersikap seperti ini, akan jadi lebih sulit bagimu untuk melindungi An-Na. Jika kamu benar ingin melindunginya, bersikalah seperti yang biasa kamu lakukan.”
Je-Ha tidak lagi bisa membantahnya.
Beberapa saat kemudian ia sudah berada di luar bersama master Sung (Song Kyung-chul). Master Sung menceritakan bahwa ia sedikit tahu tentang An-Na dan juga Se-Joon. Je-Ha baru menyadari bahwa An-Na adalah anak haram dari Se-Joon. Menurut master Sung, kemungkinan ayah An-Na adalah Go Am Wook, seorang warga negara Amerika. Ibu An-Na, Uhm Hye-rin, menikahi pria tersebut, dalan keadaan sudah hamil oleh Se-Joon. Beberapa tahun kemudian, ia kembali ke Korea bersama An-Na dan muncul di hadapan Se-Joon yang saat itu sudah menikah dan hidup bahagia dengan Yoo-Jin. Se-Joon lantas memperlakukan mereka sebagai keluarganya secara sembunyi-sembunyi di belakang Yoo-Jin. Je-Ha pun kaget begitu tahu bahwa An-Na dibawa keluar negeri sesaat setelah ibunya meninggal secara tragis.
“Aku tidak tahu apakah Choi Yoo-Jin bakal terus membiarkannya hidup jika ia terus bertingkah seperti sekarang ini,” ujar master Sung.
Di sebuah restoran, Yoo-Jin bertemu dengan anggota kongres Kim. Belum jelas apa yang mereka bicarakan, namun yang pasti ada deal-dealan politik yang sedang diusahakan oleh Yoo-Jin terkait dengan presiden sekarang ini. Yoo-Jin lantas memberikan sebuah amplop yang berisi laporan peristiwa yang terjadi di sekitar presiden.
“Apakah ini sebuah ancaman?” tanya Kim.
“Itu adalah dokumen rahasia dari yayasan dan JB Group. Kamu bisa dengan mudah melumatku dengan informasi yang ada di sana.”, ujar Yoo-Jin tenang.
“Jadi kamu menawarkan agar kita saling berbagi kelemahan?” tanya Kim.
“Ya. Tidakkah itu cukup agar kamu mau membuat deal denganku?” jawab Yoo-Jin.
__ADS_1
Kim tertawa lalu berkata, “Seperti yang sudah ku duga darimu.”
Sementara itu, di luar restoran, dua orang berniat untuk masuk. Namun bodyguard Yoo-Jin mencegahnya, beralasan restoran sudah tutup. Keduanya sempat memaksa masuk, namun dicegah dengan paksa oleh bodyguard Yoo-Jin. Mereka pun mengurungkan niatnya. Setelah beberapa langkah berjalan, salah seorang dari mereka — yang ternyata adalah bodyguard Park Gwan-Soo (Jee Yoon-Jae) — menelpon Gwan-Soo (Kim Kap-Soo).
Kembali ke dalam restoran. Deal sepertinya sudah terjadi di antara Yoo-Jin dan Kim. Kali ini mereka mengobrol dengan santai sambil tertawa.
“Baiklah kalau begitu,” ujar Kim, “Kapan engkau akan bergabung dengan partai kita?”
“Tidak bisakah kita melakukannya diam-diam? Aku sedang menyiapkan pertunjukan yang menarik, tapi aku ingin agar engkau membuka jalan terlebih dahulu untuk kita.”
**Next Episode 25...
TERIMA KASIH TELAH MAMPIR LAGI UNTUK MEMBACA NOVEL SAYA. JANGAN LUPA UNTUK LIKEE👍👍👍
DAN KOMENTAR DI BAWAH 👇👇👇
DAN JANGAN LUPA KASIH AKU
__ADS_1
👉⭐⭐⭐⭐⭐👈**