
Setelah menceritakan tentang alat yang ia berikan pada Yoo-Jin, Je-Ha mengajak rekannya masuk ke mobil sambil menunggu apakah Yoo-Jin nanti menggunakannya.
Kembali ke ruang pertemuan, tujuannya ternyata adalah pembacaan surat warisan dari Sun-Ja. Anggota keluarga yang lain rupanya sudah paham kedekatan Yoo-Jin dengan Sun-Ja sehingga Yoo-Jin sudah mulai mengira akan ada sesuatu yang bakal terjadi. Ternyata benar, setelah tahu bahwa seluruh harta kekayaan Sun-Ja disumbangkan kepada yayasan milik Yoo-Jin, Pyeongchang Scholarship Foundation, terang-terangan mereka menyatakan ketidaksetujuannya dengan Yoo-Jin yang kini menguasai semuanya (yayasan dan perusahaan), terlebih dengan Yoo-Jin yang hendak menjadi ibu negara. Yoo-Jin pun diam-diam mengaktifkan mode streaming suara di pulpen dengan menekannya satu kali agar Je-Ha bisa mendengarnya.
Ayah mertua Sung-Woon lalu menawarkan untuk membeli semua saham perusahaan milik Yoo-Jin dengan harga tiga kali lipat, dengan dalih sebagai kado bagi Sung-Woon. Mendengarnya, Se-Joon mengatakan bahwa itu bukan tawaran yang buruk karena bisa membantunya dalam berkampanye. Namun Yoo-Jin tidak bergeming.
“Bagaimana bisa aku begitu saja menjual saham milik yayasan ketika itu tidak benar-benar menjadi milikku?” ujarnya.
“Apakah ini berat bagimu untuk mengambil keputusan atau kamu memang tidak mau?” ayah mertua Sung-Woon balik bertanya.
Ia lalu melanjutkan bahwa saat ini akan berlangsung rapat darurat di yayasan untuk melakukan penunjukan CEO yang baru menggantikan Yoo-Jin. Yoo-Jin yang geram mendengarnya tanpa sengaja mendorong pulpen dari Je-Ha hingga terlempar ke arah Sung-Woon. Sial baginya, Sung-Woon mengambil pulpen tersebut dan iseng menekannya sekali, sehingga sambungan suara terputus.
Ayah mertua Sung-Woon mengungkapkan bahwa rencana mereka adalah untuk mencopot Yoo-jin dari jabatannya terlebih dahulu, menjual saham miliknya, lalu mengembalikan Yoo-Jin sebagai CEO. Ia juga berjanji akan membantu Se-Joon sebisa mungkin untuk menjadi presiden, sehingga ‘investasi’ mereka selama ini bisa terbayar. Se-Joon mengangguk-anggukkan kepala tanda setuju.
__ADS_1
Yoo-Jin lalu mencoba untuk menghubungi perusahaan, namun ibu Sung-Woon mengatakan bahwa tidak ada sinyal di tempat tersebut. Tersenyum puas melihat Yoo-Jin panik, ayah mertua Sung-Woon mengajak Se-Joon untuk bermain baduk sembari menunggu yang terjadi selanjutnya. Lagi-lagi Se-Joon mengiyakan.
Yoo-Jin tiba-tiba tertawa terbahak-bahak.
“Aku datang ke sini untuk mengklaim bagianku atas warisan, tapi sepertinya aku malah akan kehilangan yayasan kesayanganku.”, ujarnya. “JB adalah perusahaan yang dibangun oleh ayahku.”
“Ia ayah dari chairman Choi juga…” potong ibu Sung-Woon.
“Sepertinya kamu jadi kurang ajar begitu mendapat tawaran uang dalam jumlah besar, hah?” ujar ibu Sung-Woon sembari menggebrak meja.
Je-Ha khawatir dengan yang terjadi di ruang pertemuan. Ketua tim VIP memintanya untuk tenang karena pasti Yoo-Jin sendiri yang sengaja mematikan streaming suara karena mereka sedang membahas soal uang. Kata-kata tersebut justru membuat Je-Ha makin yakin ada sesuatu yang terjadi karena ia paham ambisi Yoo-Jin bukanlah sesuatu yang bisa dengan mudah dibeli dengan uang. Je-Ha lantas meminta rekannya itu untuk menyalakan mesin dan menunggu di mobil. Tanpa menjelaskan rencananya, Je-Ha membuka bagasi mobil dan mengambil… payung.
Ia lalu melangkah memasuki lantai ruang pertemuan, namun berbelok arah di depan para bodyguard. Di dalam ruang pertemuan, perselisihan masih berlangsung. Ibu Sung-Woon memanasi Yoo-Jin bahwa ayahnya tidak mewariskan perusahaan kepadanya karena ia tidak mencintainya, dan ia tahu sosok mengerikan seperti apa sebenarnya Yoo-Jin. Ibu Sung-woon juga mengatakan bahwa ia yakin Yoo-Jin akan menguasai JB Group untuk dirinya sendiri sebagai jalan untuk membawa suaminya menuju kursi presiden.
__ADS_1
“Baiklah, aku memang selir ayahmu, tapi kamulah yang menikah dengan membawa agenda jahat di pikiranmu. Lihatlah baik-baik sosok seperti apa dirimu sekarang. Kamu senang?” ujar ibu Sung-Woon.
Sung-Woon meminta mereka untuk berhenti, sementara Se-Joon senyum-senyum saja melihat kejadian tersebut.
Next Episode 18...
TERIMA KASIH TELAH MAMPIR LAGI UNTUK MEMBACA NOVEL SAYA. JANGAN LUPA UNTUK LIKEE👍👍👍
DAN KOMENTAR DI BAWAH 👇👇👇
DAN JANGAN LUPA KASIH AKU
👉⭐⭐⭐⭐⭐👈
__ADS_1